Aku Haru Tsukihara, dengan kalimat itu kurasa semua orang akan langsung bisa mengenaliku.
Yah, aku orangnya memang tak mau membuang-buang waktu hanya untuk menanggapi sekumpulan makhluk yang katanya sempurna tapi dalam kenyataan tidak.
Jika ditanya bagaimana pendapatku tentang manusia makhluk sosial, maka aku aku akan menjawab. 'Manusia itu makhluk rendahan'.
Aku pernah membaca di buku pedoman, katanya manusia itu makhluk sosial. Manusia perlu bergaul dengan orang sekitar agar bisa tetap hidup. Cih, tapi itu semua hanya omong kosong.
Kita hidup hanya bergantung kepada uang. Jika aku punya uang maka hidupku pasti telah bahagia saat ini. Hah ... tapi sayangnya aku lahir bukan dari rahim orang kaya. Ibuku hanya seorang petani biasa dan semua orang selalu menyudutkannya. Sejak saat itulah, aku mulai berpikir, benarkah manusia adalah makhluk sempurna seperti yang ditulis di buku pengetahuan? Atau itu hanya omong kosong para ilmuwan?
Kalaupun manusia terlihat berbuat baik, tapi nyatanya itu hanyalah topeng. Mereka ingin memeras dengan kedok 'Berbuat baik'. Memeras yang lemah dan mengendalikan orang di bawah.
Terkadang, beberapa orang lemah tak menyadari bahwa mereka sedang dibodohi. Ironis.
Jadi intinya, aku bisa menyimpulkan. "Manusia bukanlah makhluk sosial yang membantu satu sama lain. Melainkan makhluk dengan akal rendah dan mulut besar yang memiliki kemampuan untuk merendahkan sesama rasnya."
Oleh
Tsukihara Haru, 1-F
Di sinilah aku sekarang, berdiri tepat di depan seorang guru wanita. Ichiba Nose, dia adalah wali kelasku. Tiba-tiba saja dia menghampiriku dan mengajakku ke sini. Kalau dilihat dari raut wajahnya tadi, Ichi-sensei tampak sangat marah.
Apa ini semua karena essayku? Yah, mungkin saja.
"Hahh ...." Bu Ichi menghela napas panjang seraya menutupi wajahnya dengan selembar kertas. Ia lalu meneruskan, "Tsukihara ...."
"Ya?" tanggapku.
Wanita itu kemudian meletakkan kertasnya di meja. Tidak, bukan. Dia melemparnya pelan.
"Apa maksudnya ini? Kenapa kamu menulis kalimat-kalimat tak jelas seperti itu?" tanya Bu Ichi dengan nada suara marah.
Bingo! Sudah kuduga.
"Bukankah Bu Ichi menyuruhku untuk menulis essai tentang manusia makhluk sosial?" tanyaku kemudian melanjutkan, "lalu, kenapa ibu marah?"
Bu Ichi memegangi keningnya. "Hah ... kau ini, selalu saja merepotkan. Tulisanmu ini sangat tidak masuk akal. Coba berikan alasan kenapa kau mengatakan kalau manusia itu makhluk rendahan?" Sembari meletakkan kedua tangan di meja, dia bertanya lagi.
"Memang itu fakta. Bukankah manusia memang seperti itu, Bu? Mereka hanya akan menolong orang yang menolong mereka, sementara di luaran sana masih banyak orang yang butuh pertolongan. Tapi dua manusia yang hanya berjabat tangan hanya melihat dari satu sudut pandang. Maksudku, manusia itu bodoh."
"Tsukihara cepat tulis ulang! Ibu tak mau mendengar alasan apapun itu, pokoknya kamu harus menulis ulang. Cepat, batas waktunya nanti sore." Tanpa menghiraukan jawaban yang kuberikan, Bu Ichi tetap menyuruhku untuk menulis ulang essay ini.
Hadeh, aku sudah menduga semua ini akan terjadi. Tapi jika begitu, seharusnya Bu Ichi tak perlu bertanya alasan kepadaku. Cih, buang-buang waktu saja.
