Enam tahun lalu pada hari itu adalah hari yang paling aku syukuri, karena Tuhan mempertemukan aku denganmu. Obrolan pertama kita terjadi diruang kelas, aku ingat saat itu pelajaran fisika. Kita duduk saling berhadapan, kau tersenyum dan kadang kala membuat gurauan kecil ditengah-tengah keseriusan pengerjaan soal fisika kita.
Saat itu tahun 2015 di tahun pertama sekolah kita.
Aku adalah gadis pendiam, tidak banyak hal dalam diriku yang bisa menarik perhatian kaummu. Tapi, aku tidak tahu apa yang membuat dirimu mulai tertarik padaku. Kau perlahan mendekati aku setelah genap sebulan kita menjadi siswa kelas sepuluh di SMA X.
Awalnya aku tidak bisa mengerti, gejolak apa yang selalu datang menghampiri aku setiap kali mata kita bertemu. Kau bahkan membutuhkan setahun lebih untuk bisa membuat aku menyadari perasaan yang selama ini membuatku bingung.
Aku ingat, dulu kau sering membuat teropong berbentuk cinta dari buku tulis mu. Saat itu aku bahkan tidak bisa memahami maksud dari tindakanmu yang terus saja membuatku terheran-heran. Andai waktu bisa diputar kembali, aku ingin kembali ke hari itu. Aku ingin memberikan senyumku padamu, agar bisa menggantikan raut wajah datar milikku dengan dahi yang selalu mengkerut.
"Jadilah pacarku!"
Kalimat itu adalah kalimat yang sering aku dengar darimu selama lebih setahun perkenalan kita. Terkadang ketika jam istiratat kau akan datang menghampiri mejaku dan terus menerus duduk di hadapanku. Atau sesekali kau akan mencoba menggodaku dan tentu aku akan selalu mencoba menghindar darimu.
"Gambarkan aku 20 anime dalam waktu seminggu."
Kalimat itu adalah syarat yang aku berikan padamu saat itu, meskipun tidak sesuai deadline namun tetap saja ternyata aku memang tidak bisa selalu menghindar darimu. Semakin lama, takdir semakin membuat aku terikat padamu. Aku suka melihat senyummu, apa lagi saat lesung pipi milikmu muncul.
Telingaku seakan selalu tuli saat aku mendengar rumor-rumor buruk tentangmu. Aku bukan cuek atau tidak perduli padamu, aku memiliki penilaian lain tentang dirimu. Aku selalu yakin kamu adalah pemuda yang baik, meskipun orang-orang sering berbicara buruk tentangmu.
Pada semester kedua di tahun pertama, dulu kau juga sempat sakit, dan jarang masuk sekolah. Sesungguhnya aku selalu kepikiran tentang keadaanmu, aku selalu khawatir namun aku tidak bisa mengunjungimu, sesungguhnya aku adalah anak rumahan yang tidak memiliki waktu bebas untuk keluyuran.
"Dari semua mantanku hanya kau pacar pertama yang paling muda."
"Eh, jadi sebelum aku...."
"Ya, sejak dulu aku selalu berpacaran dengan gadis yang usianya lebih tua dariku."
"..."
Aku masih ingat Kalimat mu itu, bagi mu mungkin aku adalah pacar termuda saat itu namun bagiku kamu adalah pacar pertamaku. Kemiripan kita mungkin berada pada kata pertama, namun tentu saja dalam aspek yang berbeda.
2016 di tahun kedua.
Kita mulai terikat dalam satu hubungan, meskipun begitu tidak pernah ada waktu yang bisa kita habiskan bersama seperti kebanyakan pasangan lainnya. Aku sibuk dengan duniaku, dan kamu sibuk dengan duniamu. Kita hanya bertemu melalui pesan singkat di SMS atau Panggilan telepon.
Di sekolah kita juga sangat jarang bertemu, kelas kita saat itu berbeda dan jaraknya juga jauh. Aku hanya bisa lewat didepan kelas mu saat jam istirahat, itupun hanya ketika aku pergi bersama temanku di kantin sekolah. Atau menemani temanku ke toilet.
Tahun itu masalah pun mulai berdatangan, aku yang masih belum mengerti tentang romansa remaja, kamu yang mulai berbuat ulah, aku yang selalu memutuskan hubungan kita, namun dari semua yang terjadi kita pada pahitnya tetap kembali bersama.
