Ruangan yang begitu sepi dengan kegelapan yang hampir menyelimuti pandangan mata. Gadis dengan rambut panjang itu terlihat cemas berada di ruangan. Netranya menyipit kala melihat seorang lelaki di ujung lorong, lelaki yang sangat ia kenal siapa lagi jika bukan Virdi sang kekasih.
"Airyn" Panggilnya pelan tapi masih dapat ditangkap oleh pendengaran gadis itu.
Senyuman aneh Virdi membuat Airyn merinding. Biasanya Virdi akan tersenyum sangat manis hingga memperlihatkan kedua lesung pipi yang sangat menawan. Meskipun ragu Airyn membawa kedua kakinya untuk melangkah menuju ke arah Virdi.
Saat baru saja akan sampai di hadapan Virdi, lelaki itu justru berlari menjauh. Mata Airyn membola, mengapa Virdi terlihat sangat aneh. Seperti bukan Virdi yang ia kenal saja. Airyn mengikuti Virdi dan berakhir di balkon lantai tiga. Balkon yang lumayan luas sering juga digunakan untuk nongkrong, tapi sepertinya kali ini tidak karena sangat sepi.
"Virdi" teriaknya melihat Virdi berada di unjung balkon.
"Apa itu?"
Airyn semakin bingung saat melihat sesuatu yang sangat aneh berada di samping Virdi. Mahluk hitam besar yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata kata. Airyn nyaris tidak bisa bergerak saat melihat tangan mahluk besar itu dengan perlahan merangkul sang kekasih. Tangan dengan bulu lebat beserta kuku hitam super panjang.
Virdi tidak bereaksi hanya tersenyum dengan senyuman aneh.
"Terkadang orang yang sangat lo percaya justru yang terburuk buat lo" ucap Virdi masih dengan senyuman anehnya.
Otak Airyn masih tidak dapat mencerna apa yang ia lihat dengan jelas. Seluruh tubuhnya seakan kaku bahkan untuk mengeluarkan sepatah kata saja.
Mahluk hitam itu semakin mempererat rangkulanya pada Virdi, lalu detik selanjutnya ia mengajak tubuh Virdi untuk terjun bebas. Virdi masih memasang senyuman aneh dan pasrah saja tubuhnya diajak terjun bebas.
"VIRDI!!!!"
Airyn membuka matanya dengan nafas terengah. Peluh telah membasahi seluruh tubuhnya. Menghela nafas panjang saat sadar itu hanya mimpi. Ya, mimpi yang terlihat terlalu nyata.
"Huh, lagi-lagi mimpi itu"
Akhir-akhir ini selalu saja Virdi yang menjadi bunga tidurnya. Bukan Virdi yang bersikap manis ataupun membawa bunga untuknya. Tetapi selalu tersaji adegan dimana laki-laki itu mengakhiri hidupnya dan itu terasa sangat nyata. Apalagi kata-kata terakhir Virdi yang kini tengah berputar di otaknya.
Brakk.....
Pintu kamarnya dibuka dengan tidak sabaran membuat Airyn sedikit terkejut. Siapa gerangan yang mengunjunginya malam malam seperti ini.
"Ryn" Terlihat Alvin dengan nafas yang memburu.
"Alvin ngapain lo disini?"
"Ikut gue"
Tanpa seijin Airyn, Alvin menarik lengan gadis itu. Sangat membuahkan tanda tanya besar.
"Vin lo apa-apaan sih"
"Udah diem ikut gue"
Mereka sampai di depan asrama. Disana sangat banyak orang, Alvin membawa Airyn menerobos kerumunan dan tubuh Airyn mematung saat melihat apa yang tengah ramai-ramai orang tonton.
Tubuh Virdi bersimpah darah terbujur kaku disana. Tangis tidak dapat terbendung, Airyn ingin memeluk tubuh itu tetapi ditahan oleh Alvin.
"Jangan Ryn,"
Alvin memeluk Airyn yang tengah menangis histeris. ia tidak mengijinkan Airyn mendekat menuju jasad Virdi karena takut jika sidik jari Airyn justru menempel di tubuh Virdi. Bisa fatal jika Airyn justru yang dituduh.
"Vir-Virdi ke-napa?" kalimat tanya itu nyaris tidak terdengar, karena suara indah itu sangat parau.
