Manusia tanpa perasaan, itulah julukan yang kudapatkan dari orang-orang. Julukan yang tak pernah kuharapkan ini terus melekat dalam diriku.
"KAU TIDAK MERASAKAN APA YANG AKU RASAKAN SAAT INI!" Aku memandangi sosok gadis yang sedang menghadiahiku tatapan yang tajam. Ya, sangat tajam sampai hatiku terasa perih saat melihatnya.
"HATI BATU! MAYAT HIDUP! HATI KAU SUDAH MATI, YA?!" Ucapnya penuh penekanan di setiap kata. Kini air matanya perlahan mengalir dengan angkuhnya membentuk sungai kecil di pipinya.
'Aku melakukan itu demi kebaikanmu. Tolong mengertilah, kumohon jangan menangis... ' Ah... lagi-lagi aku hanya mampu mengucapkannya dalam hati.
"EGOIS! BISA-BISANYA MUKA KAU SEDATAR ITU DI SAAT SEPERTI INI?!" Air mata yang mengalir di pipinya semakin deras, ingin ku menyeka air mata itu dengan lembut. Tetapi tubuhku tidak merespon, akhirnya aku hanya bisa mematung dan menatapnya dengan tatapan datar.
"Kau tega sekali, El! Kau, kau tidak punya perasaan! Aku sangat membencimu, El!" Sarkasnya. Dia berlari menjauh setelah melontarkan kata-kata menyakitkan itu kepadaku.
Hatiku pedih, air mataku perlahan mengalir membasahi pipiku. Aku...kehilangan orang yang ku sayangi lagi. Ah... padahal aku hanya ingin melindunginya... sebenarnya, dari mana awal kesalahan ini?!
🍃🍃🍃🍃🍃
Awal mula..........
Elaine Alfanisa adalah anak perempuan tunggal dari pasangan yang harmonis. Hidupnya sangat bahagia tinggal bersama kedua orangtua yang hangat dan harmonis, mendapatkan cinta serta kasih sayang yang berlimpah serta segala keinginan yang selalu dikabulkan oleh kedua orangtuanya. Ya, dulu hidup gadis kecil nan polos itu sangat bahagia sampai kecelakaan tragis itu merenggut nyawa kedua orangtuanya dan meninggalkan trauma yang mendalam di hatinya.
Bayang-bayang tragedi hari itu bersamaan dengan rasa penyesalan yang begitu besar, selalu menghantui dirinya kapanpun dan di mana pun ia berada. Pada akhirnya gadis itu beranjak dewasa dengan membuang segala perasaan pribadi yang dianggap tidak penting.
Elaine's Pov
Elaine Alfanisa yang memiliki arti, wanita pertama yang bersinar. Kurasa makna yang terkandung dalam namaku sangat berbanding terbalik dengan kepribadian yang ku miliki ini.
Aku adalah seorang introvert, bukan karena aku tidak ingin memercayai orang lain. Tapi, aku sudah muak dengan segala senyum palsu mereka. Aku sudah lelah dengan segala yang ada di dunia ini. Teman? Tentu saja aku memiliki teman. Namun, sebagian besar dari mereka memakai topeng yang sangat tebal. Senyuman yang manis dan ucapan penyejuk jiwa yang mereka tunjukkan di depanku sangat berbanding terbalik ketika membicarakanku di belakang. Sakit? Tentu saja, rasanya sangat sakit. Sudah berkali-kali aku tak sengaja mendengar mereka mengejekku di belakang, menyebarkan rumor yang buruk tentang diriku, bahkan mereka menbuat julukan yang terasa seperti kutukan untukku.
Marah, sedih, dan kecewa aku sudah muak dengan hal itu. Yang kulakukan ketika semua hal itu terulang hanyalah menghela napas. Jiwaku sudah terlalu lelah menghadapi keegoisan mereka. Sehingga ketika mereka memintaku untuk melakukan sesuatu yang masih wajar, maka akan kulakukan agar mereka tidak berisik dan mengganggu ketenteraman hidupku.
