Waktu... Seandainya waktu dapat kuputar kembali akankan jalan ini yang aku pilih ataukah sebaliknya. Namun Tuhan telah menitipkan takdir ini untukku...
Melati Andira Putri, yang biasa dipanggil Putri harus menerima kenyataan pahit diusia yang dapat dikatakan masih belia. Putri adalah seorang gadis remaja yang usianya masih menginjak 18 tahun dan masih duduk dibangku sekolah kelas 2 SMA.
"Put, itu tamu loh uda nunggu didepan" kata Mami Ana sambil menyesap sepuntung rokok dan mengepulkan asap yang mungkin jika menghirupnya akan sesak didada. "iya Mam, ini juga Putri uda siap kok". ujar Putri sambil sesekali melihat pantulan diri didepan cermin dan mencangking tas brendid yang akan dibawa pergi.
"Eh, denger ya Put kali ini tamu kita gak boleh kamu kecewakan lagi. Beliau adalah seorang pengusaha kaya raya yang bisa menghasilkan uang milyaran untuk kelangsungan klub kita ini, kamu paham kan maksud Mami"
"iya mi, Putri ngerti kok. Maaf selalu mengecekan Mami" sambil pergi begitu saja melewati Mami Ana.
Semenjak Ibu dan Ayahnya meninggal dunia Melati Andira Putri harus memikul beban yang berat untuk dapat memberi nafkah, dan membiayai sekolah kedua adiknya. Ya Putri adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Adik kedua Putri masih menginjak kelas 1 SMP, sedangkan adiknya yang paling bontot masih berumur 5 tahun. Namun hal itu tidak dijadikan beban hal sulit untuk menghidupi kedua adiknya, sebab bagi Putri kebahagiaan adiknya nomor satu.
"Loh kayaknya uda siap aja nih. gak sabar ya?" ceplos Lisa asal aja. " Aduh Lisa, apaan sih. Ni ya !! kalo bukan gara-gara kelangsungan hidup gue, ogah gue nemenin om genit kayak gitu"sungut Putri.
"Ya, ela Put.. Put kali aja dengan ini hidup loh akan berubah. Secara gitu, ini bukan sembarang om-om. Loh busa kaya mendadak keles" seru Lisa. "Gue cabut diluan"sungut Putri. "Tuh anak kalo dibilangin susah ya" ujar Lisa.
Dengan langkah yang anggun Putri keluar menghampiri mobil ferari yang terpakir didepan pintu masuk klub. "Maaf om, nunggu lama soalnya tadi ada sedikit masalah didalam" ucap Putri sekedar basa-basi. " gak masalah kok cantik mau sebentar, atau lama om akan tetap nungguin kamu" colek om Rayen didagu Putri sambil mengemudikan mobilnya yang membuat Putri jijik setengah mati.
Sepanjang perjalanan, Putri hanya diam seribu bahasa. Walaupun Om Rayen sesekali membuat candaan yang receh, namun tidak mengukir senyum di wajah cantik Putri. Ia hanya melamun ntah kemana hingga mobil sampai terpakir didepan Hotel bintang 5.
"Put, kita uda sampai loh" ujar Om Rayen. "Emm, eh iya Om uda sampek" dalam hati Putri takut hal kemarin malam terjadi terulang lagi.
Sabtu malam kemarin Putri diajak ke kamar Hotel Dirga bersama pelanggan setia yang sering berkunjung di klub tempat Putri bekerja. Namun tak disangka waktu si pria menyentuh wajah Putri, tiba-tiba Putri refleks mengangkat lampu penerangan yang berada dinakas kekepala si pria. Membuat Putri panik dan melarikan diri. Akibatnya ia dimarahi Mami Ana, dan uang yang biasa dikasi dikurangi setengah.
Tapi hal itu tidak membuat Putri ambil pusing, yang terpenting si korban tidak terjadi apa-apa. Hanya cedera ringan dikepala. Putri shock memang waktu itu, sebab ia belum pernah sekali pun disentuh. selama bekerja selama 2 bulan di klub itu Putri selalu mendapat klien yang baik. Ia selalu menceritakan kehidupannya kepada om yang dikencaninya bahwa ia terpaksa bekerja di klub untuk mencukupi kebutuhan ia dan adiknya
"Ayo dong Put, kok diem aja. Om uda pesen kamarnya nih". ujar Om Rayen sambil merangkul pinggang Putri. "Eh, iya om. Tapi Putri bisa jalan sendiri gak usah dipegang-pegang" sungut Putri sambil berjalan mendahului Om Rayen.
