Disinilah kau dan aku terbiasa bersama,
berbagi kasih, canda tawa dan duka bersama, ku bahagia bila selalu berada di sisimu.
Dewa dia temanku sejak masih belia, kami saling mengenal karena hubungan orang tua kami seperti keluarga, sehingga sering bersilaturahmi, dan membuat kita menjadi bergantung satu sama lain.
Awalnya hubungan kita berdua tidak begitu baik, karna pertemuan pertama yang buruk saat itu umur ku sekitar 5 tahun, masa dimana aku belum mengerti apapun, tapi aku ingat jelas kejadian itu.
Setelah berjalannya waktu,kita menjadi semakin akrab sampai-sampai kita memiliki markas khusus, yaitu rumah pohon, setelah pulang sekolah kita selalu mampir ke sana terlebih dahulu hingga mega merah terlihat.
Aku kira kita akan selalu bersama tapi ternyata......
"Siva, gue suka sama Via".ia mencurahkan perasaannya terhadap Via kepadaku, membuat hatiku seperti tersayat begitu perih, sampaiku tak sadar bahwa mata ku meneteskan air mata, aku hanya diam dan tak tau harus bicara apa.
"Va lo kenapa nangis, apa ada masalah ceritakan saja?".tanyanya, aku pun berusaha mencari alasan yang tepat, tidak mungkin aku tiba-tiba menyatakan perasaan ke pria duluan kan gak cool banget.
"Siapa yang nangis, lo tau gue kan Sivana Aprilia gak kenal tu yang namanya air mata, gue cuman..... kelilipan,ya kelilipan.kata-kata yang keluar sepontan.
Ia pun memegang pipiku dan meniup mataku, sehingga membuat ku salting, aku pun melepaskan tangannya dari pipiku dan mencari alasan agar tidak membuatnya tersinggung.
Semenjak hari itu entah kenapa hubungan kita semakin berubah, dan kita seperti orang asing, terasa hanya bersama mayat hidup, canggung aku sangat merasa canggung, apalagi ia mengira aku menyukai Arga si cowok sok cool, dan berlagak sombong itu,
membuatku sangat kesal, jadi ada alasan untuk menjauhinya.
.
.
.
.
Aku bisa menjauhi Dewa tapi tidak dengan Via, ia sahabat yang paling akrab dengan ku,dia gadis periang dan yang paling penting cantik meskipun otaknya tetap nol, ia sering datang ke rumahku setiap hari, untuk minta bantuan menyelesaikan tugas sekolah nya padahal kita beda sekolah, entah sejak kapan aku menjadi bergantung padanya.
Suatu hari ia menceritakan tentang Arga, awalnya sih aku mendengarkannya tapi semakin kesini aku meras kesal sekali, karna yang ia bahas hanyalah Arga, dan seketika aku kelepasan.
"kenapa sih cerita tentang Arga mulu, gue gak suka". tukasku, seketika wajahnya berubah dan membuatku merasa tak nyaman, dan Via pun memasang wajah marah dan pergi begitu saja tanpa pamit.
.
.
.
.
Aku pun sendirian gak punya teman sehingga ku memilih tetap diam dirumah dan bermain hp membaca novel, dan komik online. saat itu dirumah aku sedang sendiri dan hanya bersama beberapa asisten rumah tangga, seperti bibi Nur, karna orang tuaku ada bisnis di luar negeri setiap hari, dan hanya pulang sesekali dalam setahun.
Sekarang aku benar-benar kesepian, apalagi para asisten rumah tangga dirumah kami punya kesibukan masing-masing sehingga tak bisa mendengarkan keluhan ku, aku pun keluar rumah menggunakan motor gede, biasa aku memang pecinta motor, meskipun memiliki banyak mobil, tapi aku tidak pernah mau menggunakannya karna aku mabuk perjalanan.
Saat aku hendak mengendarai motor ku tiba-tiba aku ditarik seseorang, jelas-jelas yang kulihat adalah Dewa aku pun mengikutinya dan ia membawaku kesebuah mobil limusin, aku pun mengikutinya, aku tidak terbiasa didalam mobil aku pun mabuk dan aku bersandar di bahunya ,rasanya sangat hangat membuat ku tertidur, tak sadar ku menginggau menyebut nama Dewa dan aku pun menarik wajahnya kemudian aku menciumnya, ia membalas ku dengan ciuman yang agresif aku tak bisa menolaknya.
Saat aku membuka mata alangkah terkejutnya ternyata itu bukan Dewa melainkan Arga, cowok yang sedari kecil ku benci. Aku tak menyangka ciuman pertama ku diambil olehnya aku pun menggigit bibirnya dan ia melepaskan nya.
"kenapa, kau menggigit ku".tanyanya dengan wajah sok polosnya.
"kok lo mana Dewa, hah kemana dia, kenapa lo".aku bertanya heran dan emosiku yang memuncak karna melihat nya dihadapan ku.
"dari tadi kau bersama ku, kau jangan berani-beraninya menyebut nama pria lain dihadapan ku atau.....".
"atau apa hah...lo mau ngancam gue. memutus omongannya aku pun langsung membuka pin tu mobil dan keluar sambil membanting pintu mobilnya.
"hiiih, jijik ".dalam hatiku sambil berkumur karna saking jijiknya .
Tumben sekali Via ingin menemui ku, saat itu aku sedang asyik menonton film favoritku ,
lalu aku menerima ajakannya,ketika sampai.....
plaaak....tak kusangka Via yang periang dan ceria itu menampar ku tiba-tiba,dan menumpah kan begitu banyak pertanyaan yang membuatku naik pitam.
"Siva, jelaskan ke gue lo seminggu yang lalu ngapain berduaan sama Arga, lo sudah ngapain aja, lo berani-beraninya mencium Arga. Lo bilang benci, tapi ternyata akal-akalan Lo aja, dan ketangkap basah Lo goda Arga, Lo sama aja kek cewek jalang tau gak".
Aku pun kesal sehingga aku hendak menamparnya tapi tangan ku di tahan oleh Dewa, dan di cengkram kuat rasanya sakit, tapi labih sakit hatiku, yang remuk ini, melihat teman ku sejak kecil yang tak pernah membiarkan ku menangis, kini mencengkram ku dan mendorong ku, akan tetapi aku di tangkap oleh Arga.
Melihatku lebam dibagian wajah dan tangan ku berdarah Arga langsung menghajar Dewa, habis-habisan mereka berkelahi mati-matian dan tak ada satupun yang bisa melerainya, aku tak menyangka pria yang aku benci selama ini membelaku.
Aku pun melerainya dan tak sengaja aku terpukul oleh keduanya dibagian dada, seketika dada ku sesak dan aku merasa ada yang menggendongku, sekilas ku melihat wajah Arga.