Panjang perjuanganku hanya untuk mendapat atensimu. Melakukan segala cara untuk mempertahankan kau tetap berada di posisi yang sama. Terkadang, aku harus berpikir keras ketika jenuh mulai menghambat hubungan kita yang tak kunjung jelas.
Namun saat aku ingin memperjelas semuanya, dapatkah kau menerima?
~~
Di sebuah ruang kelas yang sepi, aku duduk sendiri. Suara hingar bingar dari arah lapangan tak sedikit pun menggangguku. Aku hanya butuh ruang. Aku hanya ingin menenangkan gejolak yang akhir-akhir ini membuncah dan membuat kepalaku ingin pecah.
Jika saja ada yang mengatakan rapuh hanyalah milik wanita, aku tidak setuju. Nyatanya, aku yang seorang pria pun turut merasakannya. Bukan tanpa sebab. Hatiku yang telah meleleh, kini mendadak rapuh karena terlalu lama memendam rasa.
Di satu sisi aku mencintainya tanpa dia tau. Bahkan, aku ingin menyatakan perasaanku yang telah lama bersemi untuknya.
Namun, pertimbangan panjang selalu membuatku mundur sebelum melangkah. Seperti selalu berkaca pada realita dan fakta, yang membuatku takut menyatakan cinta.
"Mulai hari ini, kita adalah sahabat!" Suaranya yang begitu bersemangat selalu terngiang di telingaku. Aku juga masih ingat jelas senyum dan raut wajahnya yang terlihat begitu bahagia meresmikan hubungan kami menjadi 'sahabat'. Meski sudah dua setengah tahun berlalu, semua masih nampak jelas di benakku.
"Hemm?" Saat itu aku sedikit terkejut. Netraku menyipit dan kutatap dia lewat ekor mataku. "Sahabat?" tanyaku berlanjut.
"Hih, Denis, kok gitu banget sih lihatnya. Pokoknya mau gak mau kita harus sahabatan," ucapnya menuntut. Dia memalingkan wajah kesalnya mendengar tanggapanku. Senyum yang terbit di wajah cantiknya seketika sirna dengan kedua netra yang masih menatap pada lalu lalang para siswa di parkiran, yang terlihat dari dalam kelasku. Rasanya aku ingin mencubit pipinya yang menggelembung akibat cemberut.
"Pftt...!" Dia benar-benar lucu. "Iya-iya. Kita sahabatan deh," kataku seraya menumpu dagu dengan kedua tangan di atas meja. Kalian boleh membayangkan gaya chibi. Tapi aku tidak se centil itu, oke!
"Kok pake deh?" Dia memprotes. Kali ini wajahnya semakin cemberut. "Ih, Denis aku pikir karena kita udah akrab jadi kamu mau jadi sahabatku. Ternyata kita..."
"Shht! Oke sayang, kita sahabatan!" Aku langsung memotong ucapannya sebelum dia terlalu jauh berpikir. Dan meski kami bukan sepasang kekasih, aku sering memanggilnya seperti itu ketika chatting ataupun ketika kami sedang berdua saja. Tanganku yang sedari tadi terasa gatal, akhirnya mendarat juga di pipinya dengan meninggalkan bekas merah akibat cubitan.
"Aww! Denis ... sakit!" Dia mengeluh, namun bibir mungilnya perlahan terangkat. Sepertinya rasa puas mendengar jawabanku telah mengalahkan sakit di kedua pipi mulusnya.
"Uh, iya maaf, Mesya." Tanganku reflek menyentuh kembali pipinya. Namun kali ini dengan gerakan yang lebih lembut.
"Udah jangan lama-lama ngelusnya. Tuh, ada yang datang." Mesya menunjuk arah luar dengan gerakan matanya. Sontak aku langsung meraih sebelah tanganku di pipi gadis itu, dan melipatnya kembali di atas meja. Mesya hanya terkekeh melihatku salah tingkah dengan wajah memerah.
Keakraban ku dan Mesya menjadi semakin intens sejak hari itu. Bahkan banyak yang terkecoh dan mengira kami telah resmi menjadi sepasang kekasih. Memang, bagi kami berdua tiada hari tanpa bersama. Setiap hari kami selalu berangkat dan pulang sekolah bersama.
