Sinar mentari pagi menembus masuk kedalam ruang kamar melalui celah-celah kecil jendelaku, disusul bising suara jam alarm dari meja kecil disebelah ranjangku sungguh sangat memekakkan telinga.
Sejenak aku meraihnya berharap waktu tidurku masih panjang, namun apalah daya sebuah waktu tidak bisa aku putar kembali. Layaknya hidupku ini, tetapi tunggu dulu kawan, aku pasti akan menceritakannya secara perlahan.
***
Semilir angin yang berhembus ringan sungguh terasa sejuk di kalbu, terdengar suara kicauan burung-burung dari arah kejauhan yang mungkin saja burung itu adalah peliharaan para tetanggaku menambah rasa damai di kalbu.
Waktu semakin cepat berlalu, segera ku melanjutkan aktifitasku yang terasa sangat membosankan bagiku tak lain ialah menimba ilmu. Kuraih handuk lantas bergegas menuju kamar mandi tapi terhenti kala melihat diriku sendiri didalam cermin.
Rasa itu kembali menerjang dalam pikiranku kala ku melihat tubuh molek didalam kaca itu. Sebab sesungguhnya aku sangatlah membenci diriku sendiri.
Kau tau apa alasannya kawan? Karena tubuhku bukanlah diriku.
Mungkin sebagian orang menilai bahwa tidak ada, atau mungkin 1001 orang yang mengalami seperti yang aku alami ini, kau tau kenapa? Karena ini sungguh tidak bisa dikonsumsi oleh banyak individu.
Seringkaliku mendengar kalimat yang sering orang ucapkan tentangku, mereka kagum atas paras cantik yang aku miliki ini karena nyaris dibilang sempurna menjadi kaum hawa, tetapi kalimat itu membuat bulu kudukku merinding.
Bagaimana tidak? Karena sejatinya aku bukanlah wanita.
Ya kawan, aku adalah seorang lelaki sejati, tetapi segala hal yang ada didalam hidupku memaksaku untuk hidup menjadi bukan diriku yang sebenarnya.
Kalian pasti berpikir bahwa aku Transgender? Atau mungkin banci? Saya katakan dengan lantang. Tidak! Bukan kawan, aku ini adalah pria sejati, dengarlah penjelasanku sejenak.
***
Yang sudah aku nyatakan bahwa mungkin saja 1001 orang mengalami seperti diriku. Atau mungkin tidak ada di dunia ini.
Aku bernama asli Arya Geovano, Ayahku bernama Gio sementara ibuku bernama Vani. Aku dulu memiliki saudara kembar bernama Arsya Geovani dan inilah titik terang awal mula kenapa aku sekarang menjadi seperti ini.
Baiklah kawan, kejadian itu sudah sangat lama, aku akan menggali memori ingatanku terlebih dahulu.
Aku mendengar dan melihat sendiri dengan mata kepalaku bahwa sesungguhnya kedua orangtua ku hanya menginginkan anak perempuan, Namun Tuhan telah menciptakan kami berdua sehingga terlahirlah kami saudara kembar identik, namun berbeda gender.
Terlihat jelas perbedaan kasih sayang yang mereka berikan antara Aku dan saudariku, apalagi aku adalah lelaki pastinya selalu terkena imbas atas segala masalah kecil yang menyangkut saudari ku itu.
Aku sangat ingat, dulu aku selalu dikucilkan oleh orangtuaku, saudariku selalu dibelikan mainan boneka barbie sementara aku hanya ingin mainan robot yang masih trend pada jaman itu, samasekali tidak dibelikan.
Ya, tentu saja aku sempat marah karena wajar saja aku hanyalah anak kecil yang ingin seperti adikku bisa memiliki mainan, terus terang aku tetap saja mengalah. lagipula meskipun aku dibedakan oleh orangtuaku, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa aku juga sangat sayang terhadap saudari kembarku itu.
Kami dulu masih hidup satu atap bersama dengan kakek dan nenek, di pedesaan. Karena orangtua kami belum memiliki rumah sendiri. Sementara kedua orangtuaku sesama anak tunggal. Jadi tidak ada om maupun tante.
