Hidup itu unik. Setiap manusia menjalankan takdirnya sendiri. Entah indah atau buruk takdir harus dirangkul dan disyukuri agar hidup lebih bermakna. Cintai takdir, maka dia pun akan mencintai kita.
Tahun 2017…
Damarisa dan saya sedang duduk di teras sebuah rumah mewah sambil menikmati kopi hangat yang disuguhkan oleh pemilik rumah. Pak Ziv dan Ibu Eleanor adalah pemilik rumah ini. Mereka menyambut kami dengan sangat baik. Kami akan tinggal bersama mereka selama masa praktek kerja lapangan (PKL) dalam kurun waktu satu bulan. Saya terkagum-kagum melihat kehidupan keluarga ini. Rumah berlantai dua ini dihiasi ornamen-ornamen indah yang tentu harganya mahal. Ada sebuah mobil mewah terparkir di garasi. Taraf hidup keluarga ini terbilang cukup mewah untuk kehidupan di pedesaan seperti ini. Pak Ziv adalah seorang kontraktor dan Ibu Eleanor membuka sebuah toko yang cukup besar di desa ini. Setelah obrolan panjang kami, saya baru mengetahui bahwa selama sebelas tahun menikah, keluarga ini belum dikaruniai buah hati. Keduanya pun belum genap satu tahun pindah ke desa ini.
Tanah yang dihiasi tanaman hijau, lautan biru dengan pantai yang bersih, udara yang segar, nyanyian burung-burung di pagi hari dan malam bersama langit berselimut bintang. Desa di perbatasan negara ini membentangkan panoraman yang sangat indah. Masyarakat desa ini pun sangat ramah. Sistem kekeluargaan dan gotong royong masyarakat masih sangat kental.
Sore itu setelah selesai melakukan survey dari rumah ke rumah, semua anggota kelompok kami beristirahat sejenak di pantai. Es kelapa muda menjadi pelepas dahaga yang sempurna sambil menikmati langit jingga yang menenteramkan mata. Tatapan saya tertuju pada sekelompok anak laki-laki yang berlarian di pinggir pantai. Salah satu anak berlari dengan pincang. Saat mereka semakin mendekat saya baru menyadari bahwa kedua kaki anak tersebut tidak simetris. Hal itu tidak mengurangi keceriahannya. Ia tersenyum sumringah dan berlari dengan semangat. Ia terantuk tepat di depan saya dan terjatuh. Saya segera menolongnya untuk berdiri sebelum teman-temannya sempat membantu.
“Terimakasih, kak,’’ suaranya terdengar sangat lembut.
“Sama-sama. Lain kali hati-hati ya,dek.”
Ia hanya mengangguk seraya senyuman manis terukir di wajah lugunya.
“Ini, kakak punya cokelat buat kamu.’’
Anak itu terlihat bahagia menerima cokelat pemberian saya. Ia dengan cepat menghampiri seorang anak kecil yang kira–kira berusia empat tahun. Ia duduk di sampingnya dan membagikan cokelat. Saya teringat Aquila. Sorotan matanya yang teduh dan keceriahannya membuat dada saya terasa sesak karena menahan rindu. Foto Aquila dibasahi butiran-butiran air bening. Saya cepat-cepat mengusap layar telepon genggam saya yang dibasahi air mata. Lamunan saya terhenti saat teman-teman mengajak untuk pulang ke rumah masing-masing.
Matahari menyinari bumi dengan teriknya. Damarisa dan saya kembali duduk di pantai untuk melepaskan penat. Tidak jauh dari kami terlihat dua anak laki-laki sedang duduk. Itu adalah anak yang kemarin saya berikan cokelat. Saya menghampiri mereka berdua. Sungguh tidak disangka, saya disambut senyuman manis mereka.
“Nama kamu siapa, dek?’’ saya tidak dapat menahan diri untuk menanyakan namanya.