Tentu saja, aku yang menjemput Mesya atas persetujuannya. Bahkan kedua orang tuanya pun menitipkan Mesya padaku.
Ah, andai saja kami lebih dari sekedar sahabat!
Tapi ya sudahlah! Aku tau semua yang indah sudah Tuhan atur. Pelangi butuh hujan untuk muncul. Seekor ulat juga butuh waktu untuk menjadi kupu-kupu. Benar kata pepatah, semua akan indah pada waktunya.
Semoga saja aku dan Mesya ada dalam salah satu rencana indah Tuhan.
"Denis Anggara!"
Aku tersentak dengan kedua mata membulat, ketika sebuah suara berhasil membuyarkan lamunanku tentang Mesya. Dan suara itu adalah suara gadis yang sedang kupikirkan.
Gadis itu berjalan mendekat, seraya membenarkan ikat rambutnya yang asal-asalan. Tapi meskipun begitu, Mesya-ku justru terlihat lebih manis.
"Ternyata kamu disini. Pantesan aja aku lihat kamu gak ada di barisan penonton." Mesya menuju tempat duduknya dan merogoh sebuah botol air mineral.
Oh Tuhan! Aku melupakan sesuatu.
Hari ini class meeting. Dan Mesya mengikuti salah satu pertandingan. Aku benar-benar melupakan itu. aku melewatkannya dan malah berdiam diri di dalam kelas.
"Oh ya, Sya, aku lupa kalau hari ini kamu ada pertandingan. Jadi gimana, kelas kita menang gak?" tanyaku dengan sedikit menyesal.
"Kalah," ucap Mesya singkat. Ia berusaha kembali menenggak air di dalam botol yang baru saja diambilnya.
"Sya, maafin aku ya. Aku bener-bener lupa."
"Lupakan!" Mesya beranjak dari posisinya. Ia mengambil langkah besar meninggalkan kelas.
"Loh, loh, Sya, kamu mau kemana?" Mesya tak menggubris panggilanku. Dia terlihat sangat marah. Bahkan setelah hampir 3 tahun aku mengenalnya, dia belum pernah terlihat semarah ini.
Aku langsung menyusul Mesya yang bergerak kembali ke lapangan. Langkah besarnya membuatku kehilangan jejak. Mesya hilang di tengah ratusan siswa yang menyaksikan pertandingan olahraga.
'Mesya, kamu kemana sih?' batinku mengeluh seraya benar-benar menyesal.
~~
"Hah, andai saja Mesya gak gegabah. Kita pasti sudah memenangkan pertandingan volly tadi," celetuk Risa, salah satu teman sekelasku dan Mesya yang menjadi teman satu timnya di pertandingan tadi.
"Sepertinya bukan gegabah Ris, tapi Mesya lebih kelihatan murung. Apa jangan-jangan dia ada masalah ya?" timpal Anggi, teman sekelas ku dan Mesya juga.
Aku lantas mendekati mereka berdua. Atensiku tertarik begitu saja setelah mendengar mereka menyebut nama Mesya. Entahlah, sejak rasa ini muncul, apapun yang berhubungan dengan gadis itu aku merasa selalu ingin tahu dan bahkan berusaha mencari tahu sendiri.
"Risa, Anggi, kalian lihat Mesya gak?" tanyaku pada mereka berdua.
"Entahlah. Aku gak tau Den, dia pergi begitu saja setelah pertandingan volly putri kelas kita kalah," jawab Anggi.
"Kamu kan sahabatnya Den, masak kamu gak tau ke mana Mesya? Lagi pula kalian juga sering bersama kan?" celetuk Risa kembali menghujaniku dengan pertanyaannya.
"Ya tadi sih udah ketemu, tapi sekarang gak tau dia ke mana. Ya sudah kalau begitu, aku cari Mesya dulu." Aku langsung pergi sebelum mereka berdua mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan yang lain.
