"Ntan..nanti pulang sekolah temenin lihat basket ya?" kata Rasyi dengan muka memelas sambil mengatupkan kedua tangan memohon penuh harap pada sahabatnya Intan. Hari ini ada jadwal pertandingan antar kelas. Dan Rasyi berharap bisa melihat dan memandang Irwan meskipun dari jauh.
"Huuu..kamu tu tahu aja kalo Irwan ada jadwal basket!" Seru Intan meledek, seolah sudah hapal kebiasaan Rasyi.
"Iyalah,,hapal..hehehe...mau ya? Temenin ya.."
"Iya deh, nanti aku temenin nonton, hari ini mama gak ada minta buat dianterin periksa. Jadi buat sahabat aku yang lagi jatuh cinta tapi gak berani ngomong dan bisanya cuma mandangin doaaang, aku temeniin" kata Intan setengah teriak, kontan saja mulutnya langsung dibekap oleh Rasyi.
"Kamu tu ya,jahat ih teriak kenceng gitu. Malu tau!"
"Hmmm,,iyaammpp..leeeppaaassh" sambil berbicara Intan berusaha melepaskan tangan Rasyi dari mulutnya.
"Iya,,sori sori..habisnya kamu tu kelamaan sukanya. Gemes aku lihatnya. Mau sampai kapan? Keburu lulus, ntar kamu jadi pindah. Gak bakal bisa apa-apa tahu?"
"Ya kan gak mungkin aku yg bilang Ntan, malu lah masak cewek yang ngebet. Kayak apa aja?" Rasyi mengomel, seraya memandang dari jauh Irwan yang disayangnya. Cowok itu sedang asyik berlatih basket, berlarian dengan teman-temanya. Sesekali cowok itu didekati beberapa teman sekelasnya. Ada yang sekedar menyapa atau yang sekedar memberikan sebotol minuman.
"Kamu tu ya Ra, liat tu. Mereka aja pada ngintil ngasihin minum, masak kamu ya tetep gak berani?" Desak Intan semakin gemas melihat Rasyi yang seolah semakin malu meskipun hanya memandang Irwan.
"Gak tau aku Ntan, aku beraninya emang cuma mandang aja. Ntar kalo deket apa ngobrol keringetan, bingung mau ngomongin apa"
"Ah..terserahlah. Ntar kalo udah mau kelulusan masih kayak gini nyesel lo!" Akhirnya Intan berlari pergi menjauh menuju kantin sekolah.
Sebentar lagi jam istirahat selesai akhirnya Rasyi kembali masuk kedalam kelas.
*****
Kejadian terus berulang hingga akhirnya seperti yang diduga. Hari pengumuman kelulusanpun tiba. Semua anak bersorak mendapati surat kelulusan tersebut.
Begitupun Rasyi, sambil memandang surat kelulusan dia melihat Irwan dari jauh. Inginnya dia mendekat, sekaligus mengucapkan selamat dan menjabat Irwan karena telah sama-sama lulus. Tapi rasa takut dan rendah diri dari Rasyi, membuat ia mengurungkan niat tersebut. Rasyi bukannya jelek, dia memang tidak secantik teman-teman sekolahnya. Rasyi manis, dengan lesung pipinya. Rambutnya ikal, tingginya juga diatas rata-rata anak sebayanya. Tapi sifat pemalu, membuat Rasyi selalu takut dengan Irwan.
Apalagi ketika Rasyi menyadari dia menyukai Irwan. Pertemuan pertama dengan Irwan yang berkesan membuat Rasyi menjatuhkan hatinya pada teman SMAnya.
*****
3 tahun lalu, saat itu Rasyi ditinggal teman-temannya berangkat makrab sendirian. Rasyi tertinggal disekolah, karena saat itu hari pertama dia red-days, dia menggunakan waktunya lama dikamar mandi. Begitu dia keluar, bis yang digunakan bersama untuk berangkat makrab sudah berjalan. Mau menghubungi pihak panitia ataupun teman-temannya, Handphonenya sudah berada didalam bis. Teman sebelahnya mungkin kurang peka, sehingga tidak menyadari temannya telah tertinggal di sekolah. Saat itu Rasyi seperti hendak menangis, ketika sebuah tangan menepuk pundaknya.
"Kamu ketinggalan bis?" Tanya cowok tinggi, dengan senyum manis.
"Iyaaa,,tas aku semua udah disana,,tadi cuma kekamar mandi bentar, tapi kayaknya beneran ditinggal."jawab Rasyi sudah benar-benar menahan tangis.
"Ya udah, yuk bareng aku aja. Aku sengaja gak bareng bis, mau naik motor aja. Ternyata ada yang ketinggalan di sini. Yuuk,,!" Sambil menarik tangan Rasyi, Irwan nama lelaki itu menaiki motor Cbr 250 cc.
"Ayo naik, biar sampe sananya bisa barengan. Peluk sini" perintah Irwan menarik tangan Rasyi keperutnya.