“Saya Aaron,’’ suaranya terdengar sangat lembut.
“Nama yang indah. Nama kakak Carlise. Lalu siapa nama teman kamu?”
“Ini adik saya. Namanya Hanniel,’’ Aaron memegang pundak adiknya. Hanniel melayangkan senyuman hangat untuk saya. Senyuman seindah mentari pagi. Lalu ia memberikan isyarat dengan tangannya pada Aaron.
“Kak Carlise, kata Hanniel kakak cantik sekali,’’ Aaron menerjemahkan isyarat dari Hanniel.
“Terimakasih. Menurut kakak, Hanniel sangat tampan.’’
Hanniel tersipu malu. Ia kembali memberikan isyarat pada Aaron.
“Hanniel bilang terimakasih. Katanya belum pernah ada orang yang memuji dia seperti kakak,’’ Aaron kembali menerjemahkan isyarat dari Hanniel. Kali ini saya baru mengerti bahwa Hanniel adalah seorang tunawicara. Hati kecil saya tersayat mengetahui kenyataan itu. Tetapi saya tidak mau menunjukkan ekspresi yang dapat membuat Hanniel merasa tidak nyaman.
Itulah awal perkenalan saya dengan Aaron dan Hanniel. Mereka adalah anak-anak yang sangat manis. Setiap hari saya selalu bertemu mereka di pantai. Mereka berdua mengajarkan saya bahasa para tunawicara sehingga saya mulai sedikit mengerti. Bermain, bercerita dan bercanda dengan mereka sungguh memberi warna yang indah dalam masa praktek saya.
“Aaron, Hanniel, ini sudah mulai gelap. Biar kakak dan Kak Damarisa mengantar kalian pulang.’’
“Tidak usah,kak. Kami bisa pulang sendiri.’’
Itulah jawaban yang mereka berikan setiap kali saya ingin mengantar mereka pulang. Mereka bahkan selalu mendesak saya untuk pulang lebih dulu. Sebenarnya saya tidak tega membiarkan anak sekecil mereka berjalan sendiri saat hari mulai malam. Tetapi saya juga tidak bisa memaksakan kehendak pada mereka.
Jam dinding menunjukkan pukul 23.00 wita. Damarisa dan saya masih terpaku di depan laptop untuk mengerjakan laporan.
“Ah,sial!’’ seru Damarisa saat listrik tiba-tiba padam.
Saya mencoba menyalakan senter dari ponsel, namun baterainya sudah habis. Damarisa meraba-raba mencari ponselnya yang tidak kunjung didapati.
“Dam, sebaiknya kita meminta senter atau lilin pada Ibu Eleanor,’’ hanya itu ide yang ada di pikiran saya sekarang.
“Ibu Eleanor!’’ Damarisa memanggil Ibu Eleanor saat kami melangkah keluar dari kamar.
Ketika kami melewati gudang, pintu ruangan tersebut tidak ditutup seperti biasanya. Saya mengajak Damarisa untuk masuk ke dalam gudang dengan harapan ada lilin atau senter di sana.
PRAAKKK!!!
Beberapa benda terjatuh di dalam ruangan tersebut hingga membuat kami berteriak histeris. Tiba-tiba Ibu Eleanor muncul di hadapan kami dan segera menutup pintu gudang.
“Pasti ada kucing yang sudah menjatuhkan barang-barang di dalam,’’ Ibu Eleanor tersenyum melihat ekspresi wajah kami yang ketakutan.
“Kalian pasti mencari lampu,’’Ibu Eleanor memberikan sebuah pelita pada kami.
Saya merasa legah saat melihat cahaya pelita tersebut. Setidaknya ruangan ini menjadi lebih terang. Lalu kami kembali ke kamar dan merebahkan diri di atas kasur. Lelah hari ini terbayarkan dengan tidur yang nyenyak.