Sesampai nya didalam kamar, Putri memberanikan diri untuk bercerita kepada Om Rayen tentang kehidupannya. Namun sayang itu tidak membuat tekad Om Rayen pudar untuk meniduri Putri. Sampai ide jail muncul dibenak Putri. " Om Rayen, haus gak. biar putri ambilin minum, biar gak haus nanti waktu melakukannya" ujar Putri. "Boleh, boleh kok sayangku cintaku" seru Om Rayen.
Sambil berdiri mengambil minum membelakangi Om Raye, Putri mengeluarkan jurus andalannya yaitu obat tidur. "Nih Om, minumnya"sambil menyerahkan segelas air putih. "Makasi ya sayang" meminum hingga tandas.
"Ayo kita mulai sayang, siapa duluan nih yang menyerang ( yaelah kirain berantam, menyerang)". Belum lama berucap Om Rayen pun pingsan tak sadarkan diri, yang membuktikan bahwa obat tidur tersebut bekerja.
Cepat - ceoat Putri mengambil tas dan membuka pintu agar segera keluar dari neraka tersebut. Namun tiba-tiba di lobi ia menabrak seseorang.
" Loh, punya mata gak sih" ujar Reno. "Eh, maaf-maaf gak sengaja. Gue buru-buru".
"Tunggu" belum sempat Reno ngomong gadis itu uda lari secepat kilat.
Putri memutuskan pulang dengan menaiki taksi. "Kak put, kakak kenapa kok pulangnyaa lama banget" ujar Nisa adik kedua Putri. "Loh, Nisa kok belum tidur. Nih uda malembesok kan harus sekolah".
"Nisa, kan nungguin kakak pulang".
"yauda sana tidur kk kan uda pulang sekarang"
Nisa pun menuruti perintah kakaknya untuk tidur. Disusul Putri yang masuk kekamarnya untuk bersih-bersih karena badannya uda lengket dari tadi akibat aksi kaburnya tadi. Selesai mandi ia memutuskan untuk tidur.
Keesokan harinya, Putri melakukan tugas seperti biasa memasak untuk sarapan dan bekal adiknya, bersihin rumah, sekolah dan kemudian kembali bekerja. Ya Putri bekerja tidak hanya bekerja sebagai penghangat ranjang saja, tapi sepulang sekolah hari ia menjadi pelayan di klub itu.
"Put, anterin minuman di meja no 08 ya" ujar Mona. "Oke mon, siap" sambil memberi hormat kepada Mona.
"silahkan pak, diminum"
"Eh elo kan yang nabrak gue semalam"
"heehe, iya pak. maaf"ucap Putri cengengesan
"maaf, gak segampang itu minta maaf" ucap Reno. "jadi saya harus berbuat apa biar bapak maafin saya".
"loh, minta maaf sampai sujud dibawah kaki gue" ujar Reno sombong. "Bapak jangan bermimpi, saya memang pelayan tapi kalo ada yg menginjak harga diri saya saya tidak terima" pergi berlalu tanpa menghiraukan panggilan Reno.
Udara malam ini bergitu dingin hingga menusuk tulang, jalan begitu sepi, dan ditambah gerimis rintik-rintik. Seperti biasa selesai bekerja hingga larut Putri pun pulang menggunakan taksi. Tiba-tiba saat sedang menunggu taksi ada tiga premanyang menghampirinya."Cantik mau kemana sihm temenin kita-kita yok"ujar preman yang satu." iya yok, saya anterin. gak baik perempuan malam-malam sendirian.
"Tolonggghh.. toloolong" Putri berteriak histeris dan ketakutan.
Saat yang bersamaan mobil lamborgini melesat dengan cepat, tampak lah seorang pemuda mengenakan stelan jas formal khas kantoran. "Woi, lepasin gak, beraninya sama cewek sini hadapin gue". "Ya ampun dia lagi" ucap Putri.
