Dahulu kala ada sebuah kuil yang melarang melukiskan para kepala kuil, tetapi orang-orang tetap melukisnya meskipun sudah dilarang ribuan kali. hingga pada lukisannya yang ke tiga lukisannya berubah menjadi hitam pekat dan memiliki lubang yang besar seketika itu juga kepala kuil menghilang. akhirnya pelukis tersebut di bunuh oleh para pengikutnya. isi perutnya di keluarkan matanya di keringkan dan di simpan di suatu tempat di kuil sedangkan tubuhnya menjadi hidangan bagi mereka. entah mengapa semua para pengikut kepala kuil yang begitu taat itu menjadi menggila hingga pada akhirnya mereka menghilang dengan sendirinya.
Ratusan tahun berlalu fakta tentang cerita itupun menghilang dan tidak ada satupun orang yang mengetahui tentang menggilanya para pengikut kepala biksu itu.
Begitulah ceritanya. namaku Ron, Ronaldo Leo. aku memiliki seorang kakak yang seorang sejarahwan tetapi ia sudah meninggal ketika ia akan meneliti sebuah bangunan bobrok di gunung dan di tengah hutan itu. ia terkena kanker tulang stadium akhir, dari dahulu sepertinya ia menyembunyikan penyakitnya itu dengan kamera yang ditinggalkan oleh kakakku aku akan meneruskan penelitiannya, walaupun aku ini hanya seorang fotografer amatir.
"Hei, kau. sedang apa kau melamun melihat kamera itu."
seorang pria yang sebaya denganku yang memanggilku itu adalah Evan. dia adalah asisten ku saat aku bekerja di kantor fotografer kecil itu sebelum akhirnya mereka bangkrut. rambut coklatnya dan mata lelahnya, selalu saja mengejek karyaku meskipun begitu ia tetap setia menemani ku mengambil potret potret pemandangan yang bagus.
"Aku ingin mencoba memotret kuil yang sedang di teliti oleh kakakku." aku mengajaknya dalam meneruskan apa yang kakakku tidak bisa selesaikan mungkin akan lebih baik dibandingkan jika aku sendirian.
"Kau penasaran dengan kuil itu? Ayolah kau selalu memotret alam, apa kau bisa lebih berkembang dengan memotret seorang model?"
ia menggerutu, terlihat jelas bahwa ia sangat bosan dengan apa yang aku lakukan selama ini. aku masih belum mengerti jika ia bosan ia bisa saja menjadi asisten fotografer yang lain dan menjadi terkenal bersama fotografernya itu.
"Ide mu tidak buruk, aku akan melakukannya ketika aku sudah mengunjungi kuil itu." aku menepuk bahunya yang lebar, ia sangat tinggi daripadaku tingginya sekitar 185 cm, sedangkan aku 180 cm. walaupun hanya berbeda lima sentimeter saja aku masih harus mennanggahkan wajahku ketika aku melihatnya.
"Oke, aku akan menemanimu tetapi kau harus janji kau akan mulai memotret seorang model." ia berkata sambil merajuk seperti anak kecil. umurnya memang sangat muda daripada aku. umurku masih 20 tahun sedangkan ia berumur 19 tahun. aku hanya mengumpulkan bakat ku ketika aku masih dalam ekstrakulikuler di sekolah.
pagi hari aku berjanji dengan Evan menemuinya di depan halte bis. tetapi setelah menempuh setengah perjalanan menuju halte aku harus kembali lagi ke rumah karena kamera kakakku sepertinya tertinggal di dalam rumah ketika aku selesai sarapan pagi.
aku mengambil kembali kamera kakakku dan kembali berlari menuju halte. di depan rumahku aku menemukan sebuah kertas yang ditulis dengan tulisan merah seperti darah. tulisan itu bertuliskan "Berhentilah menjadi Fotografer." aku menghiraukan tulisan itu karena aku yakin tulisan itu berasal dari haters atau seseorang yang iri denganku.
aku kembali menuju halte bis dan terlihat Evan yang sudah menungguku cukup lama itu menyilang kan kedua tangannya. wajahnya menunjukan ekspresi kesalnya. aku yang melihatnya merasa terhibur ia seperti anak kecil yang sedang marah pada kakaknya.
"Maaf aku terlambat, kameraku tertinggal." aku meminta maaf padanya sambil menggenggam tangannya memberikan beberapa permen rasa anggur kesukaannya.
