Singkat saja, Autumn Crocus adalah bunga bermahkota ungu muda yang termasuk dalam famili Iridaceae. Bunga ini juga biasa disebut Naked Ladies yang artinya, wanita telanjang. Cukup vulgar namun memiliki banyak makna, ia juga tergolong sebagai bunga dengan racun paling mematikan di dunia. Nomor satu, bukan yang kedua apalagi yang ketiga. Mungkin itulah yang membuat Ciara meyakini satu hal, nomor satu selalu yang terbaik, sekalipun dia adalah racun.
Gadis berambut hitam legam sebahu itu mengudarakan nafasnya berat. Tertawa bak orang kesetanan ketika menangkap sisi kasur yang kosong. Suaminya tidak pulang, kalimat 'mungkin besok' sudah seperti makanan sehari-hari. Dalam sebulan, bisa ia hitung dengan sepuluh jemarinya kapan saja batang hidung si pria yang menyandang status 'suami' itu berada di rumah. Tidak perlu curiga, sebab kebenaran sudah ia kantongi jauh-jauh hari. Selingkuh? Iya, suaminya berselingkuh secara terang-terangan.
Menyugar surai sebentar sebelum menenggelamkan diri di dalam bathtub.
"Suami sialan." Umpatnya kesal lantaran terbayang akan wajah sang suami.
Setelah selesai dengan acara mandinya, Ciara keluar dan membuka daun lemari berwarna coklat tua itu, menarik satu dress hitam pekat dengan renda di sekeliling pinggang rampingnya. Ia memoles wajah sedemikian rupa hingga nampak sangat cantik. Benar-benar mewah dan arogan disaat yang bersamaan.
Ciara tiba di sebuah apertemen sederhana. Tidak tergolong mahal pun murah, namun letaknya tidak terlalu jauh dari kantor suaminya. Ia tersenyum miring ketika mendapati mobil Hyundai keluaran 2020 itu berjejer rapi di parkiran khusus Goliath Apartement ini. Bagaimana ia bisa lupa toh mobil bercat hitam itu baru dibelinya dua bulan lalu tepat saat perilisan pertama di Korea.
Gadis berusia dua puluh empat itu memasuki elevator dengan tas tangannya yang menggantung di lengan. Merapalkan doa berkali-kali agar ia bisa menangkap basah sang suami. Lantai dua belas, pintu besi itu terbuka lebar hingga Ciara berjalan menuju unit 1203. Ia menghela nafas panjang, batinnya tidak lagi goyah ataupun meragu. Lantas jemari putih itu memasukkan empat digit kode sebelum mendorong masuk dengan terburu-buru.
Ia mematung, menangkap raut panik dari pria bertelanjang dada yang sedang menyesap segelas kopi hitam diatas sofa. Sebelum ada kata yang terucap diantara mereka, Ciara berjalan lurus tanpa menoleh sedikitpun untuk menggubris sang suami. Ia sampai di depan pintu bercat putih, halus sekali dan tidak ada cacat. Akankah hidupnya seperti itu juga setelah ini? Bersih.
Gadis cantik itu meraih gagang secepat kilat dan menerobos masuk. Punggung telanjang, selimut yang berantakan serta kemeja suaminya sudah bisa memperjelas apa yang terjadi. Bibirnya menarik senyum, tipis sekali seakan-akan memang tidak pernah ada. Ia menepuk telapak tangannya berulang kali, lucu sekali. Ini adalah humor favoritnya setelah menikah dengan sang suami.
"Ciara, aku bisa jelaskan." Lengan Ciara ditarik pelan dari belakang. Laki-laki itu, satu sosok yang pernah ia cintai dengan sangat. Sosok yang mana pernah membuat Ciara menggila setengah mati hingga nyaris sekarat. Kalian belum pernah melihat bagaimana Ciara mencintai seseorang? Sekali ia jatuh, sulit sekali untuk bangkit. Begitu juga sekali hatinya patah, tidak akan pernah tersambung lagi. Satu kesempatan, tidak ada dua, apalagi sampai ke tiga. Ingat Ciara itu tidak suka dinomorduakan?
"Jelaskan itu di pengadilan, sayang. Aku hanya tidak habis pikir, kenapa kau tidur dengan sekretarismu." Ciara terkekeh.
