Kata orang, jatuh cinta hanya sekali. Tapi tidak bagiku, kala menatapmu, maka aku akan jatuh cinta lagi, lagi, lagi, dan lagi. Akan selalu terulang kata lagi, kala menatapmu.
Akankah takdir baik kepadaku? Untuk menyembuhkan luka dihatiku karena jatuh cinta kepadamu? Salahkah jatuh cinta?.
***
Malam bertabur bintang tanpa seonggok bulan menemani Bia di teras rumahnya. Kata-kata kakak kelasnya saat di sekolah tadi kembali berputar di kepalanya.
"Sekarang, gue peringatin lo dengan cara halus. Jangan dekati Deon. Kalau lo masih memaksa dekat dengannya. Peringatan kedua tidak akan lagi menggunakan cara halus. Ingat itu! Gue bisa aja keluarin lo dari sekolah ini dengan cara yang sangat memalukan".
Kecaman dari Liora, kakak kelas Bia membuatnya strees bukan main. Liora adalah putri tunggal pendiri sekaligus kepala sekolah SMA Kembang. Dia adalah siswi yang sangat ditakuti oleh semua siswa siswi di sekolah itu, tak terkecuali Bia.
"Kenapa mencintaimu menjadi goresan luka di hatiku? Kenapa ini terjadi padaku?! Seandainya aku bisa menyingkirkan rasa ini, maka aku akan melakukannya apapun yang terjadi, aku tidak ingin hidup dengan penyiksaan yang bermula dari kata jatuh cinta"
Deru mesin mobil terdengar memenuhi gendang telinga Bia. Ia menoleh ke sumber suara. Mobil milik Deon berada di depan pagar rumahnya yang tertutup rapat. Bia langsung berdiri dan berniat meninggalkan tempat. Ia sangat tidak ingin bertemu dengan lelaki itu. Ia tidak ingin membuat Liora marah lagi. Tapi, seruan lantang yang sangat Bia rindukan, membuatnya berhenti. Ia memutar badan, menatap Deon yang sudah memasuki halaman rumahnya dan berjalan menghampirinya.
"Maaf kak, aku ada banyak tugas yang harus di selesaikan segera, aku tidak ada waktu untuk berbicara denganmu, maaf.." Bia balik badan dan segera memasuki rumah. Ia berjalan cepat menuju kamarnya di lantai dua. Matanya sudah memanas saat ia berbicara dengan Deon tadi, hingga akhirnya... bulir bening itu mengalir dengan derasnya membasahi pipi Bia saat ia mulai melangkahkan kaki, meninggalkan laki-laki yang sangat ia cintai.
Saat itu juga, mama Gia keluar dari rumah. Di tatapnya sekilas punggung putri semata wayangnya, lalu menghampiri Deon yang berdiri mematung di teras.
"Nak Deon tumben datang malam-malam begini, ada apa nak?" tanya mama Gia. Deon masih terdiam.
"Nak Deon.." sapa mama Gia lumayan keras, membuat Deon terjengkit kaget.
"Tante?" mama Gia mengangguk seraya tersenyum.
"Ada apa datang malam-malam kesini?" tanya mama Gia lagi.
"Nggak ada apa-apa tante, tadi niatnya mau main sebentar, tapi Bia nya malah lari kedalem" sahut Deon pelan.
"Mungkin lagi banyak tugas, nak Deon dateng lagi aja besok malam".
"Iya tante, sebelum saya pulang, saya titip ini sama tante dan tolong kasihkan ke Bia ya" mama Gia menerima sebuah buket bunga mawar putih kesukaan Bia lalu mengangguk. Deon kemudian pamit pergi dan mama Gia masuk ke dalam rumah. Ia kunci pintu dan berjalan menuju kamar Bia. Di ketuklah pintu kamarnya, namun tak ada jawaban. Mama Gia mencoba lagi. Masih sama.
"Tumben" gumam mama Gia.
"Sayang..." mama Gia akhirnya membuka pintu kamar anaknya itu dan melihat Bia sedang duduk di depan meja rias. Dari cermin, ia melihat bahwa mata anaknya sembab. Apa dia menangis, begitu pikirnya.
Ia menghampiri tempat di mana Bia duduk lalu meletakkan buket bunga dari Deon di atas meja. Bia menatap buket tersebut sekilas lalu beralih menatap cermin. Pasti dari kak Deon, batin Bia.
"Itu dari nak Deon".
"Benar kan, dugaanku mana mungkin salah, kenapa sih.. dia itu suka sekali mengasihku buket bunga kesukaanku" batin Bia kesal.
"Kamu kenapa nangis?".
"E-enggak kenapa-napa ma" kilah Bia seraya mengusap pipinya lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Jujur sama mama".
"Serius ma. Bia nggak papa".
"Mama ngerasa kamu bohong sayang. Kalau ada apa-apa, ngomong aja sama mama" Bia berdehem kecil.
"Ini seriusan nggak ada apa-apa?" Bia terdiam. Ia bingung. Berada di antara ingin cerita atau tidak benar-benar tidak enak.
