Aku tak tau perasaan apa ini? saat bersamanya aku selalu marah dan emosi, tetapi ketika aku berjauhan dengannya aku selalu memikirkannya.....dia yang bernama Arief.
"Hei ca, kenapa kamu melamun terus dari tadi"
Rima mengagetkan ku yang sedang memikirkan Arief.
"Kalau aku ngelamun pasti udah kesambet" sepintas perkataan itu keluar dari mulutku.
"Isssh emang kalau ngelamun mesti kesambet gitu, nggak sadar apa kerjaan nggak kelar kelar dari tadi, tuh cucian piring menunggu di dapur" Rima memberitahuku sambil menunjuk cucian piring yang menumpuk di dapur, yang tak jauh dari tempatku berada.
Aku berjalan menuju dapur, seketika ku melihat Arief yang udah 3 hari baru kelihatan lagi, dia baru saja mengambil cuti karena urusan keluarga, ingin aku menyapanya, tapi dia terlihat sangat sibuk.
"Hei, jangan ngelamun iih" Arief memukul kepalaku dengan pelan sambil tersenyum, aku sungguh tak menyadari kapan dia ada di sampingku.
"Kenapa? kok tumben diem aja, biasanya kek singa kamu,kalau kepalanya ku pukul" Arief berkata sambil membantuku menyelesaikan pekerjaanku.
Aku hanya diam, aku bingung menghadapi perasaan ku padanya, setelah secara tak sengaja ku dengar pembicaraan nya dengan pak manager tiga hari yang lalu, dia berencana mengundurkan diri, karena akan pindah ke Surabaya.
Mungkin karena aku tak merespon tindakannya, diapun pergi meninggalkan ku, menuju tempat kerjanya.
Dan tiba saatnya pulang kerja, aku melihatnya merapikan semua alat kerjanya, dan mengeluarkan semua isi lokernya, spontan aku kemudian berucap "waah tumben kamu bersih bersih loker".
Arief pun menatapku, "Aku akan segera pindah Eca, mungkin kita tak kan bertemu lagi disini, tapi semoga kita bisa bertemu lagi di tempat yang lain ya?", lagi lagi sambil tersenyum dia berkata kepada ku.
Mendengar kalimat itu entah kenapa aku seperti akan merasa kehilangan sesuatu, entahlah aku tak tau itu.
"Pulang kerja nanti kita makan di cafe pojok yok ca" Arief mengajukan pertanyaan yang tiba tiba mengagetkanku.
"oke," aku hanya bisa menjawabnya seperti itu, karena melihatnya seolah olah akan pergi jauh aku tak sanggup mengatakan apa apa lagi.
"Ca, kenapa siih kamu nggak jujur aja ke Arief, kalau kamu suka kan sama dia" celutuk Rima padaku, sambil menunjuk Arief.
"Yee..tau darimana kalau aku suka sama Arief" kataku pada Rima.
"Kelihatan tau ca, perhatian lu, kita semua juga tau, tapi kenapa kalian nggak menyadari perasaan kalian berdua siih, lagian Arief udah mau pindah tuuh, nggak mengakui juga kamu, mau menyesal sebelum kamu nanti nggak bisa bertemu dengannya lagi" Rima memberitahu sesuatu yang sangat membuatku malu, aku sungguh tak menyadari kalau ini mungkin perasaan yang dinamakan cinta.
Selama berada di cafe aku dan Arief hanya banyak diam satu sama lain, aku masih memikirkan ucapan Rima yang di ucapkan nya tadi padaku, menurutku mungkin dia ada benarnya, tanpa terasa aku meneteskan air mataku di hadapannya, aku merasa bener bener akan kehilangan sosok Arief yang aku kenal.
"Hei aku tak menyuruhmu menangis, kenapa kamu menangis?" Arief berucap sambil menyeka air mataku.
"Aku bingung harus bicara apa padamu, tapi saat ini aku hanya merasa aku takut kehilanganmu, aku baru menyadari bahwa aku mencintaimu". Akhirnya aku mampu mengucapkan kalimat yang membuat dadaku terasa tidak nyaman.
Seketika Arief pun memelukku "Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu, karena aku seorang lelaki, tapi aku terlalu takut, takut jika kamu menolak ku, seharusnya dari dulu aku memberanikan diri untuk mengatakannya kepadamu".
Aku hanya bisa menunduk untuk menahan air mataku agar jatuh tak lebih banyak lagi, dalam pelukannya aku mendengar lirih ucapannya, "Aku pergi ke Surabaya bukan untuk selamanya Eca, aku akan kembali untuk melamarmu, jika kamu mau menungguku 1 tahun lagi".
Mendengar itu entah kenapa rasa hatiku begitu lega, ada perasaan yang tak bisa ku ucapkan, sesuatu yang membuatku bahagia.
Mungkin tak ada salahnya bagi kita mengutarakan apa yang kita rasakan sebelum kita menyesal, mana tau ada sebuah harapan yang bisa kita dapat.