"Ah, Berisik! Kalau pak tua itu terus batuk sepanjang malam. Bagaimana aku bisa tidur?" Guntur meradang dan nampak sekali kemarahannya. Berkali-kali mengumpat. Sorot matanya kian memperlihatkan kemarahannya. Gigi-giginya pun terdengar beradu, mempertegas bentuk rahangnya. Bahkan, ia melempar asbak ke pintu kayu kamar kontrakan untuk menunjukkan kemarahannya.
Tak ada yang berani menegur. Tak ada yang berani mengambil resiko hanya karena sebuah teguran. Semua hanya diam melihat bagaimana Guntur meluapkan emosinya.
Aku sendiri pun hanya bisa diam di tempat tidurku. Bagiku, apa yang dilakukan Guntur, justru lebih berisik dari batuk pak tua tetangga kontrakan kami itu.
Meski begitu, aku pun bukan tipe orang yang mau berurusan dengan Guntur. Aku ingat bagaimana dulu Kang Darma yang badannya berotot, terkapar oleh Guntur hanya dengan sekali pukul.
Membandingkan dengan tubuhku yang kering kerontang, aku mungkin akan bernasib lebih buruk dari Kang Darma kalau mencoba menegur Guntur kali ini.
Guntur adalah pegawai senior di tempatku bekerja. Kami sama-sama perantau dan bekerja dalam tempat kerja yang sama. Diantara beberapa pekerja yang sesama perantau, memutuskan untuk mencari rumah kontrakan tak jauh dari tempat kami bekerja. Hanya dengan begini, kami bisa meminimalisir pengeluaran, termasuk aku, juga Guntur.
Kontrakan kami tak begitu besar. Selain aku dan Guntur, masih ada teman kami yang lain, Kang Tejo juga Rifa'i. Dulunya ada Kang Darma juga, tapi setelah tragedi yang membuat Kang Darma kehilangan satu giginya karena pukulan Guntur,. Kang Darma keluar.
Guntur terkenal keras di tempatku bekerja. Hampir seluruh tubuhnya dipenuhi tatto, belum lagi kuping yang bertindik, semakin membuat dirinya terlihat arogan.
Selain kami, ada pula pengontrak lain yang kontrakannya saling bersebelahan. Seperti halnya Pak Wiro, tukang pengumpul barang bekas yang sudah beberapa hari ini terdengar sering terbatuk-batuk. Dan itu yang membuat Guntur sering naik darah.
Guntur beranjak dari tempat tidurnya. Dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana kolor, makin memperlihatkan corat coret tatto di sekujur tubuhnya. Guntur keluar dari kamar dan aku tahu tujuannya, karena tak lama terdengar teriakannya pada Pak Wiro.
Paginya, sebelum aku berangkat ke tempat kerja. Kulihat Pak Wiro sedang duduk didepan kontrakannya. Sementara Guntur sudah lebih dulu berangkat ke tempat kerja, aku sempatkan menghampiri Pak Wiro.
"Pak Wiro masih sakit?" Tanyaku begitu berada di depan Pak Wiro.
"Iya Mas Pram. Padahal juga sudah saya belikan obat di warung kemarin." Keluh Pak Miro.
"Oh..." Aku hanya mengangguk paham.
"Soal Tadi malam saya minta maaf ya, Pak. Guntur sudah keterlaluan." Imbuhku kemudian.
"Tidak apa-apa Mas. saya juga yang salah kok, Mas." Meski aku dengar Bagaimana Guntur meluapkan kemarahannya pada Pak Wiro tadi malam. Tapi Pak Wiro tetap saja merendah.
"Ya sudah, Pak. Saya permisi dulu." Ucapku kemudian.
Setelah Pak Wira mengiyakan aku pun berlalu men-starter motorku menuju tempat kerja.
Beberapa minggu kemudian aku tak lagi mendengar batuk Pak Wiro. Mungkin sudah sembuh, batinku lega, karena pada akhirnya, aku tak akan lagi mendengar umpatan dan kemarahan Guntur.
Pulang kerja Guntur Sudah terlelap di tempat tidurnya. Aku keluar dari kamar untuk mencari angin. Diluar terlihat Pak Wiro sedang menata kardus-kardus bekas yang akan dijualnya ke tengkulak esok pagi.
Aku melangkah menghampiri Pak Wiro, melihat kedatanganku Pak Wiro menghentikan aktivitasnya.