"Bia..." Bia menoleh ke arah mamanya. Ia memeluk wanita tersebut lalu menangis lagi. Air matanya ternyata masih berdesakan ingin keluar.
"Aku bukan anak manja karena sering cerita sama mama kan?" mama Gia mengernyit dan sedikit terkekeh. Ia mengelus rambut Bia lembut lalu mengajaknya duduk di atas kasur.
"Mama ambil minum dulu" mama Gia pergi menuju dapur untuk mengambilkan minum anaknya, lalu kembali lagi dengan segelas air putih. Ia membantu Bia meminumnya. Setelah itu menyuruh Bia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Sudah mendingan sayang?" Bia mengangguk.
"Kamu mau cerita sekarang atau lain kali saja?".
"Sekarang ma" Bia menarik nafas lagi. Rasanya begitu susah untuk mengatakan apa yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini pada mama nya.
"Sebenarnya... Bia..."
"Hmm?".
"Ma... jatuh cinta itu salah nggak sih?" mama Gia mengernyit.
"Kamu jatuh cinta? Sama siapa?" pipi Bia bersemu merah. Sungguh! Di dalam hatinya ia berteriak 'malu'.
Mama Gia yang mengerti anaknya malu, mengelus rambutnya lembut. Saat-saat SMA, memang para remaja sedang gencar-gencar nya merasakan jatuh cinta.
"Jatuh cinta nggak salah sayang, jatuh cinta nggak bisa memilih. Tuhan yang memilihkan".
"Aku terluka karena itu ma.."
"Maksud kamu sayang?" Bia menceritakkan semuanya. Perihal kecaman kakak kelasnya, Liora sampai saat ia mulai sadar bahwa ia jatuh cinta pada Deon.
"Aku nggak bisa kalau harus menjauhi kak Deon ma..".
"Jatuh cinta... kecewa adalah konsekuensi, dan bahagia itu bonus. Mencintai memang terkadang ada saat-saat sulitnya, tapi.. mama yakin, bahwa kak Liora akan mengerti suatu saat nanti. Bersikaplah seperti biasa. Mama akan mendo'akanmu untuk kebahagiaanmu di dalam jalur percintaan".
"Jatuh cinta itu emang sulit ya.." celetuk papa Biro, ia adalah papa Bia.
Malam semakin larut, Bia akhirnya memutuskan untuk tidur. Paginya, ia berangkat sekolah seperti biasa. Namun tidak dengan sikapnya. Ia berusaha mati-matian menjauhi Deon.
Salsa, sahabat Bia yang melihat gerak gerik Bia terhadap Deon angkat bicara.
"Menjauhi bukanlah solusi. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, karena hasil akhir dari semua urusan di dunia ini ditetapkan oleh Allah. Jika sesuatu untuk menjauh darimu, maka tak pernah akan mendatangimu. Namun jika ia terpesona, maka kamu tak akan bisa lari darinya".
"Bi.." panggil Deon. Bia diam di tempat saat Deon menghampirinya.
"Kamu kenapa kayak njauhin aku si? Aku ada salah ya sama kamu?" Deon duduk di samping Bia, menatap Bia penuh rasa bersalah, ia merasa bahwa dirinya membuat salah yang amat fatal tanpa ia sadari hingga membuat Bia menjauhi dirinya.
"Nggak, kakak nggak ada salah apa-apa".
"Hayyyy baby... Deon... kok kamu sama sampah ini sih?" Liora menghampiri Deon dan bergelayut di lengan Deon. Ia melirik Bia saat mengucapkan kata 'sampah'
"Apaan si Li! Lo berlebihan tahu nggak?! Lo nggak usah panggil-panggil gue baby-baby, gue jijik dengernya!" sentak Deon seraya mengibaskan lengannya yang digelayuti Liora.
"Kamu kenapa bentak-bentak aku si Yon? Kamu nggak pernah loh bentak-bentak aku, sebelum kehadiran si sampah ini" Liora menunjuk Bia.
"Di mata lo, Bia adalah sampah, tapi di mata gue, dia adalah matahari yang menerangi mendung nya hati gue karena lo!" Deon ikut mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk Deon.
"Kamu kenapa gini sih Yon? Aku ada salah sama kamu? Aku cinta sama kamu! Aku nggak akan biarin kamu deket-deket sama sampah ini!" bentak Liora. Kegaduhan terjadi karena siswa siswi yang berada dikelas Bia berbisik-bisik, sedangkan Salsa menyuruh Bia untuk tetap tenang dan jangan sampai terpancing karena di olok oleh Liora.
"Cukup Liora! Gue nggak cinta sama lo! Nggak akan pernah! Amit-amit kalau gue sampai cinta sama manusia kayak elo, lo egois, lo hempas semua wanita yang deket sama gue karena rasa cinta lo!".
"Aku nglakuin itu karena aku cinta sama kamu, aku nggak mau kamu deket-deket sama sampah!".