"Apa kau tahu kita harus menunggu bis berikutnya sekitar setengah jam lagi." ia marah tetapi masih menerima permen yang aku berikan padanya. ia memasukan permennya kedalam saku kemudian kembali duduk di halte bis itu.
"Sepertinya aku mulai terkenal." aku mengatakannya tanpa berpikir panjang pada Evan, mata Evan terlihat terbelalak kaget dengan apa yang aku katakan.
"kau itu aneh, mereka bukan fansmu mereka itu kaum yang suka menghujatmu. orang-orang pikir karyamu itu jiplakan atau apalah mereka tidak mengerti kau sudah berusaha dengan keras. orang-orang itu hanya tau berkata kasar saja. karena itulah ibuku melarang ku memakan makanan yang pedas agar tidak seperti mereka."
sepertinya rasa keadilannya sangat tinggi. ia sangat penurut terhadap ibunya. kukira selama ini ia tidak memakan makanan pedas karena ia tidak tahan rasanya. ternyata ibunya mengajarkan hal yang seperti itu, bagus juga. tetapi ia memakan makanan yang manis-manis pun kata-katanya tidak pernah manis. aku juga khawatir dengannya yang bisa terkena diabetes.
aku menceritakan tentang kakakku yang sangat tertarik sekali dengan sejarah bahkan buku semahal apapun ia akan membelinya dengan bekerja paruh waktu ketika akhir pekan, kakakku adalah seorang pekerja keras sejati. aku sangat iri dengannya, walaupun ahli sejarahwan tidak terlalu dihargai ia tetap menjalaninya.
tidak terasa kami mengobrol akhirnya bis yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang. kami pun bergegas naik bis itu. saat didalam bis kami tertidur pulas. akhirnya supir itu membangunkan kami karena kami telah sampai di rute terakhir tempat tujuan kami.
tempat yang kami kunjungi benar-benar indah aku tidak bisa berhenti memotretnya. bahkan setiap satu meter langkah ku aku tidak berhenti memotret pemandangan indah gunung ini. benar-benar keajaiban yang tidak terduga.
matahari sudah benar-benar diatas kepala. aku dan Evan memilih untuk bersandar di pohon besar sambil menyantap makan siang kami. kami saling berbagi satu sama lain apa yang kami bawa.
"Wah, ini luar biasa. jika dijadikan objek wisata pasti banyak yang berkunjung kemari." Evan mengatakan hal yang sama dengan isi pikiranku. tetapi aku tidak mau tempat ini tercemari oleh para wisatawan yang suka merusak alam kita.
"Aku tidak setuju, para wisatawan itu akan merusak pemandangan ini jika dijadikan objek wisata seperti itu." aku mengemukakan pendapat ku pada Evan agar tidak memberitahukan pada siapapun tentang tempat ini.
kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju kedalam hutan yang lebat ini, kami menandai setiap jalan yang kami tempuh dengan cat khusus yang bisa menyala ketika gelap. akhirnya kami menemukan kuil yang kakakku ceritakan dengan mengikuti petunjuknya.
kuil yang sangat cantik, bagus jika diabadikan dalam sebuah foto. aku pun memasuki kuil itu disana benar-benar gelap sehingga kami menyalakan sebuah lampu senter yang kami bawa.
aku melihat jam di jam tanganku menunjukan pukul tiga sore ini masih belum terlalu sore menurutku, kami akan pulang pukul lima sore ketika kami berhasil mengambil banyak sekali gambar didalam kuil ini.
kami juga harus mencari tahu sejarah kuil ini untuk membantu penelitian kakakku. aku mengambil gambar setiap ujung kuil itu. di tengah persembahan aku melihat sebuah kotak yang terbuat dari logam yang sangat berat sekali.
ketika aku membuka kotak itu, ada sebuah bola ketika aku terangi dengan lampu senter ternyata itu adalah dua pasang bola mata. dua pasang bola mata itu seolah-olah melihatku. aku tersentak dan melemparkan kotak itu. tiba-tiba saja aku gemetaran dan berkeringat dingin.
seseorang berbisik "Lihat di sekelilingmu." aku pun melihat sekeliling ku, banyak sekali orang-orang yang sedang menatapku. banyak sekali. semua orang menatapku dengan tatapan matanya yang berwarna merah. sebelum akhirnya aku terbangun.
