Setiap bunga pasti memiliki arti tersendiri. Arti namanya atau bahkan kisah dibaliknya. Bunga memiliki warna warni yang indah, aku menyukai warna warni itu sesuai dengan maknanya.
Namaku Chryssa Antharose, hanya gadis SMA biasa yang menyukai hal hal yang berhubungan dengan bunga. Mungkin ini semua adalah keturunan dari ibuku yang juga menyukai bunga.
Ibu suka bunga, makanya namaku adalah Chryssa yang artinya adalah Bunga Emas dalam bahasa Yunani. Ibuku memiliki sebuah toko bunga, kadang aku juga membantunya ketika ada waktu. Beliau bekerja untuk biaya aku sekolah, dan aku harus membanggakan ibu! Aku akan sukses!
Bahkan nama toko bunga milik ibu adalah 'Chryssa'
Bunga Emas, aku adalah satu satunya harta yang ibu miliki. Aku tidak tahu siapa ayahku, setiap aku bertanya kepada ibu pasti ibu hanya akan tersenyum pahit. Dan sekarang aku sudah tidak menanyakan tentang siapa ayahku.
Ibuku, Fiorella Antharose.
*****
Kalian tau? Selama ini aku sedang menunggu seseorang. Seseorang yang membuat janji kepadaku 10 tahun yang lalu, saat aku berusia 7 tahun. Seorang laki-laki yang dulunya adalah tetangga kami.
Dia pindah keluar negeri karena alasan yang tidak aku ketahui. Sebelum ia pindah, kami bertukar barang sebagai kenangan.
Aku memberinya sebuah gelang, dan dia memberiku kalung bunga mawar dan sebuah cincin mainan.
Dia bilang, "Tunggu aku, aku akan kembali secepat mungkin. Aku berjanji, aku tidak akan ingkar janji"
Sampai sekarang aku masih menunggu dia datang. Meski kecil kemungkinan dia akan datang namun aku tetap menunggunya.
*****
"Chryssa, ibu akan pergi sampai sore, tolong jaga toko ya" kata ibuku yang sedang memasak di dapur kepadaku yang duduk di depan tv.
"Ok"
Waktu terus berjalan, ibuku sudah pergi sejak tadi setelah kami sarapan bersama. Tinggallah aku sendirian yang masih menonton tv di rumah.
Waktu menunjukkan jam 9, waktunya untuk membuka toko. Biasanya jam 8, tapi karena aku sedikit malas makanya jadinya jam 9. Asal tak ketahuan ibu maka itu akan baik baik saja, mungkin aku akan dimarahi jika ibu tahu kemalasan ku ini.
Aku segera mematikan televisi dan berjalan menuju toko bunga. Sebenarnya rumah ku berada di belakang toko bunga, jadi hanya melangkah saja sudah sampai.
Aku menata pot pot bunga agar menarik pembeli. Sesekali juga membersihkan kaca agar calon pembeli bisa melihat jelas bunga bunga ini dari luar sana.
Sambil menunggu, aku memainkan ponselku dan mendengarkan musik. Bahkan terkadang membalas chat dari sahabatku, Elaine.
Tring
Suara bel kecil yang berbunyi ketika pintu toko terbuka. Aku yang masih sibuk dengan ponselku menyambutnya tanpa menoleh sekalipun.
"Selamat datang"
"Ada yang bisa sa...ya bantu....?" sepertinya tadi ada orang yang masuk, tapi kenapa tidak ada orang disini.
Hanya ada aku dan bunga yang ada disini, tidak ada orang lain.
"Mungkin orang iseng, atau anak anak itu" gumam ku lalu kembali sibuk dengan ponselku.
Memang ada beberapa anak anak SD yang senang mengusili ku ketika menjaga toko. Biasalah orang cantik banyak yang nge-fans. Ahay...
Lalu masuklah notifikasi chat dari sahabatku yang cerewetnya minta ampun, Elaine. Dia mengirim sebuah video singkat tentang penampakan hantu.
"Ih.. Ngeri" itu yang dia tulis kepadaku.
Kemudian aku membalasnya tanpa melihat video yang ia kirim padaku. "Apaan sih, ngapain juga ngirim ngirim video gak jelas. Belajar sana dari pada nonton penampakan teros"
Hobi Elaine, nonton penampakan hantu lalu menceritakannya seakan-akan akan dia lah yang mengalaminya.
"Halah, bilang aja takut 😏"
"Apaan sih! Sudah, jangan ganggu aku!"
Semakin dilarang mengganggu malah semakin mengganggu, dia namanya Elaine. Banyak topik yang kami bicarakan lewat chat. Ciri khas Elaine, bisa membuat topik pembicaraan yang sesuai dengan orang yang dia ajak bicara.
Hari sudah sore, ibu belum juga pulang. Waktunya untuk menutup toko. Sepanjang hari hanya ada beberapa orang yang datang membeli bunga. Mereka adalah pelanggan setia toko milik ibu ini.
"Forget Me Not" gumam ku melihat bunga kecil yang tumbuh di pot bunga dengan subur. Bunga kecil berwarna biru itu tumbuh dengan baik.