"Hum, baiklah." Dengan nada bicara sedikit cuek aku menanggapinya. Lalu setelahnya, badanku berbalik dan berjalan keluar dari ruangan sempit dan panas ini.
Kedua tanganku masuk dalam saku, tatapan mataku mengedar ke segala arah. Tujuanku kini adalah kembali ke kelas, tapi berlama-lama sebentar kurasa tidaklah buruk. Lagi pula, aku kan sudah pintar.
Eaakk.
Brak!
Terdengar suara kencang seperti sebuah barang terbentur. Aku bergegas menghampiri sumber suara karena takut terjadi sesuatu. Namun, saat aku sampai di sana ...
Bruk!
"Hei, Nozomi! Cepat minta maaf kepada Yui. Kau yang merusak pulpen mahalnya, kan?" teriak seorang gadis sambil mendorong gadis lainnya yang ada di depannya.
Tunggu dulu.
"Bukan aku yang melakukannya ...."
Plak!
Sebelum dia memberi penjelasan, tiba-tiba gadis yang mendorong tadi melepaskan sebuah tamparan tepat di pipinya.
"Jangan berbohong! Cepat minta maaf!" ucap gadis itu lagi. Kini, dia malah melepaskan tendangan.
Ck, melihat mereka tentu saja aku tak bisa diam saja.
"Hei, berhenti!" Teriakanku menarik atensi mereka berdua. Aku berjalan mendekati dua gadis itu. "Seperti yang kubilang, berhentilah! Kenapa kau melukainya sampai seperti itu?" lanjutku bertanya.
"Kau tak tau apapun, jadi jangan ikut campur." Dia tak menjawab, justru ingin menamparku. Namun, sebelum dia melakukannya tanganku dengan cepat segera menangkisnya.
Aku lalu menghela napas. "Hah ... dengan melihatmu begini saja aku sudah tau. Kau itu hanya pandai menggertak tapi akalnya nihil. Kuulangi lagi, ada masalah apa diantara kalian berdua, sampai kau merundungnya seperti ini?"
Alisnya mengkerut, gadis ini menanggapiku dengan mimik wajah seperti menantang.
"Huhh ... dia telah merusak pulpen temanku. Dan dia tak mau menggantinya," ucapnya menjelaskan.
Aku beralih menatap gadis yang ada di bawah. "Benarkah?" singkatku.
Namun, dia menggelengkan kepala. Tangannya terlihat masih bergetar. Setelah melihat keadaannya saat ini, aku semakin yakin.
"Bukan dia pelakunya," ujarku penuh keyakinan.
"Apa maksudmu?"
"Hah ... jangan pura-pura tak tau. Lihatlah, tangannya gemetar. Dia pasti takut karena kau selalu menyudutkannya. Jika memang dia pelakunya, cepat katakan berapa harga dan di mana aku bisa membeli pulpennya. Akan kuganti sekarang juga."
Karena tak mau berlama-lama di sini, akhirnya aku merubah rencana. Yang awalnya ingin terus menyudutkan gadis perundung itu hingga dia mengaku kalau semua ini hanya rekayasa, sekarang kuubah.
Tapi, bukannya menjawab dia malah berjalan pergi menjauh. Yah, kurasa tebakanku benar. Dia hanya ingin menyusahkan perempuan ini. Hadehh, perempuan memang benar-benar aneh.
Selepas gadis tadi pergi, aku pun berbalik menatap si perempuan berambut pendek hitam.
"Dia sudah pergi jadi bangunlah." Seraya mengulurkan tanganku, aku berniat untuk membantunya berdiri. Tapi, dia malah menatapku di balik rambut acak-acakannya. Ia menunduk dan lalu berdiri dengan bantuan tangannya sendiri.
"Terima kasih," ucapnya singkat kemudian berlari meninggalkanku lagi. Sama seperti gadis yang tadi.
Aihhh, padahal aku belum berkenalan. Apa perempuan memang serumit ini? Ah sudahlah, aku akan melewatkan jam istirahat kalau aku masih terus di sini.