Aku memiliki seorang sepupu yang berusia 5 tahun lebih muda dariku. Dia orang yang lumayan egois menurutku. Senang memerintah tetapi saat dimintai pertolongan dia enggan. Ketika kemauannya tidak dituruti, dia diam, tetapi diamnya itu yang berbahaya. Karena dalam diam dia merangkai kata-kata dramatis untuk membalikkan fakta yang membahayakan siapapun.
Saat ini dia berada di bangku SMP kelas tertinggi. Yup, kelas 9. Kini dia sedang merasakan manisnya jatuh cinta. Gadis kecil itu, diam-diam menaruh hati kepada temanku, Bellhart. Awal mula tumbuhnya bibit cinta di hatinya, karena Bellhart memiliki wajah yang lumayan tampan itu, sering berkunjung ke rumah untuk menyelesaikan tugas kuliah. Aku dan Bellhart hanya teman yang berawal dari sebuah game. Dia dan aku sama-sama player game efjio dan... dia seorang whaler. Sehingga servant yang ada di akunnya adalah servant limited. Aku hanya bisa mengusap dada ketika dia memamerkan servant yang sedang kuincar.
🌾🌾🌾🌾🌾
Di ruang tamu.......
Hari ini, Bell sedang berkunjung ke rumah untuk mengajariku sekaligus mengerjakan tugas yang baru di berikan oleh dosen tadi pagi. Seperti biasa, ketika Bell berkunjung dia pun selalu menempel kepada Bell. Dengan berbagai alasan, seperti bertanya-tanya tentang kehidupan perkuliahan, meminta diajari tugas yang sulit menurutnya, bahkan dia pernah bertanya tipe wanita yang Bell sukai.
Aku yang mendengarnya hanya diam dan fokus mengerjakan tugas-tugasku, sedangkan Bell terlihat kewalahan karena pertanyaan yang diajukan Violetta. Ya, Catherine Violetta, itulah nama sepupuku. Seperti saat ini, Violetta sedang mengganggu Bell dengan berbagai celotehan yang tidak penting.
"Kak, aku sudah follow akun kakak~ nanti follback ya~" Ucapnya riang sambil menatap Bell.
"Oke." Sepertinya Bell mulai lelah untuk menanggapinya.
Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu, aku langsung menepuk pundak Bell tanpa ragu, "Bell, nanti kita jadi berkemah di puncak xxxxx?" Ucapku sambil menatapnya.
Kulihat pria itu sedikit terkejut saat aku menepuk pundaknya, "Oh, jadi kok~ sekalian buat cari inspirasi tugas ya?" Ucapnya riang sambil menatapku dengan mata yang berbinar.
Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis, "Ahaha~ oke, yang jadi author mah beda~ kemana-mana selalu cari inspirasi buat novel~" Godaku sambil menyikut lengannya.
"Ahahaha~ apa sih~? Kamu sendiri juga author~" Balasnya.
Di tengah senda gurau kami, tiba-tiba Violetta menyeletuk, "Kak, aku juga mau ikut berkemah dong~" Ucapnya setengah merengek dengan tatapan penuh harap yang ditujukan kepada Bell.
Bell terdiam, detik berikutnya dia menatap ke arahku. Tatapan matanya seolah meminta persetujuanku atas permintaan Violetta.
Aku menghela napas perlahan, "Gak apa-apa, Violetta bukan gadis yang rusuh kok." Ucapku setenang mungkin. Memang ucapanku seperti itu, tetapi sayangnya Violetta adalah gadis yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap segala hal. Ya~ mungkin perjalanan kali ini akan sedikit merepotkan.
Bell yang mendengar hal itu mengangguk lalu berkata, "Baiklah, kalau seperti itu, mari kita berangkat bersama pada hari senin tanggal 5 bulan ini."
Seperti biasa, aku hanya menganggukkan kepala, sedangkan Violetta menjawab dengan penuh semangat.
Senin, 5 April 20xx.........