Kakek dan nenek sangat sayang kepadaku dan Arsya, mereka tidak membedakan kasih sayang seperti orangtua ku. Mereka lah tumpuan ku untuk berlindung kala aku sedang dimarahi oleh Ayah maupun ibuku. Tetapi rasa kasih sayang dari mereka terasa sangat singkat bagiku, karena tepat di umurku 8 tahun mereka berdua meninggal dunia disebabkan oleh penyakit yang mereka derita. Keluarga kami tidak sanggup untuk membiyayai pengobatan mereka.
Aku sangat sedih karena tidak ada lagi tempatku mengadu setiap kali orangtuaku sedang memarahiku. Tetapi apalah daya kini aku harus menerima kenyataan bahwa aku bukanlah anak yang mereka inginkan melainkan hanya Arsya, adikku.
Tetapi kala itu aku masih seorang anak kecil yang tidak tahu apapun yang kutahu hanyalah bermain. Hingga pada suatu ketika, kala hujan terjun dengan sangat lebat sudah menjadi kebiasaanku bermain hujan-hujanan.
"Kakak aku ikut" pinta adikku merengek.
"Jangan dik, nanti kamu bisa sakit," aku menolak lantaran aku tahu daya tahan adikku tidak sekuat aku. Lagipula tidak akan diberikan izin oleh orangtuaku. Kemudian orangtuaku datang langsung meraih tangan adikku supaya dia tidak ikut pergi denganku.
"Hei kau! Kalau mau pergi ya pergi saja jangan kau mengajak adikmu. Kau tau dia gampang sakit, dan kau tau biaya pengobatan itu tidak murah, paham!" Ayahku menggertak ku.
Aku terdiam, lantaran sesungguhnya aku samasekali tidak mengajaknya tetapi dia lah yang merengek. Jujur aku sedih karena setiap kali aku dekat adikku orang tuaku seakan-akan merasa jijik jika adikku sendiri bersama denganku. Sangat miris bukan? Ya, tapi beginilah adanya.
Ada saja celah yang membuatku selalu di bentak oleh mereka walaupun itu hanyalah masalah sebesar butir pasir. Tetapi itu semua sudah bagaikan makanan keseharianku, tidak pernah luput dari yang namanya di bentak oleh mereka.
***
Aku melangkah pergi, aku melihat adikku menangis karena aku tahu dia sama seperti ku yaitu saling mengasihi.
Aku bermain sendiri di sebuah tanah lapang tidak jauh dari rumahku, disana banyak anak-anak yang sudah lebih besar dariku, mereka sedang asik bermain bola. Sedangkan aku bermain air di parit sendirian.
Karena ketika hujan datang debit air dari parit itu pasti meluap dan aku sangat senang bermain kapal-kapalan yang terbuat dari pelapah pisang, aku buat sedemikian rupa sehingga menjadi seperti kapal-kapalan. Ya, itu sangat menyenangkan kawan, bahkan hingga membuatku melupakan sejenak rasa sakit dihatiku akibat dimarahi oleh ayah tadi.
Hujan semakin mereda, namun masih sedikit deras, aku masih saja bermain di parit itu dengan sangat gembira. Lokasi parit tempat ku bermain itu dekat dari jalan raya. Tetapi jalan raya di kampung kami tidak begitu ramai seperti di jalan raya utama desa kami. Tatapi kendaraan yang melintas cukup banyak yaitu para pengangkut hasil panen.
Keasikan ku bermaian menjadi terhenti ketika terdengar suara teriakan seorang anak perempuan semakin mendekatiku.
"Kakak.."
Perlahan aku menoleh ke arah sumber itu dan ketika aku sudah menoleh, aku sangat terkejut saat aku tahu suara itu adalah suara Arsya sedang berlari hendak mendekat kepadaku.
Aku terkejut lantaran saat dia hendak menyebrang jalan menuju ke arah ku, ada sebuah mobil pick up sedang melaju dengan kecepatan penuh dari kejauhan, dan na'as pun terjadi. Adikku terlindas oleh mobil itu hingga tubuhnya hancur berantakan.
"Tidakkkkk! Arsyaaa!" Aku teriak sangat lantang ketika kejadian itu berlangsung.
Mobil yang melindas adikku langsung kabur, lalu banyak warga yang berkumpul untuk menyaksikan kejadian itu.
