Namaku Riska, aku sulung dari 2 bersaudara. Aku pelajar di salah satu SMK negeri di kota Malang. Ayahku hanya seorang sopir truk, dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga. Aku memiliki seorang adik yang masih kecil, namanya Rachma...
Disini aku akan menceritakan tentang kehidupanku bersama keluarga kecilku.
**********
Pernah suatu hari, ayahku sedang bertugas mengirimkan barang ke Jakarta. Biasanya 1 minggu ayahku sudah kembali ke rmh ,tapi tidak untuk kali ini. Hampir 2 minggu ayahku tidak bisa kembali, karen kondisi di tempat kerja ayah yang di Jakarta sepi orderan. Karena uang belanja yang diberi ayah waktu itu hanya cukup untuk kebutuhan 1 minggu, hingga akhirnya kami tidak dapat membeli apapun lagi. Menunggu kirimanpun tak bisa, karena sebagai orang kecil, kami tidak mempunyai tabungan di bank.
********
"Nduk, hari ini kita makan seadanya ya.." kata ibuku
"iya bu, kita makan seadanya aja gapapa.." jawabku
Ketika ibu melihat pendaringan* ternyata stok beras kami hanya tersisa 1 gelas. Mungkin hanya cukup untuk adikku makan hari ini. Beruntungnya selama ini uang sakuku tidak pernah habis. walaupun hanya tersisa sedikit, selalu aku tabung. Dan pada akhirnya hari ini aku membuka celenganku, ada uang Rp.10.000,-
Lalu kuberikan uang tersebut pada ibuku untuk belanja sayur buat adikku, yang memang masih kecil. Alhamdulillah, hari ini adikku masih bisa makan walaupun dengan lauk tempe dan sayur bayam. Walaupun aku dan ibu harus menahan lapar, tapi aku tidak pernah mengeluh, karena aku yakin semua kesusahan ini pasti akan segera berlalu...
**********
2 hari kemudian, ada seorang teman ayah yang datang ke rumah, mengantarkan uang kiriman dari ayah. Alhamdulillah, kehidupan kami berjalan normal kembali setelah merasakan betapa susahnya untuk bisa makan..
******
1 tahun berlalu, kini aku sudah kelas 2 SMK. Sudah waktunya aku mengikuti prakerin. Untuk bisa ikut prakerin, butuh biaya yang sangat banyak. Beberapa hari sebelum aku berangkat prakerin di Kota Batu, ayah dan ibuku bertengkar hebat, mereka merundingkan biaya sekolahku untuk kedepannya nanti. Hingga akhirnya, ibuku memutuskan untuk menjadi TKW. Berat rasanya aku membayangkan harus hidup berjauhan dari ibuku.. Hingga saatnya tiba, ibuku nekat berangkat menuju Balai Latihan Kerja-Luar Negeri, begitupun juga denganku. Aku sudah harus berangkat menuju tempat baru, dimana aku harus mengikuti prakerin.
Adikku Rachma terpaksa diantar ke rumah nenekku di luar kota, karena ayah juga tidak pernah ada di rumah..
**********
Kring...kring.....
Suara telepon di tempat kost'ku terdengar beberapa kali berdering. Kuhampiri dan kuangkat telepon itu.
"Halo..."
Aku hampir terkejut mendengar suara itu.. Seperti suara ibuku..
"Iya, halo.. dengan siapa ini ?" tanyaku pada orang yang ada di seberang sana...
"Riska, ini ibu nduk" jawab ibuku
"ibu.... ibu sehat ?" tanyaku sembari menahan tangis, teringat ibu yang nekat pergi jauh demi mencari biaya untuk sekolahku..
"alhamdulillah nduk, ibu sehat.." jawab ibu
"kamu kapan libur prakerin, pulang ke rumah mbah uti ya nduk, nanti dijemput ayah" lanjut ibu.
"hari rabu nanti Riska libur bu, nanti Riska pulang.." jawabku
Aku tak pernah tau kalau ibu memutuskan untuk tidak jadi berangkat ke Luar Negeri. Hingga saat liburku tiba, ayah datang menjemputku.