Aku sudah berada di rumah? bagaimana bisa apa yang terjadi padaku ketika di kuil. aku mencari kamera kakakku dan semua potret yang ada di kuil itu hanya potretan gelap saja. aku pikir aku lupa menyalakan lampu kameranya.
mimpi itu sangat mengerikan sebaiknya aku berhenti dari penelitian kakakku. aku harus menempati janji pada Evan untuk memotret seorang model. aku meraih ponselku dan menelepon Evan.
"Evan, aku ingin berbicara denganmu." suara Evan terlihat parau. apakah ia memimpikan hal yang sama denganku. atau terjadi sesuatu di kuil itu.
Aku bersiap siap dan segera bergegas pergi menemui Evan di rumahnya. Sampai disana aku melihat orang tua Evan berada di depan rumahnya. Itu kebetulan sekali aku tidak perlu mengetuk pintu rumahnya.
"Tante! Evannya ada?" Aku bertanya pada ibunya Evan tetapi ia tidak juga merasakan kehadiranku. Apa terjadi sesuatu.
"Oh nak Ron, ya? Masuk Evan masih belum bangun. Maaf ya Tante ga bisa ikut kepemakaman Rose." Ia meletakan sapunya dan mengantarku masuk kedalam rumahnya.
"Oh ternyata ini ya, anak yang membuat anakku menjadi sesat." Terdengar suara berat dari orang yang sedang membaca koran dan menyeruput sebuah kopi panas.
"Maaf om Evannya ada?" Aku tidak tahu kenapa tidak seperti biasanya om Erfan tidak senang melihatku. Padahal dahulu ia sering menceritakan tentang persebak bola kesukaannya bersamaku.
"Lihat saja sendiri ke kamarnya." Om Erfan menyuruhku langsung ke kamarnya Evan, sepertinya ia tidak terlalu kesal denganku.
"Kalau begitu permisi om, maaf menganggu." Aku langsung pergi ke arah pintu kamar yang ditunjukan oleh om Erfan. Sepertinya kamarnya pindah dari biasanya. Apa yang terjadi padanya.
"Van? Kau disini?" Aku pun membuka pintunya perlahan. Terlihat Evan yang masih tertidur pulas di atas ranjangnya. Sepertinya ia tidur di kamar orang tuanya apa ia mimpi buruk dan tidur dengan kedua orang tuanya? Padahal tubuhnya lebih besar dariku tetapi sikapnya masih saja kekanak-kanakan.
"EVan! Van..Evan bangun! Sudah siang loh." Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya. Tetapi ia tetap saja tidak bangun, sepertinya ia tidak tidur semalam karena mimpi buruk itu. Tunggu dulu jika itu mimpi mengapa aku menyimpan banyak sekali foto gelap di dalam kamera kakakku.
Evan pun terbangun. Melihatku dengan tatapan bingung. Nampaknya ia belum sepenuhnya mengumpulkan nyawanya yang bertebaran saat tertidur. Selang beberapa menit ia memegang pundak ku dengan keras. Sekali terlihat wajahnya yang sangat mengkhawatirkanku.
"RON! KAU BAIK-BAIK SAJA?" Ia terus menggoyangkan tubuhku sampai badanku terasa sakit karena cengkraman tangannya.
"Apa yang terjadi?" Aku harus menanyakan apa yang terjadi setelah kami masuk kedalam kuil itu.
"Ron, jangan lagi kekuil itu. Kuil itu sangat berbahaya." Keringat dinginnya terlihat banyak hampir membanjiri tubuh besarnya itu, matanya tidak berhenti melihat kekanan dan kekiri seperti memastikan disekelilingnya.
"Bagaimana kita bisa pulang dengan selamat?" Aku masih penasaran bagaimana caranya aku bisa kembali ke rumahku dengan selamat. Apa yang terjadi sebenarnya.
"Kau memakan kedua bola mata itu dan kita bisa keluar dari hutan. Bagaimana kau tahu jika memakan bola mata itu kita bisa keluar dan oh ya satu lagi kau terus mengucapkan lonceng, suara lonceng, setelah itu kau pingsan." Ia menceritakannya begitu detail dan singkat.
"Aku tidak ingat apapun. Tapi foto-foto ku semuanya menjadi hitam." Aku pun menunjukan kameraku pada Evan semua gambar yang aku ambil kemarin semuanya menjadi hitam.