Pria itu mengalihkan pandangannya pada gadis yang masih terlelap diatas kasur. Tidak berbalut apa-apa sebab ia ingat betul apa yang mereka lakukan semalam. Menelan ludah gugup, ia menjawab. "Dia butuh uang, ayahnya sakit dan aku hanya membantu Ciara."
Ciara menepuk tangannya sambil tertawa keras, lelucon sekali pria ini. "Oh, ya? Wow! Dermawan sekali suamiku!"
"Lalu kau memberinya uangku?" Alis Ciara naik sebelah.
"Kau bekerja di perusahaanku, uang yang kau dapat itu dariku. Tanpa aku, kau bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Tidak perlu ku perjelas kan sayang?" Lanjutnya lagi.
Ciara maju dua langkah, tiga langkah hingga sampai di bibir ranjang. Duduk disana sebentar kemudian menepuk punggung seorang gadis yang sedang berada dalam alam mimpinya.
"Ciara--sebaiknya kita pulang, aku akan menjelaskan semua di rumah." Katanya lalu meraih kemeja serta gesper diatas ubin yang bercampur dengan pakaian wanita.
Yang dipanggil menatap ngeri pemandangan di depannya. Serius, suaminya ini menggerikan. "Hm? Di rumah?"
"Dengar Gio, kita sudah empat tahun menikah. Lalu kau berselingkuh! Padahal, kau tahu jelas kalau aku tidak suka dinomorduakan!"
Gadis yang berada di atas kasur itu terbangun. Terbelak mendapati istri dari pria yang sering menidurinya itu berada di ambang kasur lengkap dengan tatapan tajam yang mengarah pada Gio.
Namanya Gio, tidak usah dijelaskan bagaimana rupanya. Pria itu menarik Ciara setelah ia berhasil mengancingi kemejanya. "Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi."
Ciara menepis begitu saja, tidak sudi disentuh suami yang bahkan belum membersihkan diri usai meniduri gadis lain. "Apa yang kurang dariku? Semuanya aku berikan Gio. Uang, takhta, status bahkan tunjangan untuk keluargamu! Hanya cukup aku wanita dihidupmu tapi apa?! Kau selalu merasa kurang." Teriak Ciara penuh emosi. Seluruhnya campur aduk, antara benci, kesal, kecewa, juga marah ia rasakan.
Ingin rasanya, Ciara mencekik si pria hingga tewas. Membalas semua rasa sakit yang ia telan setiap harinya. Ia muak, cintanya menguap begitu saja. Terlalu sakit untuk disakiti berulang kali. Gadis itu bingung, kenapa pria bisa dengan mudahnya mengubah perasaan mereka. Atau memang selama ini, Gio mengincar hartanya saja? Ia seorang miliarder, cantik lagi. Ciara bahkan sering masuk dalam majalah sebagai pewaris tunggal yang cerdas. Rasanya ia ingin berlutut di depan makam orang tuanya, meminta maaf sedalam-dalamnya sebab tidak mempercayai ucapan sang ibu. Ia jatuh, hanya karena cinta buta yang tak berdasar.
"Kau racun Ciara."
Gadis itu terdiam. Bibirnya beretar hebat ketika Gio mendekat lalu menarik pergelangan tangannya kasar. "Semakin aku mencintaimu, kau semakin mencekikku."
"Kau beracun, penuh dengan bisa dan aku akan mati jika terus bersamamu." Sahutnya lagi.
Gio membentak. "Kau meracuniku dengan kekayaanmu! Memaksaku untuk tetap disampingmu saat kau sendiri saja tidak pernah menjalankan tugasmu sebagai seorang istri!"
"Kau racun diantara hubunganku dengan Siana. Gadis di kasur itu, adalah kekasihku jauh sebelum kau masuk dan merusak segalanya."
"Katakan aku gila karena mencintaimu dan Siana di saat yang bersamaan. Kau memberiku uang yang tidak aku punya dan Siana memberiku cinta disaat kau tidak memberi secuil pun perasaanmu padaku." Katanya lagi.
Ciara mendengus tidak suka. Mendengar nama Siana membuat isi perutnya bergejolak minta dikeluarkan. "Dengar Gio, aku mencintaimu. Selalu, sebelum kau bertindak kurang ajar seperti ini."
"Dimana letak otakmu? Kau fikir aku ini perempuan gila yang tidak tahu cara menghabiskan uang, lalu menarikmu untuk menguras hartaku?" Ciara melipat lengannya di depan dada.