"Gimana kabarmu, nduk ?" tanya ayah
"Alhamdulillah, Riska sehat, yah.." jawabku
"Tumben ayah ajak Riska ke rumah mbah uti, ada apa yah ?" tanyaku penasaran
"Gapapa nduk, kita jenguk adikmu ya" jawab ayah
"Iya, yah.. Riska kangen banget sama Rachma" jawabku
Setelah 3 jam perjalanan, sampailah aku di rumah mbah uti.
"Assalamualaikum, mbah uti.. Riska datang" Teriakku sambil memasuki rumah nenekku
"Waalaikumussalam, Riska.. piye kabarmu nduk.. Sehat toh" jawab seseorang dari arah dapur, yang ternyata ibuku
"Ibu... Riska kangen..." jawabku berkaca-kaca sambil memeluk ibu
"udah, nduk.. kamu maem dulu sana, adikmu ada di kamar, lagi tidur" jawab ibu
******
Setelah 2hr menginap di rumah nenek, aku pulang kembali ke Malang, berharap ibu segera menyusul pulang ke rumah kami lagi.
Dan akhirnya, setelah 4 bulan, masa prakerinku selesai. Ketika aku pulang, ibu sudah menyambutku di depan pintu. Ah.. betapa bahagianya aku, melihat keluargaku berkumpul kembali...
1 tahun kemudian, aku lulus sekolah. Aku mendapatkan pekerjaan sebagai pramuniaga di toko kelontong. Hingga akhirnya, sebuah musibah kembali datang dalam kehidupanku.
Kudengar dering hp'ku berbunyi...
"Halo, assalamualaikum bu, ada apa"
"Waalaikumussalam nduk, ayah kecelakaan" jawab ibu panik
"Innalillahi wa innailaihi roji'un, dimana bu ?" tanyaku
"Sekarang udah dibawa ke RS, nduk.. Kamu nanti cepat pulang ya, temani adikmu" titah ibu
"Iya bu, Riska usahakan pulang cepat hari ini"
Setelah pulang kerja, aku membawa adikku ke RS tempat ayah dirawat.
Sesampainya disana, kulihat ayah masih terbaring pingsan di ruang IGD. Terlihat ibu mondar mandir, mengurus administrasi perawatan ayah. Hingga saat ayah siuman, beliau meminta untuk pulang paksa saja. Mau tidak mau, ibu menyetujuinya, karena ayah memaksa untuk berobat ke alternatif.
*************
2 bulan pasca kecelakaan, alhamdulillah ayah sudah lebih baik, dan ibu memutuskan untuk mencari uang dengan berjualan makanan. Karena gajiku saja tidak akan cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari kami.
Setiap pagi, ibu rela berkeliling berjalan kaki, menjajakan dagangannya. Aku iba, tak tega melihat ibu harus susah payah seperti itu. Mengurus ayah dan adikku saja sudah begitu kerepotan.. Janjiku di dalam hati, ingin sekali aku bisa membahagiakan ibu.
Beruntungnya, kesulitan kami hanya 6 bln. Karena ayah sudah bisa kembali bekerja...
1 tahun kemudian, ayah kembali jatuh sakit. Hingga akhirnya terpaksa operasi. 2 bulan, kondisi ayah membaik.. Namun di bulan ke 3, kondisi ayah benar-benar drop. Hingga keluar masuk RS beberapa kali. Diagnosa dokter, ayah terkena kanker usus besar. 5bln pasca operasi pertama, kondisi ayah semakin menurun. Hingga sampailah waktu itu tiba, ayahku berpulang...
Waktu itu adikku Rachma baru masuk SD. Ibu rela banting tulang, bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Demi kami, demi anak-anaknya, ibu rela bekerja apa saja, tanpa pernah malu mendengar cibiran orang.
#mohon maaf kalau ceritanya terlalu ribet, baru belajar menulis, sehingga banyak kalimat yang mungkin sangat membosankan. Harap maklum adanya. Terimakasih🙏🏻