"Sttttttt, lo tenang dulu ya"
Nyatanya kalimat Alvin itu tidak dapat menenangkan Airyn. Gadis itu masih saja menangis meraung. Kekasih tercinta yang hampir setahun ini selalu menemani harinya kini telah terbujur kaku dengan tragis. Masih teringat jelas di kepala Airyn bagaimana pertama kali ia berjumpa dengan sosok Virdi. Bagaimana ia bisa menaruh hatinya kepada kebaaikan seorang Virdi dan tentu saja Airyn sangat beruntung bisa menjadikan Virdi alasanya untuk tersenyum.
Disaat kita hanya mendengar tangisan meraung Airyn. Tanpa sadar seulas senyuman picik hadir diatara orang-orang itu. Merasa menang dengan keadaan ini. Ia adalah dalang dibalik kematian Virdi. Sebentar lagi ia akan dapat memiliki Airyn sepenuhnya.
ूैूैूैूैूैूैूैूैूैूैूैूैूै
Seminggu telah berlalu, kasus Virdi telah ditutup dengan hasil akhir jika lelaki itu bunuh diri. Rekaman CCTV menunjukan jika Virdi memang terjun dari lantai tiga seorang diri sehingga disebut sebagai bunuh diri. Hati Airyn masih tidak bisa menerimanya. Kejadian itu begitu cepat dan mimpi mimpi itu semakin memberatkan pikirannya.
"Udah dong Ryn, Virdi udah tenang lo jangan sedih terus" Ucap Falena teman sebangku Airyn.
Airyn tidak menjawabnya hanya air mata yang mengakir di pipinya. Falen memeluk Airyn untuk menenangkan gadis itu. Ia tahu sudah seperti apa hubungan Airyn dan Virdi wajar saja jika sekarang Airyn sangat sedih.
"Virdi nggak mungkin bunuh diri Len, nggak mungkin"
"Tapi di CCTV udah jelas Ryn"
"Gue kenal Virdi luar dalem, seberat apapun masalahnya Virdi nggak akan mungkin melakukan hak sebodoh itu"
Airyn ingat saat dulu Virdi benar benar jatuh, tepatnya tahun lalu. Ayahnya tertangkap selingkuh sehingga membuat ibunya depresi hingga sakit dan meninggal. Virdi sangat dekat dengan ibunya sehingga itu menjadi pukulan terberat untuk Virdi. Beberapa hari setelah ibunya meninggal ayahnya menikahi selingkuhanya dan tinggal di luar negri. Ia hidup sendiri disini dengan uang yang setiap bulan ayahnya kasih. Merasa tidak sudi sebenarnya tapi mau bagaimana lagi ia tidak bisa bekerja juga karena masih sekolah. Tahun itu menjadi tahun terberat karena ia harus kehilangan ibunya sekaligus mengetahui kebusukan ayahnya. Tapi Virdi mampu berpikir dewasa dan melangkah ke depan.
Lalu tidak mungkin kan jika tidak ada masalah apa apa Virdi bunuh diri?
"Gue harus ketemu Rio dia pasti tahu sesuatu"
Airyn beranjak untuk menuju kelas Rio. Rio adalag sahabat baik Virdi ia belum semoat bertemu Rio setelah Virdi berpulang. Mungkin ia bisa mendapatkan sedikit informasi dari Rio.
"Lo mau kemana?" Lengan Airyn dicekal Adam saat hendak keluar kelas.
"Gue mau ketemu Rio"
"Mau ngapain?" tanya Adam.
"Dam gue masih nggak yakin kalo Virdi tuh bunuh diri"
"Airyn udah lupain Virdi, lo harus mulai hidup baru nggak boleh terus terusan sedih kaya gini"
"Tapi-"
"Kematian Virdi udah jelas banget, kalo lo masih inget-inget itu terus lo akan sedih terus. Gue nggak tega liat lo nangis lagu Ryn"
Airyn terdiam.
"Virdi nggak akan tenang kalo lo terus nangisin dia kaya gini"
Akhirnya Airyn mengangguk. Mungkin ini memang yang terbaik dan tuhan udah ngrencanain sesuatu yang nantinya akan lebih indah.
Lalu menurut kalian siapa yang membunuh Virdi? Alvin? Falena? Atau Adam?