"Cukup ngomong kata sampah! Lo nggak cinta sama gue! Lo cinta sama harta gue! Sama ketampanan gue! Sama kedudukkan gue di perusahaan! Di sekolah! Di masyarakat dan di hati para wanita yang pernah dekat sama gue! Lo cuma manfaatin gue! Lo deket sama gue karena harta gue yang melimpah supaya lo bisa enak-enak an belanja dimana-mana! Lo deket sama gue karena ketampanan gue supaya lo bisa pamer sama teman-teman lo di pesta! Lo deket sama gue karena kedudukkan gue, lagi-lagi cuma buat pamer sama orang-orang!" Liora diam. Ia mengakui semua ucapan Deon adalah right.
"Iya! Gue deket sama lo karena itu! Gue cuma manfaatin harta, ketampanan, dan kedudukkan lo doang! Iya, gue ngaku! Gue minta maaf, gue kalap!" Liora mulai merubah bahasanya pada Deon yang semula aku-kamu menjadi gue-lo.
Semua siswa siswi di kelas tercengang mendengar pengakuan Liora, termasuk Bia. Namun tidak dengan Salsa, ia sudah menduga semuanya. Ia sudah tahu jika Liora dekat dengan laki-laki, karena memanfaatkan kelebihannya saja. Jika memang Liora dekat dengan laki-laki tidak dengan memanfaatkan kelebihannya, maka ia tidak akan menghempaskan, mengancam, atau bahkan sampai menjadi psycho dadakan kepada wanita-wanita yang berusaha mendekati lelaki incarannya.
"Gue minta maaf, Yon" Liora menduduk lesu. Kali ini bukan drama, ia menyadari semuanya. Ia mengakui semuanya. Ia benar-benar meminta maaf.
Ia kemudian menghampiri Bia dan meminta maaf.
"Gue cabut semua ancaman dan kecaman gue sama lo, Bi" Bia mengangguk. Ia senang bahwa kakak kelasnya ini mengakui semuanya.
"Bi..." Deon memanggil Bia. Membuat Bia menoleh kearahnya, sedangkan Liora berjalan mundur.
Deon berdiri sembari memegang gitar dan bersiap akan memetik senarnya.
"Izinkan aku.. mempersembahkan sebuah lagu"
Ku tuliskan kenangan tentang
Caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku mudah
Berikan hatiku padamu
Tak 'kan habis sejuta lagu
Untuk menceritakkan cantikmu
Kan teramat panjang puisi
Tuk menyuratkan cinta ini
Telah habis sudah
Cinta ini, tak lagi tersisa
Tuk dunia, karna telah ku habiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Aku pernah berfikir tentang
Hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah lebih indah dari, yang ku jalani sampai kini
Aku selalu bermimpi tentang
Indah hari tua bersamamu
Tetap cantik rambut panjangmu
Meskipun nanti tak hitam lagi
Bila habis sudah waktu ini
Tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan
Sisa hidupku hanya untukmu
Dan t'lah habis sudah
Cinta ini, tak lagi tersisa untuk dunia
Karena t'lah ku habiskan sisa cintaku hanya untukmu
Untukmu...
Petikan yang dibuat oleh Deon bersama dengan suara nya yang merdu berpadu sempurna. Semua siswa siswi di kelas terkesima dengan penampilan dadakan Deon, begitu pula dengan Bia. Hingga akhirnya, lagu tersebut berhenti bersamaan dengan petikan senar gitar. Namun, kekesimaan siswa siswi kelas dan Bia belum berhenti.
"Aku mencintaimu, bukan karena siapa kamu. Tapi karena menjadi apa diriku saat bersamamu. Perasaan bahagia ini belum pernah aku rasakan saat bersama dengan wanita-wanita yang pernah dekat denganku sebelumnya. Kamu membuatku menjadi Deon yang sederhana, Deon yang hemat, Deon yang pintar, bijak, dan lebih tenang. Kamu membuatku berubah. Terima kasih untuk itu".
"Aku tidak melakukan apa-apa, kak" Deon tersenyum.
"Aku mencintaimu, dan aku akan mencintaimu sampai mati. Jika ada kehidupan setelah itu, maka aku akan mencintaimu lagi. Cintaku tak akan pernah habis untukmu. Aku sangat mencintaimu. Jadi... apakah kamu mau menerima cintaku?" hati Bia terpacu sangat cepat. Tangannya bergetar dan keringat dingin mulai mengalir. Ia tak menyangka, bahwa kakak kelas nya yang ia cintai diam-diam ternyata juga mencintainya bahkan sampai menyatakan perasaannya didepan siswa siswi kelas.
"Jawab..!"
"Jawab..!"
"Jawab..!"
"Jawab Bi, gue menunggu" ucap Liora.
"Aku... aku terima cinta kamu kak"
Satu kalimat yang keluar dengan lancarnya dari mulut Bia membuat sorakan bahagia dari siswa siswi kelas, Liora dan Salsa terdengar memekakan telinga. Deon lalu meletakkan gitarnya dan memeluk Bia dengan perasaan bahagia. Bukan! Bukan hanya bahagia! Tapi sangat bahagia!
-The End-