Author's Pov
Hari ini Bell, Elaine dan Violetta akan berangkat ke puncak xxxxx untuk berkemah. Mereka sudah bersiap-siap sejak dua hari sebelum berangkat. Kini mereka sedang memindahkan barang bawaan ke dalam bagasi mobil.
"Apakah ini sudah semuanya?" Tanya supir pribadi keluarga besar Elaine yang sedang menata ulang barang bawaan agar muat dan rapi di bagasi.
"Ya, pak!" Jawab Bell, Elaine dan Violetta bersamaan.
"Baiklah, kalau tidak ada lagi yang ingin dibawa, mari kita berangkat!" Pak Aiden menutup pintu bagasi kemudian membuka pintu depan dan langsung mengambil alih kemudi.
"Let's go~!" Koor tiga remaja yang sudah tak sabar untuk segera sampai ke tempat tujuan.
Suasana di dalam mobil kini sangat hening, berbeda dengan beberapa menit yang lalu, yang masih terdengar senda gurau dan tawa dari tiga remaja yang kini tertidur pulas. Kenapa mereka bisa sampai tertidur pulas? Karena di luar sana sedang turun hujan yang cukup deras. Ya... ketika hujan turun, mata akan terasa berat dan rasanya ingin cepat-cepat bermain di alam mimpi. Mungkin itulah yang dirasakan oleh Bell, Elaine dan Violetta.
Berbicara tentang hujan, jalanan yang akan mereka lalui untuk mencapai tempat tujuan, memiliki tikungan yang cukup tajam dan terdapat jurang di sisi sebelah kiri. Jika sedikit saja kurang berhati-hati, jalanan yang licin karena terguyur oleh air hujan dan tikungan tajam, mungkin mobil yang mereka mereka bisa terjatuh ke dalam jurang.
☔☔☔☔☔
Elaine's Pov
Aku mencoba membuka mataku yang terasa berat, perlahan ku mengerdip-ngerdipkan mataku. Begitu pandanganku jelas, aku langsung mengalihkan pandanganku ke sampingku, tepatnya ke arah jendela mobil yang kini sedang terguyur oleh derasnya hujan. Hujan, kira-kira dulu tragedi mengenaskan yang menimpaku itu terjadi saat hujan.......
Flashback On
Aku bersama kedua orangtuaku sedang bersenda gurau di dalam mobil. Rencananya hari ini kami ingin mengadakan piknik di puncak. Tetapi di tengah perjalanan, tiba-tiba cuacanya tak bersahabat. Perlahan-lahan bulir-bulir air turun dari langit dengan lembut yang biasa orang-orang sebut gerimis, namun itu tak berlangsung lama. Karena gerimis lembut yang menyapa bumi perlahan menjelma menjadi hujan yang lebat.
Aku melirik ayah yang semakin fokus dalam mengemudi, jalanan yang licin dan berkelok membuat ayah menjadi lebih waspada. Aku menyandarkan punggungku sambil menatap pemandangan di luar yang terlihat gelap dan berkabut.
Saat itu aku melihat secercah cahaya dibalik tebalnya kabut yang bergerak dengan cepat ke arah kami. Ketika jarak antara cahaya itu dengan mobil yang kami naiki semakin dekat, barulah aku bisa melihat bahwa cahaya itu berasal dari lampu truk yang kehilangan kendali.
"AYAH, AWAS!!!" Terdengar pekikan ibu. Tak lama dari itu, terdengar suara decitan ban dan hantaman besi yang sangat jelas dan keras.
Ckiiiiittttt!!! Braaaakkkk!!!
Waktu terasa melambat, otakku seakan berhenti merespon, tiba-tiba ibu dan ayah memelukku dengan erat. Apa yang terjadi?!
"Elaine, kamu harus tetap hidup!" Ucap ayah dengan suara yang bergetar.
