Cerita ini di ambil dari kejadian nyata. Kejadian yang di alami author dan teman author. Kisah nyata ini, author ceritakan menjadi sebuah tulisan. Author tidak akan mencantumkan alamat dan nama asli dalam cerita ini. Oke, langsung saja ke ceritanya. Tapi sebelum lanjut, jangan lupa untuk like ceritanya ya.
👀👀👀
Seperti biasa setiap tahunnya, sekolah kami mengadakan acara pelantikan Dewan Penggalang baru dan perpisahan Dewan Penggalang Senior. Acara ini hanya berlaku untuk anggota DP dan calon DP saja, dan sisanya murid akan belajar seperti hari biasanya di sekolah. Sebenarnya aku dan temanku bukan anggota ataupun calon anggota DP. Melainkan anggota PMR. Kami selaku anggota PMR, sangat di butuhkan di sana. Jadi kami juga harus ikut serta dalam acara ini. Pelantikan dan Perpisahan ini akan di lakukan di luar lingkungan sekolah. Artinya, kita akan mengadakan acara perkemah di tempat lain. Di tempat yang bisa di sebut memasuki daerah pegunungan yang sejuk akan udaranya. Perkemahan itu membutuhkan waktu selama tiga hari. Jadi, kami para calon anggota DP maupun PMR di berikan sebuah kertas perizinan untuk orang tua masing-masing. Jika surat tersebut tidak ada tanda tangan dari orang tua atau wali murid, maka murid tidak bisa mengikuti acara ini. Para pihak sekolah juga akan menjamin keselamatan para murid yang sudah mendapatkan izin dari orang tuanya. Termasuk aku, aku juga sudah mendapatkan izin dari orang tua ku.
Kami sekeluarga sekolah, akan berangkat ke lokasi hari Kamis pagi dan pulang kembali pada hari Sabtu pagi. Sebelum berangkat berkemah, pertama-tama kami di berikan arahan terlebih dahulu, persiapan, peraturan, jadwal kegiatan dan peralatan yang harus di bawa. Setelah kakak pembina menjelaskan panjang lebar mengenai arahannya, kami seluruh siswa yang akan ikut kemah di perbolehkan pulang lebih awal untuk mempersiapkan peralatan yang harus di bawa untuk esok. Aku dan temanku sebut saja dia dengan Rara senang sekali bisa ikut bersama mereka untuk berkemah. Tugas para PMR di sana tidak sama dengan tugas DP. Tugas kami hanyalah memantau kesehatan para anggota DP. Ini adalah hal yang paling menyenangkan bagi kami anggota PMR. Karena selain tidak terlalu berat tugas, kami juga mendapatkan satu buah kantung Snack plus minumnya perorang. Enak bukan.
Malamnya aku sedang merapikan peralatan ku ke dalam tas ransel ungu. Kedua orang tua ku terus saja menasehati ku agar tidak begini, jangan begitu, nanti ini. Pokonya mereka sangat khawatir sekali pada ku. Aku mengiyakan nasehat mereka, akhirnya mereka berhenti menasehati ku lagi. Tiba-tiba mama ku menghampiri aku, ia memberikan 4 buah roti jepang (sesuatu yang di pakai saat datang bulan). Memang, insting ku berkata kalau 2 atau 1 hari lagi aku akan kedatangan tamu merah. Untuk jaga-jaga, aku mengambil roti jepang itu dan menaruhnya di paling bawah agar tidak terlihat oleh teman yang lainnya. Agar esok terlihat lebih semangat dan segar, aku memutuskan untuk tidur lebih awal agar tidak kesiangan juga.
Pagi yang indah, aku sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Tidak lupa untuk berpamitan ke pada kedua orang tua ku. Aku pun berangkat ke sekolah diantar oleh ayah. Setelah sampai di sekolah, semua teman PMR ku sudah berada di sekolah lebih awal. Kita di suruh untuk menunggu anggota DP dan PMR yang belum datang terlebih dahulu. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya anggota DP dan PMR sudah lengkap semua dan sudah di absen satu persatu. Kami berangkat ke lokasi menaiki mobil pikap, yang berjumlah 4 mobil dan satu truk berukuran sedang untuk membawa peralatan yang akan digunakan di sana.