Hari baru, aktivitas baru pun dimulai. Hari ini kami mengunjungi keluarga Pak Daniel. Keluarga ini adalah keluarga binaan kami dalam praktek kali ini. Rumah mereka terletak di pesisir pantai. Seperti keluarga lainnya di desa ini, keluarga Pak Daniel pun sangat ramah. Mereka menyiapkan hidangan untuk makan siang bersama kami. Olahan ikan segar dengan rempah-rempah yang langsung diambil dari pekarangan, membuat menu makan siang ini sungguh menggoda indra pengecap saya.
“Apakah bapak dan ibu mengenal dua orang anak yang selalu bermain di pantai ini? Mereka kakak beradik yang mengalami disabilitas,’’ rasa penasaran yang bergejolak dalam hati mendorong saya untuk bertanya.
“Oh mereka Aaron dan Hanniel. Dua orang anak yang misterius. Anak-anak kami selalu bermain dengan mereka, namun sampai saat ini kami tidak mengetahui siapa nama mereka, siapa orangtua mereka dan dimana rumah mereka,’’jelas Pak Daniel.
Perkataan Pak Daniel terus terngiang di telinga saya. Bahkan saat saya sedang bersama dengan Aaron dan Hanniel. Hingga suatu senja saya memutuskan untuk menguntit kedua anak itu saat mereka pulang.
Saya secara diam-diam mengikuti langkah-langkah kecil kedua anak itu. Mereka berjalan mengendap-endap dalam kegelapan, melewati semak-semak. Ketika sampai di depan sebuah pagar tembok yang tingginya sekitar tiga meter, kedua anak tersebut berhenti. Saya terus memperhatikan mereka dari balik pohon. Aaron duduk lalu membuka dedaunan yang menutupi tembok tersebut. Ada sebuah pintu kecil pada tembok tersebut. Mereka harus merayap agar bisa memasukinya.
Saya sangat terkejut saat menyadari bahwa itu adalah pagar tembok yang mengelilingi rumah Pak Ziv dan Ibu Eleanor.
“Astaga! Sebenarnya apa yang sedang terjadi?’’detak jantung saya menjadi tidak karuan.
Damarisa seakan tidak percaya saat mendengar cerita saya tentang kejadian tersebut. Pada hari berikutnya kami berdua kembali menguntit Aaron dan Hanniel. Damarisa baru percaya saat ia melihat dengan mata kepala sendiri, kedua anak laki-laki tersebut merayap memasuki pintu kecil pada pagar tembok rumah yang kami tinggali.
Kami bersepakat untuk memeriksa gudang yang selalu terkunci di dalam rumah mewah ini. Tetapi kami harus memeras otak untuk memikirkan cara membuka pintu gudang tersebut.
Dewi fortuna benar-benar sedang berpihak pada kami. Suatu hari saat pagi-pagi buta, Pak Ziv dan Ibu Eleanor sedang keluar. Pintu gudang tersebut tidak dikunci. Kami memasuki gudang tersebut. Kami mendapati suatu pemandangan di luar dugaan kami. Gudang tersebut ternyata sebuah kamar yang sangat besar. Dari dekorasi dan perabotannnya, sepertinya ini adalah kamar anak-anak. Ada sebuah televisi di dalam kamar ini. Di atas tempat tidur ada gundukan selimut. Saya memberanikan diri membuka selimut tersebut.
“Ya Tuhan!Aaron, Hanniel!’’ seru Damarisa yang berdiri di samping saya.
“Kakak, kalian sedang apa di sini?” kedua anak tersebut tidak kalah terkejutnya dengan kehadiran kami.
“Lancang sekali kalian!’’
Secara serempak saya dan Damarisa berbalik ke arah sumber suara tersebut. Di sana Pak Ziv dan Ibu Eleanor berdiri dengan ekspresi wajah penuh amarah. Wajah saya memerah karena malu.