"Eeh.." kata Intan mau menarik tangan yang sudah ditarik Irwan. Rasa malu menyergapnya.
"Kalo gak pegangan, kamu bisa jatuh. Terus pinggang kamu bakalan capek. Ini juga termasuk safety ridder, biar kamu dan aku aman" jelas Irwan. Akhirnya dengan rasa malu dan hati yang berdegup. Rasyi memeluk Irwan dan perjalananpun dimulai.
Perjalanan yang lumayan jauh dari sekolah hingga tempat tujuan, membuat Rasyi merasa akrab. Cara Irwan berbicara dan sikapnya yang humble, membuat Rasyi bahagia.
Sejak saat itu Rasyi selalu memandang Irwan, pernah dia mengirimkan kue sekedar ucapan terimakasih. Tapi karena sikap Irwan yang hampir sama dengan semua orang. Membuat Rasyi akhirnya mundur teratur merasa kalau dia juga tidak terlihat spesial dimata Irwan.
*****
Rasyi berusaha mendekati Irwan yang saat itu sedang berkumpul dengan teman-temanya. Mereka terlihat asyik membicarakan tentang kehidupan pasca SMA.
Dengan langkah berat, Rasyi berusaha berjalan ke arah Irwan. Ketika akan memanggil namanya, Rasyi mengurungkan niatnya untuk memanggil Irwan, saat itu ia melihat ada seorang temannya yang datang memeluk Irwan dengan mesra. Inginnya Rasyi menegur, tapi melihat adegan yang membuat polusi mata, akhirnya Rasyi memutar balik dan pergi berjalan menjauh. Tanpa sadar Irwan sebenarnya mengetahui kalau Rasyi berjalan kearahnya tadi, ingin mengejar Rasyi yang akhirnya memutar balik tapi pelukan dari sepupu perempuannya membuat Irwan tetap ditempatnya.
*****
Dari arah belakang Intan tiba-tiba berlari menyusul Rasyi, sambil menepuk pundak kanannya.
"Kamu gak jadi kasih buku itu Ra? Tanya Intan.
"Kasih gak ya?" Balas Rasyi ragu.
"Kamu udah gak tau lagi bakal balik ke Surabaya kapan? Iya kalo ketemu, dia masih sendiri. Saran aku, kamu kasih aja. Perkara dia bales apa enggak, kamu dah gak penasaran lagi. Jangan sampe nyesel gak sempet ngomong, mending ngomong jujur terus ditolak daripada kamu pendem sampai mati. Nyesel. Amit-amit Ra" omel Intan gemas.
"Iih, doanya jahat. Kamu aja ya yang kasih. Aku gak enak, malu. Aku bentaran mau berangkat, pake kereta sore. Sekalian aku pamit ya" ujar Rasyi sambil memeluk Intan.
"Ini aku bawain kenang-kenangan buat kamu juga" Rasyi melepaskan pelukan dan membuka tas ranselnya ia mengeluarkan bingkisan berwarna coklat tua.
"Kita masih bisa kontak-kontakkan kan? Ntar kalo kangen sering video call ya?" Intan kembali memeluk Rasyi sambil menahan tangis. Dia tidak rela sahabat sedari SD tiba-tiba memutuskan pindah kuliah ke Jogja mengikuti kedua orang tuanya.
"Bakal kangen aku Ra.." kata Intan lagi.
"Iya aku juga bakalan kangen lagi" sahut Rasyi memeluk Intam erat.
"Kalau aku dah beres kuliah, ada libur semesteran aku bakal ijin sama ibu buat ke Surabaya deh, kalau kamu pas lagi kangen berat." Melepaskan pelukan sambil meledek Intan, yang diledek balik cemberut akhirnya.
"Udah siang aku balik dulu ya, mau nyiapin barang-barang buat berangkat sore. Kamu gak usah anter aku, ntar aku nangis. Kita pisahan disini aja. Kamu bilang ntar juga mau anter mamamu ke dokter kan." Rasyi sudah bersiap-siap memesan ojek online untuk mengantarkan ia pulang.
"Iya, maaf ya Ra. Aku pengen banget anter ke stasiun juga. Tapi pas jadwal kontrol mama hari ini."
"Gak papa kali Ntan, santai...,besok kalo udah nyampai Jogja aku kabari ya. Ini aku titip tolong kasihkan buku buat Irwan aku beneran gak punya muka buat ngelihat wajahnya, malu" pinta Rasyi kepada Intan sambil tersenyum, dan setelahnya ia pun bergegas pulang karena pesanan ojeknya telah menunggunya.
Irwan menerima buku titipan dari Intan. Dia tampak terkejut ketika Intan tiba-tiba memanggilnya. Ia pandangi buku-buku itu. Sepaket seri buku tentang seni Psikologi. Rasyi mengetahui sedikit cita-cita Irwan yang ingin meneruskan kuliah di jurusan Psikologi.
