Aku adalah gadis gila, begitulah ayah dan ibuku memanggil ku. Aku adalah anak tunggal dari sepasang pengusaha sukses, meskipun begitu aku tidak tumbuh dengan sukses seperti usaha ayah dan ibuku.
Semua berawal ketika aku masih duduk di bangku SMA. Aku seorang gadis remaja yang tergila – gila pada anime fantasi romance dan membuat ku sedikit berbeda dari kebanyakan remaja saat itu.
Setiap hari nya setelah pulang sekolah, aku menghabiskan waktu ku dikamar membaca, menonton semua manga dan anime dengan genre fantasi romance, akibat dari itu aku tidak pernah lagi bergaul dengan teman – teman ku, aku menjadi penyendiri dan lebih menikmati itu. Aku menghabiskan waktu menghayalakan pria pujaan ku ketimbang hangout bersama teman – teman ku.
Kedua orang tua ku yang mulai menyadari kelakuan ku mulai menegur kebiasaan ku, aku bahkan tidak ikut sarapan atau makan malam bersama kedua orang tua ku dan itu membuat mereka semakin merasa aneh dan terganggu dengan kelakuan ku.
Awalnya kedua orang tua ku masih menegur ku dengan nasihat – nasihat nya, tapi lama kelamaan sikapku menjadi semakin aneh, aku mulai memimpikan pria – pria yang ku lihat di anime, aku bahkan pernah sekali kabur dari rumah dan terbang ke jepang hanya untuk mencari pria yang ku lihat di anime tapi tak menemukan nya di sana.
Saat itu aku mulai merasa aneh, aku merasa sedih dan mulai stress karena tak bisa menemukan pria yang aku cari di sana, karena kecewa dan frustasi akhir nya aku kembali ke negaraku, dan kembali dirumah. Saat sampai di rumah kedua orang tua ku terlihat panik, tapi tiba – tiba ayah ku menamparku.
Aku yang saat itu merasa sangat frustasi, hanya tersenyum melihat ayah ku yang menatap ku tajam, aku memegang pipiku bekas tamparan ayahku, aku kemudian memperlihatkan gambar seorang pria yang ku lihat di anime dan berkata pada mereka kalau aku ingin menikahi pria itu dan mereka berdua harus membantuku, ibuku tak bisa mengatakan apa – apa selain,
“Anak kita sudah gila pa, dia sudah tidak waras.”
“Kita harus menjauhkan nya dari orang – orang atau dia hanya akan mempermalukan keluarga kita”
Aku bisa mendengar jelas ucapan ibuku, aku merasa ibuku lah yang gila, apa yang salah dengan ku, aku hanya menyukai pria itu, pria bermata merah yang selalu mengunjungi mimpiku tiap malam.
Malam itu juga ayah dan ibuku memasukan ku ke rumah sakit jiwa, aku memberontak sekuat tenaga, tapi para tenaga medis yang memegang ku terlihat sangat kuat.
Ayah dan ibuku terlihat frustasi melihat ku di bawah oleh petugas rumah sakit jiwa, ku biarkan mereka membawaku ke dalam ruangan, beberapa petugas wanita membuka pakaianku dan mengganti dengan pakaian khas rumah sakit jiwa, aku hanya tersenyum melihat wajah sok polos mereka.
Setelah itu mereka membawaku ke dalam ruangan serba putih, mereka membaringkan dan mengunci ruangan itu. Aku mengedarkan pandanganku, tak ada apapun di ruangan ini, menyebalkan sekali. Aku tahu kedua orang tua ku sengaja membawaku ke tempat ini agar aku tak bisa menemui pria itu. Mataku terasa berat, apa mungkin ini efek suntikan yang di berikan perawat tadi dan mata ku perlahan tertutup.
***
Aku terbangun di sebuah ruangan yang menurutku tidak asing, ahh aku ingat ini adalah kamar pria yang ingin ku temui, pria berwarna merah, Ryuga Ito. Aku berjalan mengelilingi kamar ini, aku bisa mengingat dengan jelas setiap sudut kamar ini. Saat sedang asyik berkeliling, tiba – tiba sepasang tangan melingkar di pinggangku yang ramping, aku bisa mendengar napas nya di telingaku.
Ia membalikan tubuh ku dan kini wajah ku dan wajah nya hanya berjarak sejengkal, ia tersenyum manis seakan menunggu ku selama ini.
“Kau kemana saja, aku sudah lama menunggumu, apa kau tidak merindukan ku?”
ucap nya sembari membelai mesra rambut ku.
Aku merasa berada di alam mimpi yang begitu nyata, ia menarik tangan ku dan mengelilingi setiap sudut rumah nya yang begitu luas dan mewah, aku bisa melihat jelas pilar –pilar yang menjulang tinggi menyangga rumah ini, ia terus memegang tangan ku, hingga kita tiba di tepi kolam dan duduk berdua di kursi panjang sembari taman bunga yang berada di bagian sisi kanan kolam.
Ia masih menggenggam tangan ku dan menatap ku dengan senyuman, beberapa orang berpakaian layaknya pelayan datang membawa beberapa macam cup cake, ia kemudian menyuapi ku.
