Saya membencinya, namun juga mencintainya. Rasa yang saling bertolak belakang antara hati dan pikiran seharusnya tidak ada, dan tidak pula berdampingan hanya untuk satu orang saja. Seharusnya memang begitu, tetapi saya tidak memiliki daya untuk mengusir salah satunya pergi. Tidak bisa melupakan realita, juga tidak bisa menghapus asa.
Naif, satu kata yang sangat cocok disemaktkan, dan saya pun tidak menyangkalnya. Sebab, saya memang bodoh karena cinta. Ia meninggalkan saya ketika sedang sayang-sayangnya. Padahal saat itu banyak yang ingin saya tanyakan, seperti;
“Kamu sudah makan?”
Atau, “Apakah harimu menyenangkan?” dan masih banyak lagi yang belum saya pikirkan untuk ditanyakan.
Namun, pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak akan terealisasi, karena ia meminta berpisah setelah satu jam menjadi kekasih. Gila! Sangat gila pikir saya waktu itu.
Seharusnya saya marah dan mencercanya yang telah mempermainkan hati juga perasaan saya. Menerbangkan harap setinggi langit, lalu menjatuhkan ke dalam lautan. Ya, lautan kebencian.
Lalu saat itu teman saya berkata. “Sudahlah, Kawan. Jangan kau pandang lagi. Ia telah pergi jauh, sejauh saat kau belum mengenalnya.”
“Sialan!” ucap saya memakinya. Tetapi dalam hati membenarkan perkataannya. Sungguh ironi yang menyedihkan.
Hal itu membangunkan saya dari asa yang sudah dipupuk sejak pertama bertemu, kini harus pupus begitu saja. Ia telah pergi meninggalkan saya, meninggalkan sekolah dan juga teman-temannya. Di sini, di sekolah ini tempat kami bertemu, dan di sini pula tempat kami berpisah. Dan di sini pula tempat kami memulai hidup baru.
***
Rintik hujan menemani saya yang tengah mengenang masa lalu. Teringat kisah masa SMA ketika 1 jam bersamanya. Satu jam yang penuh arti dan satu jam yang mendebarkan, karena untuk pertama kalinya saya memiliki kekasih dan mungkin untuk yang terakhir kalinya pula.
Kala itu tanggal 17 Agustus, sekolah kami sedang merayakan hari kemerdekaan. Tak ayal, saya yang sudah mendaftar lomba tarik tambang harus mengundurkan diri sebab ia, gadis yang saya sukai menarik saya keluar lapangan. Dengan heran bercampur bahagia, saya mengikutinya.
Setelah sampai di tempat sepi, ia berbalik dan melepaskan cekalan pada lengan saya. Saya merasa kecewa karena hal tersebut tidak berlangsung lebih lama. Ya, menilik dari reputasinya yang terbilang gadis saliha, saya memahaminya. Lalu dengan wajah malu-malu ia berkata, “kamu mau jadi kekasihku?”
Krak
Gubrak!
Saya yang mendengar ia berkata seperti itu merasa kaget sekaligus bingung. Bersyukur saya tidak memiliki riwayat penyakit jantung dan hal itu sangat saya syukuri. Ingin menerimanya tetapi takut. Takut dengan ayahnya yang seorang guru agama di sekolah ini, jika ketahuan maka tamatlah riwayat saya. Namun, saya sadar diri sebagai laki-laki yang lemah iman tentu tidak bisa menolaknya. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, saya menyetujui ajakan tersebut.
Dan boom! Saya resmi menjadi kekasihnya.
Saat itu ada rasa penyesalan di hati saya, mengapa bukan saya yang mengajaknya lebih dulu? Mengapa harus ia yang notabenenya perempuan. Di mana letak harga diri saya sebagai laki-laki. Rutuk tak henti-hentinya saya layangkan pada diri sendiri dalam hati. Andai waktu bisa diputar, saya ingin mengatakannya lebih dulu daripadanya.
