Jika Krishna adalah tubuh
Maka Radha adalah jiwa
Radha adalah dasar dari semua tentang Krishna
Tanpa Radha tidak ada Krishna
Tanpa Krishna tidak ada Radha
Dimanapun Radha berada
Krishna selalu ada di tempat itu
Khayangan(Tempat Dewa)
Terlihat pasangan kekasih dikelilingi beberapa pengikut yang memuja mereka dengan nyanyian.
"Radha Krishna, Radha Krishna, Radha Krishna,"
Seorang wanita cantik menguraikan rambut panjangnya yang terhiasi bunga dan aksesoris mewah. Mengenakan gaun putih bermotif serta beberapa perhiasan, membuatnya cantik elegan. Ya, siapa lagi wanita itu kalau bukan Radha, sang Dewi Cinta. Di sampingnya juga duduk sosok lelaki muda mengenakan pakaian berwarna emas dan mahkota yang memiliki satu helai bulu merak. Lelaki tersebut tidak lain adalah Krishna, sang Dewa Cinta yang suka memakan mentega.
“Dewi Radha,” kata salah satu pemujanya menyerahkan mentega.
Radha tersenyum dan menerima persembahan itu. Ia mencongkel sedikit mentega tersebut dan mencicipinya terlebih dahulu, kemudian menyuapi mentega itu kepada Krishna, kekasihnya. Melihat hal itu, salah satu pemujanya marah besar.
“Ini Dosa! Kenapa dia harus mencicipinya terlebih dahulu dan baru memberikan Dewa Krishna sisanya, ini sama saja mengotori pengabdianku!” seru Sridama, pemuja Dewa Krishna.
Krishna menenangkan pemujanya itu dan mengatakan hal itu mutlak. Radha yang harus terlebih dahulu melakukan sesuatu baru Krishna yang kedua. Sama seperti namanya, nama Radha selalu disebut lebih dulu baru Krishna. Kenapa? Karena Radha dan Krishna adalah satu. Krishna tidak akan pergi dari Radha. Kemanapun Radha pergi, dimanapun nama Radha disebutkan, Krishna akan ada dibelakangnya.
Cinta dan pengabdian tidaklah jauh beda. Tapi sang pemuja menolak, dan mengatakan pengabdiannya lebih kuat daripada cinta. Mendengar hal itu, membuat Krishna memberinya ujian, mana yang kuat antara cinta atau pengabdian seseorang.
Krishna meninggalkan tempat itu lebih dulu tanpa di sadari Radha.
Istana Krishna
“Aku akan melakukan sesuatu, jadi jangan biarkan siapapun yang masuk ke dalam!” perintahnya menyuruh Sridama menjaga pintu.
Sridama mengangguk. Setelah memastikan Dewa Krishna masuk, ia pun berbalik dan berdiri menjaga pintu.
Di dalam, Krishna duduk di atas singgasananya. Dengan wajah yang senduh dan mata yang berkaca-kaca, ia memanggil Radha dalam hati.
“Radha,”
Radha yang mendengar suara Krishna langsung menuju ke tempatnya. Saat sampai di sana, ia malah melihat Sridama sudah berdiri di depan pintu.
“Bisakah kau memberiku jalan? Aku mau masuk,”
Namun Sridama melarangnya karena Krishna sudah memberinya perintah. Radha tersenyum, dan memberitahu Sridama kalau Krishna memanggilnya.
“Radha,”
Sridama sama sekali tidak mendengar suara Krishna yang memanggil Radha.
“Ini adalah cinta, jika kau memiliki cinta di dalam hatimu, maka kau akan memahaminya, aku harus masuk, Krishna memanggilku,” kata Radha.
“Kalau kau masuk, maka aku akan mengutukmu!”
DAR! DER! DOR!
Krishna dan Radha terbelalak mendengar ucapan Sridama. Meskipun begitu, Radha tetap tersenyum dan melangkahkan kakinya. Sridama berusaha menghentikannya.
“Aku tidak main-main! Jika kau melangkahkan kaki satu langkah lagi, aku akan benar-benar mengutukmu!”