Aku bisa merasakan rasa manis dan nikmat dari cake itu. Cream cake itu tertinggal di sudut bibirku dan dengan sigap ia melap cream itu dengan kecupan manis nya.
Aku tersentak sekaligus bahagia, aku bisa merasakan tubuh ku bergetar saat bibir nya kembali menyentuh bibirku lembut. Beberapa menit kemudian ia melepas bibir nya dan kembali tersenyum padaku, aku bisa merasakan kelembutan bibir merah nya.
“Aku bahagia kau berada di sini, aku harap kau takkan pernah meninggalkan ku.”
Aku hanya tersenyum tanpa berkata apa – apa mendengar ucapan nya. Setelah menghabiskan 2 cup cake, ia mengajak ku ke dalam sebuah ruangan yang cukup ramai, di sana ada beberapa orang, ada dua orang wanita dan 3 pria.
“Ayah, ibu perkenalkan dia adalah calon istriku, Aquamarine.”
Aquamarine? Tapi itu bukan nama ku, tapi siapa wanita itu, lalu aku ini apa untuk nya.
“Dia hanya rakyat jelata, apa kau sedang berencana merusak reputasi keluarga kita?”ucap pria berkumis tipis, aku pikir dia adalah ayah pria ini.
“Tapi ayah, aku sangat mencintai nya, aku ingin menikah dengan nya, aku tidak peduli dengan reputasi keluarga ini.”
Setelah mengucapkan itu, pria itu menarik ku lagi, aku hanya berjalan mengikuti nya. Aku kembali masuk di ruangan tempat ku pertama kali tiba di sini, di kamar pria yang ku kenal bernama Ryuga ini. Aku menghempaskan tangan nya, dia menoleh dan menatap ku.
“Aku bukan aquamarine.”
“Apa yang kau ucapkan, kau adalah Aquamarine, wanitaku, milik ku.”
Aku mulai merasa asing dengan situasi ini, setahuku Ryuga berpasangan dengan seorang gadis bernama Sakura, lalu Aquamarine, siapa gadis itu. Apa aku melupakan sesuatu. Tanpa sadar Ryuga menarik ku dan membuang tubuh ku di kasur, ia menatap ku sembari membaringkan tubuh nya di atas tubuh ku.
“Lalu bagaimana dengan sakura.” Tiba – tiba saja mulut ku menyebut nama Sakura dan itu membuat Ryuga menatap ku tajam.
“Jangan pernah menyebut nama wanita itu, wanita itu sudah ku musnahkan demi bersama dengan dirimu, bukan kah kau bahagia sayang?”
Kisah apa ini, semua berubah ini bukan cerita yang ku saksikan selama ini, Ryuga, pria bermata merah impian ku adalah pria yang lembut dan baik hati lalu bagaimana ia bisa menjadi pria kasar seperti ini. Ryuga masih menatap ku.
Tangan nya mulai meraba tubuh ku, aku memberontak tapi Ryuga adalah memiliki tubuh atletis yang cukup kuat menahan tubuh ku yang kecil ini, ia mencium ku dengan kasar dan membuat ku susah bernapas. Aku masih memberontak dan berusaha melepaskan diri. Aku berteriak dan tiba – tiba aku terbangun di ruangan putih itu lagi.
Entah mengapa aku merasa bersyukur, aku merindukan ayah dan ibuku, aku berteriak memanggil perawat, aku memohon pada mereka untuk bertemu kedua orang tuaku, aku pun dituntun oleh suster di sebuah ruangan dan di sana aku melihat kedua orang tua ku menunggu ku dengan raut wajah cemas.
Mereka berdua menghampiriku dan memeluk ku, ibu ku menangis dan bergumam.
“Syukurlah nak, kau telah kembali seperti semula.”
Aku bingung dengan ucapan ibuku, apa dia tahu kalau aku baru saja datang dari dunia antah berantah, dunia yang mempertemukan ku dengan pria impian ku yang ternyata tidak sesuai dengan impian ku. Aku bertanya pada ayah ku sudah berapa lama mereka menunggu ku dan jawaban ayah ku sangat mengejutkan, ia bilang mereka sudah 2 jam menunggu ku, padahal aku pergi hampir seharian.
Malam itu juga aku dibawa pulang oleh ayah dan ibuku, sepanjang perjalanan aku memejamkan mata sembari mengingat hal yang kulewati beberapa saat yang lalu, aku membuka mata dan melihat ekspresi ayah dan ibuku sangat lega.
Sejak saat itu, ayah dan ibuku tidak lagi membiarkan menonton sembarang film, mereka bahkan mengecek handphone dan laptopku setiap hari, aku kembali berkumpul dengan ayah dan ibuku, sarapan dan makan malam bersaam, aku juga mulai bergaul lagi dengan teman – teman ku.
Melihat itu ayah dan ibuku tidak lagi mengkhawatirkan ku, membuat ku bangga pada bakat acting ku dan tanpa mereka ketahui setiap malam, pria bermata merah itu masih mendatangi dan menemani ku tidur hingga pagi bahkan tidak jarang kami melakukan hubungan itu. Dan yah, aku mulai menikmati nya.
Aku melupakan satu hal, aku juga mempunyai mata yang sama dengan pria itu.