"Ini buku dari siapa Ntan?" Kata Irwan membuka tas berisi kumpulan buku.
"Kan ada nama pengirimnya, kamu baca aja. Aku pamit dulu ya" Intan bergegas pergi.
Dibukanya buku yang paling atas dari dalam tas kertas itu. Dia melihat ada sepucuk surat dari dalam buku. Ia buka surat dan membacanya.
Hi Irwan,
Selamat untuk kelulusannya.
Semoga suka dengan hadiahnyanya :)
-R-
Seketika Irwan mematung, R insial dan tulisan tangan itu dia hapal. Bagaimana tidak hapal, dia sering pinjam buku Risya lewat teman-temannya juga. Ternyata Risya suka diam-diam memperhatikannya.
Langsung dia mengejar Intan. Bermaksud menanyakan tentang Risya, kenapa bukan dia yang menyerahkan buku untuk dia.
Akhirnya setelah didesak Irwan mengetahui juga kalau Risya hari ini akan berangkat ke Jogja. Dia minta alamat dan nomor telepon Rasyi.
Dan setelahnya dengan tergesa dia menaiki motornya menuju rumah Rasyi.
"Semoga belum terlambat" kata Irwan
*****
Sesampainya di depan rumah Rasyi, Irwan melihat rumah dalam keadaan sepi.
"Apa udah berangkat ya? kata Intan kereta jam 4 ini baru jam 2" batin Irwan, akhirnya dia hubungi nomor telepon yang tadi diberikan Intan.
Tidak lama dari seberang teleponpun diangkat.
"Halo," jawab seseorang, terdengar suara laki-laki yang mengangkat telepon itu.
"Halo, bisa bicara dengan Rasyi"
"Rasyi? Sebentar anaknya baru dikamar mandi. Oh ini udah keluar." Kata orang tersebut.
Terdengar dari kejauhan, "siapa kak?" "Gak tau,nih" jawab suara laki-laki itu.
"Ya halo" kata suara perempuan itu akhirnya.
"Rasyi kan ini?"
"Iya, maaf ini siapa ya?
"Irwan, aku didepan rumah kamu. Kamu keluar gih" balas Irwan dengan senyum tertahan.
"HAAAA..." terdengar teriakan Rasyi yang cukup keras dan Irwan juga mendengar beberapa orang dirumah seperti menegur Rasyi.
Tak lama Irwan mendengar langkah kaki dari belakang, dia langsung menutup teleponnya.
"Irwan,," kata suara perempuan dibelakangnya. Irwan menoleh kebelakang dan tersenyum. Dia turun dari motor dan berjalan mendekat ke arah Rasyi. Perempuan manis yang diam-diam juga disukai Irwan.
"Hai..kata Intan kamu mau pindah ke Jogja?" Tembak Irwan tanpa basa-basi.
Mendengar pertanyaan itu, Rasyi bingung menjawabnya antara malu dan suka. Dia tersenyum membalas pertanyaan Irwan.
"Iya, hari ini mau berangkat. Pakai kereta sore." Jawab Rasyi.
"Kamu koq bisa tahu alamat dan nomor teleponku"
"Aku minta tadi sama Intan. Kamu koq gak bilang-bilang kalau mau pindah?" Tanya Irwan memandang tajam Rasyi, yang dipandang semakin menundukkan kepala. Malu ingin menatap balik.
"Iya, soalnya ayah dapat surat kepindahan kerja. Akhirnya sekalian semua anak-anaknya dibawa." Kata Rasyi kemudian.
"Ooo,,gak ada niatan balik kesini?" Tanya Irwan lagi.
"Belum ada sih, enggak tahu nanti. Emang kenapa?"
"Pacaran yuk!?" Ajak Irwan tiba-tiba. Rasyi yang mendengar ajakan Irwan hanya memandang Irwan dengan muka melongo. Bingung dan terlihat bodoh.
"Aku mencintaimu Rasyi. Udah dari lama sebenernya. Tapi kamu kalau dideketin suka menghindar. Kirain kamu gak suka sama aku, ternyata kamu perhatian juga sampai ngasih buku sebanyak itu." Cecar Irwan kepada Rasyi. Jantung Rasyi berdegup kencang, keringat dingin menetes di dahinya. Tiba-tiba tangannya digenggam Irwan.
"Kamu suka aku kan?" Irwan menatap mata teduh Rasyi. Rasyi menganggukkan kepala dan menatap Irwan malu-malu.
"Aku juga ada rencana kuliah di Jogja. Jadi kali ini biar aku yang ngejar kamu ya!?" Irwan tersenyum memandang Rasyi penuh arti.
Ternyata diam-diam Irwan juga selalu memperhatikan Rasyi. Hatipun tertaut.
"Aku mencintaimu juga Wan." Dan Rasyipun menatap Irwan penuh haru. 3 tahun keduanya hanya memendam rasa tanpa terucap. Baru kali ini mereka memanfaatkan kesempatan dan waktu yang ada.