***
Seperti yang sudah dijanjikan pada aplikasi pesan WhatsApp. Kini saya akan memberanikan diri mengatakannya lebih dulu. Saya berharap itu akan sesuai dengan ekspetasi saya. Lalu di sini, di tempat kami menjalin kasih selama 1 jam, saya akan melamarnya. Setelah menanyakan statusnya, keputusan saya telah bulat untuk melamarnya dan menjadikannya sebagai istri.
“Sudah lama aku baru ke sini lagi,” ujarnya seraya menghela napas.
“Ya, sudah 10 tahun bukan?” tanya saya menanggapi, dan dijawab olehnya hanya dengan anggukan.
“Omong-omong apa yang ingin kamu katakana?”
Sesaat saya menghela napas dalam-dalam, menyiapkan mental jikalau pernyataan saya ditolak. Karena jujur saja, setelah lama berpisah saya tidak tahu apapun mengenai kabarnya. Walaupun kami sudah bertukar nomor dan saling menceritakan kehidupan masing-masing selama berpisah. Di sana, ia tidak menceritakan secara detail seperti saya menceritakan kehidupan saya padanya. Ia lebih banyak menanggapi dibandingkan bercerita.
Perasaan takut kian bergumul dalam hati saya. Namun, jika saya tidak berhasil menyatakannya sekarang belum tentu ada kesempatan lain. Maka dari itu, tanpa tedeng aling-aling, “menikahlah dengan saya?”
Saya tetap berjalan di sisinya dan tidak berani sedikit pun menatap wajahnya, apalagi tepat pada matanya. Entah apa reaksinya, sampai saat ini ia masih bungkam. Itu buruk! Apakah ia akan menolak saya?
Dengan memberanikan diri saya menghadap ke arahnya yang tidak saya sangka ternyata ia tertinggal beberapa langkah. Saya tidak bisa mengartikan ekspresinya, terkejut, senang ataupun sedih. Ia hanya diam mematung, dan saya pun melangkah mendekatinya.
“Aku tidak bisa menikah denganmu.”
Jeger!
Seolah petir menyambar, saya benar-benar ditolak olehnya. “Mengapa?” tanya saya dengan bahu lemas. Menurun seperti semangat hidup saya.
“Aku tidak bisa mengatakannya.”
“Mengapa?” ulang saya. “Lalu untuk apa kamu menyetujui ajakan saya ke sini. Untuk apa? Saya pikir kamu tahu maksud saya bukan? Apakah saya benar?”
“Ya, kamu benar. Aku tahu maksud dan tujuanmu, tetapi aku masih berani memberi harapan dan malah mengecewakanmu. Maaf, aku tidak bermaksud mempermainkan mu. Maafkan aku, Kawan?”
“Jangan menyebut nama saya! Kamu melakukannya seolah menegaskan hubungan kita. Itu tidak perlu.”
Suasana begitu hening, entah apa yang sedang dipikirkannya saya tidak peduli. Dan tidak akan peduli lagi!
“Menikahlah denganku?”
Saya celingak-celinguk mencari asal suara tersebut.
“Jangan cari lagi, aku yang mengatakannya.”
Saya bingung, saya di mana? Dia siapa? Atau tadi yang menolak saya siapa? Seperti itulah yang bergelut dalam pikiran saya. “Saya tidak mengerti maksudmu?”
Dia hanya terkekeh. Sial! Setelah mempermainkan saya, ia masih bisa tertawa. Tanpa menutup-nutupi kamarahan saya yang menyeruak begitu saja. “Kamu akan selalu seperti ini?”
Dia mengerutkan alisnya, “maksudmu?”
“Selalu mempermainkan perasaan saya!” ucap saya penuh penekanan. Dan ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah panik.
“Tidak, Kawan. Maksudku tidak seperti itu.”
“Tidak bermaksud seperti itu? Dulu kamu memutuskan saya secara sepihak tanpa penjelasan apapun. Lalu menyebabkan saya membencimu bertahun-tahun. Jika bukan karena kesadaran diri saya agar tidak lagi membencimu, saat ini mungkin saya tidak akan jatuh cinta untuk kedua kalinya padamu. Sekarang, kamu mau mempermainkan saya lagi? Setelah 1 jam melamar saya, kamu akan memutuskan saya lagi. Begitu?”
