Lefan saat ini sibuk mengurus pekerjaan baru.
Tapi, bentar.
"Kak! Kuliahku, hikss.."
Melongo.
"Ada apa dengan kuliahnya ade?" Lefan heran sendiri.
"Tidak bisa kejar yudisium, kak!" Retak terdengar di ruas paling lirih.
"Bukannya ade sempat cerita ke kakak, kalau ada teman ade yang dari kampus lain bantu proposal TA-nya ade?" Lefan coba memastikan.
Mengangguk. Adinda tidak mengelak lagi kok, kalau sahabat Kresna yang bantu kertas penuh lirih itu bisa ikut ujian proposal.
Alhamdulillah bisa lanjut ke tahap program.
Pun, "kak, memang sih dosen prodiku kasih kertas persyaratan pas saya keluar ujian proposal TA."
"Lah, terus apa lagi yang bikin ade tersiksa begini?" Lefan masih bingung.
"Huee..kak, uang program sejak sebulan lalu hampir masuk dua bulan, saya tidak enak hati buat minta lagi di omku." Terus terang gadis itu.
"Kenapa tidak bilang kakak saja sih, dek? Kan, bisa toh kakak transferkan dulu, biar ade bisa lanjut ujian TA final." Jeda tiga detik, "sekarang datang ke kakak bawa sesal. Trus, kakak bisa bantu apa, dek? Perjalanan sebuah cita itu tidak mudah loh."
Memang benar kata Kak Lefan. Perjalanan sebuah cita di bungkus banyak pelik di sekitar KRSM di rawat Adinda dalam rasa tak enak hati untuk minta duit program TA.
"Tunggu, kakak mau nanya, selama hampir dua bulan itu ade bikin apa saja?" Ah, akhirnya kena tanya juga dari Lefan.
Lihat? Adinda hanya tertawa-tertawa getir, ngilu kalau diingatkan hampir dua bulan itu di lewati.
"Kak, saya sempat jatuh sakit. Trus berusaha istirahat cukup, minum obat, minum es kelapa, tetap saja belum sembuh-sembuh."
"Eh, bentar, kakak tadi dengar 'es kelapa' dari mulutnya ade, nakal sekali! Kalau kakak disana, sudah kakak jitak! Bagaimana mau fokus ke program TA kalau ade keras kepalanya nggak mau hilang gini. Trus gimana?"
"Huee..kak, besok sudah yudisium. Din gak bisa ikut. Tahu nggak kak? Dua hari ini saya nangis. Frustasi. Mentalku kena lagi, kumat. Sampe kepala sakit." Terdengar begitu ngilu.
"Itu kan. Dek..dek, kalau Harris J tahu kamu nunda setahun lagi, dia pasti tidak mau kolaborasi lagi sama kamu."
Adinda terdiam untuk beberapa menit.
Benar. Harris J sempat beri janji untuk lihat dia bisa kejar tahun 2021 wisuda lalu insyaallah tahun depan di kasih tiket kekeberangkatan ke london, kepentingan kolaborasi mereka yang kedua setelah Nada karya mereka berdua rilis.
"Kak.." Adinda merengek.
Sudah paham dengan intonasi itu. Lefan pun menghembuskan napas lelah.
"Jadi? Besok ade mau apa di sana?"
"Sebenarnya sih .. Jadi mc di yudisium adik tingkat tahun 2017, tapi malas ah, gensi, ganas, kesel, emosi, dinda saja nggak dapat mereka. Yang ada saya nangis tahu kak!"
"Kenapa begitu, dek? Bagus loh, kan ini mimpimu bisa jadi mc depan umum?"
Menggeleng sangat frustasi.
"Kak..dinda mau jujur, sebenarnya saya minta uang program tidak pas tapi lebih dua juta lima ratus." Jeda beberapa detik, "tahu nggak kak? Kenapa dinda minta lebih? Supaya bisa menutupi kekurangan yang dinda pengen beli."
"Mau beli apa lagi sih, dek? Kamu nih yah, nggak di london di sana pun boros juga. Hah.." Membuang napas sangat lelah.
