Suamiku, nyaris melupakanku. Tiga puluh menit waktunya sejak bangun pagi, ia habiskan bersama Kitty. Satu-satunya sumber pertengkaran kami.
Kuhentakkan kaki, melangkah kesal menuju teras, jengah mendengar kikiknya ketika menerima elusan kasar si Kitty.
Lantunan Whats poppin dari Jack Harlow, mangacau imajinasiku. Jalang berambut gelap itu, sekarang juga sedang bergelung di kasurku. Sialan!! Jari-jariku makin erat mencengkram ponsel yang masih menyanyi nyaring.
Dalam beberapa detik, tubuhku sudah kembali berada di depan pintu kamar kami. Kubanting keras daun pintu kayu itu ke dinding. Walau posisinya sudah terbuka sejak tadi, namun tetap bisa menimbulkan deram yang membuat si Kitty sialan, langsung menghambur terjun ke lantai.
"Kapan sih, kamu punya waktu untuk mikirin urusan kita?!" Dadaku naik turun dengan cepat. Ada sesuatu yang ingin meledak dari dalam.
"Apa sih? Bicara biasa aja, bisa gak, Kamu? Dia bisa stress, lho, dengerin kamu teriak-teriak gitu." Ucapnya, sambil memandangi Kitty. Lalu, Dante malah bangun dengan santai. Melangkah juga dengan santai, ingin meraup kembali kucing hitam sialan itu, ke pangkuannya.
"Dante! Bahkan pikiranmu gak ada yang lain selain kucing kampung sialan itu!" Kuhalau kucing sialan itu dari kamar. Ditambah bonus belaian kesal, dari tumitku.
"Mir! Pake otak gak sih, Kamu? Binatang gak tau apa-apa kamu tendang!!" Dante lari keluar ingin mengejar si Kitty buluk itu. Tentu saja langkahnya kucegat. Kuhadangkan tubuh tepat didepan badannya yang urung melangkah.
"Keluar kamu sekarang, bubar urusan kita!!" Kutantang matanya lekat-lekat.
Manik hitam itu memancarkan aura menantang perang. Dugaanku meleset jauh. Seharusnya dia melunak setelah kalimat ancamanku. Harusnya dia menyelamatkan hubungan dan perasaanku dibanding binatang sialan itu. Tapi, sebaliknya. Pandangan tajam itu mulai berapi.
"Mir, kalau kamu ngerti agama, setidaknyo kamu tahu, nyakitin Kucing itu dosa!" teriaknya tak kalah kencang.
"Bullshit, Dante!! Pengetahuan Kamu tentang agama hanya sebatas miara kucing kampung. Kalau kamu ngerti agama, setidaknya kamu tahu, kalau Istri itu lebih berharga dari BINATANG apapun!!"
"Kamu yang duluan cari gara-gara!" Ditudingkannya telunjuk tepat di keningku.
"Kalau kamu gak ngusir Kitty tidur ke teras semalam, aku gak bakalan cuek kayak gini!" teriaknya.
"Harusnya Kamu ngerti, suami sialaan...! Aku gak bisa deket-deket kucing. Kamu gak lihat aku bersin-bersin tiap ketemu bulunya dipojok-pojok rumah ini, hah??!" Kusejajarkan mulutku ke telinganya, agar dia mengerti sedikit kesusahanku selama ini.
"Aalahh.. Kamu parno aja. Kalau udah benci, ya bersin. Makanya, hati jangan terlalu busuk. Hilangkan kebencian sama kucing. Gak bakal bersin lagi, Kamu tu!"
Dengan jawaban simpel versi akal pendeknya, dia tanggapi keluhanku.
Setelah penuturan tak bergunanya itu, dia melenggang menuju dapur. Sudut mataku yang masih panas, mengekori langkahnya. Yah, suami sialan itu malah membuka lemari dapur, dan mengambil wadah lauk kesukaanku. Rendang tongkol kiriman Ibu, yang tinggal satu potong. Sudah kutebak di perut siapa ikan itu akan berlabuh.
"Jangan seenaknya, Dante!" Tuturku sambil berlari menuju dapur.
"Itu makanan kesukaanku. Tak akan kubagi dengan manusia, apalagi Binatang. Berhenti berbuat semena-mena!" Kuteriaki dia, sembari melepaskan emosi yang sudah menggunung.
Kurebut mangkok plastik mahal itu dari genggamannya. Kubawa kotak makanan itu menuju ruang tengah. Lebih bagus dikunci sekalian, biar aman. Suamiku itu masih ngomel-ngomel di dapur. Masih kudengarkan, sambil melangkah.
"Orang pelit, mati aja." Darahku berdesir mendengar gerutuannya.
Spontan, kakiku berbalik arah.
"Kamu ngomong apa?!" cecarku sembari berjalan mendekatinya.
Dia diam. Tapi romannya tetap, merah padam.
"Dante! Kamu ngomong apa barusan??!"
"Tega ya, Kamu nyumpah-nyumpahin aku gara-gara kucing sialan itu." Kuseka ujung mata dengan punggung lengan tanganku.