"Tentu saja saat itu kau tidak menyalakan lampu kameranya, kupikir lampu kameranya rusak karena itu milik kakakmu." Evan tidak mengatakan apapun tentang apa yang ada di dalam kuil itu. Jadi kupikir semua yang kulihat hanya bayanganku saja.
"Sebenarnya aku kesini mau membicarakan janjiku tentang menjadi fotografer seorang model." aku langsung membicarakan inti pembicaraan yang hendak aku sampaikan pada Evan.
"Sungguh kau ingin melakukannya?" dia tampak meragukan ku mata dan tatapannya terlihat jelas bahwa ia masih belum percaya padaku.
aku pun menunjukan surat lamaran kerjaku pada Evan, ia pun nampaknya seperti lega. aku pun menunggu Evan bersiap-siap untuk menemaniku melamar di sebuah agensi fotografer yang khusus memotret seorang model dan selebriti saja.
kami menemui seorang fotografer agensi itu lalu iapun mengantarkan kami menuju kantor Direktur agensi itu. Biasanya seorang pelamar akan di persulit jika ia tidak membuat janji dengan anehnya mereka langsung membawaku ke kantor direktur mereka.
aku mengetuk pintu itu dan suara berat yang berada di balik pintu itupun mempersilahkan kami masuk. aku pun menyuruh Evan untuk menungguku di lobi. karena aku bisa mengatasinya sendiri.
"Permisi, pak. Saya Ronaldo Leo. Saya kesini berniat untuk melamar di agensi bapak." aku membungkukkan badanku memberikan hormat pada orang yang berada di atas kursi direktur itu.
"Kau sungguh ingin melamar disini?" bapak itu tidak terlihat tegas seperti direktur lainnya atau para HRD yang menerima pekerja baru sepertiku.
"Iya, pak." aku meyakinkan diriku. menunjukan kepercayaan diriku pada direktur itu, sesungguhnya aku tidak mau mengecewakan Evan. dia satu satunya teman yang aku punya.
"Bolehkah aku melihat beberapa karyamu?" pria itu sepertinya tidak berniat menambah karyawannya tetapi ia hanya ingin memberikan harapan saja padaku. mempermainkan ku lalu menolak ku. ini sudah biasa terjadi. bahkan ini sudah ke dua puluh delapan kalinya aku diperlakukan seperti orang bodoh seperti itu.
aku memperlihatkan karya-karya ku, banyak pemandangan dan siluet yang berhasil aku tangkap. menurutku itu adalah sebuah karya yang luar biasa indah, tetapi belum tentu orang lain akan menilainya sama.
"Baik, kau diterima" pria tua itu mengulurkan tangannya mengajakku untuk bersalaman dengannya. wajahnya tampak gembira, apa ia juga menyukai karyaku?.
"kalau boleh tahu, apa alasan anda menerima saya?" aku harus memastikannya agar tidak tertipu.
"Bagaimana menjelaskannya, sebenarnya kami sedang membutuhkan fotografer dengan jumlah yang banyak. para produser majalah itu tidak berhenti-henti memaksa kami untuk mencetak lebih banyak foto yang berkualitas." pria itu mengernyitkan keningnya, nampak garis-garisan wajahnya itu dan mimik muka jika ia tidak berbohong akan hal itu.
"Baiklah saya akan menerima pekerjaan yang bapak berikan."
aku pun menerima tawaran itu dan menjabat tangan pria itu. tangannya begitu kasar dan berkeringat. tunggu dulu sejak kapan ia berkeringat seperti itu, padahal seharusnya akulah yang saat ini berkeringat.
"Kau sudah bole berkerja hari ini, Beni akan mengantarmu berkeliling agensi."
aku pun mengikuti instruksinya dan keluar dari ruangannya. sebelum aku mencari beni aku menemui Evan dan mengabarkannya bahwa aku lulus dan mulai sekarang aku bisa bekerja di agensi ini. hari semakin larut agensi ini terlalu besar untuk dikelilingi dalam waktu sehari. aku pun meminta waktu beristirahat sejenak.
aku pun mendengar beberapa karyawan yang lalu lalang di depanku. mereka semua membicarakan hal yang sama. walau hanya selewat saja tetapi aku bisa mendengarnya dengan jelas, bahwa agensi ini sudah kehilangan sepuluh fotografernya. banyak yang berkata bahwa mereka bunuh diri karena setiap harinya kerjaan yang harus di kerjakan banyak sekali.