Aku menangis histeris seraya hendak mendekat ke adikku. Disusul oleh kedua orangtua ku datang, karena rumah kami hanya berada disebrang jalan dari lokasi parit tempatku bermain ini.
Ibuku langsung menangis histeris bak orang gila, sementara aku selalu di halang-halangi oleh ayah ketika aku hendak mendekat ke adik. Akhirnya aku menyaksikan itu dari arah kejauhan, aku menangis histeris sendirian.
***
Setelah pemakaman adik selesai, serta sudah tidak ada lagi orang yang berbelasungkawa dirumah kami, sebuah perkara yang sampai saat ini teringat dalam ingatanku pun dimulai, yaitu aku langsung dipukuli oleh ayah, aku di tendang, di jambak dan segala kekerasan fisik lainnya aku rasakan.
Aku tidak bisa berkata apapun, aku hanya merintih kesakitan dan menangis. Ayah mengomeliku dengan kalimat-kalimat yang sungguh menyayat hatiku, dia berkata bahwa aku adalah anak iblis anak tidak berguna dan segala cemoohan selalu ku dengar kala dia sedang menganiayaku.
'Wahai ayah dan juga ibu .. aku sadar aku tidak bisa menyelamatkan adik, maafkanlah aku ..' rintihku didalam batin. Karena lisan ini tidak bisa berkata-kata akibat tubuh ini terasa sakit, kepala ini terasa sangat pusing kala di hantam benda tumpul oleh Ayah.
Beberapa hari kemudian, aku melihat ibuku seperti orang yang tidak waras, dia selalu menyebut-nyebut nama Arsya dan berpolah seakan-akan dia sedang berbicara dengan Arsya (berhalusinasi)
Akhirnya aku memberanikan diri mendekat kepadanya, walau jantung ini berdebar tak menentu tetapi aku tau akan toleransi kekerasan yang siap ku terima.
Dia sedang duduk termenung di kursi sembari menghadap ke arah jendela. Sesudah aku sampai didekatnya, akupun mengusap pundak ibu seraya memanggilnya lirih.
"Ibu.."
Ibuku menoleh, aku sungguh terkejut ketika ia menoleh ke arahku dia tersenyum, tiba-tiba langsung memeluk tubuhku erat.
"Arsya ... akhirnya kamu pulang, Nak? Jangan pergi lagi Nak, ibu tidak ingin kehilanganmu" Ibu ku mengusap lembut pundak dan kepalaku.
Aku tahu mungkin ibu sedang berhalusinasi akibat depresi kehilangan adikku sehingga melihatku seperti melihat Arysa, karena kenyataan tidak bisa dipungkiri bahwa wajahku benar-benar Mirip dengan Arsya. Ya, itu semua karena kami adalah kembar identik.
Jujur aku terhanyut dalam suasana kasih sayang yang belum pernah aku rasakan ketika ibuku memeluk tubuhku. Aku menetekan air mata, karena aku sungguh mengharapkan kasih sayang oleh ibu seperti ini, tetapi kenyataannya sangatlah pedih. Ibuku memelukku lantaran menganggapku Arsya.
"Kenapa rambut kamu pendek seperti ini, Nak? Ibu kan pernah bilang ke kamu, kamu sebagai wanita harus feminim. Jangan pernah memotong rambut kamu sampai sependek ini, Nak" ucap ibuku sembari mengusap lembut rambutku.
"Aku .. aku .." Lidah ini sungguh kaku hendak berkata-kata untuk menyatakan bahwa aku buklanlah Arsya, hingga akhirnya kalimatku terpangkas ketika ayahku datang.
"Ayah yang tadi memotong rambut dia, Bu. Maafkan Ayah ya sayang?" Ucap Ayah sembari mengusap rambut ibu dan tersenyum kepadaku.
Sungguh aku terkejut ketika Ayah juga berkata seperti itu karena semua itu sungguh tidak benar. Ya! Aku ini Arya bukanlah Arsya. Pikirku didalam batin.
Usai berbincang-bincang dengan ibu, Ayah meraih tanganku lalu membawaku kedalam ruang kamar.