"Sayang, kami akan melindungimu. Jangan khawatir, kamu pasti akan baik-baik saja." Ucap ibu sambil tersenyum getir. Tatapan mata ibu dan ayah sama, mereka berdua menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ayah, ibu, apa yang terjadi?" Tanyaku dengan polosnya. Aku sangat bingung dengan apa yang terjadi saat ini. 'apa yang terjadi? Kenapa ibu dan ayah bicara seperti itu? Kenapa tatapan yang mereka berdua tujukan kepadaku seolah seperti ini terakhir kalinya mereka menatapku?' Pertanyaan itu muncul di benakku. Belum sempat kutanyakan kepada kedua orangtuaku, pertanyaan itu sudah terjawab oleh takdir.
Mobil yang kami naiki ternyata jatuh ke jurang dan terguling beberapa kali, menghantam beberapa tanaman liar yang tumbuh di tepi jurang dan akhirnya berhenti karena menghantam pohon besar. Darah segar mengalir mengenai tubuhku, namun darah itu bukan milikku melainkan milik kedua orangtuaku.Bau anyir darah membuat kepalaku terasa pening, perlahan aku mulai kehilangan kesadaran. Saat itu, kupikir aku akan pergi bersama kedua orangtuaku, namun aku menyadari bahwa aku masih hidup saat aku terbangun di rumah sakit setelah tertidur selama 3 hari.
Dokter mengatakan bahwa kondisi fisikku baik-baik saja, namun dokter tidak menjamin bahwa mentalku baik-baik saja. Beberapa hari setelah aku dibolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, pamanku dari pihak ayah membawaku untuk melakukan pemeriksaan psikologi. Dan hasilnya... dokter menyatakan bahwa aku mengidap PTSD (Post Traumatik Stres Disorder).
Setelah kejadian itu, aku akan sangat takut saat melihat darah, mendengar suara decitan dan dua benda yang bertabrakan. Saat itu aku hidup bagaikan mayat hidup. Tidak banyak bicara, selalu terlihat lesu dan pucat. Hingga aku masuk SMA barulah trauma itu terkikis sedikit demi sedikit, semua itu berkat dukungan dari teman-temanku.
Flashback Off
Saat ini aku masih menatap pemandangan sekitar yang masih diguyur oleh derasnya hujan. Sesekali ku menyingkirkan ingatan serta perasaan de javu yang sangat menggangguku.
"Hmm? Elaine? Ada apa?" Ucap Bell sambil menatapku dengan muka bantalnya.
Aku pun langsung menoleh ke arahnya, lalu terkekeh, "Ahaahha~ kalau ku foto wajahmu yang seperti ini, kira-kira para penggemarmu patah hati gak ya~?" Godaku.
Secepat kilat, dia langsung mengusap wajahnya, "Hoo~ tidak semudah itu Maria~ penggemarku itu menerimaku apa adanya~" Balasnya dengan nada penuh percaya diri.
Aku membalasnya dengan tatapan jijik, "Heh~ percaya diri sekali kau, Antonio~" Ucapku melankolis.
Nampaknya ucapanku tak meruntuhkan kepercayaan dirinya, "Hohoho~ rasa percaya diri itu sangat dibutuhkan saat berbicara dengan seorang Elaine yang hobinya ngejulidin orang dengan kata-kata yang sepedas chilibon~" Ucapnya dengan tawa absurd yang mengiringi.
"Ngh... hei, kenapa kalian ribut sekali? Apakah kita sudah sampai?" Rupanya suara kami terlalu keras sehingga mampu membangunkan Violetta, si Ratu Tidur.
"Oh, maaf ya. Kami jadi membangunkanmu. Belum, kita belum sampai, untuk sampai ke tempat tujuan, kita masih harus menempuh 18 KM lagi." Jelas Bell kepada Violetta yang masih mengumpulkan nyawanya.
Aku hanya menggelengkan kepala saat melihat interaksi yang dilakukan oleh Bell dan Violetta. Di saat seperti itu, tiba-tiba aku melihat ada sebuah sepeda motor yang tergeletak di tengah jalan dengan pemiliknya yang berusaha untuk bangkit.