“Oh Tuhan, situasi macam apa ini?’’jerit saya dalam hati.
Pak Ziv menarik tangan Ibu Eleanor. Terjadi pertengkaran hebat antara mereka di ruang tamu. Pak Ziv terus menyalahkan Ibu Eleanor. Bagi Pak Ziv adalah kesalahan Ibu Eleanor sudah melahirkan anak dengan disabilitas. Salah Ibu Eleanor pula hari ini tidak mengunci pintu hingga kami mengetahui rahasia mereka. Saya sangat merasa bersalah. Pada akhirnya saya tidak dapat menahan diri saat Pak Ziv mulai mencaci maki istrinya. Saya masuk dalam pertengkaran suami istri itu. Sementara Damarisa merangkul kedua bocah lugu yang sedang ketakutan menyaksikan pertengkaran orangtua mereka.
“Apakah aib terlahir dengan disabilitas? Apakah mereka berdua yang meminta untuk terlahir dalam keadaan seperti ini?’’
Mereka terdiam sejenak saat mendengar suara saya.
“Kamu bisa berbicara seperti itu karena kamu tidak mengerti apa yang kami rasakan,’’ Pak Ziv membalas saya dengan nada tinggi.
“Saya mengerti betul apa yang kalian rasakan. Saya juga diberikan buah hati yang terlahir dengan disabilitas. ’’ tubuh saya mulai gemetar dan butiran air mata mulai membasahi pipi saya. Sementara semua pandangan dalam ruangan tersebut tertuju pada saya.
“Kalian seharusnya bersyukur memiliki anak seperti mereka. Tidak semua orang Tuhan berikan kepercayaan untuk menjaga anak-anak istimewa ini. Mereka mengajarkan betapa pentingya mensyukuri hidup di tengah segala kekurangan. Ibu dan bapak seharusnya mendukung mereka, bukan malah membuat mereka terkungkung. Jika kalian tidak bisa menerima keadaan mereka, titipkan saja mereka ke panti asuhan. Di sana masih ada orang yang mau merangkul mereka.’’saya memberanikan diri berkata demikian.
Pak Ziv dan Ibu Eleanor terdiam menatap anak-anak itu lalu lekas menghampiri mereka, dan merangkul mereka dengan erat.
“Tidak. Kami tidak tega melepaskan mereka ke panti asuhan. Maafkan bapa dan mama, Aaron, Hanniel,’’Pak Ziv memeluk erat kedua puteranya.
Mereka berempat bahkan menangis tersedu-sedu. Begitu pula saya dan Damarisa. Suasana haru biru terjadi di pagi itu.
Pada hari saat kami berpamitan, keempat anggota keluarga kecil itu menghantar kami dengan senyuman hangat. Ibu Eleanor merangkul Aaron. Sementara Pak Ziv menggendong si kecil Hanniel.
“Ibu Eleanor, manis sekali anak-anak ini. Anak siapa?” tanya salah satu tetangga yang merasa heran.
“Mereka adalah malaikat kecil kami,’’ jawab Ibu Eleanor lalu dikecupnya rambut Aaron.
Keluarga kecil ini sudah memberikan pelajaran berharga. Saat tiba di rumah, hati saya seperti melonjak saat kaki-kaki kecil Aquila berlari menyambut saya. Walaupun menggunakan tongkat, ia bersemangat berlari menghampiri saya. Saya segera mendekapnya dengan sangat erat. Oh, saya sungguh merindukan pelukan hangatnya. Pelukan hangat dari buah hati saya yang sangat saya cintai.
Kali ini saya tidak mau menangis lagi. Saya tidak lagi merasa sedih melihat keadaan Aquila. Saya bangga memilikinya. Yang Aquila butuhkan bukanlah rasa iba. Dukungan, penghargaan dan kesempatan untuk berkembang, itulah yang menjadi hak Aquila dan semua kaum disabilitas.
Oleh: Jina De Fatima