Rendi melihat sekumpulan orang memakai udeng-udeng khas banten di kepalanya yang hendak menghampiri dan menginterogasi dirinya. Disaat salah seorang mulai berbicara, mulut Rendi menjadi kelu. Rendi layaknya tersangka dalam sebuah persidangan. Apakah yang sebenarnya terjadi?
"Rendi…!!! Ren… loe kenapa Ren…!! Istigfar Ren," Teriak Adit pada sahabatnya itu.
Arrgghhh….!!!
Rendi justru mengaung layaknya harimau yang hendak menerkam mangsanya, dia menggarukan tangannya pada tanah yang dipenuhi semak belukar, matanya mendelik dan terus berputar.
Melihat hal itu, Putra, bagas, karim dan Rangga yang tengah sibuk mengamati sekitae akhirnya menghampiri mereka berdua.
"Bro… tolong gue bro…!! Si Rendi kenapa tuh!" Ucap Adit lagi.
Rendi justru semakin mengamuk bak harimau yang ingin menerkam mangsanya… sambil mengeratkan giginya. Para sahabatnya kemudian membacakan ayat kursi, Rendi mukai melemah dan berteriak keras kemudian pingsan.
Karim bergegas mencari bantuan, ia menengok di sekeliling hanya lah semak belukar dan kebun kelapa, tak nampak ada ada rumah warga. Aneh tapi nyata Karim yang sebelumnya tidak melihat adanya kehidupan atau pun rumah warga tiba-tiba saja melihat adanya sebuah rumah yang terang benderang dari kejauhan, Ia pun mengajak sahabatnya itu kesana dan membopong Rendi bersama-sama. Sementara kendaraan di tinggalkan begitu saja, karena lokasinya pun tak begitu jauh, dan masih bisa terlihat dari rumah yang di tuju.
Bro… itu lihat disana, ada rumah deh kayaknya, teriak Karim sambil menunjuk kearah yang di lihatnya… ayo bawa si Rendi kesana. Mereka pun akhirnya menggotong Rendi menuju rumah tersebut.
"Assalamualaikum. Ucap mereka berbarengan di depan pintu rumah tersebut.
"Waalaikum salam," jawab lirih dari penghuni rumah
Rupanya penghuni rumah ini adalah seorang kakek tua. Ia berjalan keluar rumah dan menyambut kehadiran Putra dan teman-temannya itu. Kakek tuabitu bertubuh kexil, dengan tinggi sekitar 150cm, berambut putih dan berjenggot panjang. Wajahnya putih berseri.
"Ada apa anak muda?" Ucap kakek tua itu
"Begini kek, saya mau minta tolong, teman saya pingsan kek, boleh kami menumpang beristirahat sejenak disini kek? Karena dari tadi kami lihat disini jauh dari rumah penduduk," ucap Putra.
"Silahkan, mari silahkan duduk," ucap si kakek tua.
Ia menggelarkan sebuah tikar pandan di teras depan rumahnya untuk membaringkan Rendi yang tengaj pingsan. Dan membuatkan minuman untuk semuanya.
"Silahkan nak di minum," ucap si kakek tua itu mempersilahkan semuanya minun
Karena kelelahan dan masih tegang atas kejadian tadi, mereka langsung meminum air yang di suguhkan.
"Terimakasih banyak kek, maaf merepotkan," ucap Putra mewakili sahabat-sahabatnya.
"Kenapa teman mu ini nak? Tanya si kakek tua itu.
"Kami tidak tahu kek, tadi kami hendak pulang, namun kami tersesat dan berputar beberapa kali di tempat yang sama, sampai akhirnya kami berhenti sejenak, Rendi sih tadi bilangnya ingin buang air kecil, setelah itu kami mendapati dia seperti seekor macan kemudian jatuh pingsan," tutur Putra menceritakan kejadian.
Si kakek hanya mengangguk mendengarkan penuturan Putra.
Tak berapa lama Rendi bangun dan matanya langsung melotot seperti orang ketakutan, Rendi berteriak-teriak meminta maaf dan terus saja memberontak.
"Pegangi tangan dan kakinya," Perintah si kakek
Putra, bagas, karim dan rangga memegangi tangan dan kaki Rendi sementara Adit terus saja memanjatkan do'a melihat sahabatnya seperti itu.
"Baca al-fatihah nak, doakan teman mu ini, kakek akan bantu sebisa kakek," ucap kakek tua itu
Mereka pun memanjatkan do'a untuk kesembuhan Rendi yang terus saja mengamuk
Kakek tua itu mulai memegang kepala Rendi dan memanjatkan do' a sambil memijat kepala Rendi setelah hampir 20 menit akhirnya Rendi mulai tenang dan sadarkan diri, sementara si kakek terus memijit bagian kepala dan tengkuk leher Rendi.
"Saya dimana?" Tanya Rendi yang mulai kembali ke alam sadarnya.
"Jangan takut nak, kamu aman disini, istigfar nak" jawab si kakek.
Rendi mulai beristigfar dan setelah benar-benar sadar, rendi diberi minum dan duduk.
Setelah keadaan cukup kondusif, Putra mulai menanyakan kejadian yang menimpa Rendi.
"Ren, tadi loe kenapa?" tanya Putra
"Kepala gue pusing Put," imbuh Putra.
"Istirahat saja dulu nak!" seru kakek tua
Rendi yang masih lemah belum mampu menceritakan kejadian yang menimpanya kembali merebahkan badannya.
"Kalian darimana mau kemana, nak?" Tanya kakek tua itu.