“Tidak! Kali ini tidak lagi. Aku bersumpah tidak akan melakukannya lagi. Mohon percayalah padaku?” pintanya sambil menangkupkan tangan di depan dada, tak lupa juga air matanya yang sudah bercucuran.
Melihatnya melakukan itu, saya menjadi iba dan sedikit tersentuh oleh perlakuannya. “Kamu tidak perlu memohon sampai seperti itu, karena saya tidak layak diperlakuan sampai sedemikian rupa hanya untuk memercayaimu.”
Ia hanya menggeleng. “Aku mohon. Maafkan sikapku yang sebelumnya, dan percayalah aku tidak akan melakukannya lagi.” Kali ini ia tidak menangkupkan tangannya, namun hanya air matanya saja yang masih mengalir.
Saya membawanya duduk, walaupun di atas paping blok setidaknya lebih nyaman daripada berdiri. Setelah tangisnya mereda, saya bertanya padanya. “Mengapa dulu kamu melakukan hal itu? Memutuskan saya tanpa memberi penjelasan sedikit pun.”
Lalu isak tangisnya terdengar lagi. “Jangan menangis, kali ini saya tidak akan marah. Katakan saja yang sejujurnya.”
“Kamu tahu ayahku guru agama di sekolah ini. Beliau melarangku berpacaran dan waktu itu karena akan pindah sekolah, aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan terakhirku. Maka dari itu aku mengajakmu berpacaran.”
Saya hanya mendengarkan dengan takjim tanpa menyelanya. Namun ia tidak melanjutkan ceritanya. “Terus? Mengapa setelah 1 jam kamu memutuskan saya?” pancing saya.
“Itu, karena aku tidak mau hubungan jarak jauh. Apalagi saat itu pindahnya ke pesantren. Dan lagi pula pacaran, kan, dosa.”
Sontak saja perkataannya yang terakhir membuat saya tertawa. Dan tanpa bisa dicegah, saya memandang geli padanya. Saya tidak habis pikir terhadap pemikirannya. “Kalau dosa, kenapa mengajak saya berpacaran? Ya, walaupun hanya 1 jam.”
“Ih! Disebut terus, deh, 1 jamnya,” ucapnya dengan kesal. Pipinya yang tembam mengundang saya untuk mencubitnya. Akan tetapi, hal itu tidak jadi saya lakukan. Saya harus bersabar! Jika sudah sah menjadi suaminya, saya akan bebas melakukan apa saja padanya.
“Iya, deh, iya. Yang itu skip aja. Terus maksud kamu menolak saya?”
Ia meletakan jarinya yang membentuk tanda ceklis di dagu seolah-olah berpikir. “Hm, itu, itu… aku ingin mengajakmu menikah lebih dulu. Karena kamu sudah mencuri start, makanya aku menolakmu.”
Ya Rabb! Ternyata hanya karena alasan sepele ini ia menolak saya? Seharusnya itu memang tugas saya, mengapa ia selalu mengabil alih dari yang seharusnya saya lakukan. Bukan sekali saja, namun untuk kedua kalinya! Dan pada kali kedua ini, saya kalah lagi!
Jika dipikirkan, perempuan gila seperti apa yang akan saya nikahi ini!
“Aku tidak gila!” ujarnya bersungut-sungut. Apakah saya kelepasan mengatakan apa yang sedang dipikirkan?
“Tidak. Mulutmu tidak mengatakan sama sekali, tetapi wajahmu yang mengatakan semuanya.”
Apakah begitu jelas terbaca ekspresi saya ini?
“Ya, sangat jelas!”
“Sepertinya, ke depannya saya tidak bisa menyembunyikan rahasia apapun darimu,” keluh saya.
“Tentu saja. Sekarang maupun dulu, ekspresimu sangat jelas terbaca.”
Jika ia berpikir seperti itu, pada kali kedua ini saya tidak akan kalah ataupun gagal lagi. “Aku mencintaimu,” ucap saya dengan puas.
~TAMAT~
Mohon koreksi jika ada salah penulisan ataupun tipo. Semoga teman-teman suka, ya. Terima kasih dan selamat membaca!