Dari lapangan Aku berjalan mengitari seluruh bagian koridor sekolah, kantin, bahkan aku berdiri lama di luar area toilet wanita, sampai para siswi yang melintas disana menatapku seperti menatap orang mesum. Namun, aku tetap tak menemukan Mesya.
Akhirnya aku kembali ke dalam kelas, berusaha memastikan mungkin saja Mesya sudah disana.
Namun, Mesya tetap tak terlihat wujudnya.
Tapi, tunggu dulu!
Sepertinya bukan hanya Mesya yang tidak ada di kelas. Bahkan tasnya pun juga tidak terlihat. Apakah mungkin Mesya ...?
Dengan langkah cepat aku berlari menuju ruang BK. Bu Ina yang saat itu sedang melakukan konsultasi dengan seorang siswa, beralih menatapku bingung. Aku menunduk dengan napas kasar dan tak beraturan.
"Denis ..." Bu ina tak akan asing dengan wajahku. Sebagai salah satu siswa berprestasi di bidang non akademik sekolah, aku cukup dikenal banyak guru meskipun mereka bukan guru pengajarku. Apalagi sudah hampir 3 tahun aku di sini.
"Bu, apa tadi ada siswa perempuan kesini?" Aku tak peduli jika ada pendengar ketiga yang terkejut mendengar pertanyaan gamblang seperti yang ku utarakan. Biarlah! Aku tak malu lagi menyampaikan maksudku. Toh Bu Ina sering menjadi langganan curhat para siswa. Entah itu masalah pelajaran, masalah keluarga, bahkan soal cinta sekalipun.
"Mesya maksudnya?" Bu Ina langsung mengerti orang yang ku maksud. Maklum, hampir seluruh kehidupanku di sekolah selalu kulalui berdua dengannya. Jadi tak jarang jika para Guru pun tau siapa couple-ku.
"Iya Bu."
"Mesya tadi kesini. Dia ijin sama ibu untuk pulang lebih awal, karena merasa tidak enak badan."
Aku terkejut mendengar ucapan bu Ina. Mungkin ini yang menyebabkan performa Mesya menjadi tidak stabil dalam pertandingan. Mungkin ini juga yang membuat Mesya hari ini terlihat agak kurang bersahabat.
"Terima kasih, Bu. Kalau gitu saya permisi." Aku bergegas keluar ruang BK dengan berlari. Kuharap Mesya masih berada di lingkungan sekolah.
Seluruh sudut sekolah tak luput dari pantauanku. Namun aku tetap tak berhasil menemukan Mesya.
Terakhir, aku mencoba menghubungi ponselnya. Lagi-lagi diluar dugaan, dia tidak mengaktifkan ponsel.
Seketika aku merasa lemas. Bahkan kedua kakiku tak sanggup menopang tubuh dan membuatku mendarat dengan kasar di tempat duduk halaman depan sekolah.
Rasa lelah semakin terasa ketika semua usahaku tak membuahkan hasil. Aku merasa ada yang salah dengannya. Mesya tidak seperti Mesya yang ku kenal.
Aku rasa, Mesya menyembunyikan sesuatu!
~~
Hari ini aku berangkat sekolah seorang diri. Kemunculanku yang hanya sendiri justru menjadi pemandangan aneh bagi teman-teman sekelas.
"Tumben sendiri, Mesya kemana, Den?" tanya Ratna, teman sekelasku sekaligus teman sebangku Mesya.
"Dia sakit. Semalem udah whatsapp minta supaya aku gak usah jemput dia," tuturku.
"Oh, pantesan kemarin Mesya seperti gak fokus mainnya." Ratna begitu cepat menyimpulkan.
Sebenarnya aku masih merasa ada yang janggal dengan Mesya. Setelah semalam mengabariku untuk tidak datang menjemputnya, nomor Mesya kembali tidak aktif.
Aku mencoba menunggu hingga beberapa saat, karena berpikir mungkin sinyal yang sedang tidak bersahabat.
Namun sampai pukul 10 malam, pesan yang kukirim untuknya masih berstatus menunggu.
Ini pertama kali dalam hidupku setelah menjadi sahabatnya, melewati malam tanpa melakukan chating dan mengatakan good night.