Mobil yang kami naiki berhasil berhenti sehingga tidak terjadi kecelakaan. Ku melirik ke arah Pak Aiden, dia terlihat sedang menghela napas seraya menggelengkan kepalanya, "Hah, bahaya sekali" Gumam Pak Aiden.
"Eh? Ada apa, Pak?" Bell bersuara saat tersadar bahwa mobil sedang berhenti berhenti.
"Bukan masalah yang besar, Tuan Muda." Jelas Pak Aiden yang membuat hatiku tenang.
Kami mengira masalah akan selesai sampai di situ, namun siapa sangka bahwa mobil yang melaju di belakang kami lepas kendali dan akhirnya menabrak mobil kami. Baik Pak Aiden, Bell, aku, bahkan Violetta pun terkejut dengan hal yang tiba-tiba terjadi. Kecelakaan beruntun yang tadinya kami kira bisa dihindari, kini tak terelakkan.
De javu....
Kulihat Pak Aiden membuka kunci mobil, "Ayo kita keluar sebelum mobil ini masuk jurang." Ya, mobil kami kini sedang meluncur bebas menuju jurang.
Dengan sigap aku membuka pintu, lalu melompat keluar bersamaan dengan Violetta yang ku tarik paksa. Kami sempat terguling beberapa kali, memang sakit. Tetapi, setidaknya nyawa kami selamat.
"Aawww sakit... " Keluh Violetta seraya memperhatikan lukanya. "hei, bagaimana dengan Kak Bell dan Pak Aiden?" Tanyanya saat sadar bahwa aku sudah berada di sampingnya.
Aku terdiam sejenak, "Tidak apa-apa, aku yakin mereka pasti baik-baik saja." Ucapku dengan nada setenang mungkin. Jika boleh jujur, sebenarnya aku sangat khawatir dengan kondisi mereka. Namun, tidak ada gunanya panik di saat seperti ini.
Berbeda denganku, Violetta sangat gelisah saat ini. Terlihat jelas di wajahnya bahwa dia sedang mengkhawatirkan keadaan mereka.
"TUAN MUDA BELLHART!!!"
Deg!
Sepasang mata milik Violetta langsung terbelalak saat mendengar teriakan dari Pak Aiden. Dia sempat menoleh ke arahku, namun detik selanjutnya dia langsung bangkit dan berlari sekuat tenaga menuju sumber suara tadi, "KAK BELL!"
Melihat hal itu, aku pun segera menyusul Violetta yang sedang kalut. Sesampainya di sana, aku melihat raut penuh penyesalan di wajah Pak Aiden yang sedang berdiri di tepi jurang. Dia terus menatap ke dalam jurang dengan penuh rasa penyesalan. Aku tak mengerti, kemudian aku mengalihkan pandanganku kepada Violetta yang sedang menangis histeris. Sama, dia juga menatap ke dalam jurang.
Deg!
Jangan bilang kalau........
Aku langsung menghampiri Pak Aiden, "Pak, di mana Bell?" Tanyaku sambil terus menahan emosi yang tengah meledak-ledak.
Pak Aiden sempat menoleh ke arahku, namun dia kembali menatap ke dalam jurang, "Tuan Muda.... Tuan Muda Bellhart tidak sempat keluar dari mobil, Nona.... " Lirihnya. Hampir aku tak bisa mendengar suaranya, namun sebenarnya lebih baik aku tidak mendengar hal yang baru saja dia ucapkan.
"Ah, begitu ya?" Rasanya otakku kosong. Hati maupun pikiran ku kembali menolak bahwa semua hal yang terjadi saat ini nyata. Aku melihat Violetta menghampiriku dengan langkah gontai.
"El, ayo kita selamatkan Kak Bell... ayo El!"
Ucapnya sambil mencoba menarik tubuhku yang sudah mematung.
"Kenapa diam, El? KAK BELL MASIH MENUNGGU KITA UNTUK MENYELAMATKAN DIA, EL!!!" Tampaknya Violetta sangat terkejut dengan kejadian ini sampai dia kehilangan akal sehatnya.