"Eh Mas Pram Belum tidur Mas?" Tanya Pak Wiro nampak begitu ramah. Kini aku lihat wajahnya sudah jauh lebih cerah tidak lagi pucat seperti beberapa hari yang lalu.
"Belum Pak Wiro." Sahutku kemudian. "Wah, kayaknya sudah sehat nih." Imbuhku mencoba untuk berbasa-basi.
Pak Wiro tersenyum sambil sesekali menepuk-nepuk bajunya untuk membersihkan telapak tangannya yang sedikit kotor.
"Berkat Mas Guntur, Mas." Ucap pak Wiro yang membuatku sejenak mengerutkan kening penuh rasa penasaran juga keheranan.
"Apalagi yang Guntur lakukan, Pak." Tanyaku mencoba mencari tahu.
"Ya, berkat Mas Guntur, saya sekarang jadi sembuh, Mas. Senin lalu Mas Guntur memaksa saya periksa ke dokter, awalnya saya menolak, karena mas Guntur terus maksa sambil nakut-nakutin katanya sakit saya bisa makin parah, ya saya mau juga dibawa ke dokter." Ucap Pak Wiro panjang lebar.
Deg! Saat itu juga aku terkejut antara percaya dan tidak dengan apa yang Pak Wiro ceritakan barusan.
"Jadi Guntur membawa Pak Wiro ke dokter?" Tanyaku masih belum percaya.
"Iya Mas Pram, Senin kemarin. Katanya mumpung dapat jatah cuti dan lagi dapat bonus." Jawab Pak Wiro.
Aku semakin terkejut, dapat jatah cuti juga bonus? Bahkan, hampir tiga tahun aku bekerja di tempat yang sama dengan Guntur, baru kali ini mendengar ada jatah cuti juga bonus di tempat kami bekerja.
Saat hatiku penuh keterkejutan, ingatanku justru berlayar ke hari Senin yang dimaksud Pak Wiro.
Hari itu aku ingat betul bagaimana si Bos marah-marah pada Guntur karena Guntur mau pinjam uang dengan jumlah cukup besar, setengah dari gaji bulanannya, juga minta izin libur kerja di hari itu.
Guntur hanya tertunduk saat si Bos memarahinya habis-habisan. Meski akhirnya Guntur dapat pinjaman, juga izin libur kerja.
Dan aku juga ingat saat di luar ruang si Bos, Guntur berkelakar saat ditanya kang Martho.
"Pinjam uang segitu, hari gini buat apa, Tur? Sampai-sampai izin libur segala." Tanya Kang Martho saat itu
"Biasa, Kang. Ada taruhan bola lagi. Sekalian mau nonton pertandingannya." Jawab Guntur hari itu.
Aku tidak menduga, ternyata Guntur meminjam uang bukan untuk apa yang dikatakannya itu, ternyata ini yang ia lakukan.
Aku menghela nafasku dalam dalam. Inikah Guntur sebenarnya?
Di balik wataknya yang keras ternyata ia berhati lembut. Di balik fisiknya yang seperti berandalan, ternyata tersembunyi sebuah kebaikan. Ia rela dimaki hanya untuk mengantar Pak Wiro ke dokter.
Lalu kenapa ia harus menutupi kelembutan dan kebaikannya itu selama ini? Aku masih bertanya-tanya dalam hati. Sejujurnya aku malu. Malu pada diriku sendiri.
Aku yang selalu berprasangka buruk pada Guntur, ternyata tidak lebih baik darinya. Aku yang sok peduli pada Pak Wiro, ternyata tak pernah melakukan apapun untuk Pak Wiro.
Sementara Guntur? Meski ia selalu mengumpat saat Pak Wiro batuk sepanjang malam, ternyata mampu membuat gebrakan yang tak pernah ku duga sebelumnya.
Aku melangkah menjauh dari Pak Wiro yang kembali sibuk menata kardus-kardus bekas, untuk kembali ke kontrakan. Ku buka pintu kontrakan, kulihat Guntur masih tertidur pulas.
"Pukul aku lebih dari pukulan yang kamu berikan ke Kang Darma dulu, Tur!"
Terima kasih untuk yang sudah sudi menyempatkan singgah di sini.
Mampir juga di novelku yang lain.
BROMOCORAH
Terima kasih.
Salam Rahayu.