Angin malam meniup wajah damai seorang gadis yamg tertidur lelap itu. Anjali Zrayanyngtyas mencengkram selimut kuat merasakan dinginnya malam, ia menggigil sekilas.
Ia terlihat tenang dengan dengkuran halus yang sesekali terdengar. Namun, itu tidak berlangsung lama, kerutan samar mulai mengambil alih. Gumaman tak jelas terdengar dan kepalan tangan menguat dan mengendur.
Semilir angin menghantam jendela kamarnya seakan menari di sana sini. Seakan terbenam dalam imajinasi merasakan angin kian menghantam tubuh itu dan masuk, masuk ke dalam dimensi yang berbeda.
Anjali melihat kedua tangannya. Ia merasakan kedua matanya berkedip, gelap dan temaram. Netranya menelusuri area sekitar, sangat tenang seolah berada di suasana yang asing namun ia merasakan tempat yang ia pijaki sangat akrab dengannya.
"Menakjubkan." Lirihnya.
Ia merasakan peeasaan yang sangat berbeda. Asing dan terhanyut rasa penasaran. Hawa sekitar seakan jauh dari kenyataan namun mirip dari kehidupan.
Dunia mimpi, dia di dunia yang sama namun berbeda. Tempat yang sama namun sangat berbeda dengan keadaan seakan terlempar pada abad sebelum 2000 Masehi.
"Hey! Bersembunyi!" Sesuatu menarik tangannya secara tiba-tiba. Dia mencengkram pinggang Anjali untuk bersembunyi dibalik semak-semak belukar.
Anjali tidak mengerti siapa yang mengejar. Tidak ada seorangpun! Ia kebingungan melihat keadaan sekitar.
Entah mengapa kedua matanya melihat suasana bak kehidupan foto jadul yang sangat redup dan tak ceria. Benar-benar kuno! Ia merasakan itu,jantungnya berdegup saat melihat dua pria bertubuh tinggi berlari melewati mereka.
Anjali tak kalah terkejut disaat memalingkan muka ke arah seorang pria yang menariknya secara paksa. Tampan, sangat rupawan sampai jantungnya berdegup merasakan kesenangan.
"Ada apa?"
"Kemari,ikuti aku."
Siapa pria itu? Anjali tidak bisa menjabarkannya namun dia terlihat tampan dan karenanya ia merasakan sesuatu rasa geli di ulu hati hingga otaknya berkedut.
Pria tinggi dengan kulit cokelat manisnya kini berjalan di depannya. Anjali tetap melihat area sekitar yang sangatlah asing namun tempatnya jelas tak asing. Suasanya terlalu asing menurut indera penglihatannya dan perasaanya.
Mereka telah duduk saja di atas panggung teater yang berlampu kerlap kerlip. Pemuda pemudi terdengar di belakang Anjali. Mereka bernyanyi dan berdansa bersama diselingi canda tawa.
Anjali tersenyum melihat pria itu. Pria di sampingnya memberikan kedua tangannya yang terkepal. Anjali disuruh memilih, manakah yang akan ia pilih dari salah satunya? Ia memilih tangan kiri pria itu.
"Tangkap!"
Apa maksudnya? Pria itu tersenyum geli. Dia secara mendadak meraup wajah Anjali dan mengecup pipinya tiga kali.
Cup! Cup! Cup!
Anjali tertawa dibuatnya. Ribuan volt terasa di kulitnya. Bulu halusnya terangkat kegelian. Perutnya bergejolak karena rasa yang senang, rasa ternyaman dan berbeda.
"Lihat!" Ujar Anjali menunjuk ke belakang mereka.
"Mereka berlatih dansa. Mari berdansa denganku."
Anjali merasakan tangan kekar memeluk pinganggnya. Sentuhan lembut terasa menghanyutkan dan jantungnya terkaget karena suka. Ia merasa gugup dan senang. Ia menggigit bibir bawahnya dan menatap wajah itu dengan lekat.
Dia memang tampan.
Mereka berdansa mengikuti irama kaki dan satu kedipan Anjali telah dipeluk erat dari samping menikmati pandangan teater yang sedang berlangsung.
Anehnya, mereka melihat sembari berdiri bersama para penonton lainnya. Tidak ada kursi ataupun aula, secepat itu perubahan terjadi.
Dimana aula yang menjadi saksi ia berdansa di panggung, pikir Anjali.
Pria itu mendekat dan Anjali menempelkan tubuhnya ke dada kekar pria itu.
Teater yang dipentaskan tak menjadi titik fokus Anjali. Ia hanya merasakan kesenangan dengan pria di dekatnya, mereka saling berpelukan. Anjali melihat tangan mereka terpaut.
"Kau suka?" Bisik lelaki itu.
Anjali mengangguk sembari menatap tangan mereka terus. Pria itu mengecup pipi Anjali lama dan sungguh gadis itu menikmati perlakuan intim mereka.
Entah datang dari mana suara nada keroncong kemayoran terdengar di telinga Anjali. Ia berdegup kencang, tangannya basah karena keringat, dadanya bergemuruh dan perutnya merintih kegelian. Ia sangat menyukainya.
La-la-la-la-la-la-la,
Boleh lupa kain dan baju
Jiwa manis, indung disayang
La-la-la-la-la-la-la-la, oh,
Janganlah lupa,
Janganlah lupa kepada saya
Anjali tiba-tiba melompat dan tercebur dalam air. Ia merasa engap luar biasa, ia sadar ia akan tenggelam dan berusaha naik menuju permukaan. Dadanya sesak dan jantungnya berdegup luar biasa.
Gadis itu tiba-tiba terbangun dengan jantung yang masih berdegup kencang. Kepalanya sakit berkedut cepat dan merasakan dinginnya kedua tangan ini.
Anjali membuka mata terpejamnya. Ia melihat sekeliling yang telah tampak sedikit terang, menandakan hari telah berganti dan beralih dari bulan ke matahari.
Anjali masih merasakan kegugupannya mengingat mimpi itu. Ia bersama pria tampan tapi ia sama sekali tidak mengingat wajahnya. Satu per satu terpecah dari rentenan puzzle yang telah dibentuk. Sudah buyar menyisakan separuhnya saja.
Anjali melupakan wajah lelaki itu. Sayangnya, rasa suka ini masih ia rasakan dan ingat hingga beberapa hari kedepan. Bahkan, ia sama sekali tidak mengetahui nama pria itu dan semuanya selesai.
Selesai sampai saat dimana ia terkaget setengah mati di dasar air itu.