Aku melepaskan genggamannya perlahan,
"Vio, kita gak bisa menyelamatkan Bell. Itu di luar kemampuan kita, Vio!" Ucapku dengan nada dan ekspresi seperti biasa.
Kulihat dia menggigit bibir bawahnya, kemudian dia mencengkeram pundakku dengan kedua telapak tangannya, "KAU TIDAK MERASAKAN APA YANG AKU RASAKAN SAAT INI!" Aku memandangi sosok gadis yang sedang menghadiahiku tatapan yang tajam. Ya, sangat tajam sampai hatiku terasa perih saat melihatnya.
"Kak Bell, dia pasti masih hidup! Dia... dia pasti sekarang sedang menunggu kita di bawah! Maka dari itu, ayo--"
"CUKUP! KUBILANG CUKUP, VIOLETTA! BELL SUDAH MATI! KAU HARUS TERIMA KENYATAAN ITU! BELL SUDAH MATI!" Ucapku penuh penekanan. Hah~ tanpa sadar aku meninggikan suaraku.
Kulihat dia sangat terkejut dengan apa yang ku ucapkan barusan, "HATI BATU! MAYAT HIDUP! HATI KAU SUDAH MATI, YA?!" Ucapnya penuh penekanan di setiap kata. Kini air matanya perlahan mengalir dengan angkuhnya membentuk sungai kecil di pipinya.
'Aku melakukan itu demi kebaikanmu. Tolong mengertilah, kumohon jangan menangis... ' Ah... lagi-lagi aku hanya mampu mengucapkannya dalam hati.
Tak puas memakiku sampai di situ, dia pun bersiap untuk melontarkan kata-kata mutiaranya, "EGOIS! BISA-BISANYA MUKA KAU SEDATAR ITU DI SAAT SEPERTI INI?!" Air mata yang mengalir di pipinya semakin deras, ingin ku menyeka air mata itu dengan lembut. Tetapi tubuhku tidak merespon, akhirnya aku hanya bisa mematung dan menatapnya dengan tatapan datar.
"Kau tega sekali, El! Kau, kau tidak punya perasaan! Aku sangat membencimu, El!" Sarkasnya. Dia berlari menjauh setelah melontarkan kata-kata menyakitkan itu kepadaku.
Aku hanya mampu menatap punggungnya yang semakin menjauh dariku. Hari ini, sepertinya aku telah kehilangan dua orang yang berharga.
🌿🌿🌿🌿🌿
Satu Tahun Kemudian......
Ya, satu tahun berlalu sejak kecelakaan yang mengenaskan itu terjadi. Jangan bertanya tentang kondisiku, karena aku baik-baik saja. Aku berhasil menyembuhkan trauma yang selama ini menghantuiku dua bulan yang lalu. Ah iya, sebaiknya kalian bertanya tentang kondisi Violetta. Sejak kejadian itu, Violetta menjadi sangat histeris jika mendengar hal-hal yang berkaitan dengan Bell. Klimaksnya, saat mayat Bell berhasil ditemukan. Violetta yang menyaksikan secara langsung proses pemakamam Bell akhirnya tidak kuat dan dia pun bunuh diri dengan melompat dari atap.
Sekali lagi, jangan khawatir dengan kondisiku~ karena aku, sekarang sudah mampu untuk memaafkan masa lalu. Masa lalu memanglah hal yang tidak mudah untuk dilupakan. Maka dari itu, jadikanlah masa lalu sebagai pelajaran agar kita tidak mengulang kesalahan yang sama. Jadikanlah masa lalu untuk membentuk pribadi yang kuat!
Sekarang aku baik-baik saja, meski julukan terkutuk itu masih melekat. Namun aku tidak mempermasalahkannya lagi, karena aku tahu bahwa aku tidak seperti yang mereka bicarakan. Karena aku adalah satu-satunya orang yang paling memahami diriku sendiri. Jadi, semenyakitkan apapun ucapan mereka. Kini aku tidak peduli lagi, karena akulah yang berhak menentukan hidupku.