“Bermimpilah sebanyak mungkin. Jika satu mimpi tak bisa kamu wujudkan, maka kamu masih punya ribuan mimpi lagi yang bisa kamu wujudkan. Keep hamasah! Yakinlah ada Allah yang selalu memberi kemudahan untuk setiap hamba-Nya.” --Ela
Suara hewan malam melolong di luar. Seperempat menit lagi waktu tengah malam tiba, tapi aku belum bisa menutup mata. Entah berapa menit lagi harus menunggu kantuk itu datang. Sorot mataku hampa menatap ke luar. Sedari tadi aku menangis. Dan mungkin air mataku telah habis kutumpahkan, hanya sendu yang tersisa.
Ucapan Ibu dan Bapak masih terngiang-ngiang di dalam kepalaku. “Kamu mau kuliah? Itu butuh uang yang banyak. Untuk makan sehari-hari saja kita masih penuh dengan kekurangan.”
Iya ... memang benar kata kedua orang tuaku, jika melihat keadaan. Keluarga kami bukan golongan orang yang mampu. Bukan orang yang bisa membayar kuliah yang mencapai puluhan juta. Baik Bapak atau pun Ibu hanyalah seorang buruh tani, penghasilannya penuh dengan kata pas-pasan. Lalu, jika aku tetap bersikeras ingin kuliah, biaya dari mana?
Atau aku mungkin bisa mengejar jalur kuliah lain dengan mengemban, ‘siswa berprestasi’. Namun, mustahil bisa kudapatkan. Sedangkan, aku jauh dan sangat jauh dari anak berprestasi itu. Aku hanyalah siswi yang miskin ilmu. Bukankah itu sudah jelas? Bahwa aku tidak akan diterima di jalur tersebut?
***
Sabtu pagi yang mendung. Dengan raga yang letih, aku menelusuri jalan setapak menuju sekolah. Di seperempat jalan aku bertemu dengan Novi, dia teman kelasku. Dan teman yang paling akrab denganku. Aku berusaha tersenyum, kemudian menyapanya, “Pagi.”
“Pagi juga,” jawabnya ramah.
Aku dan Novi hampir senasib, hanya saja Novi tak sepertiku yang selalu menyerah dengan keadaan. Novi, tipe orang yang sangat berambisi untuk mengubah nasib dirinya dan keluarganya. Ambisi itu tak hanya omongan semata, dia membuktikannya dengan usaha dan kerja keras, dia siswi yang berprestasi di sekolah. Dari kelas sepuluh sampai sekarang, dia tetap unggul di puncak. Bukan hanya prestasi akademik saja, non akademik pun tak kalah hebat, dia pernah mewakili sekolah, lebih tepatnya negara untuk mengikuti MTQ tingkat provinsi.
“Kau akan lanjut ke mana setelah lulus ini?”
Oh, Tuhan ... aku membenci pertanyaan tersebut.
“Tidak akan lanjut ke mana-mana, mungkin,” jawabku datar.
“April, kau tak pernah berubah. Ayolah, kita harus menjadi—orang.”
“Hmm.”
“Penuntut ilmu itu sudah punya rezekinya sendiri. Jangan takut buat sekolah tinggi, bapakku selalu mengatakan itu.”
Tak kugubris lagi ucapan Novi. Dan dia tampak paham, perjalanan kami penuh dengan keheningan setelah itu. Tiba di sekolah kulihat semua teman-temanku yang lainnya berkerumun di papan pengumuman. Karena penasaran kakiku pun melangkah ke sana, tentunya bersama dengan Novi di sampingku. Ternyata itu adalah pengumuman siswa-siswa kelas XII yang terpilih dari pihak sekolah yang bisa mendaftar di jalur SNMPTN.
Aku tak tertarik lagi setelah mengetahuinya, mana mungkin ada namaku. Cukup sadar diri. Aku hendak melangkah pergi, tapi Novi meraih tanganku, dia melompat kecil saat mengetahui namanya tercantum di kertas pengumuman itu.
“Alhamdulillah, aku terpilih,” katanya dengan girang.
Lihatlah, dia rendah hati sekali, tentu saja kamu terpilih. Mana mungkin siswi secerdas kamu tidak terpilih! Ingin kukatakan demikian, tapi ucapan itu hanya mampu kupendam.
“Wah, selamat. Semoga kamu lulus di jalur SNMPTN ini,” ucapku seolah-olah ikut senang, dan aku pun berlalu pergi saja ke kelas tanpa memedulikan dia lagi.