awalnya aku tidak merasakan kejanggalan yang terjadi tetapi saat kata mereka berunjuk pada foto yang mereka ambil sama, semua fotografer itu memotret seorang model tetapi foto yang dicetak hanyalah foto hitam saja gambarnya sama sekali tidak terdeteksi apapun. hingga akhirnya aku mengerti pasti sesuatu terjadi pada para fotografer itu.
saat beni kembali memanggilku dari arah belakang seseorang menepuk bahuku dengan keras. orang itu berbisik padaku, suara ini suara yang sama ketika aku bermimpi semalam. sebenarnya siapa yang berkata. ia mengucapkan "Bunuh mereka yang sesat." aku pun penasaran dan berbalik melihatnya tetapi tidak ada seorangpun.
bisikan itu kembali menggelitik di telingaku. "Bunuh mereka yang sesat, mereka yang ketika di foto menunjukan foto gelapnya. bunuh mereka jika tidak kaulah yang akan mati." bulu kudukku merinding ketakutan suara apa itu dan apa yang sebenarnya terjadi.
"Hei, bangun! waktunya masuk kerja bukan?"
aku membuka mataku mendengar suara yang sangat tidak asing ditelinga ku. Aku melihat Evan. Tunggu dulu Evan? sebenarnya aku sedang ada dimana? aku harus mengumpulkan kembali nyawaku yang hilang saat tidur.
"Hei, apa yang terjadi? kenapa kau ada di rumahku?" walaupun aku ngelantur aku harus tetap bertanya padanya.
"Bukankah kita semalam merayakan hari diterimanya kau di agensi itu semalam? apa kau tidak ingat? padahal semalam kau tidak minum tetapi bertingkah seperti orang yang sedang mabuk saja. bahkan aku yang hendak mencobanya saja kau langsung memukul dan memarahiku."
sejak kapan itu aku sungguh tidak ingat apapun, ingatanku terputus saat aku mendengar suara-suara berat dari seorang pria yang membisikkanku. apa yang terjadi sebenarnya padaku. pria itu menyuruhku membunuh bukan? aku tidak pernah membunuh, dia sepertinya roh jahat yang menempel padaku. aku harus apa, haruskah aku memberitahukannya pada Evan.
Aku pun pergi bekerja, pada awalnya aku hanya membantu-bantu beni saja dan hal anehnya lagi ketika aku hendak pergi bekerja mengapa aku salah membawa kameraku dengan kamera kakakku. aku sungguh ceroboh. beni sudah memotret 2 model yang cantik-cantik.
pada sore harinya. kami memiliki satu jadwal pemotretan lagi untuk model prianya. secara tidak sengaja aku melihat foto beni yang berubah menjadi gelap. apakah ini pertanda sesuatu. apakah model ini adalah orang yang sesat seperti orang yang dikepala katakan.
Mungkin saja kamera beni sudah agak panas atau rusak, karena ia harus memotret tiga model dalam sehari bahkan foto yang diambil begitu banyak dan belum tentu semua fotonya bisa diambil dan diserahkan pada perusahaan majalah.
Jam tanganku menunjukan pukul enam petang. beni telah menyuruhku pulang terlebih dahulu sedangkan ia akan membereskan barang-barang. di agensi ini benar-benar kekurangan sekali karyawan. mungkin karena rumor yang beredar diantara para karyawan itu.
aku pun pamit pada beni dan keluar dari agensi itu. tetapi saat aku hendak menuju parkiran kunci motorku tertinggal diatas meja pemotretan. aku harus kembali mengambilnya. aku pun pergi menelusuri koridor yang gelap itu, karena semua karyawan dipulangkan sekitar jam enam sore. aku menuju ruangan terakhir kali aku menemani beni memotret. tetapi ruangan itu sama gelapnya dengan koridor. padahal ruangan lain masih menyalakan lampunya.
pintu ruangan itu juga terbuka lebar, apa yang terjadi apa beni sudah selesai membereskan semuanya?. aku pun masuk, ketika itu ada suara lain yang datang dari pintu peralatan. aku mendengar suara jeritan beni. ia menjerit-jerit seperti orang yang sangat tersiksa. ketika orang itu dan beni datang aku bersembunyi di balik tirai putih ruangan itu.