Aku baru sadar, sekarang menjadi tak biasa tanpanya.
~~
3 hari berlalu, Mesya belum juga masuk sekolah. Dia juga tidak memberiku kabar apapun.
Walau sebenarnya aku selalu menanyakan kabar dan mengirim kata 'good night', Mesya tak membalas satu pun pesanku.
Aku tak tau kapan pesan itu ia terima, saat aku kembali mengeceknya di pagi hari tau-tau pesan itu telah sukses terkirim. Namun yang pasti, ketika aku kembali menghubungi Mesya, nomor ponselnya tak pernah aktif.
"Mesya, ada apa? Kenapa rasanya kamu seperti menjauhiku?" ucapku seraya memandangi foto kami berdua yang kujadikan walpaper beranda ponsel.
Tiba-tiba seisi kepalaku seperti mendapat petunjuk. Aku teringat sesuatu. Buku catatan Mesya yang ada padaku sepertinya bisa menjadi alasan agar aku bisa bertemu dengannya.
Aku bergerak cepat merogoh isi dalam tas. Benar saja, buku tulis Mesya masih ada padaku.
"Akhirnya aku punya alasan tepat untuk bertemu Mesya," ucapku bangga seraya membuka lembar demi lembar buku tulis di hadapanku.
Tiba-tiba, aku melihat sebuah tulisan singkat yang berada di kertas terakhir buku miliknya. Atensiku menatap intens rangkaian kata-kata tertulis dari Mesya. Tanpa sadar aku telah membacanya dalam hati.
'Panjang perjuanganku hanya untuk mendapat atensimu. Melakukan segala cara untuk mempertahankan kau tetap berada di posisi yang sama. Terkadang, aku harus berpikir keras ketika jenuh mulai menghambat hubungan kita yang tak kunjung jelas. Namun saat aku ingin memperjelas semuanya, dapatkah kau menerima?
Dan, bila aku mencintaimu, akankah kau juga mencintaiku, Denis?'
DEG!
Denis? Aku?
Jadi selama ini, Mesya juga memiliki rasa yang sama denganku?
Tanpa berlama-lama lagi, aku bergegas keluar kamar. Kunyalakan mesin motor untuk menuju rumah Mesya yang lumayan jauh. Tentu saja dengan membawa buku tulis itu sebagai alasan utama.
Bahagia, dan rasa tak percaya menyelimuti hati ini. Bahkan aku sendiri sulit menggambarkan betapa bahagianya diriku. Hari ini dan pada sore ini juga, telah kuputuskan bahwa aku akan menyatakan cintaku pada Mesya. Harus!
Dan di Prom Night malam nanti, aku ingin menggandengnya dengan membawa status baru pada hubungan kami.
Tok ... tok ... tok ....
Aku mengetuk pintu rumah Mesya, dan tak lama kemudian pintu rumah terbuka. Disana Ibu Mesya menyambutku dengan ekspresi ... tunggu dulu, mengapa Ibu Mesya terkejut saat melihatku.
"Eh, Denis. Ada apa?" tanyanya dengan ekspresi yang sulit ku artikan. Tidak sumringah seperti biasa saat aku datang menjemput Mesya seperti hari-hari sebelumnya.
"Tante, Mesya ada?" Aku yang tertahan di luar pintu mencoba melihat suasana di dalam rumahnya. Aku berharap bisa melihat Mesya berjalan disana.
"Eng ... Mesya ... kebetulan lagi keluar, Denis."
"Keluar? Bukannya Mesya sakit tante?" Aku kecewa, tadinya aku ingin menyatakan perasaanku pada Mesya detik ini juga. Namun lagi-lagi gagal karena dia sedang tidak di rumah.
"Iya ... iya, Mesya sudah sembuh kok. Tapi tadi masih keluar."
"Ya sudah, saya tunggu Mesya disini saja, Tante."
"Ja-jangan Denis. Lebih baik kamu pulang dulu. Mesya akan lama di luar. Nanti kalian bertemu di Prom Night saja bagaimana?"