Sejak hari itu, aku memilih menjauhi Novi. Bukan tanpa alasan, aku iri dengannya. Iri dengan segala prestasi-prestasinya yang didapatkan. Apalagi, setelah mengetahui dia lulus SNMPTN di universitas yang sangat bergengsi di negeri ini. Yang tak lain juga universitas impianku selama ini. Aku juga akhir-akhir ini bosan di sekolah, setiap harinya teman-temanku membahas mengenai kampus, jurusan mereka ... intinya semua tentang dunia perkuliahan. Tak habis-habisnya mereka membahas hal itu.
***
Aku sudah resmi menyandang status sebagai 'alumni' setelah pengumuman kelulusan lima hari yang lalu. Aku lulus, dengan nilai iya, aku sulit menjelaskannya. Lima hari setelah kelulusan juga, aku banyak berdiam diri di dalam kamar. Sepertinya impian dan cita-citaku untuk kuliah hanyalah angan-angan semata yang sampai kapan pun tak bisa kugapai.
“April, ada temanmu di depan.” Suara Ibu membuyarkan lamunanku.
“Siapa, Bu?”
“Novi.”
Huft. Kuembuskan napas panjang. Ada urusan apa dia denganku? Dengan berat hati aku menghampiri Novi yang duduk lesehan di depan rumah. Aku ikut duduk di sampingnya. Awalnya hanya pembicaraan basa-basi di antara kami, karena Novi banyak bercerita tentang kucingnya yang mati ditabrak.
“April, kau tak berniat untuk ikut SBMPTN?” tanyanya, lebih ke sebuah saran.
“Um, apa itu?” tanyaku balik.
“Itu seleksi bersama untuk masuk perguruan tinggi negeri yang kamu minati, di mana skor dari ujian tulis berbasis komputer yang kamu dapatkan nantinya bisa menjadi tolok ukur, kamu lulus atau enggak. Lumayan murah kok biaya pendaftarannya. Kau harus mencobanya!”
Novi menjelaskan lebih panjang lagi, dia seolah-olah dapat menebak apa yang ada di pikiranku mengenai perihal biaya. Ada secercah harapan ketika Novi menawarkanku untuk kerja di tempat dia bekerja. Katanya, bos dia sedang mencari karyawan baru.
Ya Tuhan, apa ini jalan rezekiku? Dan tak mau menyia-nyiakan kesempatan, aku menyetujuinya. Kupeluk tubuh Novi dengan erat, seraya membisikkan permintaan maaf atas kelakuanku terdahulu yang selalu cuek dan dingin kepada dirinya. Tanpa malu lagi, aku menceritakan alasan aku menjauhinya. Respons Novi di luar dugaanku, dia tertawa sembari berkata, “Iri itu hal yang wajar, April.” Bahkan dia memujiku, karena aku iri dengan orang yang tepat.
Keterbatasan biaya akhirnya tak membuatku menyerah begitu saja, aku tak ingin mengeluh dengan segala keadaan yang ada, buat apa pula aku mengeluh, sementara aku punya Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Kaya. Kerja sambil belajar, itu yang kulakukan. Saat rehat sejenak, aku memanfaatkan waktu itu untuk belajar. Belajar juga dengan modal nekat, jika teman-temanku lainnya mempunyai buku yang khusus SBMPTN yang sangat lengkap, sementara aku hanya bisa mengandalkan serta memanfaatkan berbagai tryout gratis dan berbagai pembahasan-pembahasan soal SBMPTN yang ada di internet, atau pun YouTube. Oh ... aku lupa, tentunya, Novi yang menjadi guruku akhir-akhir ini. Dia benar-benar teman yang baik sekali.
Dan hari pengumuman itu pun tiba, di mana hari yang sangat mendebarkan bagiku dan pejuang-pejuang PTN lainnya. Aku benar-benar deg-degan, takut ... untuk membuka hasil belajarku selama tiga bulan terakhir. Dengan melafazkan bismillah, dan salawat nabi, aku memberanikan diri untuk membuka portal LTMPT. Aku langsung bersujud syukur, ketika melihat kalimat, “Selamat! Anda dinyatakan lulus seleksi SBMPTN LTMPT di ....”
Air mata tak terbendung lagi, tubuhku bergetar hebat, aku lulus di prodi pilihan pertamaku, di Fakultas Kedokteran di Universitas Gajah Mada! Ya Allah, aku masih tak percaya. Aku masih tak percaya. Dan tentunya kabar bahagia itu segera kusampaikan kepada Ibu, Bapak, dan juga Novi. Bu, Pak, anak perempuanmu kini berhasil bersinar di antara bintang-bintang.