Pagi itu hari minggu, aku bangun dengan semangat, entah apa yang sedang aku pikirkan. Tanpa basa-basi lagi aku langsung membantu Ibu di dapur, setelah itu menyapu dan lain sebagainya. Sampai semua pekerjaan rumah telah selesai, akhirnya aku bisa jalan-jalan.
Ketika aku sedang berjalan di sekitar rumahku, tiba-tiba terdengar suara,
Crak! Crek! Crak! Crek!
Saat aku hampiri ternyata suara itu dari seorang kakek tua yang sedang berjalan sambil menawarkan jasanya. Jikalau ada yang akan menembel pancinya pada kakek tersebut.
"Uh....kasihan sekali kakek itu. Semoga ada orang yang menghampirinya." gumamku dalam hati.
Ternyata benar saja, bibiku datang dengan membawa beberapa pancinya yang berjumlah empat buah sambil berlari.
"Oh....akhirnya ada yang datang...", suara lirih kakek itu dengan raut wajah gembira.
Aku pun ikut menghampiri sambil melihat-lihat cara kakek itu membenahi panci-panci tersebut.
Bibiku bertanya, "Berapa saya harus membayar tagihannya kek?"
Kakek itu menjawab, "Hanya 35 ribu bu.."
Aku terkejut mendengar ucapan beliau, menambal panci sebanyak itu dan berjalan setiap hari sebegitu jauhnya hanya meminta bayaran 35 ribu. Saat aku sedang dalam lamunanku, tiba-tiba Ibuku ikut menghampiri.
Setelah basa-basi sebentar Bibi pun membayarnya tapi, "Kek panci saya rusaknya sedikit, tapi kenapa harus bayar 35 ribu, terlalu mahal! Ini saya bayar 20 ribu saja!", kata Bibiku membentak kakek itu, hingga membuat beliau murung.
Hal itu pun membuat Ibuku terketuk untuk membantunya, "Mbak, kasihan beliau, ia sudah berjalan jauh dan pasti perutnya sudah lapar. Setidaknya bantulah beliau sedikit saja.", Ibuku meyakinkan Bibiku.
Aku pun ikut menyambung, "Ia bik karena dengan membantu kakek itu, kita sama artinya dengan beramal."
Akhirnya Bibiku juga mulai merasa kasihan dan ia pun memberi uang lebih pada kakek tersebut, kemudian meminta maaf atas sifatnya yang buruk tadi.
Kakek itu memaafkan dengan suara lembut dan kemudian menghampiri aku.
"Dik terima kasih ya. Karena kamu Kakek dapat rejeki lebih...", ucap kakek itu kepadaku.
"Sama-sama Kakek, saya hanya membantu sedikit," jawabku sembari tersenyum.
Dari cerita di atas, kita seharusnya dapat mengambil hikmahnya, karena kita sebaiknya selalu beramal dan membantu seseorang dengan ikhlas dan tulus. Karena perilaku yang mulia itu dapat mendatangkan berkah.
Dikutip dari pengalaman penulis.
Ayu Risna