Pada abad ke-15 di Jerman, bunga Forget Me Not melambangkan sebuah kesetiaan kepada pasangan. Dimana cerita ini bermula ketika pada suatu ketika pasangan suami istri yang sedang menyusuri sungai menemui bunga kecil nan indah. Ketika hendak mengambil bunga sang kesatria jatuh ke sungai dan melemparkan sebuah karangan bunga yang tadi di petiknya dan berteriak “Forget-Me-Not” kepada istrinya.
*****
"Maaf, aku tidak ingin berpacaran dulu. Aku sedang menunggu seseorang" kataku kepada laki laki didepanku.
Aku sering mendapatkan pengakuan cinta dari beberapa lelaki di sekolah. Tapi semua aku tolak dengan jawaban yang sama, yaitu aku menunggu seseorang. Banyaknya laki laki yang menyukaiku membuat diriku tidak punya teman perempuan selain Elain.
"Hah... Baik, aku tau..." laki laki itu berbalik dan berlari meninggalkan aku sendirian di belakang sekolah yang sepi ini.
Apa aku salah?
"Sudah ke berapa kali kamu memberikan jawaban yang sama? Ganti yang lain lah, gak bosen alasannya itu itu terus?" ucap Elaine yang entah muncul dari mana.
"Terserah aku lah" balasku.
Elaine mengoceh terus mengomentari diriku yang tidak punya pasangan ini. Dia bahkan membandingkan aku dengan dirinya, karena Elaine memang sudah punya pacar.
*****
Pulang sekolah sendirian, berjalan menyusuri jalanan yang agak sepi sendirian. Awan mendung menutupi langit, sepertinya akan turun hujan hari ini.
Bugh
Aku tidak sengaja menabrak seseorang karena tidak terlalu memperhatikan jalanan sekitar, untung saja yang aku tabrak adalah manusia jika mobil maka matilah aku.
"Ma-maaf!" aku menatap orang yang aku tabrak barusan.
Dia laki-laki? Wajahnya tertutup oleh tudung hoodie berwarna hitam. Hanya mulut dan hidungnya saja yang terlihat. Tapi... dia juga menatapku.
Aku ingin segera melangkah pergi menuju rumah, tapi kakiku seperti tertahan sesuatu yang mengganjal. Hatiku mengatakan jika dia adalah yang aku tunggu selama ini, otakku berhenti berpikir, badanku kaku tidak mau bergerak.
"Chryssa...." dia memanggil namaku! Dia kenal aku? Tapi dia siapa?
Tangannya terangkat membuka tudung itu. Tampaklah wajah seorang laki laki tampan, matanya yang berwarna biru jernih, rambut hitamnya bergoyang karena sapuan angin, dengan senyuman manis di bibirnya.
Wajah dan suara yang tidak asing di telingaku. Bibirku bergetar ingin merespon laki laki itu.
"Alex!" aku spontan saja memeluknya dengan erat. Melepaskan semua kerinduan yang tertumpuk di hatiku.
Alex Chevron, laki-laki yang kutunggu selama 10 tahun ini. Orang yang membuat janji jika dia akan kembali denganku. Orang yang selama ini aku jadikan alasan menolak pengakuan cinta. Tetangga ku, bukan, tapi orang yang aku cintai!
"Katanya bakal kembali secepatnya, 10 tahun cepet? Aku lama nunggu kamu," ucapku yang berada di dalam pelukannya.
"Maaf, aku datang telat. Maaf telah membuat mu menunggu tanpa kepastian selama bertahun-tahun. Maaf untuk segalanya" Alex juga membalas pelukanku, tangannya lembut mengelus punggungku.
Singkat cerita, kami berjalan bersama menuju ke rumah. Alex menjelaskan alasannya pergi keluar negeri dan tidak pernah memberi kabar. Dia mengidap penyakit jantung, harus berobat keluar negeri. Aku tidak tahu hal itu, aku merasa bersalah pernah berpikir jika Alex tidak akan datang menepati janjinya.
Dan juga dia ternyata orang beberapa hari yang lalu masuk ke toko bunga lalu pergi lagi. Pantesan saja jika aku tidak melihat orang waktu itu, orang dianya pergi gitu aja setelah masuk.
Sekarang mereka sudah berada di depan toko bunga milik ibuku.
"Ayo masuk," ucapku dengan tersenyum bahagia.
"Chryssa, kamu gak mungkin nunggu aku 10 tahun karena janji itu kan..." tanya Alex. Pipinya merona ketika menanyakan hal itu kepadaku.
"Tentu saja, tapi bukan cuma itu..." aku tersenyum kepadanya.
Tak lama kemudian sebuah mobil hitam berhenti di depan toko, kaca mulai turun perlahan dan terdapat seorang laki-laki paruh baya bersama istrinya.
"Alex, ayo" ucapnya kepada Alex. Mereka adalah orang tua Alex.
Aku yang mendengar suara paman hanya menatap Alex dengan tatapan yang meminta penjelasan.