"A, AKU...AH..MOHON..APUNNN!" suara beni yang begitu ketakutan. terdengar jelas di telingaku. aku yang seorang penakut ini tidak bisa melakukan apapun untuknya.
aku pun mengintip untuk melihat keadaannya. orang itu sedang mengikat beni di sebuah kursi. aku bisa melihatnya walaupun sekilas ia mengikat beni sangat kencang sekali. jika ia diikat seperti itu pembuluh darahnya bisa saja pecah. apa yang harus aku lakukan untuk menolongnya.
aku pun mengintip kembali keadaan beni dan mendengar suara jeritan kesakitan beni. saat aku melihatnya orang itu tengah mencabut satu persatu kuku beni. teriakannya begitu menakutkan dan menyiksa mental ku. tetapi orang itu hanya tertawa menikmati apa yang ia lakukan pada beni.
"Kak Beni.., bagaimana jika aku merobek perutmu juga rasanya juga tidak akan sesakit saat kukumu dicabut loh... hhhh."
Suara ini, suara yang pernah aku dengar sebelumnya diantara tiga model itu. hanya satu-satunya model pria yang kami potret hari ini. suara model terakhir.
"Kak Beni, sepertinya aku harus mengikuti apa yang leluhurku lakukan. aku harus mencokel matamu terlebih dahulu sebelum aku memakan mu. Oh ya bagaimana jika sebelum aku mengambil matamu aku bantu mencabuti gigimu terlebih dahulu. sepertinya itu ide yang sangat bagus bukan?"
Sial tangan dan seluruh tubuhku gemetar, aku mencoba menutup mulutku dengan tanganku yang sedang gemetaran ini. mencoba menahan suara yang ku buat ketika nafasku tersengal-sengal. keringat dingin, keringat dingin ini sudah hampir memandikan seluruh tubuhku yang gemetaran ini. aku hampir kencing di celana. tolong siapapun aku ingin pulang saja.
"AHKK" suara teriakan Beni yang nyaring menandakan ketika giginya sedang dicabuti. gigi dicabuti tanpa obat bius? saat memakai obat bius pun rasa sakitnya kadang masih terasa. ini sudah membuatku hampir gila. bagaimana aku bisa keluar. tolong siapapun. Evan! tolong aku, aku sudah tidak tahan mendengar suara teriakan Beni yang tersiksa seperti ini.
aku mengintip sekali lagi, memastikan keadaanya ketika suaranya tidak terdengar lagi, itu artinya semua giginya berhasil di cabut. aku melihat darah bercucuran dari mulutnya walaupun gelap tapi aku yakin itu adalah darah karena baunya tidak bisa dibohongi lagi.
aku menelan ludahku melihat pria itupun mengambil kedua mata milik Beni dengan mudah. lalu menyimpannya dalam sebuah kotak. kotak yang sama ketika aku pergi ke kuil itu. bagaimana bisa apakah ini ada hubungannya dengan kuil itu.
Selanjutnya pria itu seperti sedang mencium Beni, tetapi itu salah ketika ia berkata.
"Lidahmu rasanya tidak enak padahal darahnya mengalir deras dari mulutmu. sebelum aku menikmati daging mu sebenarnya aku ingin mengikutiku terlebih dahulu. tetapi ini sudah jam sembilan masih ada waktu sekitar tiga jam lagi artinya aku hanya punya waktu untuk mencabuti bulu rambutmu dan juga merobek perutmu."
ini sungguh gila, aku tidak tahan lagi. sekali lagi aku harus mendengar suara teriakan yang sudah mulai melemah. sepertinya kak Beni sudah mulai kelelahan. apa yang bisa kulakukan aku harus kabur, ya aku harus kabur dari sini. semuanya membuatku menjadi gila. monster itu, dari mana datangnya monster itu. aku harus melaporkannya pada polisi. aku mendengar ia mengatakan tiga jam itu artinya aku harus menunggu tiga jam lagi.
waktu terasa lambat, aku terus berdoa meminta pertolongan. semua tubuhku tidak tenang dan merasa gelisah. tidak seharusnya aku menggerakkan banyak tubuhku. kalau begini terus aku bisa ketahuan.
ini sudah sejam berlalu tetapi mengapa menunggu dua jam lagi terasa sulit bagiku.
"Beni...! Beni...!"
seseorang datang menjemput beni. tidak, jangan kemari ada monster tolong jangan kemari pergi saja. tolong.
"Beni? apa kau didalam, seseorang mencari Ron. kalau tidak salah namanya Evan. ya Evan, apa kau bersama Ron?"