"Hei, kau tau ibu kamu seperti itu semua adalah kesalahanmu! Jadi, jangan pernah kau mengatakan bahwa kau bukan Arsya, paham." Lirih Ayahku seraya melotot tajam nan menggenggam erat tanganku. Aih itu rasanya sakit sekali kawan.
Aku diam sejenak, air mataku sempat hendak berlinang lantaran aku harus menerima kenyataan pahit ini untuk menjadi adikku. Alhasil, aku hanya mengangguk, aku takut Ayah pasti akan memukulku jika aku menjawab tidak.
***
Sejak saat itu aku memulai hidupku menjadi seorang wanita yaitu sebagai adikku, Arsya. Dan sejak saat itu pula orangtuaku langsung menjual tanah sekaligus rumah peninggalan kakek dan nenekku untuk pindah tempat tinggal yang posisinya jauh dari sana untuk menyembunyikan identitas asliku.
Inilah yang menjadi pertanyan yang tak kunjung usai kupikirkan, apakah ibuku benar-benar depresi sehingga menganggapku sebagai Arsya atau memang sebenarnya dia sudah sadar tetapi dia tetap menginginkanku hidup sebagai Arsya?
Entahlah
Pertanyaanku itu tidak berani aku lontarkan lantaran aku sudah di ancam oleh ayah untuk tidak menanyakan hal itu.
***
Kalian pasti berpikir bagaimana bisa seorang lelaki menjadi seorang wanita lantaran fisik mereka pasti berbeda bukan?
Ya, itu benar kawan. Tetapi nasipku yang malang karena dari sejak itu, ibuku memberikan apapun sebagaimana layaknya seorang wanita, mulai dari pakaian, aksesoris dan lain-lain.
Dan lebih mirisnya, Ayahku seorang lelaki bahkan tega melakukan ini kepada putra kandungnya sendiri, menyuruhku untuk menjadi seorang wanita feminim.
Beberapa tahun kemudian aku sudah tumbuh menjadi pemuda remaja. Bukan! Tetapi Aku tumbuh menjadi seorang gadis remaja. Saat remaja kalian pasti merasakan perubahan pada diri kalian sendiri bukan?
Ya, sama saja seperti diriku. Tidak bisa dipungkiri setiap lelaki pasti mengalami perubahan suara dan sejak itulah Ayahku menekanku untuk berbicara layaknya wanita sehingga suara asliku sebagai lelaki hampir lenyap.
Miris sangatlah miris, memang inilah nasip sial yang terjadi dalam hidupku, aku memiliki bentuk tubuh yang mendukung untuk menjadi seorang wanita.
Kalian pernah mendengar istilah lelaki cantik kan? Ya, seperti itulah gambaran untuk ciri-ciri diriku. Yang mana aku memiliki kulit putih dan bersih serta mulus dan licin, ah sepertinya kalimatku ini berlebihan, aku akan tertawa sejenak "hahaha"
Tetapi itulah kenyataannya, aku menjadi seorang gadis remaja yang bisa dibilang sangat cantik bagi orang-orang yang melihatku. Rambutku hitam dan kinclong lurus sebahu. Tubuhku langsing dan dadaku … ah aku malu untuk menyatakan ini. Tetapi tetap akan ku katakan. Aku memakai dada palsu dan itu adalah pemberian dari ayahku.
Aihh, aku benar-benar ingin berteriak sekencang-kencangnya saat aku sedang berganti pakaian untuk memakai benda itu. Tetapi ayahku selalu mengecamku untuk tidak memberontak apapun mengenai ini. Alhasil aku diam dan hanya bisa tunduk untuk mematuhinya.
***
Kala remaja, maka tidak lepas dari perubahan hormon dari setiap manusia. Baik pria maupun wanita. Seperti halnya dengan diriku, walau tubuh ini wanita, tetapi sejatinya aku adalah seorang pria yang normal menyukai lawan jenis ku. (Wanita)
Namun, Aku bagaikan katak didalam tempurung yang tidak bisa bergerak, maju salah dan mundur juga tidak bisa, hingga akhirnya aku pasrah untuk menjalani segala nasip sial ini menjadi wanita sebaik-baiknya.
Berbicara mengenai masa depan? Tunggu dulu kawan, untuk menjalani hari esok saja aku harus menyiapkan mental sekuat baja.