Aku terkejut setelah mendengar penolakan yang tidak biasa dilakukan oleh Ibu Mesya. Terpaksa, saat itu aku langsung menyetujui perintahnya. "Oh, baiklah, Tante. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Iya Denis, hati-hati ya. Ya sudah tante masuk dulu." Wanita itu langsung masuk kedalam rumah dan menutup kembali pintu rumahnya. Aneh! Bukan sikap yang baik yang seharusnya dilakukan oleh tuan rumah kepada tamunya.
Sebernarnya aku merasa aneh dengan sikap Ibu Mesya. Mulai dari sikapnya saat menyambutku, ucapannya yang sedikit gugup dan tidak mempersilahkanku masuk, sangat kontras dengan perlakuan ramah yang kuterima sebelumnya.
Huft, Mesya ... kenapa rasanya kita semakin jauh. Padahal baru beberapa hari saja kamu menghilang.
Tapi, aku tak akan menyerah begitu saja. Jika detik ini gagal, aku akan melakukannya nanti malam. Aku akan menjadikanmu kekasihku, Mesya.
~~
Malam yang ditunggu-tunggu pun tiba. Semua siswa baik pria maupun wanita menggunakan setelan jas hitam dan dress berwarna cerah. Mereka yang hadir disini, seolah menjelma menjadi sosok yang lebih dewasa. Sangat berbeda dengan wajah kekanakan sok dewasa ataupun sebaliknya, yang sering kujumpai ketika di sekolah.
Pandanganku mulai menyapu seluruh sudut ruang, namun rasanya tak puas bila aku belum menyisir langsung untuk mencari Mesya. Namun tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Sontak aku langsung memalingkan wajah ke arah tepukan itu berasal.
"Mesya!" Mataku membulat sempurna tatkala menyaksikam sosok Mesya berdiri nyata di hadapanku. Aku yang terlalu bersemangat melihatnya, sontak langsung memeluk erat tubuh Mesya. Padahal baru beberapa hari tidak melihatnya, tapi hatiku sudah se-rindu ini. "Ups! Maaf, aku kelewatan," ucapku sembari melepas pelukan.
Mesya hanya tersenyum menatapku. Namun tatap matanya seolah menyiratkan kesedihan. "Denis, apa kabar?" Mesya menyentuh tanganku.
"Aku tidak baik-baik saja tanpa kamu, Sya." Aku memberanikan diri membalas genggaman tangannya. Tiba-tiba cairan bening menetes begitu saja dari pelupuk mata gadis itu. "Sya, kamu kenapa nangis? Kamu masih sakit?" Aku menjadi panik sesaat setelah Mesya meneteskan air matanya.
Dia menggeleng pelan lalu menatapku dengan sedih. "Denis, ayo kita pergi."
"Pergi kemana, Sya? Bahkan acara Prom Night pun belum dimulai."
"Denis, Please! Kali ini saja." Tanpa menunggu persetujuan dariku, Mesya langsung menarik tanganku dan berhenti di tempat parkir.
"Sya, kita mau kemana? Apa kamu tidak takut menyesal sudah melewatkan Prom Night sekolah kita?"
"Aku akan lebih menyesal kalau malam ini kita tidak bersama, Denis." Nada suara Mesya meninggi. Sepertinya bukan hanya sedih, tapi dia juga sedang berusaha meredam emosinya.
Aku yang saat itu masih bingung akan perkataan dan tujuan Mesya, hanya bisa menurutinya tanpa banyak bertanya. Aku berhasil mengeluarkan motorku yang terparkir, dan membonceng Mesya sebelum akhirnya kami pergi. "Sya, kamu pakai ini dulu, supaya gak dingin. Apalagi hujan baru saja reda." Aku memberikan jas ku padanya.
Mesya lantas memakai jasku tanpa banyak bertanya. "Makasih Denis."
Kunyalakan mesin motor dan kami berdua meninggalkan tempat acara tanpa ikut melewatkannya.
Aku masih bingung kemana Mesya ingin pergi. Dia hanya berkata, "Jalan terus, kemanapun. Jangan berhenti sampai aku yang meminta," ucapnya.
