Akhir pekan lalu, saya diajak keluarga berlibur ke penginapan di dataran tinggi Jawa Tengah. Tempatnya cukup jauh dan agak terpencil di daerah perbukitan. Melewati deretan pohon pinus untuk mencapai rumah penginapan itu.
Hamparan halaman yang luas dan rindang menyambut kami di penginapan. Terasa hawa dingin yang sejuk tapi juga sangat sunyi dan sedikit mencekam. Saya ingat betul, saat itu penginapan cukup sepi, tidak tampak orang lalu lalang. Maklum saja, penginapan ini juga merupakan tempat retret bagi para biarawan.
Begitu sampai, segera saya dan sepupu dengan sigap berkeliling penginapan. Tempat itu sangat sunyi dan memang cocok untuk peristirahatan. Ada banyak tanaman serta pohon rindang yang juga berbuah lebat. Kala itu hari masih sore, kami masih menikmati sejuknya halaman penginapan yang penuh pepohonan. Tiba-tiba sepupu saya Merry berkata: "Vin, kamu ngerasa enggak sih? kayak ada yang mengamati kita dari balik pohon-pohon pinus itu?"
"Ahh yang bener kamu. Jangan nakut-nakutin dong. Suara daun kali yang kamu denger."
"Enggak Vina, aku seriusan. Barusan aku ngerasa ada orang yang ngintipin kita dari balik pohon di sana tuh."
"Udah ahh, enggak mau cerita yang begituan Mer. Baru juga sampai kita, masa udah ada cerita enggak enaknya gini. Yuk ah, kita ke dalam aja. Mungkin bude sama pakde udah nungguin kita."
Kami pun kembali ke ruang tamu penginapan. Benar saja, pakde dan bude sudah menanti kedatangan kita.
"Kalian ke mana saja? kita sudah nungguin dari tadi. Ini suster Adelina mau nganter kita ke kamar."
"Maaf pakde, bude, tadi kita jalan-jalan sebentar. Soalnya seneng banget tempatnya bagus."
"Mari saya tunjukkan jalan menuju kamar masing-masing", kata suster Adelina memecah keheningan.
Kami pun mengikuti dari belakang. Saya dan Merry kebagian tidur di kamar paling pojok dan orangtua Merry berseberangan dengan kamar kami. Suster Adelina berpesan agar kami tidak keluar kamar jika sudah lewat jam 10 karena akan mengganggu ketenangan. Kami pun berpamitan lalu masuk ke kamar untuk bersih-bersih.
Malam kami habiskan dengan menikmati santap malam yang disajikan dari hasil bumi yang dikelola penginapan. Sambil bercengkerama kami menghabiskan makan malam yang lezat dan khas masakan rumahan. Selesai makan malam kami kembali ke kamar. Kami berdua memutuskan untuk membaca buku yang kami pinjam dari perpustakaan mini milik penginapan. Banyak buku bagus yang kami temui tadi dan kami meminjam beberapa buku untuk menemani malam ini.
Malam semakin larut, tapi mata ini belum juga lelah. Kebetulan buku bacaanku sudah mencapai babak yang makin menegangkan. Kembali membolak-balikkan halaman buku sambil mendengarkan alunan lagu dari playlist ponsel. Tak berapa lama, Merry menarik-narik selimutku.
"Vin, kamu denger enggak suara apa itu?"
Segera kucabut headset yang masih menempel di kuping.
"Ada apa Mer? aku enggak denger, barusan kamu bilang apa?"
Kembali Merry mengulang perkataannya.
"Kamu denger enggak suara barusan?"
"Gimana aku mau denger, wong telingaku tersumpel headset begini."
"Coba kamu denger baik-baik deh."
(Mencoba memasang telinga baik-baik dan mencari sumber suara yang diceritakan Merry).
Klinong... Klinong...
"Suara lonceng bukan?"
"Iya bener suara lonceng, tapi dari mana ya Vin? Kok, nyeremin gitu?"
"Ya udah ga usah didengerin lagi. Kita tidur aja."
"Tapi suara apa ya itu, aku kok penasaran. Kita intip ke luar yuk?"
"Mending enggak usah deh, kan tadi suster Adelina pesan kalau kita tidak boleh keluar kamar lagi lewat jam 10, ini sudah hampir jam 12 loh."
"Kita intip aja bentar, biar aku enggak penasaran lagi."
Kami berdua pun turun dari tempat tidur, membuka pintu kamar sampai kami bisa mengintip keluar. Tak ada siapa-siapa di luar. Lorong kosong melompong. Namun, tak berapa lama, suara lonceng kembali menggema dari ujung lorong. Sesosok suster berpakaian serba putih pun muncul sembari membawa lentera dan membunyikan lonceng. Kami masih mengamati sang suster tadi, ketika dia makin mendekat. Berbarengan kami menutup pintu kamar dan segera naik ke tempat tidur sambil menarik selimut menutupi kepala. Kami tak saling bicara satu sama lain karena kami baru saja melihat suster tadi tak punya muka dan kaki.