“Radha,”
Radha semakin ingin bertemu dengan Krishna.
“Krishna memanggilku,”
7 langkah kaki Radha membuatnya sudah tiba di depan pintu.
“Dewi Radha! Aku mengutukmu, kau harus meninggalkan khayangan dan turun ke bumi! Serta kau juga akan melupakan Dewa Krishna selama 100 tahun!”
Langit bergemuruh, buliran air mata Krishna dan Radha berjatuhan. Radha berbalik menatap Sridama sambil tersenyum.
“Bahkan jika itu 100 tahun, aku tetap tidak akan melupakan Krishna ku,”
Salah satu pemuja membawakan kabar untuk Krishna, agar dia turun ke bumi membasmi kejahatan dan mengajarkan cinta kepada semua manusia, di saat yang bersamaan, barulah Krishna keluar.
Jika mengajarkan soal cinta, tentu saja tidak ada yang lebih ahli, kalau bukan Dewi Cinta, Radha dan Krishna. Saat itu juga, Sridama berlutut dan mengatupkan kedua tangannya di hadapan Radha.
“Oh Dewi, apa yang telah aku lakukan? Aku telah membuat dosa besar,”
“Sekarang kau mengerti, tidak ada perbedaan kuat antara cinta dan pengabdian seseorang,” kata Krishna.
Sridama sangat menyesal dan berlutut beberapa kali di kaki Radha.
“Jangan merasa bersalah, kau melakukannya karena menuruti perintah Dewa mu,”
Radha hanya tersenyum meskipun buliran air matanya berjatuhan.
Pintu Menuju Alam Manusia
Krishna mendandani Radha terlebih dahulu. Ia mengepang rambut panjang kekasihnya sambil menguraikan sedikit rambut di bagian pelipis wanita itu. Ada banyak bunga yang menghiasi rambutnya.
Keduanya berjalan menuju ke ujung pintu menuju alam manusia.
"Kenapa kau menguraikan sedikit rambut di bagian pelipisku?" tanya Radha.
"Kita terlahir kembali ke dunia manusia, belum tentu dengan wajah ini. Jadi aku menyisahkan sedikit rambut milikmu agar aku bisa mengenalimu di alam manusia nanti," kata Krishna.
Radha memeluknya sambil menangis. Setelah dirinya melewati pintu itu, maka ingatannya tentang Krishna akan hilang. Tapi keduanya tetap berpegangan teguh dengan cinta mereka.
"Aku pergi duluan, aku akan menunggumu, dan mata ini tidak akan pernah terbuka sampai kau lahir. Orang yang pertama kali harus kulihat adalah dirimu," kata Radha.
Rasanya sulit melepaskan genggaman tangannya dengan tangan Krishna, hingga akhirnya Radha menghilang. Krishna menangis begitu pedih.
Alam Manusia
Malam ini, istri dari kepala desa akan melahirkan. Sudah beberapa menit berlalu, hingga terdengar suara tangisan bayi. Semua merasa senang, tapi kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama saat melihat bayi kepala desa, lahir dengan mata tertutup.
"Suamiku? Kenapa matanya tertutup?" cemas Kirtida.
Kepala desa, Vrisbhan sama cemasnya, ia pun langsung menyuruh semua orang untuk memanggilkan tabib di seluruh penjuru desa. Tetapi, tidak ada yang bisa mengobatinya. Karena hal itu, membuat pasangan suami-istri tersebut mulai hilang harapan dan menerima takdir.
"Putriku, Radha, maafkan kami karena tidak bisa menyembuhkanmu,"
Tak butuh beberapa bulan, istri kepala desa di seberang juga melahirkan seorang putra yang tampan. Semua yang melihatnya pasti jatuh hati. Perayaan diadakan dan semua kepala desa diundang tak terkecuali.
Vrisbhan dan Kirtida juga datang dan membawa bayi mereka, Radha.
"Sahabatku, akhirnya kau datang, ayo masuk!" kata Nanda, selaku kepala desa.
Mereka menuju ke aula dan melihat bayi laki-laki di ayunan bayi. Yashoda, selaku istrinya menyambut kedatangan pasangan itu dan ikut turut bersedih atas kemalangan yang menimpa bayi mereka.