"Maaf..." lirihnya sambil menundukkan kepalanya.
Kenapa lagi dia meminta maaf kepada ku? Apa dia melakukan kesalahan?
"Aku... harus pergi lagi..." senyuman pahit terukir di bibirnya.
Entahlah, aku tidak ada hak untuk marah atau sedih. Aku mengerti kondisi yang Alex alami saat ini. Pasti dia berjuang mati matian untuk bertahan hidup. Aku paham. Dia datang untuk menepati janji saja, lalu pergi lagi meninggalkan aku sendirian lagi.
Aku hanya bisa menundukkan kepala menahan tangis, membendung air mata yang hampir keluar. Aku harus menahannya.
"Maaf...." Alex mengangkat kedua tangannya dan memegang kedua pipiku dengan tangan lembutnya. Dia membuatku menatap mata birunya yang berkaca kaca.
"...Tunggu aku sekali lagi, aku bakal kembali...." dahinya menempel di dahiku.
"Kau memintaku menunggu lagi...? Berapa lama lagi aku harus menunggu? Aku lelah menunggumu terus" akhirnya air mataku tidak bisa aku tahan lagi, kini cairan bening itu membasahi pipiku.
"Sekali saja, aku akan kembali lagi dengan kondisi sehat"
Aku mencekal tangannya kemudian berbalik badan dan berlari kecil masuk ke toko bunga. Ibu dan seorang pekerja yang menjaga toko hari ini terheran-heran melihat ku berlari dengan menangis.
Aku mengambil bunga itu, bunga yang aku beli dengan uangku sendiri, bunga yang aku rawat sepenuh hati. Forget Me Not.
Kembali aku langkahkan kakiku berlari kecil. Aku melihat Alex yang baru membuka pintu mobil. Dia sudah mau pergi begitu saja.
"Alex!" aku memanggilnya. Dan dia berbalik melihat kearah ku.
Aku berjalan terburu-buru kearahnya, lalu memberikan pot bunga yang aku bawa di tanganku.
"Ini, bawa ini. Tidak apa jika kau tidak akan kembali, tapi... Forget Me Not! Tolong jangan lupakan aku! Ingat namaku di hatimu, kecil saja tidak apa. Pokoknya jangan lupakan aku!" ucapku penuh penekanan.
Alex menerima bunga yang aku berikan kepadanya. Kemudian dia tersenyum. Lalu berkata, "Aku akan terus mengingatmu, Chryssa. Karena aku mencintaimu"
"Aku juga.... aku juga mencintaimu sejak dulu!" balasku.
"Terima kasih,"
Sejak hari itu Alex pergi jauh dariku, aku menguatkan hati ini untuk menunggu dia sekali lagi. Menunggu lagi.
Waktu terus berjalan, 6 tahun terlewat begitu saja dengan cepat. Aku masih tetap menunggunya. Berharap seseorang membuka pintu itu (pintu toko bunga) dan berkata "aku kembali, Chryssa"
Tetap saja dia tidak kunjung datang.
Toko bunga ibu sudah berkembang, toko kecil yang hanya di rawat olehku, ibu dan seorang pekerja menjadi sedikit lebih besar. Dan juga telah ada cabang di beberapa titik di kota ini.
Bulan Desember tanggal 25, hari natal. Pada minggu ini kami mendapat pesanan bunga lebih banyak dari biasanya, itu juga membuat kami lebih sibuk. Tapi pada akhirnya pekerjaan ini selesai sebelum malam datang.
"Chryssa, pergilah keluar untuk beli kue. Mereka akan merayakan Natal di sini" perintah ibu kepadaku yang duduk menonton tv sambil memakan cemilan.
Mereka yang ibu maksud adalah para pekerja toko bunga, hanya ada 5 yang datang, sisanya merayakan Natal bersama keluarga mereka masing-masing.
"Hah... iya" aku beranjak dari duduk ku.
Sebenarnya aku malas keluar di malam Natal seperti ini. Itu karena salju, ya salju. Dingin sekali jika harus keluar malam hari seperti ini.
Memakai pakaian hangat dan melilitkan syal di leherku untuk menghangatkan tubuh ini.
*****
Entah kenapa kakiku tidak melangkah menuju toko kue, tapi malah menuju taman kota. Disana terlihat ramai dengan puluhan mungkin ratusan manusia.
Di tengah tengah taman berdirilah pohon natal besar yang dihiasi dengan lampu lampu yang berkelap kelip. Juga ada beberapa pasangan kekasih yang bermesraan disana.
Di saat itu pula, aku melihatnya. Punggung seorang laki-laki, dia berdiri tegap memandang pohon itu. Perasaan akrab menyelimuti hatiku kala melihatnya.
Kakiku melangkah dengan sendirinya.
"Aku kembali, Chryssa" dia berbaik.
Alex telah kembali. Dia menepati janjinya lagi. Tidak sia sia aku menunggu dia selama bertahun-tahun.
Ini adalah keajaiban. Forget Me Not, terima kasih! Sebuah keajaiban besar.
End~