"Hari ini enaknya ngobrol tentang apa ya?" tanya Havis.
"Ya, itu terserah kamu," jawab Lia.
"Bosaaannn," keluh Sani.
"Hangout aja, yuk!" aja Eve.
"Aku sih ayo aja," sahut Oni.
Mereka adalah sekelompok mahasiswa-mahassiswi yang terlihat biasa-biasa saja di kelas. Bersenda-gurau seadanya. Meskipun begitu, terdapat kehangatan yang dengan mudah terlihat di wajah mereka. Sani, Lia, dan Eve adalah mahasisiwi dengan karakteristik yang berbeda. Namun mereka dengan mudah akrab seperti air mengalir. Sedangkan Havis dan Oni mahasiswa dengan kekompakan yang terlihat jelas saling melengkapi. Havis memang terlihat dewasa ketika sedang diam, namun ketika dia berbicara tentang segala hal, dapat dijamin para pendengar menunjukkan raut wajah dengan arti "ngoceh aja terus” dengan lantang. Hanya Oni yang sabar mendengar setiap kata dari Havis. Oni terlintas menunjukkan pribadi yang mandiri dan pekerja keras, namun ketika sudah mulai kenal, niscaya mandiri dan pekerja kerasnya harus dipertanyakan.
Dalam kelompok ini yang tertua merupakan lulusan tahun 2014, yaitu Sani. Sifatnya yang santai dan riang membuat orang disekitarnya tidak menganggap bahwa umurnya yang paling banyak. Pembawaan yang jujur apa adanya tersebut dapat membuat nyaman orang yang mengenalnya. Lia sendiri gadis yang bersifat serius. Ia gadis tekun yang membuatnya terlihat dewasa. Padahal ialah yang paling muda. Sulit diterka apa yang ada didalam benaknya, jika ia sedang menyendiri. Gadis seperti Lia inilah yang harus dimiliki untuk menjadi penasehat jika kawannya berbelok. Gadis normal berikutnya adalah Eve. Gadis pemanis ini bersikap apa adanya, ceria, dan tidak mudah menebak jalan mana yang akan ia lalui. Dengan keunikan masing-masing terbentuklah kelompok yang mereka beri nama Lima Serangkai atau LIKAI.
Suatu hari, Eve memberikan ajakan yang membuat perasaan kawan-kawannya campur aduk. Eve ingin pindah dari kelas pagi menjadi kelas malam. Walaupun tetap satu universitas, namun bagi kawan-kawannya terasa berat untuk melepas pemanis mereka.
“Aku belum yakin benar. Aku ingin mencoba hal baru dengan menghadiri kelas malam. Kapan lagi bisa keluar malam? Meskipun memang untuk kuliah, tapi tetap terasa seperti tantangan untukku,” jelasnya dengan senyuman.
Penjelasannya membuat heran para anggota LIKAI. Gadis yang nampak polos itu seperti tidak memahami arti kebersamaan. Senyumannya sekilas nampak seperti ingin meminta pemahaman maupun keiklasan pada para anggota. Satu persatu anggota LIKAI membujuk Eve untuk tetap tinggal bersama di kelas pagi. Mulai dari Havis yang memberikan masukan dampak buruk dari kelas malam. Ia memulai ceramah panjang kali lebar disertai pertanyaan-pertanyaan konyol dari Oni yang membuat Eve berpaling pada para gadis. Sani dan Lia pun memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut Eve untuk memberikan alasan kuat dan tidak menerima jika Eve menjawab dengan alasan berbelit-belit.
Setelah pernyataan Eve tersebut, selang beberapa minggu kemudian Eve menerima kabar dari pihak universitas, yaitu bila ia ingin pindah kelas, ia harus memulai dari semester awal lagi. Kabar tersebut membuat Eve shock serta bimbang. Ia kembali mencurahkan kabar tersebut kepada anggota LIKAI. Benak Eve mengharapkan solusi tepat dari para rekan-rekan LIKAI. Eve tetap menginginkan menghadiri kelas malam. Tetapi apalah dayanya ketika para anggota menyikapinya dengan sorak-sorai kemenangan.
Eve merasa dirinya dikhianati. Seorang teman yang baik tidak akan membuat temannya kecewa ataupun putus asa.
“Kenapa kalian bersikap seperti ini? Harusnya kalian mendukung pendirianku untuk menghadiri kelas malam. Kita teman kan?”
Rengekan Eve membuat para anggota lainnya kian gembira. Ternyata tanpa sepengetahuan Eve, diam-diam Havis, Oni, Lia, dan Sani sudah lebih dulu tahu mengenai hal tersebut. Satu-persatu anggota memberikan sambutan pada Eve. Diawali dengan Havis, Oni, Lia, lalu Sani.
“Kan aku sudah bilang hari itu padamu. Makanya, kalau orang memberikan nasehat dengar dengan seksama,” Havis berlagak sombong.
“Kalau Eve memang ingin pindah, kenapa tidak mau ulang dari semester awal?” mulai Oni dengan pertanyaan yang jelas jawabannya adalah malas.
“Sudahlah Eve. Kamu ini sudah enak ada kami yang sayang padamu. Kalau memang kamu pindah, itu akan menyulitkanmu juga. LIKAI bukan lagi LIKAI jika tidak ada kamu didalamnya,” Lia berusaha menenangkan Eve yang masih murung.
“Aku percaya Eve pasti akan kembali pada kita. Tuhan meridhoi hubungan persahabatan ini,” senyum Sani percaya diri dan disusul senyuman para anggota yang lainnya.
Eve tersenyum melihat kawan-kawannya memberikan tanggapan yang membuatnya tersanjung. Senyuman mereka membuatnya tersadar bahwa dirinya lah yang telah berkhianat. Tidak seharusnya ia meninggalkan persahabatan hangat ini untuk keegoisannya sendiri. LIKAI tersenyum ketika menerima permintaan maaf dari Eve.
--SELESAI--
#slice of life
#friends
#fyp