"Siapa nama putrimu?" tanya Nanda.
"Radha, kalau putramu?" tanya Vrisbhan balik.
"Krishna,"
Yashoda bingung melihat bayi Krishna tidak tenang sejak tadi dan menangis. Wanita itu berusaha menenangkan bayinya tapi tidak bisa.
"Mungkin dia menangis karena melihat Radha," kata Kirtida.
"Hooh, baru bayi seperti ini sudah ingin berteman, apalagi kalau besar nanti," kata Yashoda.
Kirtida pun meletakkan bayi Radha di samping bayi Krishna ke ayunan bayi. Dan benar, bayi Krishna langsung menjadi tenang, saat tangan bayi Radha menyeka air matanya. Tangan Krishna balik memegang mata bayi Radha.
2 pasangan itu terbelalak, karena mata bayi Radha terbuka begitu tangan bayi Krishna menyentuhnya. Entah itu sebuah keajaiban atau memang sudah takdir yang sudah tertulis. Semenjak hari itu, Radha tumbuh dengan kondisi yang sempurna.
18 tahun kemudian...
Seorang gadis berlari menyusuri rumahnya yang sedang mengadakan perayaan. Kini umurnya menginjak 18 tahun, dan sudah 18 tahun juga, ia sering mendengar suara seruling yang menenangkan hatinya.
Radha, gadis muda dengan hiasan bunga pada rambut panjang yang di kepang 2 ke depan bawah, mengenakan gaun berwarna kuning, mahkota bunga di kepalanya, kalung bunga dan gelang bunga serta selendang di kepalanya, membuatnya tumbuh menjadi gadis tercantik di penjuru desa.
Ia berlari mencari asal suara seruling yang menuntunnya ke taman bunga. Dilihatnya, seorang lelaki muda tengah memainkan seruling. Sudah lama, Radha mencari sosok pemain seruling tersebut tetapi tidak pernah bertemu dengannya.
Radha menatap lelaki muda itu mengenakan pakaian berwarna kuning, selendang di bahunya, beberapa perhiasan dipakainya serta bulu merak di hiasan kepalanya.
Lelaki muda itu membuka matanya setelah selesai bermain seruling. Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca melihat sosok gadis di depannya.
"Radha,"
Kalimat yang keluar dari mulut Krishna membuat perasaan Radha aneh. Entah kenapa ia ingin menangis.
"Kenapa kau bisa mengetahui namaku?" tanya Radha.
Krishna tersenyum senduh, ternyata Radha benar-benar melupakannya.
"Siapapun pasti mengenal Radha," kata Krishna.
Radha memberitahunya kalau ia sangat menyukai nada seruling itu, membuatnya ingin berteman. Tapi Krishna menolak dan mengizinkan Radha menjadi temannya hanya dengan satu syarat.
"Apa syaratnya? Selama aku bisa menyanggupinya,"
Krishna tersenyum. Ia meraih mentega di dalam kendi dan menyerahkannya kepada Radha.
"Ambil menteganya sedikit dan cicipi, kemudian suapi aku,"
"Eh, tapi kau memakan sisaku, itu tidak baik,"
"Kau ingin menjadi temanku atau tidak?"
"Mau,"
"Kalau begitu turuti permintaanku,"
Radha mencongkel mentega itu sedikit dan mencicipinya. Ragu-ragu ia menyuapi Krishna dengan sisa mentega darinya. Krishna mencicipi mentega tersebut sambil menatap Radha.
"Kenapa kau menangis?" tanya Radha.
"Aku sudah lama merindukan saat-saat ini," kata Krishna.
Radha hanya bingung melihat tingkah aneh Krishna.
"Sekarang kita berteman, kan? Jadi siapa namamu?" tanya Radha.
"Krishna," jawab Krishna.
"Krishna," kata Radha mengucapkan nama itu.
Entah kenapa, ada sesuatu yang mengingatkannya saat menyebut nama Krishna. Tapi sekuat apa pun ia berusaha mengingatnya, tetap tidak bisa.
