Harus baca kalau tidak, hati-hati nanti malam...
----
Nama ku Abi, seminggu yang lalu aku di pindah sekolahkan ke SMA Bangsa. Awalnya semua itu berjalan baik-baik saja hingga...
"Ah masa gitu doang ga berani si"
"Lu masih bisa sebut diri lu laki?"
"Payah"
Dan kata-kata sejenis nya yang mereka lontarkan kepada ku terus saja terdengar. Ketiga teman sekelas ku yang bernama Maxim, Luke dan Sasa alias Angkasa, meminta ku untuk melakukan uji nyali di sumur belakang sekolah. 'Angker' kata orang.
Sejujurnya nya aku tak pernah atau tak mau mempercayai apa itu 'kata orang'. Aku lebih suka melihat atau merasakan nya sendiri dari pada mendengar kata orang.
"Oke, gua terima tantangan kalian. Tapi kalian juga harus ikut sama gua" ucap ku mantap kepada ketiga anak dugong itu.
"Pasti lah...tenang aja kita bakal ikut nanti malem"
***
Aku terbangun. "Hah huh hah huh" napas ku terasa tersengal-sengal. Sudah satu bulan berlalu dari hari dimana aku melakukan uji nyali malam itu
Tidak jarang aku mendapatkan mimpi aneh, seperti di datangi oleh seseorang dengan perawakan tinggi besar, berbau amis dan aku tidak bisa melihat wajah nya karna tertutup benda hitam, entah apa itu.
*FLASHBACK
Akhirnya aku sampai di sumur belakang sekolah, Max dan yang lain menyuruh ku untuk melanjutkan ini sendiri karna "Ini kan uji nyali jadi harus sendiri" ucap Max.
Pencahayaan di sini sangat gelap, bahkan cahaya bulan pun tertutup oleh pohon-pohon yang berada di belakang sekolah ku, menambah kesan horor di tempat ini.
Apa yang aku harus lakukan ya? oh memfoto tempat ini mungkin cukup untuk menjadi bukti bahwa aku sampai di sumur belakang
Aku merogoh hp yang berada di kantung baju depan ku, ku ambil lalu ku foto. Aman tidak ada hal yang mencurigakan sejauh ini, tiba-tiba
/pluk
Senter ku terjatuh dan cahayanya kian meredup, semakin meredup dan menghilang, gelap, itulah yang kurasakan sekarang. Aku berjongkok mencoba meraba-raba di mana letak senter ku terjatuh
Aku merasa kulit tangan ku mulai meraba sesuatu tetapi sepertinya bukan senter yang ku bawa tadi, melainkan...sebuah tangan...?
Cahaya senter ku mulai menyala sedikit demi sedikit, sekilas aku melihat bayangan tinggi besar menyeramkan dengan bau anyer yang menyengat hidung ku.
"Huaaa hiks hiks"
"Arrghh"
"Kihihihi"
Suara-suara aneh nan mencekam mulai terdengar membuat nyali ku sedikit menciut, aku mulai berjalan sedikit lebih cepat dari biasanya berusaha menjauh dari suara tangisan, desahan kesakitan, teriakan dan cekikikan yang di dominasi oleh suara wanita.
Di depan ku sudah terlihat cahaya lampu remang-remang, ya sepertinya mereka adalah Max dan yang lain
"Woii Abi...cepetan dingin nih" keluh Luke
Tanpa banyak basa-basi aku langsung menyodorkan handphone ku kearah mereka bertiga. "Nih bukti kalo gua udah selesain tantangan dari kalian" ujar ku.
Sasa mengambil handphone ku dan seketika ia terbelalak menatap layar ponselnya, kenapa? apa karna ponsel milik ku tak sebagus punya mereka kah? entah lah
"ABI... ITU APA YANG BERDIRI DI SAMPING SUMUR?" tanya Sasa ngegas
Karena penasaran aku dan yang lain pun mulai menilik ke arah layar ponsel dimana terdapat foto sumur yang ku foto beberapa saat lalu. Aku, Max dan Luke terbelalak ketika melihat sebuah bayangan besar berdiri sangat jelas di samping sumur tua itu, bahkan Max hampir melempar ponsel ku.
"Eh onyon lu, hp gua nih" keluh ku
Duk
Dukk
Dukk
Suara hentakan kaki keras menghampiri kami berempat dan sontak saja kami semua lari kocar-kacir sembari membaca surah-surah pendek yang ku hafal.
*FLASHBACK OF
Aku jadi teringat kejadian malam itu, aku menghela napas berat sembari melihat jam yang terpajang di dinding kamar ku. 02.28. Aku kembali tidur
Baru Lima menit aku tertidur, aku malah kembali terbangun. Sayup-sayup ku buka mata ku yang masih merasakan kantuk, namun tiba-tiba...
"Ugh"
Badan ku terasa tertindih oleh sesuatu atau mungkin lebih tepatnya seseorang yang sedang menindihku. Sesak...aku sukit bernapas... leherku terasa sedang di cekik
"Arrghh"
Tolong...siapa saja tolong aku. Aku mulai menitikan air mataku, sakit rasanya seperti aku sedang berada di ujung maut.
Badan ku terhempas dengan keras hingga menghantam lemari pakaian ku yang terbuat dari kayu, tentu saja rasa sakitnya bukan main.
Seorang pria menyeramkan mulai mendekati ku, ya sekarang aku ingat...aku ingat kalau pria ini adalah bayangan yang berada di dalam ponsel ku waktu itu...ya benar tidak salah lagi.
"Matii kauu..." ucap nya dengan suara serak
Pria itu mengambil kursi kecil yang biasa ku gunakan untuk belajar di kamar, Semakin dekat dan semakin dekat dia dengan ku
Bergeraklah ayo bergerak lah tubuh ku...
"Arghh"
Mual...perasaan itu yang ku rasakan kini, jantung ku tidak memompa darah dengan semestinya, adrenalin ku berpacu cepat hingga
Bukk
Kaki nya menginjak tubuh ku yang terkulai lemah di lantai, di angkat nya tinggi-tinggi kursi yang tadi ia bawa dan
Buk
Bukk
Bukkk
Dihantam nya kepalaku menggunakan kursi tersebut hingga aku merasa cairan kental berwarna merah mengalir keluar dari kulit kepala ku.
Ya Allah bantulah aku...bantulah aku mengalahkan pria ini, jangan biarkan aku mati di sini. Aku mulai melantunkan ayat kursi di dalam batin ku sembari memejamkan mata
Hingga tanpa terasa pukulan itu mulai menghilang sedikit demi sedikit dan
Aku terbangun dari atas tempat tidur ku, napas ku terengah-engah bukan main, dada ku sesak. Ya Allah apakah benar tadi itu hanya sebuah bunga tidur?
Untuk memastikan nya aku mulai meraba kepala ku sendiri, terasa sakit dan ngilu. Darah...kulit kepala ku berdarah, berarti tadi itu tidak mungkin hanya sebuah bunga tidur biasa saja kan?
Ya Allah jauhkanlah aku dan keluargaku dari segala macam mara bahaya. Ini mungkin saja peringatan agar aku tidak pernah mengganggu ketenangan siapa pun, mau itu yang terlihat atau pun yang tak terlihat.
oke selesai, sekian
TAMAT