Sejujurnya pada tahun itu, aku agak dilema. Seseorang dari masa laluku menghampiri aku lagi, membuatku kembali mengingat tentang janji yang pernah aku buat dengan seseorang.
"Kenapa?"
"Maaf, aku sudah punya janji dengan seseorang."
Dia bertanya padaku tentang alasan di balik setiap penolakan ku. Mungkin sekarang dia sudah tahu pasti, atau mungkin sudah lupa lagi. Tapi selain berpegang dengan janji itu aku memliki alasan lain yang tidak pernah aku katakan padanya.
"Karena aku sudah menemukan tempat dimana aku bisa tertawa dengan lepas."
Aku akui sebelum bertemu denganmu, aku pernah dekat dengan seorang pemuda, saat masih di tingkat SMP. Kami dulu sering tertawa bersama, lebih tepatnya dia orang yang bisa membuat aku sering tertawa dulu. Tapi waktu ternyata membawa perubahan dalam hidup kami, terpisah karena sekolah yang berbeda, putus kontak selama setahun lebih, aku yang bertemu denganmu lalu dia yang datang lagi.
Semuanya terasa seperti drama yang sering di nonton oleh sepupuku. Dimana aku sebagai pemeran utama wanita yang terjebak diantara dua pilihan. Belum lagi beberapa tokoh lain yang juga ikut melengkapi cerita cintaku. Tapi tentu, mereka tidak berperan banyak didalamnya, jadi aku tidak akan membahas mereka.
Ah, aku juga ingat saat hari valentine tahun itu aku mendapat sepucuk surat dari anggota OSIS. Tulisannya memang seperti cakar ayam tapi syukur saja aku masih bisa membacanya, aku tidak tahu apakah surat itu memang darimu atau hanya teman kelas mu yang iseng mengirim surat itu atas namamu. Kau juga selalu mengelak mengenai pengirim surat itu, jadi aku tidak pernah membahasnya lagi.
2017 Di tahun terakhir.
Tahun ini adalah tahun dimana aku pertama kali terjun ke dunia kepenulisan. Alasan aku terjun kesana hanya agar bisa membuat aku sibuk dan tidak memikirkan masalah percintaan ku. Ya, aku rasa ini memang agak konyol, karena alasan aku terjun kesana adalah kamu. Dan apa kau ingat, pada tahun ini kau pernah menipuku sekali.
3 bulan lamanya hubungan kita berakhir, ketika kau mengajakku untuk menjalin hubungan lagi. Aku meminta waktu selama tiga hari untuk memikirkannya dengan matang. Di hari terakhir kau berkata padaku,
"Aku akan pindah sekolah."
Kalimat mu yang ini membuat aku kepikiran semalaman, bahkan sampai pasrah jika itu benar terjadi. Faktanya, ketika pagi tiba aku menemukanmu masih asik bermain sepak bola bersama teman sekelas mu di lapangan.
Lalu pada hari kelulusan aku berpikir bahwa saat itu aku mendengar seseorang menyebutkan namanya. Aku bahkan sampai refleks berlari dari lantai dua gedung sekolah, hanya karena ingin bertemu dengannya. Namun, lagi-lagi takdir tidak pernah berpihak pada kami. Sejak kelulusan SMP, kami bahkan tidak pernah lagi bertegur sapa. Padahal, dulu kami sudah berjanji bahwa persahabatan kami akan terjalin selamanya.
Aku tau hari itu kamu sangat kecewa karena kita tidak sempat mengabadikan momen itu bersama. Maaf, aku bahkan sampai lupa untuk yang satu itu. Karena kepolosan ku, aku bahkan mencoba menghindari seseorang yang sekarang mengejar ku dan berkata bahwa dia akan mencium ku saat itu juga.
Maafkan aku.
Sifat cuekku mungkin membuatmu selalu berpikir bahwa aku tidak pernah memiliki perasaan padamu, ataupun selama ini mungkin hanya masa bodoh dengan hubungan kita. Tidak, itu semua sangat salah. Aku cuek bukan berarti aku tidak sayang, aku terlihat masa bodoh bukan berarti aku tidak perduli.
Aku hanya mencoba untuk tetap menjaga ikatan kita dengan baik. Karena faktanya meskipun aku selalu meminta putus saat kau membuat masalah, aku tidak pernah mencoba untuk mencari yang lain apa lagi sampai menjalin hubungan baru.