Semenjak hari itu, di samping Krishna membasmi iblis, ia dan Radha mulai dekat hingga tumbuh benih-benih cinta.
Tapi sebelum itu. Krishna harus membebaskan Radha dari sifat buruknya, seperti:nafsu akan cintanya kepada Krishna, sifatnya yang angkuh, sering timbul iri hati melihat teman-teman gadisnya mendekati Krishna, kemarahan yang tidak bisa dikendalikan, keserakahan saat gadis itu menggantikan ayahnya menjadi kepala desa karena ayahnya sedang sakit, serta kegila-gilaan yang ingin selalu bersama Krishna.
"Ada perbedaan antara menginginkan seseorang dalam hidupmu, dan mengusahakan agar seseorang tetap berada dalam hidupmu," kata Krishna.
Bulan demi bulan berlalu saat Krishna selesai membebaskan Radha dari sifat buruknya. Sekarang, Radha kembali ke pembawaannya sebagai Dewi Cinta, meskipun ia belum mengingat siapa sosok Krishna baginya.
Tapi bukannya semakin dekat, tetapi malah menghadapi berbagai cobaan.
"Hati siapapun pernah mengalami rasa sakit. Yang membedakan hanya ekspresi. Beberapa orang menyembunyikan rasa sakit itu dalam mata mereka. Sebagian lainnya menyembunyikan dalam senyumnya," kata Radha.
"Jutaan senyum telah kulihat, tapi hanya senyummu yang bisa mengisi hidupku," kata Krishna.
Semua teman-temannya mengetahui Radha dan Krishna yang saling mencintai. Krishna yang sering memanggil Radha dengan serulingnya, Krishna yang selalu datang setiap saat untuk Radha, jika gadis itu sedih dan dalam masalah. Kisah mereka yang menyejukkan hati dan bahkan sudah ingin merencanakan pernikahan mereka. Tapi kenyataan tidak memihak keduanya. Teman masa kecil Radha mengadu domba 2 keluarga agar bisa menikahi Radha, sehingga Radha dan Krishna tidak jadi menikah. Namun, karena melakukan kesalahan, teman masa kecil Radha dikutuk, kalau dirinya akan menjadi abu jika menyentuh Radha.
Sekarang, ujian terbesar untuk mereka. Radha harus merelakan Krishna menikahi wanita lain.
"Aku dan dirimu satu, Radha adalah Krishna, dan Krishna adalah Radha, setiap pertemuan pasti ada perpisahan," kata Krishna.
Meskipun Krishna dan Radha tidak bersatu, tetapi mereka masih tetap melakukan tarian cinta sebagai sahabat. Hal ini membuat istri Krishna cemburu dan berusaha memisahkan Radha dan Krishna, sebab Krishna hanya memainkan serulingnya dan melakukan tarian cinta hanya jika bersama dengan Radha.
"Cinta tidak mesti harus saling memiliki, cintaku kepada Krishna murni, aku akan menerima semua hinaan dan kotoran di dunia ini jika hubunganku dan Krishna adalah dosa," kata Radha.
Tahun demi tahun berlalu saat cinta mereka tidak pudar. Krishna meninggalkan Radha untuk menegakkan kebenaran.
Radha menangis di bahu Krishna sebelum sahabatnya itu pergi. Keduanya terpaksa di hadapkan perpisahan. Buliran air mata terjatuh dari kedua orang itu.
"Cintaku, mengenalmu adalah mencintaimu. Dan saat mencintaimu, segala sesuatunya tentangku telah berubah. Tidak ada lagi yang sama, karena aku telah melihat hatimu dan aku berubah karenanya," kata Krishna menyeka air mata Radha.
Sekali lagi, mereka berpisah. Radha tidak kuat melepaskan genggaman Krishna, hingga akhirnya lelaki itu pergi.
Meskipun keduanya berpisah, tidak membuat mereka sedih. Saat Krishna memanggil Radha, maka jiwa Radha muncul menemaninya, sebaliknya untuk Radha, jiwa Krishna akan datang kepadanya jika ia memanggil lelaki itu.