Evan mencari ku? Tolong pak sekuriti jangan kemari. tolong. tolong jika tidak kau akan dibunuh. pak sekuriti membuka pintunya, sudah terlambat. ia juga akan mati. bagaimana ini apa yang harus aku lakukan. dua lawan satu bisa saja tapi aku tidak hebat dalam berkelahi, aku akan menjadi beban saja.
Saat pintu terbuka, saat itu juga monster itu melemparkan sebuah kapak yang tepat mengenai kepalanya. di depan mataku seseorang terbunuh karena mencari ku. ini tidak benar. aku harus melakukan sesuatu.
"Dasar kucing pengganggu! aku tidak punya banyak waktu untuk memakan dua orang. untungnya aku bisa melemparkannya tepat sasaran. Tunggu dulu siapa ini yang bersembunyi."
gawat sepertinya aku ketahuan. bagaimana ini aku harus kabur. benar pintunya terbuka lebar. aku harus segera keluar. ya aku harus selamat. aku harus lari sekencang mungkin.
"Cilik bwaaa.., ternyata kau disitu ya?"
saat ia membuka tirai ya dan mata kami saling bertatapan, aku memukul wajahnya dan berlari kearah luar pintu tapi sayang kakiku berhasil ia tangkap. tenaganya sangat kuat sekali. aku memegang dinding berusaha menarik kakiku kembali. aku pun menendangnya dan ia melepaskan ku. aku berlari tetapi ia berhasil mengejar ku menarik kerah belakangku dan membanting ku ke dinding.
tubuhku terasa sakit sekali. tenaganya tidak setara denganku. kurasa ada waktu sekitar setengah jam lagi waktunya akan habis. setengah jam lagi? itu artinya tepat tengah malam. tetapi apa yang terjadi tepat ketika tengah malam. aku harus memikirkan sesuatu. tidak aku tidak bisa berpikir.
Orang itu menyeret ku kembali keruangan itu. aku harus memberontak. aku berhasil genggamannya terlepas. aku harus segera berlari lagi. sial kakiku sepertinya tulangnya bergeser. sial sakit sekali benar-benar sakit gawat aku tidak bisa melakukan apa-apa. akankah aku mati? inilah akhir hidupku bahkan aku belum menulis surat wasiat pada ayah ibuku yang ada di Korea.
saat di bibir pintu tepat ketika tengah malam terdengar suara lonceng. berbunyi, orang itu berteriak kesakitan menjerit-jerit kesakitan di bagian telinganya. ketika itu juga Suara berat yang selalu menghantuiku muncul dan menyuruhku menggunakan kamera kakakku untuk membunuh orang itu.
"Cepat gunakan kamera itu untuk membunuhnya."
"Kenapa dengan kamera, itu tidak mungkin membunuhnya."
"Orang ini pengikut aliran sesat jiwanya sudah di jual pada iblis. cepat lakukan!"
aku pun mengikutinya karena merasa tidak ada pilihan lain. akhirnya orang itu ambruk di lantai. aku tidak menyangka bahwa aku akan selamat. tapi mataku mulai kabur kepalaku tadi terbentur sangat keras sekali. sepertinya aku...
Aku tersadar, dan sudah berada di rumah sakit. bagaimana bisa aku selamat. aku benar-benar beruntung sepertinya. tidak mental ku tidak sehat hari ini, apa aku harus mengajukan pengunduran diri. pria yang ada di kepala ku, siapa sebenarnya dia dan mengapa ia memberitahu ku cara membunuh orang itu.
"Hei kau sudah bangun?"
Evan ya? ini suara Evan. apa dia yang menemukanku? atau aku selamat berkatnya. tidak aku belum pulih sepenuhnya. aku mendengar suara berisik. suara berisik apa ini apakah ia seorang wartawan? mengapa ia kemari. aku ingin memulihkan diri dan mental ku.
"Nak Ronaldo Leo ya? adik dari ahli sejarahwan Rose Lei. apakah anda tahu penyebab kematian tiga orang yang bersama anda pada malam tiga hari yang lalu?"
berisik sekali, aku pusing sekali tolong keluar. aku sama sekali tidak memiliki tenaga untuk mengatakannya. Evan bantu aku, tolonglah.
"Maaf para wartawan sepertinya temanku belum sepenuhnya pulih kalian bisa mewawancarainya kapanpun."
Bagus Evan kau sahabatku. aku mungkin tidak bisa melakukannya.. aku pingsan lagi? aku benar-benar lemah, bagaimana bisa orang lemah seperti ku bisa bertahan hidup di dunia ini. seharusnya aku mati saja pada malam itu.