"Laptop. Kalau tidak mencukupi uangnya, bisa beli notebook saja kak."
"Heh? Untuk apa lagi barang itu, dek?" Lefan kaget.
"Buat keperluan ujian TA, kak. Karena laptop yang di rumah, virusnya banyak. Trus lemot, tidak mungkin kan saya pake saat pas sudah jadi programnya yang ada dalam ruang ujian kena damprat sama dosen penguji. Ah, jangan kan dosen penguji, dosbimku paling babat-babat saya dalam ruangan."
"Oh, begitu rupanya. Kenapa ade nggak jujur saja sama omnya ade?"
Adinda tertawa meremehkan.
"Jangankan jujur kak, tes bilang kumpulin uang beli laptop lagi dong, paling kena omelan dan blabla, mereka mana ngerti kak. Hah. Din, capek kak. Gagal yudisium tahun ini. Kalau Harris J tahu gimana kak?" Hampir saja bulir sebesar kacang hijau meluncur bebas dari pelupuk mata gadis itu.
"Sebagai penawar terbaik, bagaimana nanti akhir tahun kakak kasih tiket liburan ke london? Main-main yok ke sini. Kakak tahu kamu butuh teman curhat dan refresing otak. Gimana?"
"Maaf, kak, saya tidak bisa terima. Masih terasa sakitnya. Gagal yudisium besok." Getir gadis itu.
Justru Lefan terus menyemangati dan kado wisudanya.
"Kak, Dinda saja gagal yudisium, kenapa kakak mau kasih kado itu? Kalau berhasil yudisium boleh. Ini, mana? Hanya nangis saja."
"Dek, ingat, menangis itu tidak bakal selesaikan masalah dan tidak buat ade bisa ikut yudisium besok. Yah, itu pun kalau kalimah kun fa yakun Allah kasih, keajaiban sekali besok ade ikut yudisium."
Akhirnya. Bulir sebesar pulpy orange dari tadi di tahan tumpah deras-menderas.
"Kak, tadi saja pulang dari kampus saya bilang ke mama. Ma besok sudah yudisum, pas lihat eksprisnya mau senang, saya lanjutin tapi, ma, saya tidak ikut, karna om tidak percaya kalau saya beli program. Hm, pak wid juga pusing itu tunggu saya mau ujian, yasudah besok tidak ikut yudisium gitu kak. Mama paling kecewa. Trus mau gimana? Kalau omku saja nggak percaya? Sudah gitu pas saya minta uang program setengah dari harga itu, omku sampe sangkut pautkan agama pula. Kesel jadinya kan." Cerocos Adinda.
Lefan menggeleng-geleng.
"Lain kali kalau butuh sesuatu, bicara sama kakak. Sekarang? Coba lihat? Ade nggak bisa dapat yudisium?"
"Udah..udah, nggak usah sedih lagi. Ok, fine kakak tahu kamu masih trauma dengan gagal yudisium, tapi, jangan larut dengan kesedihannya ade. It's okay, allah mau ade curhat manja ke Dia, sudah jalannya Dia kasih begitu. Karena allah mau ade lebih rajin lagi ibadahnya. Hayo..tadi bangun solat shubuh ndak? Paling begadang trus bangunnya kesiangan."
Ugh. Tebakan Kak Lefan kok benar sih. Adinda hanya nyengir tak berdosa.
"Itu kan, yang tadi kakak bilang, sudah di gariskan kalau ade di berikan ujian mendadak dari allah lagi, sudah di kasih kesempatan kan sama allah bisa ujian proposal? Nah, allah mau ade lebih dekat dan romantis ngadu ke Dia, karna tidak ada kebahagiaan tanpa melewati ujian kelas-Nya. Yuk..yuk, perbanyak ibadah jangan lupa ngaji juga."
Tertampar keras.
Tapi, kan? Apakah benar kata Kak Lefan? Ibadahnya kurang, maka dari itu Allah berikan ujian mendadak, sampai kena mental dan menonton sorot penuh bengis di kampus? []