Kim Namjoon menyesap nikotin yang sedari tadi ia apit di jari telunjuk dan jari tengahnya dalam-dalam. Asap mengepul berwarna putih itu terasa sangat menenangkan kala masuk ke dalam paru-parunya.
Dua jam terakhir saat si kecil terlelap sehabis menangis. Berakhir dengan Namjoon yang membanting action figure kesayangannya karena frustasi.
Mempunyai bayi diusianya yang ke dua puluh lima bukanlah salah satu keinginan yang ada di daftar hidupnya.
Jangankan mempunyai bayi, memiliki pendamping hidup pun tak pernah terlintas dipikirannya sama sekali.
Namjoon masih asyik menikmati kesendiriannya tanpa perlu diusik atau di larang dengan dalih ikatan pernikahan.
Masih banyak tempat yang ingin Namjoon singgahi tanpa perlu memikirkan sedang apa istri dan anak nya di rumah? Apa sudah makan?
Dunia yang luas, masih membuat Namjoon tidak tertarik untuk berumah tangga.
Sayangnya, semua keinginannya harus musnah semenjak keajaiban yang datang padanya dua hari yang lalu saat ia menemukan bayi mungil dengan kulit seputih susu tergeletak tanpa sehelai kain di bawah mobilnya.
Beruntung indra pendengaran Namjoon menangkap tangisan si bayi kala ia bermaksud pergi dari tempatnya dan menyalakan mesin mobil.
Namjoon sempat tertegun beberapa saat.
Sempat mengira ada setan bayi mengikutinya. Mengumpulkan keberanian untuk turun dari mobil dan mengelilingi range rover hitamnya, Namjoon terkejut kala ada bayi imut tengah menangis dengan wajah memerah di bawah mobilnya, beruntung bayi itu tidak terlindas.
Sudah dipastikan hidup Namjoon akan berakhir di dalam penjara akibat ketidak sengajaannya melindas bayi tak berdosa yang tergeletak di bawah mobilnya.
Siapa orang tuanya?
Darimana ia berasal?
Apakah berasal dari hubungan terlarang?
Beberapa orang mungkin akan mengatakan beruntung pada bayi mungil itu karena ditemukan oleh Kim Namjoon, CEO dari perusahaan gadget ternama.
Tapi siapa sangka, ayah Namjoon justru menolak keras kala Namjoon membawa si bayi pulang kerumah.
Memang benar, Nyonya Kim menyambut si bayi dengan tangan terbuka dan pelukan hangat karena memang nyonya besar menginginkan cucu dari anak laki-lakinya. Tapi tidak dengan Tuan Kim.
Ayah dengan tatapan galak dan cenderung suka mengatur itu sama sekali tidak menerima keberadaan sang bayi.
Bahkan, Tuan Kim memberi pilihan kepada Namjoon, kembali membuang si bayi, atau Namjoon akan dikeluarkan dari daftar warisan keluarga Kim.
Pilihan yang sulit.
Bayi itu bukan siapa-siapa. Bukan darah daging Namjoon. Hanya bayi malang yang dibuang orang tuanya.
Orang tua si bayi saja tak mengharapkan bayi itu ada.
Namjoon bisa saja mengembalikan si bayi ke tempatnya semula. Menelantarkan di jalanan, lalu akan di temukan beberapa hari kedepan oleh petugas kebersihan atau dinas sosial.
Atau mungkin lebih buruknya tidak ada yang menemukan si bayi, dan berakhir selamanya tinggal di jalanan sampai nyawanya hilang dan tak diketahui orang.
Bukan tanggung jawab Namjoon. Namjoon tak perlu repot untuk itu.
Berfikir dua kali, bayi itu hanyalah bayi malang yang kurang beruntung dilahirkan dari rahim dan orang tua tak bertanggung jawab.
Dia hanyalah bayi suci yang bahkan belum lama terlahir di dunia.
Pikiran Namjoon berputar sebentar, bagaimana kalau posisinya dan si bayi di tukar?
Jawaban pun muncul.