Terasa ada cairan hangat keluar dari sana. Tak kusangka, dia lebih memahami keadaan kucing liar hasil pungutan dari jalan, daripada aku, istrinya.
"Bisa nangis Kamu? Kan gak punya hati."
Seenaknya saja dia ngatain aku tidak punya hati, cuma gara-gara tidak bisa toleransi dengan piaraannya. Dia yang tidak punya perasaan, malah sembarangan mengatai orang lain.
Tak tahan dengan sikapnya, aku bergegas mengambil kunci motor di laci lemari kamar. Dengan emosi yang makin memuncak, akan lebih baik jika aku menjauh dari suami tak tahu diri ini. Setengah berlari, aku sampai di garasi, lalu mendorong kasar motor keluar garasi. Dia mengejarku, dan menghadang jalan tepat saat motor sudah ku starter.
"Minggir!!"
"Kamu mau kemana?"
"Bukan urusan Lo. Mulai sekarang, Lo idup aja sama kucing." jawabku dingin.
Tidak ada guna lagi menarik urat leher dengan laki-laki ini. Sudah kuputuskan untuk tidak berurusan lagi dengannya mulai hari ini.
"Minggir, Dante!" Sengaja ku tarik kasar pedal gas motor, agar dia tidak lagi menghalangi jalanku.
"Pergi dari sini, mati kamu Miriam." ucapnya. Pelan, tapi tajam. Sambil menuding lagi keningku.
Aku diam saja. Sehari ini, sudah tiga kali dia menyumpahi kematianku, hanya gara-gara kucing sialan itu. Tetap kujalankan motorku, sehingga dia sendiri yang memberiku jalan. Masih sempat dia sekali lagi, meneriakkan sumpah serapah, untuk melepas kepergianku.
"Biar mati kamu di jalan, Miriam!" teriaknya lagi.
Tak kuhiraukan.
Ternyata seperti ini watak aslinya yang belum kelihatan. Dua tahun pernikahan kami, satu demi satu tabiat buruknya keluar, bergantian. Tentunya, disetiap masalah, hanya diawali urusan kucing, kucing, dan kucing yang akhirnya menyebabkan pertengkaran. Dan setelah itu, hal-hal busuk akan banyak keluar dari mulutnya.
Tujuanku satu-satunya, rumah Ibu. Jarak lima belas kilometer, mengemudi motor dalam kondisi kacau, mengharuskan untuk istirahat sebentar. Aku berhenti di pertengahan perjalanan. Duduk di halte, tepi jalan. Sambil berusaha menetralisir emosi.
Merenung sendirian, terbit rasa menyesal, kenapa aku belum juga sempat belajar menyetir. Padahal, mobil kami baru bulan kemaren diganti dengan yang baru. Seandainya bisa mengemudi mobil, aku gak akan kepanasan di jalan seperti sekarang.
Teringat mobil, pikiranku menerawang ke harta benda kami. Di awal pernikahan, aku memutuskan resign dari tempat kerja lama. Berbekal pesangon dan tabungan, kucoba membuka usaha jual beli sayur mayur. Mengikuti jejak Bapak. Aku memasok kebutuhan sayur mayur ke beberapa kabupaten tetangga. Hanya selang tujuh bulan, usahaku telah menampakkan hasil. Bahkan modal awal yang kukucurkan, sudah balik dua kali lipat.
Dante tergiur melihat keberhasilanku. Ditambah dengan tekanan kerja yang dia terima di perusahaan lamanya, ia memutuskan resign juga. Dan bergabung denganku. Tanpa keluar modal. Tanpa merintis usaha. Dia langsung mendapatkan enaknya jadi pengusaha. Gak mungkin aku meninggalkan itu semua, untuknya.
Setidaknya, setengah dari harga mobil, rumah beserta tanah, dan usaha kami, itu adalah milikku. Rumah itu kami bangun diatas tanah pemberian Bapak. Dana pembangunannya juga dari Bapak, yang kuanggap sebagai pinjaman, walaupun beliau telah merelakan untukku. Semua yang sempat ingin kutinggalkan tadi, itu hasil jerih payahku.
Harusnya dia yang keluar dari rumah itu. Memang, dia membantuku menjalankan usaha dagang kami. Namun, di setiap bulannya, ia selalu menagih gaji, yang nominalnya dia tentukan sendiri. Dia habiskan juga sendiri. Untuk macam-macam keperluan yang aku tidak tahu. Suami macam apa itu? Sungguh tidak layak lagi, untuk dipertahankan. Hanya sedikit sekali hal-hal membanggakan yang ada padanya.
Akhirnya, setelah istirahat dan merenung, kuputar lagi arah laju motorku. Bukan perilaku terpuji, menghempaskan masalahku, ke Ibu Bapak. Mereka sudah cukup lelah mengurusku sedari kecil.
Ini bukan lagi tanggungjawab mereka. Aku kembali ke rumah. Ya, rumahku tepatnya. Akan kubuat perhitungan setelah tiba nanti. Akan kuntunjuki dia, siapa yang seharus berkuasa di rumah itu. Dan tentu saja, hubungan kami akan selesai setelah ini.