Butuh waktu yang lama saat Krishna kembali. Radha dan Krishna kembali bertemu dan melakukan tarian cinta. Istri Krishna semakin marah karena tidak berhasil memisahkan mereka, hingga akhirnya ia melakukan perbuatan keji yang memaksa suaminya mendapat kematian.
Krishna terpaksa menerima kematiannya, dan hal itu membuat Radha tidak menerimanya dan mengambil sumpah. Ia pergi ke hutan dan meminta Krishna untuk tidak menemuinya. Radha bermeditasi meminta anugrah kepada Dewi Ilmu.
Mengetahui hal ini, Krishna menyusuri hutan mencari Radha untuk menghentikan gadis itu.
"Hari ini aku meminta satu keinginan kecil. Aku tidak akan pergi sampai kau mengabulkannya, Dewi,"
Krishna langsung berlari meninggalkan istrinya dan menuju ke hutan.
"Karena tahu Krishna akan mati, aku meminta kematianku lebih dulu daripada kematian Krishna. Karena kematian Krishna adalah kematianku,"
Krishna memohon kepada Dewi Ilmu untuk menunggu sampai ia menemukan Radha.
"Tidak, Dewi, kau tidak bisa melakukan ini," kata Krishna.
"Tapi aku tidak bisa menolak panggilan, Dewi Radha," kata Dewi Ilmu.
Melihat Dewi Ilmu menghilang, membuat Krishna mulai gusar dan segera mencari Radha. Para dewa dan dewi yang melihatnya dari atas memohon agar hal itu dihentikan, tetapi itu sudah garis takdir, tidak ada yang boleh mengubah garis dunia.
"Inilah tujuan akhir cintaku, kematianku lebih dulu daripada kematian Krishna,"
"Aku menerimanya, kematianmu akan lebih dulu daripada kematian Krishna," kata Dewi Ilmu.
Saat itu juga, Krishna tiba bersamaan hilangnya Dewi Ilmu. Keduanya saling bertatapan dengan mata berkaca-kaca.
"Apa yang kau minta ini, Radha?" tanya Krishna.
Radha hanya menatapnya diam dengan wajah sedih. Krishna menjatuhkan dirinya dan menatap tanah begitu terluka.
"Aku tidak punya pilihan lain, Krishna," kata Radha sama sedihnya.
"Apa yang kau lakukan ini, Radha?!" marah Krishna berdiri.
"Ketika aku hidup tanpamu, lalu apa artinya hidup ini, Krishna?"
Krishna meringis kesal disela tangisannya hingga Radha menenangkannya. Setelah itu, Krishna meminta Dewi Ilmu muncul kembali.
"Aku meminta sesuatu untuk Radha ku, jika Radha harus mati sebelum Krishna, maka baiklah. Tapi aku menginginkan kematian untuknya yang tidak akan pernah terlupakan. Semua orang dari penjuru desa akan mengantarkan kepergiannya. Radha adalah jiwa Krishna dan dia meninggalkannya, maka serulingku akan kehilangan nadanya,"
"Jadi kau mengorbankan semuanya untuk Radha?" tanya Dewi Ilmu.
"Krishna, kenapa kau mengorbankan semuanya untuk diriku?" tanya Radha menangis.
"Radha, jika kau pergi maka Krishna juga tidak akan memiliki apa pun," jawab Krishna.
Dewi Ilmu mengabulkan permintaan tersebut dan menghilang.
Radha dan Krishna saling bertatapan dengan buliran air mata. Krishna meraih tangan Radha dan menggenggamnya.
"Suatu hari, aku akan menjadi milikmu, dan kamu jadi milikku, kita akan melebur menjadi cinta," kata Krishna.
Keduanya berpelukan sambil meluapkan perasaan mereka.
"Bersabarlah, Radha, aku akan tetap menunggumu sampai 100 tahun, hingga kau mengingat Krishna mu kembali, dan kita akan kembali ke tempat kita, tempat dimana Radha dan Krishna bersatu untuk selamanya," kata Krishna dalam hati.
"Aku mencintaimu, Krishna," kata Radha dalam hati.
"Aku juga mencintaimu, Radha," balas Krishna dalam hati.