Tidak hanya itu, Mesya juga menunjukkan hal yang tidak biasa saat kami berboncengan di atas motor, dia memelukku erat. Jari-jemarinya bertaut di perutku seolah tidak ingin aku lepas.
Dapat kurasakan kemeja putih di bahuku mulai basah. Dan samar-samar aku mendengar isak tangis yang berusaha ia tahan.
Jarum jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 9 malam. Namun sedari tadi, Mesya belum juga mengatakan apapun.
Aku mulai khawatir. Bahkan rintik hujan kembali turun membasahi jalanan yang belum sempat mengering. Sepertinya hujan akan menyapa sebentar lagi.
"Sya, kita pulang aja ya. Apalagi sudah mulai gerimis. Nanti kamu akan semakin sakit." Aku sedikit menoleh. Ia tak bergeming dengan kepala yang terus bersandar di bahuku.
"Jalan terus kemanapun, Denis. Aku gak mau pulang." Mesya tetap kekeuh dengan keinginannya.
Tapi aku tak bisa terus menurutinya tanpa tau apa yang terjadi. Aku khawatir. Aku tidak ingin Mesya menyimpan kesedihannya seorang diri.
Tiba-tiba gerimis dengan cepat berubah menjadi hujan yang mengguyur deras. Sampai di sebuah jalanan sepi, di mana semua toko telah ditutup dan tak ada satupun orang yang melintas, aku menghentikan motorku disana.
Niat hati ingin berteduh, namun Mesya justru dengan cepat turun dari atas motor dan berjalan ke tengah jalanan hingga hujan turut mengguyur tubuhnya.
"Mesya!" Dengan cepat aku berlari dan menarik tangan Mesya untuk kembali berteduh. Namun dia menahanku untuk tetap berdiri dibawah rinai hujan yang kian deras. "Mesya ada apa? ceritakan semuanya. Jangan seperti ini." Kubiarkan tubuhku yang hanya terbalut kemeja putih ini basah. Aku lantas menangkup wajah cantiknya, memerhatikan netranya yang jelas menyimpan kesedihan.
Mesya meraih tubuhku dan memeluknya erat. Dari dekapan tangannya yang begitu kuat, aku merasakan ada emosi yang ia simpan. "Sya, katakan. Aku akan mendengar apapun yang menjadi keluh kesahmu. Aku akan membantumu jika bisa." Kuusap rambut panjangnya yang telah basah oleh hujan. Tubuhku ikut bergetar karena getaran yang berasal dari tubuhnya. Perlahan isaknya pun mulai terdengar jelas.
Dia melonggarkan dekapannya tanpa mengucap satu kata pun. Di bawah rinai hujan aku bisa melihat, air matanya juga mengalir deras.
Mesya menatapku sendu. Dengan sedikit berjinjit dia menyentuh bibirku.
Cupp!
Aku terbelalak. Mesya tanpa ragu mengecup bibirku!
"Denis, terima kasih telah menemaniku selama ini. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita," ucapnya. Kalimat yang aku pikir tak akan pernah terucap, justru diucapkan sendiri oleh Mesya.
"Apa? Kenapa? Mesya kenapa kamu berkata seperti itu?" Aku menatap kacau pada netra sendu miliknya.
"Denis, setelah ini kita tidak boleh bertemu lagi. Orang tuaku melarang." Dia selalu berucap dengan kalimat yang menggantung.
"Tapi kenapa?" Aku mengguncangkan tubuhnya. Aku tak ingin percaya apapun pada ucapannya. Hatiku sakit.
"Aku ... aku dijodohkan Denis. Mereka tak memperdulikan penolakanku." Tangisnya kembali pecah di bawah guyuran hujan yang tak kunjung reda. "Besok adalah pertunanganku. Lebih tepatnya pertunangan paksa. Dan bulan depan, aku akan menikah lalu pindah ke luar kota dengannya. Aku benci hidupku! Aku benci!" Mesya geram dan menjambak rambutnya sendiri.
DEG!
Aku membeku setelah mendengar kata 'dijodohkan'. Seketika aku ingin mengumpat kesal! Mengapa di jaman modern seperti ini masih ada orang tua yang egois.