Skip saja, aku dan rombongan sudah sampai di lokasi. Di sana ternyata ada sekolah lain yang sedang berkemah juga. Tetapi perkemahan mereka agak sedikit jauh dari tempat kami akan mendirikan tenda. Setelah tenda selesai didirikan aku dan rekan ku segera merapihkan tas kami di dalam tenda. Hari pertama berlalu dengan baik sesuai rencana awal yang kakak pembina arahkan. Pada hari kedua secara tiba-tiba aku kedatangan tamu merah, untungnya aku membawa roti jepang. Hari kedua pun berjalan dengan lancar, ya walaupun ada yang mengeluh lelah setelah menjelajahi hutan dan mendaki terlalu tinggi dan jauh.
Malam hari kedua, sekitar pukul sembilan aku bersama Rara kebelet pipis, sementara toilet ataupun kamar mandinya terlalu jauh dari tenda kami. Ada satu jajaran toilet gratis yang lumayan dekat tetapi sepanjang perjalanan menuju ke sana itu sangat gelap. Mau tidak mau, kami harus memilih toilet gratis itu. Alasan pertamanya karena kita tidak punya uang receh untuk membayar toilet non gratis. Kita berdua segera berjalan menuju toilet gratis itu dengan bermodalkan satu senter tembak milikku. setelah sampai di sana, aku yang masuk lebih awal dan Rara yang menunggu, bergiliran. Setelah aku selesai, giliran Rara yang masuk ke toilet.
Sambil menunggu Rara keluar dari toilet, aku memainkan senter tembak ku kesekeliling toilet. Aku menghentikan sorot senter ku di ujung jajaran toilet. Seperti ada seseeorang di sana. Rara pun akhirnya keluar dari toilet, aku segera memberi tahu Rara jika ada orang di sana. Takutnya itu adalah siswi sekolah lain yang tersesat saat menjelajah hutan tadi siang. Siswi itu berpakaian Pramuka mengenakan jilbab coklat. Aku terus menyoroti siswi itu dengan cahaya senter ku. Karena senter ini adalah senter tembak maka cahayanya sampai ke arah siswi itu. Siswi itu masih diam duduk jongkok sambil memeluk lututnya sendiri. Saat aku dan Rara ingin menghampirinya, ia menoleh ke arah kita.
Alangkah terkejutnya aku dan Rara saat melihat ke bagian wajahnya yang rata. dia tidak memiliki mata, mulut, hidung, alis, ataupun anggota lain yang ada di wajahnya. Semuanya rata. Kami terperanjat ketakutan dan berlari terbirit-birit menuju tenda sekolah kami. Segera saja aku dan Rara masuk ke tenda PMR. kita berdua duduk terdiam sambil mengatur nafas yang tersengal-sengal. Para anggota PMR kebingungan dengan tingkah kita bertanya. Tetapi aku dan Rara saling menatap satu sama lain, memberikan kode untuk tidak menceritakan tentang kejadian tadi. Takutnya mereka semua ketakutan.
Jujur saja aku dan Rara masih tidak percaya dengan apa yang kita lihat barusan. Itu benar-benar nyata atau hanya ilusi kita saja yang terlalu lelah. Tapi sosok itu benar-benar really. Sampai sekarang jika aku membicarakan hal itu kepada Rara, pasti ia merinding mengingatnya. Begitu juga denganku, saat menulis cerita ini aku pun merinding sendiri jika mengingatnya.
Sekian ceritanya, terimakasih sudah membaca cerita ini. Jangan lupa untuk like ceritanya Agar author nulis cerita nyata lagi yang pernah author alami.
Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam penulisannya 🙏