"Kami dari Bogor kek, kami bermaksud liburan , kami tiba disini tadi malam, kami mendirikan tenda di pinggir pantai, siangnya kami bermain di pantai, dan sore tadi sekitar ba'da ashar kami jalan pulang, tapi kami tersesat kek, kami hampir 3 kali berputar di tempat yang sama," ucap Putra.
"Oh... begitu ceritanya," sahut si kakek, sambil menganggkukan kepala dan menyisir jenggotnya yang berwarna putih dan panjang.
"Nak, kakek berpesan pada kalian, jika kalian berkunjung ke tempat baru yang tidak kalian tahu, jaga kelakuan kalian, pikiran, dan etika kalian, jangan sampai menyinggung penghuni yang ada di tempat tersebut," nasehat si kakek. sinkakek pun memberikan nasehat dan banyak ilmu agama. Kejadian mencekam pun mulai dilupakan, mereka larut dalam obrolan dengan si kakek.
Bagas mulai memperhatikan rumah si Kakek
Rumah yang modern untuk lokasi di pesisir pantai seperti ini, lengkap dengan peralatan listrik pula. eh itu juga ada tv, sinetron lagi yang di setel. hihihi...! gumam Bagas dalam hatinya
Bagas melihat jam dinding klasik, ia menyamakan jam dinding dengan jam tangan yang di pakainya, ia melihat waktunya sama pukul 19.00. Mata bagas tertarik pada tempelan gambar yang dipasang di dinding, ia melihat poto walisongo serta tulisan kaligrafi arab yang bertulisakan tubagus muhammad, belum sempat ia membaca lengkap, adit memangil bagas.
"Gas, motor kita masih di sana," ucap adit.
"ehh iya Dit, karena panik kita sampai ninggalin motor ya," ucap bagas.
"Yaudah, kita ambil motor dulu yuk, kita bawa kesini," ajak Rangga yang sedari awal hanya diam.
Ketiganya akhirnya mengambil motor. Sementara Rendi, Putra dan karim menunggu di rumah si kakek sambil melanjutkan obrolan.
Karim yang lulusan pesantren sangat nyambung mengobrol dengan si kakek, banyak sekali ilmu agama yang di ajarkan oleh si kakek, dalam perbincangan, si kakek mencampur dengan bahasa sunda, sampai akhirnya obrolan meraka pun terhenti karena kedatangan ketiga sohibnya yang membawa motor. Sementara si kakek izin kedalam untuk mengambil sesuatu.
Saat itu juga lewat dua orang nelayan yang hendak mencari ikan. Mereka membawa karung dan senter. Jarak dua nelayan itu hanya 200meter dari tempat Rendi dan sahabatnya duduk. Tiba-tiba saja kedua nelayan itu menatap aneh pada mereka dan menyenteri muka mereka satu persatu dengan senter, padahal jelas-jelas rumah si kakek sangat terang dengan lampu listrik yang menyala.
Putra menyapa kedua nelayan itu
"Punten, kang," ucap Putra sambil menundukan kepalanya tanda menghormati.
"hayang naon a di dieu?" Ucap salah satu nelayan sambil terus menyenteri muka mereka satu persatu, seolah-olah wajah mereka tidak terlihat dan sedang berada di tempat gelap.
"Ieu kang, kita mau pulang, lagi numpang istirahat dulu sebentar," sahut putra.
"Oh kitu…! hati-hati a..!" sahut nelayan itu dan berlalu meninggalkan mereka. Namun nelayan itu terus menoleh kearah putra dan teman-temannya sambil terus menyenteri mereka.
Perasaan aneh kembali dirasakan semuanya, mereka pun mulai melirik satu sama lain, bulu kuduk mereka mulai merinding dan memperhatikan rumah si kakek.
Kemana si kakek? Tanya mereka semua dalam hati, jangan-jangan si kakek itu bukan manusia, pikiran yang sama pada keenam sahabat ini.
"Nah… ini minyak olesnya, ucap si kakek keluar dari dalam rumahnya..
Huuhh…!!!
Semuanya membuang nafas panjang secara bersamaan.
"Ini minyak olesnya, silahkan dibawa pulang, kalau nanti temanmu sakit lagi," imbuh si kakek.
"Terimakasih banyak kek, mohon maaf sudah merepotkan kek," sahut Putra dan menerima minyak pemberian kakek itu.
"Terimakasih banyak atas ilmu dan wejangan yang kakek berikan kepada kami kek," ucap Karim
"Iya sama-sama nak, lain kali kalau kalian main kesini, kalian tidak akan menemukan tempat ini lagi," ucap si kakek.
Mereka semua terdiam mendengar pernyataan si kakek dan kembali merinding.
"Kek, sudah malam, kami mohon izin pamit ya, terimakasih banyak atas bantuan kakek," ucap Putra.
Mereka pun akhirnya berpamitan dengan si kakek, adit berboncengan dengan Rendi dan Putra, karena Rendi masih lemas dan takut terjatuh dijalan, jadi mereka di tumpuk tiga, Bagas berboncengan dengan karim dan rangga naik motor sendiri.
"Hati-hati nak, jangan lupa untuk tidak meninggalkan shalat. Kalian tidak akan menemukan tempat ini lagi," ucap si kakek dalam bahasa sunda.
Sementara mereka hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya tanpa memperdulikan kembali ucapan terakhir si kakek.
Baru berjalan 500meter, mereka menoleh kearah rumah si kakek, namun rumah tersebut sudah tidak nampak, padahal harusnya rumah itu masih terlihat oleh mereka di jarak yang tidak terlalu jauh ini
Bulu kuduk mereka kembali berdiri, namun mereka melanjutkan perjalanan dengan beristigfar semampu mereka agar perjalanan pulang di lancarkan.
Bersambung ....