Yang pasti saat ini aku merasa hatiku seperti dihujam oleh ribuan belati sekaligus. Sakit.
Padahal hari ini aku ingin menyatakan cinta. Tapi justru yang kudapat adalah kenyataan yang tak pernah sekalipun terpikirkan.
Aku menghembuskan nafas kasar dan berkata, "Mungkin dia jodohmu, Sya. Tuhan selalu memiliki cara yang berbeda untuk mempertemukan dua makhluknya. Meski aku sangat menyayangkan jika kau akan menikah muda, tapi ... aku percaya setiap rencana Tuhan akan lebih indah." Hanya itu yang bisa kuucap. Mencoba menenangkannya meski aku sendiri merasa sakit dengan kata-kata yang keluar dari lisanku. Ternyata, Tuhan tak pernah merencanakan sesuatu yang indah untukku dengan Mesya.
"Denis, aku punya satu permintaan terakhir untukmu." Mesya menatapku penuh harap.
"Katakan, aku akan mengabulkannya untukmu."
Tiba-tiba mesya menarik tengkukku, hingga membuatku membungkuk. Dengan segera dia menyatukan bibir kami. Dia menyentuh bibirku lembut, dibawah rinai hujan dengan hati yang hancur.
Air matanya terus mengalir. Aku bisa merasakan ada aliran hangat yang turut membasahi pipiku kala wajah kami tak berjarak sedikitpun.
"Sebenarnya aku mencintaimu, Denis. Bahkan sudah sangat lama aku merasakannya. Aku berharap suatu saat kita akan lebih dari ini. Tapi aku terlalu lemah melawan kehendak orangtuaku. Maafkan aku, karena tak bisa memperjuangkan rasa ini lagi."
Aku tak kuasa menahan air mata. Untung saja hujan membantu menghapus jejak linangan kesedihan di pipiku.
"Mungkin dia lebih baik dariku. Maka dari itu Tuhan mengirimkannya padamu sebelum kau menjadi kekasihku. Berbahagialah Mesya. Aku akan mendoakanmu." Hanya itu yang bisa kuucap. Aku sudah tak tahan lagi. Hubungan yang ku bina, perasaan yang ku pendam, justru berujung pada penyesalan. Aku terlalu takut merubah status persahabatan kami. Aku takut bila terjadi sesuatu yang membuat ku akan kehilangan Mesya. Tapi nyatanya, sekarang aku justru tetap kehilangan dirinya.
Aku memutuskan mengurungkan niatku untuk menyatakan cinta padanya. Aku tak ingin dia semakin sakit dan menyesali hidupnya yang rumit.
Karena ini adalah hari terakhir kami, kuberanikan diri untuk merengkuhnya sekali lagi, dan menciumnya sama seperti yang tadi dia lakukan.
Tuhan, kumohon! Untuk kali ini saja, biarkan aku memiliki Mesya-ku.
~~
Hampir pukul 11 malam aku mengantar Mesya pulang. Dia menyuruhku segera pergi sebelum kedua orang tuanya muncul.
Aku mengerti sedang dalam posisi apa saat ini.
Sebelum pergi, aku memberikan buku catatan yang pernah kupinjam padanya. Buku yang membuatku mengetahui isi hati Mesya selama ini.
Di dalam buku itu, tepat dibawah goresan curahan hatinya, aku turut mencurahkan segala isi hatiku. Menuangkan semua rasa dan hasrat yang kupendam padanya selama ini.
Setelah mengucap kata perpisahan, netraku tak lepas memandanginya. Lalu kulajukan motorku menjauhi area rumah Mesya.
Namun aku tidak langsung pergi begitu saja. Aku masih memperhatikannya dari jauh, sampai dia benar-benar berada dalam rumahnya.
"Mesya, andai kamu tau aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu!" Aku menyusuri jalanan gelap, membawa pulang hati yang hancur dan harapan yang telah pupus. Udara dingin memelukku erat, menghilangkan bekas hangat dekapan Mesya padaku.
Jika ada yang mengatakan rapuh hanya milik wanita, aku tak setuju. Karena saat ini, aku telah merasakannya.
-TAMAT-