=•=•=
Singkat cerita waktu sekolah telah usai, dengan tas di bahuku aku melangkah menjauh dari gerbang sekolah.
Aishh, hari ini panas sekali.
Awalnya aku hanya berjalan seperti biasa, tidak sampai mataku menatap seorang siswi SMA dengan rambut hitam pendek sedang jongkok sambil memberi butir-butir makanan kepada tiga kucing
"Hari ini aku bawa banyak makanan, makanlah!" ucapnya sambil membuat sebuah garis lengkung di bibirnya.
Ah sial, dia sangat imut saat tersenyum. Bagaikan berada dalam sebuah ruangan sauna, tubuhku langsung merasa panas. Eyy, kenapa panas sekali di sini?
Tapi, tunggu dulu. Bukankah dia adalah gadis yang dirundung tadi? Kalau tak salah namanya Nozomi. Benar, kan? Atau aku yang salah orang?
Aku terus menatap senyumannya dengan serius, tanpa kusadari bibirku juga secara tiba-tiba ikut tersenyum. Yah, kuakui dia manis.
Tak kusangka, aku memuji seorang perempuan.
Beberapa menit berlalu, Nozomi telah selesai memberi makan kucing-kucing itu. Ia lalu berbalik arah menuju entah kemana. Seingatku, itu adalah jalan Sakura, jalan yang mengarah ke pedesaan.
"Heeii tunggu dulu!" Namun, sebelum dia berjalan semakin menjauh, aku berteriak memanggilnya.
Dia berhenti sebentar tapi saat gadis itu menatap wajahku dengan cepat dia berlari.
"Heii!"
Melihatnya berlari, aku pun mengejarnya. Setidaknya dia harus berterima kasih lebih kepadaku. Yah, walaupun aku tak begitu mempermasalahkannya.
Tak peduli seberapa kencang dia berlari, tetap saja postur tubuhku lebih tinggi darinya. Jadi lariku pun dapat memangkas jarak dan akhirnya berhasil mencegat anak perempuan bernama 'Nozomi' ini.
"Hei tenanglah! Aku tak akan melakukan hal buruk padamu," lirihku sambil menghalangi jalannya. Ia tampak bersenmbunyi di balik rambut pendeknya. Tak ada satu kata yang keluar dari mulutnya.
Aku menghela napas sambil mengatakan, "Hah ... dengarkan! Namamu Nozomi benar kan?"
"I-iya," jawabnya gugup.
Dia takut kepadaku. Hah ... benar-benar gadis yang malang. Ini adalah salah satu contoh manusia bukan makhluk sosial. Padahal aku benar, tapi kenapa Bu Ichi malah memarahiku?
Lupakan.
"Nozomi itu nama lengkapmu?" Kini, aku berusaha melakukan pendekatan. Yah, jujur saja aku gugup. Bagaimanapun, ini adalah kali pertamanya aku mau berbicara lembut dengan perempuan.
Nozomi masih tetap menyembunyikan wajahnya. "Bu-bukan. Nama lengkapku Hiyuki Nozomi umm ...," ujarnya.
"Baiklah, namaku Tsukihara Haru, kau bisa memanggilku Haru atau Tsukihara. Terserah kau saja," Aku kemudian melanjutkan, "umm ... aku memanggilmu Yuki saja, ya? A-ah, baiklah Yuki. Ummm, apa kau punya waktu? Aku ingin berbicara sebentar denganmu."
Seriusan? Apa aku baru saja mengajaknya mengobrol? Hei, Haru! Kalau gugup ada batasnya dong.
"I-iya."
Wait, dia mau? Weyy ... kenapa jantungku berdetak kencang seperti ini.
=•=•=
Kami berdua duduk di bangku kayu panjang yang ada di dekat sini. Yuki duduk di dekatku tapi bukan menempel. Terdapat jarak sekitar beberapa centimeter di tengah-tengah kami. Yah, aku paham. Kita berdua sama-sama penyendiri.
"Yuki, aku ingin bertanya. Kenapa kau tak melapor saja ke kepala sekolah tentang rundungan mereka itu? Kau tak mau selamanya dibully iya kan?" tanyaku dengan raut wajah sedikit serius.