"Ron!"
itu suara kakakku. Kak rose ini Adikmu Ron. suaraku tidak keluar bagaimana mungkin. tolong siapapun bantu aku mencari kakakku. Kak rose ini aku Ron. tidak suaraku tidak mau terdengar.
"Ron.."
Pria itu, ya pria itu bisa membantuku mencari kakakku. aku harus mencarinya.
"Ron kau berhasil membunuh salah satu pengikut aliran sesat itu, tolong kau bunuh semuanya dengan kamera itu dengan itu kau bisa melakukannya Ron."
"Kau siapa? mana mungkin aku ini seorang pengecut, jangan berbicara yang tidak-tidak."
"Kuil itu, kuil itu dulunya adalah markas para aliran sesat. aku adalah orang yang pertama kali menemukan kelemahan mereka, sayangnya mereka terlalu banyak dan akhirnya aku gugur. aku bisa berbicara padamu karena kau telah memakan mataku. Ron tolong bantu mereka semua yang butuh bantuan. tolong jangan beritahu siapapun kau mengetahui kejadian malam itu"
"Ron!Ron!"
ibu? Ayah? mereka kembali. tidak seharusnya mereka tidak kembali. kalau begini mereka bisa saja menjadi korban, orang-orang itu. Ayah ibu kembali lah kekorea di sana aman Bu.
"DOKTER! ANAKKU SUDAH SADAR CEPAT KEMARI!"
Ayah dan ibu mengkhawatirkan aku. ibu cepat pergi, tinggalkan aku disini aku sudah berusia 20 tahun aku bisa hidup mandiri Bu. Ayah tolong bawa ibu kembali ke Korea. jangan biarkan ia disini. disini sangat berbahaya.
"Ahkskskh." aku berbicara tidak jelas apa yang terjadi. tatapanku seperti orang yang kosong.
"Ibu, bapak sebaiknya keluar dahulu saya akan memeriksanya."
dokter jangan sembuhkan aku. kumohon.
"Apa kau ingat sesuatu?"
he!? apa yang dokter ini katakan. aku yakin dia salah satu dari aliran sesat itu ia tengah memburu ku. ya benar orang-orang itu memburu ku, karena jika aku ingat aku akan dibunuh oleh mereka. bagaimana ini aku harus apa. benar. kamera kakakku, apa yang sebenarnya ada di dalam kamera kakakku.
"Bunuh lah dokter itu dan juga kedua orang tuamu mereka adalah petinggi orang sesat itu, mereka sudah berbaur dengan yang lain. cepat bunuh lah mereka atau kau yang akan terbunuh." tidak. tidak. pria itu menyuruhku membunuh kedua orang tuaku. itu mustahil aku sangat menyayangi mereka, jika hanya membunuh dokter ini aku tak masalah karena ia tidak ada hubungannya denganku.
"Dokter, sebenarnya aku sakit apa? kenapa aku bisa dibawa ke rumah sakit? kenapa mereka memanggilku Ron?"
akting. ya, aku harus berakting dulu sekarang, kameranya tidak ada di manapun. aku harus mencarinya agar bisa membunuhnya. tolong beri tahu aku dimana kameranya.
"Ternyata benar karena benturan di kepalamu sepertinya keras sekali kau terkena amnesia. syukurlah ini sepertinya amnesia ringan. kau bisa mengingat ingatanmu setelah tujuh hari."
"Terimakasih dokter."
aku tidak berhasil membunuhnya. bagaimana ini aku harus segera membunuhnya. atau mereka akan membunuhku. ya, aku harus cepat membunuhnya. aku harus membunuhnya. dimana kameraku, dimana kamera kakakku. aku harus hidup, aku harus hidup demi kakak. aku tidak mau mati. ini masih siang kekuatannya tidak akan terakumulasi aku bisa membunuhnya langsung.
"Ron! kau baik-baik saja?"
Evan!? mengapa ia selalu mengkhawatirkan aku. padahal hidupnya juga sama terancamnya. Apa dia sedang menertawkan ku. benar aku harus mencek Evan dengan kameraku dan membunuhnya dengan kamera kakakku. menurut orang tuanya Evan adalah orang sesat aku harus membunuhnya.
Aku harus segera membunuh semua orang..
(Baca lebih lanjutannya dalam novel ver.)