"Lo, gak apa-apakan"tanya Reno. " Gue gak apa-apa tapi elo yang kenapa-napa jadinya gara-gara gue. Loh punya p3k gk di mobil lo biar gue obatin". ucap Putri khawatir. "santai aja lagi, gue kan laki haris kuat. ni obatnya" sambil nyeeahkan kotak p3k.
Setelah mengobati luka memar di wajah Reno, Reno meminta ijin untuk mengantarkan Putri pulang karena takut ada sesuatu yang akan menimpa Putri lagi. Dan ajakan Reno diterima Putri.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Hubungan Reno dan Putri semakin dekat, yang membuat Reno memendam perasaan kepada Putri. Malam nanti Putri mengajak Reno untuk bertemu, ia bilang ada sesuatu yg ingin disampaikan tapi gak bisa melalui handphone. Hal ini tidak akan disia-siakan Reno mengajak putri makan malam romantis dan Reno berniat menjadikan Putri kekasihnya, yah Reno mulai menaruh hati ketika pertemuan mereka yang tidak sengaja di Hotel bintang 5 waktu itu.
"Put, gue mau ngomong sesuatu sama lo"
"ngomong aja lagi Ren, gue bakal dengerin kok"
"Melati Andira Putri , gue suka sama lo, gue sayang sama lo, lo mau gak jadi pacar gue?" ucap Reno gamblang sambil natap mata Putri dan menggenggam tangannya.
"Maaf Ren, gue gak bisa. gue uda anggep lo kayak kakak gue sendiri"kilah Putri bohong tanpa natap mata Reno.
"Lo bohong ka Put, gue tau lo bohong. Tatap mata gue put, bilang kalo lk gak suka sama gue"
"ini mungkin pertemuan kita untuk terakhir kali jangan pernah hubungi gue atau pun samperin gue lagi" pergi sambil mencegah air mata nya agar tidak jatuh didepan Reno.
Reno mengejar Putri alhasil Reno kalah cepat, Putri sudah pergi. Hanya ditemani merdunya suara jangkrik dan dinginnya malam. Putri duduk dibangku taman kota dan menangis tersedu-sedu.
Tadi siang Ibu Reno datang ke klub tempat Putri bekerja, ia mencaci memaki Putri dengan kalimat bahwa ia cuma seorang pelacur yang kotor dan tidak sebanding dengan Reno.Hal itu membuat Putri sakit hati . Ibu Reno meminta agar Putri menjauhi putra semata wayangnya. Ibunya mengiming-imingi uang sejumlah jutaan rupiah agar Putri menjauh dari anaknya. Akhirnya Putri mengalah, dan mengubur cintanya untuk Reno selamanya.
Putri tidak akan menyesali keputusannya, ia cukup sadar diri bahwa ia gadis yang kotor yang cuma pelayan bar dan penghangat ranjang semata.
Keesokan harinya Reno dikejutkan adanya pemberangkatan pesawat ke Amsterdam bahwa perusahaan Papa yang disana sedang membutuhkan penanganan. Dalam hal ini Papa Reno sengaja mengutus Reno kesana. Reno tidak bisa menolak perintah dari Papa nya karena memang diantara anak Wirawan hanya Reno yang tidak pembangkang.
Penerbangan pesawat Reno ke Amsterdam pukul 09.25 pagi, ia segera menghubungi Putri. Tapi sayang sekali handphone putri tidak aktif, Reno menghubung Putri sampek 5 kali tapi nihil. Lalu Reno memutuskan untuk memberitahu Putri melalui sebuah pesan, padahal Reno berharap Putri mengantarkan kepergian Reno sampai bandara. Namun apa daya Reno menjadi putus asa.
Pihak penerbangan mengumumkan kepada seluruh penumpang jurusan Amsterdam akan segera berangkat. Dengan berat hati Reno berjalan sesekali melihat kebelakang untuk menunggu Putri pujaan hatinya. Namun sayang Reno tidak melihat sesosok yang dicarinya.
Ia pun kecewa dan segera melanjutkan laju kakinya untuk naik diawak pesawat. Sampai pesawat membawanya terbang meninggalkan kota tercinta.
Ketika cinta tak mampu terucap.
Biarlah takdir yang akan mempersatukan kita.
Dalam kekuatan Doa
Di setiap sujud disepertigamalam ku.
Huaaa sedihnya :(