Yuki menatapku seolah tak percaya bahwa aku akan menanyakan hal ini. Dia kembali menunduk tetapi kali ini terdapat sebuah senyuman sendu di sana. "Tidak ada gunanya. Kalau aku melaporkannya, mereka malah akan semakin membenciku. Oh ya, ke-kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu? Dan apa yang kau lakukan di sini?"
Dia, kenapa memberikan pertanyaan seperti itu. Itu terlalu awal.
Aku memegang tengkuk kepalaku. "Yaah, aku hanya sedang ... sedang ... ah ya, sedang lari-lari sore. Huha huha!" Sial, alasan macam apa ini. Aku sangat bodoh.
"Pftt ...." Namun, saat itu tak kusangka tindakan konyolku tadi malah berbuah hasil. Dia tertawa, Yuki tertawa. Meskipun hanya tertawa sedikit tapi entah kenapa aku ikut bahagia. Saat ini, aku seperti sedang menatap seorang bidadari yang bersinar dengan cahaya matahari di sekitarnya.
"Dia ... cantik," ungkapku dalam batin.
Setelah itu, suasana canggung di awal tiba-tiba pecah karena kami berdua tertawa. Ternyata, menghibur orang lain tidaklah buruk. Juga, aku baru menyadarinya saat itu. Aku menyukai Yuki. Bukan hanya karena dia cantik dari luar, tapi sifatnya yang lemah lembut dan baik hati juga menjadi salah satu alasan kenapa dia adalah 'Gadis sempurna' bagiku.
=•=•=
Keesokan paginya, seperti biasa aku berjalan ke sekolah sendirian. Banyak orang-orang menegurku tapi aku hanya membalasnya dengan kedua alis terangkat. Mereka hanya berpura-pura ramah.
Aku hanya menatap jalanan di depanku, tapi langkahku langsung berhenti ketika melihat seorang gadis dengan baju seragam sekolah sama denganku tengah menatap sebuah batang pohon sakura yang sudah mekar.
Dilihat dari kejauhan gadis itu tampak seperti Yuki. Dia memang Yuki!
Yuki menyatukan kedua tangannya lalu mendekatkannya ke dada. "Kami-sama, terima kasih karena engkau telah mengirimkan seseorang yang kuinginkan. Haru, padahal aku baru bertemu dengannya kemarin. Tapi tak tahu kenapa, aku merasa nyaman saat di dekatnya. Kurasa dia adalah orang baik. Walaupun aku tak bisa selalu bersamanya, tolong berikan aku sedikit waktu lagi untuk menyatakan perasaanku kepadanya. Kumohon, Tuhan. Tolong kabulkan satu permintaanku ini ...." Dia meminta permohonan, tapi diiringi air mata. Bibirnya gemetar seolah tak kuat lagi untuk melanjutkan kalimatnya.
Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Yuki, apa maksudmu 'tak selalu bisa bersamanya'.
=•=•=
Setibanya di sekolah, aku memutuskan untuk diam di dekat gerbang agar bisa menunggu Yuki. Benar saja, tak lama kemudian dia datang dengan kepala menunduk. Dengan cepat aku menghadangnya lagi.
"Yuki, tunggu sebentar. Ada yang ingin kutanyakan padamu. Jadi, ikutlah denganku." Ajakku sembari menarik tangan gadis dengan nama lengkap Hiyuki Nozomi ini. Aku mengajaknya ke tempat sepi, tempat di mana aku selalu menenangkan diri.
"Ha-Haru?" Aku tau dia bingung, tapi tak ada waktu untuk menjelaskannya sekarang.
Setibanya di sana. "Yuki, ada yang ingin kutanyakan kepadamu. Apa kau akan pergi dari sini?" tanyaku khawatir.
Yuki terdiam, dia menatapku dengan tatapan mata bingung. "E-eumm, maksudnya?" Ia malah berbalik tanya.
"Jawab saja!" Tanpa sadar, aku malah membentak Yuki. Hah ... aku sudah keterlaluan. "Umm, maaf, Yuki. Aku hanya sedikit khawatir tadi." Aku merasa bersalah kepadanya.