Namjoon laki-laki yang cerdas. Beragam piagam penghargaan karena kecerdasannya menumpuk di meja kamarnya. Segudang ide brilian selalu muncul kala perusahaan membutuhkan sebuah inovasi baru untuk memajukan perusahaan.
Namjoon punya IQ tinggi di atas rata-rata manusia pada umumnya.
Di coret dari hak waris? Namjoon tak takut sama sekali.
Otaknya masih bisa bekerja, otot-ototnya masih kuat, tubuhnya masih sanggup untuk bekerja lembur. Selama semua itu masih Namjoon miliki, Namjoon tak takut sama sekali kehilangan harta dari ayahnya.
Dia berfikir, justru ayahnya akan menyesal jika mengusirnya.
Namjoon lebih memilih merawat bayi itu seorang diri.
Memilih pergi dari rumah mewahnya dan tinggal di salah satu apartement miliknya membuat Namjoon bebas mengurus si bayi.
Tapi apa sebebas itu?
Tidak sama sekali.
Namjoon tidak suka anak kecil. Namjoon jarang berinteraksi dengan anak kecil.
Satu-satunya anak kecil yang sering bermain dengannya hanyalah Jungkook. Keponakannya yang berumur 19 tahun. Hanya dia, dan tidak ada lagi.
“Nggak mau coba cari pengasuh?”
Namjoon melirik ke arah Seokjin yang duduk di samping si bayi.
“Nggak perlu.” Jawabnya dinggin.
Seokjin berdiri dan berjalan menghampiri Namjoon.
Mengambil puntung rokok yang masih tersisa setengah di mulut Namjoon lalu membuangnya asal.
“Berhenti merokok. Ada anak kecil di sekitarmu. Kalau dia sakit kamu yang akan repot.”
Namjoon terbahak mendengar penuturan sahabatnya.
“Ya ya ya. Baik tuan.” Kekehnya lalu berjalan mengambil segelas air mineral lalu meneguknya hingga tuntas.
“Gimana kabarnya Erin?” Tanya Namjoon pada Seokjin.
Seokjin mendelik lalu mengendikan bahu.
“Masa kabar pacar sendiri nggak tahu?” Ejek Namjoon dan Seokjin hanya menghela nafas.
“Erin pergi tanpa kabar. Keluarganya nggak ada yang ngasih tahu dimana keberadaan nya. Entahlah.” Sedikit terdengar menyedihkan, tapi begitulah kenyataannya.
Namjoon paham betul peranggai sahabatnya yang sudah berpacaran 5 tahun lamanya. Seokjin sangat mencintai Erin, begitupula cinta Erin pada Seokjin.
Entah badai apa yang datang di kisah cinta kedunya, tiga bulan terakhir Erin tidak ada kabar, dan sekarang Erin menghilang tanpa jejak. Jelas, Seokjin di buat galau karena Erin.
Melihat wajah Seokjin yang berubah murung, Namjoon menepuk pelan punggung sahabatnya.
“Udah nggak usah dipikirin. Yang pergi biar pergi, diluar masih banyak Erin lain yang menunggu cintamu.” Ledek Namjoon yang di balas seringai dari Seokjin.
“Berkaca Tuan, sudah punya bayi masa nggak mau nyari pendamping buat jadi mamanya?” Balas Seokjin tak mau kalah.
Namjoon terbahak mendengarnya, lalu berjalan ke arah si bayi dan memandang wajah damai nya dari tempatnya berdiri.
“Soobin tidak perlu mama. Soobin hanya perlu ayah yang hebat.”
Seokjin menatap punggung Namjoon. “Soobin?” Tanya nya memastikan pendengarannya.
Namjoon mengangguk dan menunduk ke arah Soobin. Mengecup pipi gembul sang anak lalu mengelusnya dengan penuh kasih sayang.
Meskipun awalnya sulit untuknya menerima keberadaan Soobin, tapi sekarang, Namjoon sangat rela berbagi kehidupan masa depannya dengan si bayi.
“Namanya Kim Soobin. Dia anakku. Anak yang akan memanggiku ayah. Dan aku akan menjadi ayah sekaligus mama untuknya."