Itu sangat bukan aku.
Setelah kelulusan kita, aku memutuskan untuk pergi dan mencari pengalaman baru di pulau seberang. Aku sudah mengabari dirimu dengan banyak pesan SMS saat itu, namun sama sekali tidak ada balasan dari mu. Aku pikir kau sudah tidak perduli dengan hubungan kita. Jadi aku mencoba untuk tidak memikirkannya lagi.
Tahun 2018, aku kembali.
Juni tahun itu aku kembali ke rumah, tidak ada banyak hal yang bisa aku habiskan di liburan pertama ku. Bahkan sampai akhir hari H sebelum aku pergi lagi. Aku pulang hanya berharap agar bisa menghabiskan banyak waktu denganmu, sayang sekali kau baru memiliki waktu luang sehari sebelum keberangkatan ku.
Awalnya aku merasa kecewa, tapi tentu saja setidaknya di liburan ku tahun ini, masih ada sedikit rasa syukur karena setidaknya aku memiliki kesempatan untuk bertemu denganmu. Sampai sekarang aku bahkan masih menyimpan. Foto kita.
Banyak hal yang terjadi selama setahun kepergian ku ke pulau seberang, kita juga sudah tidak terikat dalam suatu hubungan. Ini mungkin pilihan terbaik untuk kita, di tahun ini juga kamu masih sering melakukan Video call meskipun tidak setiap hari. Kita sama-sama fokus pada urusan kita masing-masing, dan tentunya perkuliahan kita.
Lalu pada tahun 2019
Hubungan kita semakin menjarak, kita seperti dua kutub yang saling berlawanan arah dan tidak akan bisa bertemu. Kau semakin sibuk, begitu pula dengan aku. Tapi aku masih ingat tentang beberapa hal yang terjadi sepanjang tahun ini. Seperti janji yang pernah aku buat denganmu, aku masih ingat semua itu.
"Jangan tinggalkan Aku."
Kalimat mu yang satu ini belum sempat aku balas saat itu, aku juga tahu kalau sejauh apapun aku pergi dan selama apapun waktu berjalan, aku masih tetap akan selalu memikirkan mu. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku dan kapan semuanya ini bermula, yang aku tahu, aku sudah terjebak didalam sebuah ruang hampa yang tidak berpintu.
Aku tahu hatiku masih tetap berada padamu, aku tahu sekeras apapun aku mencoba, keinginanku selalu tidak bisa mengalahkan diriku. Aku secara tidak sadar semakin menjaga jarak dengan orang lain terutama mereka yang se-gendre denganmu, aku bahkan pernah dikatakan sombong hanya karena aku berbicara seperlunya saja dengan mereka.
Hei, apa kau merasakan apa yang selama ini aku rasakan di pulau seberang?
Aku ingin tahu bagaimana kisah kita kita ini akan berlanjut nantinya ataukah justru telah berada pada penghujung kata End. Aku selalu merindukanmu setiap saat, sudah lama kita tidak saling menyapa. Aku lihat rambutmu sudah semakin panjang, aku tidak percaya kau akan benar-benar memanjangkannya.
Tahun 2020
9 bulan terakhir ini kau masih belum ada kabar, aku tidak tau apa yang kau lakukan disana. Aku juga tidak tahu apakah kau sudah menemukan dambaan hati yang baru? Ataukah masih tetap memegang ucapan mu. Itu hak mu jika ingin berhenti, aku tidak akan memaksamu untuk tetap bertahan. Aku juga pasti akan berhenti suatu saat nanti, ketika aku sudah benar-benar lelah.
Aku hanya berharap apapun yang kamu lakukan sekarang ataupun kedepannya, kamu akan selalu bahagia, dan aku akan selalu mendukung kemanapun kakimu melangkah. Aku sudah cukup dengan pesan singkat darimu, meskipun itu hanyalah pesan kecil yang terlihat sederhana dan bersifat umum.
Aku bahkan tidak tahu harus mengisi apa di file halaman ke delapan belas milikku, semenjak kita sudah tidak saling bertukar kabar. Aku berharap ada masa dimana aku bisa melanjutkan tulisanku lagi, dengan pengalaman hidupku selama masih berada dalam ruang kasmaran ini.
Selesai.