Gadis itu mengetuk lantai dengan sepatunya. "Hei, dengar. Kau temukan dimana lagi, seorang gadis yang melamar kekasihnya? Seorang gadis yang rela membuang harga diri untuk menikahi laki-laki sepertimu?!"
"Itu semua kalau bukan cinta apa Gio? APA?" Ciara berteriak lalu menarik kerah kemeja Gio.
"Kau sakit jiwa. Terlalu banyak berhalusinasi, pulang dan minum obatmu. Ciara." Gio menarik Ciara keluar. Tidak membiarkan gadis itu menyentuh Siana sama sekali. Ciara itu sakit, Gio yakin seratus persen.
"Lepaskan aku bajing*an! Kita selesai! Aku akan menceraikanmu!" Ciara berteriak. Memukul Gio dengan tas tangannya. Mungkin ini cara gadis itu untuk meluapkan amarahnya.
Pria itu berhasil membawa Ciara ke dalam mobil. Memasang sabuk pengaman meski Ciara menghindar terus menerus.
"Kau harus bertemu dengan psikologmu. Aku tidak bisa membiarkan kau terus berhalusinasi." Gio memacu mobilnya membelah jalan raya. Sesekali menoleh melihat Ciara yang ia ikat di sebelahnya. Dalam hati ia menjerit, gadis ini. Gadis yang ia cintai namun membuatnya sakit. Ciara yang manis berubah menjadi mengerikan ketika kedua orang tuanya meninggal. Ciara yang lembut berubah menjadi kejam ketika gadis itu tidak bisa memenuhi keinginannya sendiri. Ciara tidak gila, dia hanya sedang sakit. Tapi Gio tidak bisa menjadi protagonis, ia memilih berselingkuh karena merasa tidak ada harapan dengan Ciara. Maka, diam-diam ia membangun hubungan dengan Siana. Gadis yang jauh berbeda dari Ciara.
Ciara menangis. "Gio, aku tidak gila! Aku hanya sedang emosional. Jangan bawa aku ke psikolog sialan itu!"
"Dia bisa membantumu Ciara! Setiap kau berkonsultasi dengannya, kau menjadi lebih baik. Kau dominan diam dan tidak banyak tingkah, jadi jangan menolak untuk diajak berobat Ciara!" Balas Gio marah. Selalu saja begitu. Setiap ia mengatar Ciara ke psikolog, gadis itu merengek tidak ingin. Ketika jam konsultasinya usai, Ciara akan diam. Lebih baik daripada dia bertingkah.
Ciara menggeleng. "Tidak mau! Dia menyakitiku Gio! Kau membawaku ke monster, bukan ke psikolog!"
"Dia membuatku menjadi racun! Menjejaliku dengan obat-obatan yang membuatku sakau! Dia bukannya membuatku lebih baik, tapi dia mencuci otakku. Kau tidak sadar?"
Gio mendadak menghentikan laju kendaraannya. Mengalihkan pandangan pada gadis yang sudah sesegukkan di sebelahnya. "Kau meracau lagi." Final Gio membuat Ciara semakin menangis.
"Aku bersumpah!"
Gio meraih tisu diatas dashboard. Mengusap wajah Ciara yang penuh air mata. Sudut hatinya goyang menyaksikan bagaimana Ciara begitu menolak ketika hendak di bawa ke psikolog.
"Aku tidak gila, psikolog itu membuat depresiku semakin hebat. Kau tahu, darimana aku tahu perselingkuhanmu?"
"Dia. Dia menunjukkan bukti kau berselingkuh setiap kau dengan tidak tahunya mengantarku untuk berobat padanya. Dia, monster sialan yang merusak diriku dan rumah tangga kita."
Gio terkejut. Benar-benar kaget hingga menelan saliva saja berat. Ciara sakit karenanya. Ciara depresi karena perbuatannya. Ciara terluka karena Gio yang mendorongnya terus menerus. Psikolog itu tidak pernah membuat Ciara semakin baik. Malah ia membuat pikiran gadis itu kosong, terdiam sepanjang hari seperti tong tak berisi. Depresi Ciara semakin hari bertambah parah dan sulit disembuhkan. Belum lagi tentang kelakuan Gio, Ciara tidak tahu harus mulai dari mana.
Tapi tunggu, apa maksud dari Dokter Rey? Psikolog yang secara perlahan merusak rumah tangga mereka.