Namun, Yuki malah membuat senyuman. Senyuman lebar yang kemudian berubah menjadi senyuman sendu. "Yah, benar. A-Aku akan pindah sekolah besok."
Deg!
Seperti ada sebuah petir menyambar di telingaku, penjelasan Yuki tadi sontak membuatku terkejut.
"Kenapa?" Meski begitu, jauh di dalam hatiku aku masih berharap bahwa Yuki hanya sedang berakting.
Aku tak mau kehilangan seseorang yang sudah kuanggap sebagai sebuah cahaya. Jangan, aku tak mau cahayanya menghilang.
Yuki sedikit menundukkan kepala. "Ayahku tidak mau aku selalu dirundung setiap hari. Jadi, dia membuat keputusan ini," katanya, "awalnya aku malah senang saat mendengarnya. Tapi hari ini aku malah menganggap semua itu mimpi buruk."
"Haru, em tidak maksudku, Haru-kun. Ini mungkin terdengar sedikit memalukan dan terkesan norak. Tapi ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Kuharap–"
Belum selesai Yuki berbicara, aku langsung memotongnya. "Berhenti. Yah, aku sudah tau apa yang ingin kau katakan, Yuki. Tapi sebelum itu aku ingin mengatakan lebih dulu," ucapku dengan kedua tangan meraih tangan Yuki dan mengenggamnya.
"Eh?"
"Yuki, aku tak tahu pasti sejak kapan aku mulai merasakan perasaan ini. Tapi mungkin itu kemarin. Saat pertama kali melihatmu, aku langsung merasa seperti sedang melihat malaikat. Jadi, Yuki ... izinkan aku untuk menerima segala kekuranganmu, segala kharismamu, dan juga kebahagiaanmu. Mungkin ini agak sedikit aneh, tapi Yuki ... aku mencintaimu!" ungkapku sebelum Yuki menyatakan perasaannya.
Wajah Yuki memerah padam, tangannya mendadak menjadi dingin. Dengan segera, dia melepaskan genggaman tanganku lalu menutupi wajah dengan rambut pendeknya lagi.
Aihh, apa aku gagal? Yaa, aku tak begitu tau hal-hal yang berhubungan dengan cinta. Aaihh kacauuu kacau benar-benar kacauu.
"A-Aku juga ... mencintaimu," ucapnya lirih seperti biasa.
Tapi itu tidak penting, dia baru saja mengatakan itu? Dia menerimaku kan?
"Yuki, kau ... menerimaku?" tanyaku sambil memasang wajah keheranan. Maksudku, cara memgungkapkan perasaanku ini memang terkesan sedikit aneh.
Yuki menganggukkan kepala secara perlahan.
Angukkan kepalanyalah yang membuat bibirku tersenyum lebar. Aku merangkul gadis itu yang memiliki tinggi badan tak terlalu tinggi.
"Arigatou, Yuki."
Mata Yuki sempat terbelalak karena terkejut, akan tetapi matanya berubah saat sudah beberapa saat.
"Heem ...," jawabnya singkat.
Begitulah, aku dapat menyatakan perasaanku kepada Yuki sebelum dia pergi dari sini. Yuki hanya pindah sekolah, tapi bukan berarti aku tak bisa menghubunginya lagi. Setiap malam, aku selalu berbalas pesan dengannya.
Yah, dari pertemuanku dengan Yuki ini aku mulai belajar. Memang terkadang ada kalanya di mana manusia akan bertindak jahat dan mencela sesamanya. Tapi, tak semua manusia begitu. Di antara banyaknya manusia, masih ada beberapa orang baik. Orang baik yang akan menuntun kita untuk membuka mata dan melihat dari sudut pandang yang berbeda juga. Terima kasih, Yuki.
- Tamat -
(Disarankan membaca sambil mendengar lagu 'Lemon' - Kenzhi Yonezu untuk pengalaman yang lebih baik).
Atau bisa juga (Kimi dattara - Happy Birthday)