Saat ini aku sedang melihat pemandangan yang membuat hatiku sesak. Di sana, lelaki yang aku cintai sedang bersenda gurau dengan kekasihnya. Lelaki yang sialnya merupakan mantan kekasihku sendiri.
"Nes!" tepukan itu mampu membuyarkan lamunanku. Kulihat Derry membawa dua botol air mineral, dengan salah satunya sudah berkurang hampir setengah.
"Lagi liatin apasih seru banget kayaknya!" celetuk Derry.
"Bukan apa apa kok Der." elak ku padanya. Aku tak mau dia sedih karena aku yang masih belum move on dari mantan, yang entah kebetulan atau apa ia adalah sahabat Derry sendiri.
Bukannya aku selama ini tak sadar bahwa Derry menaruh perasaan padaku, tetapi aku belum siap jika menjalin hubungan kembali. Apalagi dengan diriku yang belum bisa move on dari mantan, aku tak ingin menjadikan dia sebagai pelampiasan.
"Ya udah, pulang yuk!" ajak Derry, aku pun menyetujuinya mengingat hari mulai panas.
Selama kurang lebih satu tahun ini, Derry lah yang selalu ada saat aku sendiri. Ia bahkan menyempatkan waktunya untuk mengunjungi ku secara diam-diam. Tentunya tanpa sepengetahuan sahabatnya, alias mantanku.
Tak terasa juga sudah lebih dari satu tahun aku putus dengannya. Tapi kenangan manis masih saja terlintas di kepalaku. huh, ini sungguh menyebalkan.
Derry menuntunku menuju mobilnya, jika saja kakiku dalam keadaan baik pasti aku akan menjaga sedikit jarak antara aku dengan nya. Bukannya aku sedang menolak tapi aku benar-benar tak bisa jika hubungan mereka malah kacau karena aku. Karena yang ku tahu mereka sudah bersahabat sejak kecil.
"Hati-hati!" perintahnya ketika menuntunku masuk ke mobil. "Apakah masih sakit?" tanyanya melihat aku meringis kesakitan.
"Udah mendingan kok." jawabku.
"Atau kita ke rumah sakit aja?" tawarnya yang ku tolak dengan tegas.
"Eh, nggak usah, ini nggak sesakit itu kok. Aku mau pulang aja, cuma jatoh kek gini aku udah sering kok." jawabku.
Derry hanya menganggukkan kepala menyetujui, mobil berjalan perlahan meninggalkan taman tempat kita jogging. Aku meninggalkan taman dengan tatapan tak ikhlas, aku merasa ingin kembali tapi aku tak mau menyakiti hati Derry. Walaupun aku tak mencintai Derry bukan berarti aku membenci Derry kan?
Derry menghentikan mobilnya tepat di depan rumah ku. Aku ingin membuka pintu tapi pintunya masih dikunci oleh Derry. Kulihat dia tengah bingung dan gelisah seperti ada yang mengganggu pikirannya.
"Nes!" panggilnya. Ku yakin dia ingin mengatakan sesuatu yang penting, dan kuharap itu bukan tentang perasaan.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." katanya sedikit ragu.
"Iya, apa?" tanyaku.
"Sebenarnya aku udah lama banget suka sama kamu Nes, bahkan dari sebelum kamu pacaran sama dia. Waktu denger kamu pacaran aku udah usahain buat lupain kamu, tapi aku nggak bisa sampai sekarang aku masih nyimpan perasaan ini untuk kamu." ungkapnya.
"Sorry," hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku.
"Derry menghela napasnya panjang, " Nggak papa, kamu masih suka sama Vero ya?"
Aku tercekat mendengar nama itu keluar dari mulut Derry, kukira kau tak tahu ternyata kau selalu mengamati ku sampai sedetail ini.
"Nggak perlu dijawab aku udah tau kok jawabannya apa." kata Derry tersenyum.
"Aku juga tau tadi kamu liatin Vero." lanjut Derry pelan.
***
Pagi ini adalah hari dimana aku wisuda, setelah 4 tahun memakan bangku perkuliahan akhirnya aku bisa wisuda tepat waktu.
Sepertinya pagi ini adalah hari bahagia sekaligus luka bagiku. Bagaimana tidak, di hari bahagia ini aku melihat Vero melamar kekasihnya dan mereka akan menikah dalam waktu dekat.
Dapat ku lihat pula raut wajah Derry yang tersenyum paksa, batinku bergejolak entah apa yang dipikirkan Derry, kuharap kau bukan khawatir tentang aku Der.
Sejak beberapa hari yang lalu, ia sudah tak pernah lagi menemui ku secara diam-diam. Aku sedikit lega tapi aku juga merasa kehilangan dia.
drt drt drt
Ponselku bergetar, tanda pesan masuk. Aku segera membuka dan melihat isi pesannya melupakan segala kesedihan ku.
Aku terkejut, rasanya tidak percaya dengan apa yang ku baca. Berulang kali aku membacanya dan itu tetap sama. Aku mendapat tawaran beasiswa full S2 di luar negeri. Mungkin ini adalah rencana dari Yang Maha Kuasa agar aku bisa segera move on.