Yuna-ya Maaf kan aku yang telah mengingkari janji.
Akan ku pinta tuhan mempertemukan kita disurga dan di kehidupan yang akan datang.
Tetaplah tersenyum jangan bersedih sampai jumpa.
•••••••••••
Awal musim semi.
Seorang gadis sedang menangis menumpahkan segala kesedihannya didepan makam kedua orang tuanya.
Ia tak menyangka bahwa kedua orang tuanya akan meninggalkannya secepat ini.
Padahal baru tadi pagi ia dan kedua orang tuanya sarapan bersama.
Langit terlihat mendung lalu tak berapa lama kemudian air mulai turun dari langit perlahan lahan semakin deras.
Yuna tetap duduk berjongkok didepan makam sembari mengeratkan pelukannya pada kedua kakinya.
Ia tak peduli jika setelah ini akan dimarahi oleh kakaknya karena hujan hujanan.
"Permisi apa kau baik baik saja?" Tanya pria yang sejak tadi memerhatikan Yuna yang tak beranjak pergi meskipun hujan turun sederas ini.
Yuna menghapus air matanya lalu kepalanya mendongak keatas melihat seorang pria yang yang berdiri disampingnya sembari membawa payung melindungi dirinya dan Yuna dari guyuran air hujan.
Yuna hanya menggeleng menanggapi nya.
Lalu kembali menundukkan kepala memandang kedua makam orang tuanya.
Laki laki itu pun mengikuti arah pandang Yuna. Tanpa bertanya pun laki laki itu tau makam siapa yang gadis itu tangisi.
Lalu ia ikut duduk berjongkok disebelah Yuna.
"Aku tau ini berat untukmu tapi kau harus mengiklaskan mereka. Mereka sudah tenang disana dan tugasmu sekarang hanya mendoakan untuk mereka. Jangan menyiksa diri sendiri seperti ini mereka akan sedih jika melihat mu seperti ini. Takdir tidak akan pernah bisa dirubah" Ucap laki laki itu mencoba menenangkan Yuna sembari mengelus punggung kecil milik Yuna.
Yuna hanya diam menatap kedua makam itu. Benar yang dikatakan pria itu. Aku tak boleh larut dalam kesedihan. Aku masih punya kakak yang akan selalu menjagaku.
Yuna menoleh menatap laki laki disampingnya. Tatapan mereka saling beradu.
"Makasih" Ucap Yuna lalu berdiri dari duduk nya lalu disusul oleh laki laki itu.
"Mau kuantar pulang?" Tawar laki laki itu yang melihat Yuna mulai berjalan menjauhinya dengan langkah gontai dan pandangan yang kosong.
Yuna berhenti lalu berbalik.
"Tapi aku basah kuyup apa tidak apa apa?" Tanya ragu.
"Tak masalah" Jawab laki laki sembari mengulas senyum manis.
Lalu mereka berdua berjalan beriringan keluar makam menuju mobil yang terparkir tak jauh dari area makam.
Hening selama perjalanan.
Yuna maupun laki laki asing itu tak ada yang berniat membuka suara.
"Kau sekolah dimana?" Tanya laki laki itu memecah keheningan saat menyadari bahwa gadis yang ia temui dimakam masih menggunakan seragam sekolah tapi seragam itu berbeda dengan miliknya.
"SMA Hwana" Jawab gadis itu sekenanya.
"Emm, namamu? " tanyanya lagi.
"Hwang Yuna" Jawab Yuna.
Laki laki itu hanya mengangguk paham.
"Ya— Siapa namamu?" Tanya Yuna balik.
"Choi Beomgyu" Jawab pria itu lalu tersenyum manis.
Yuna terpaku melihat senyum pria itu entah kenapa tiba tiba jantungnya berdetak lebih kencang.
••••••••••••••••••••
Keesokan harinya.
Disekolah.
Bel sudah berbunyi sejak 5 menit yang lalu namun guru tak kunjung datang.
"Yun lo sakit?" Tanya Via gadis yang duduk sebangku dengan Yuna.
Yuna hanya menggeleng.
Via berdecak melihat respon Yuna yang hanya menggeleng jelas jelas wajahnya terlihat pucat seperti mayat dan dia bilang tidak apa apa? Oh sungguh aku sangat ingin memarahi Yuna saat ini tapi takut ia akan menjadi lebih murung.
"Yun—" Ucap Via terpotong saat guru tiba tiba masuk.
"Selamat pagi anak anak" Guru.
"Perkenalkan ini Choi Beomgyu murid baru dikelas ini" Ucap guru itu memperkenalkan Beomgyu.
Diam diam beomgyu tersenyum tipis saat matanya menangkap sesosok gadis yang mengganggu pikirannya sejak kemarin mereka bertemu.
"Baik Choi Beomgyu kamu bisa duduk dibelakang Yuna"
"Yuna angkat tangan kamu" Ucap guru itu lalu dituruti oleh Yuna.
Kring Kring Kring.
Bunyi Bel istirahat.
"Yun lo mau ikut kekantin nggak?" Tanya Via pada Yuna yang sedari tadi hanya melamun.
Yuna menggeleng.
"Apa mau nitip?" Tanya Via lagi.
Yuna menggeleng lagi.
Via berdecak lalu menggebrak meja Yuna.
"Yun lo tuh belum sarapan lo harus makan kalo lo nggak makan bisa sakit" Bentak Via pada Yuna.
"Darimana lo tau gue belum sarapan?" Tanya Yuna.
"Kakak lo nih chat gue" Ucap Via sembari menunjukkan layar hp nya pada Yuna.
"Gue nggak laper" Ucap Yuna lalu menidurkan kepalanya diatas meja.
Via berkacak pinggang sebal dengan sikap Yuna.
"Cih! Lo tuh ya batu banget awas aja sampe sakit!" Macam Via lalu pergi meninggalkan Yuna.
Setelah kepergian Via, kini giliran beomgyu yang menghampiri Yuna.
"Yuna-ya" Panggil Beomgyu.
Yuna mengangkat kepalanya menoleh kearah beomgyu.
"Kenapa?" Tanya Yuna.
"Aku bawa bekal kita makan bareng bareng" Ucap beomgyu sembari duduk disebelah Yuna lalu membuka kotak bekalnya.
Yuna hanya diam melihat bekal yang beomgyu bawa.
Mood nya perlahan lahan naik saat melihat kehadiran beomgyu disebelahnya.
"Aaaa.... " Beomgyu mencoba menyuapi Yuna.
"Nggak usah aku bisa sendiri kok" Ucap Yuna lalu mengambil sendok dari tangan beomgyu namun beomgyu cepat cepat menahannya.
"Nggak, biar aku suapin" Ucapnya keukeuh. Dan mau tak mau Yuna menyetujuinya.
Mereka berdua pun makan sembari mengobrol ringan lalu sesekali Yuna terkekeh pelan mendengar cerita beomgyu.
••Next time••
"Yuna-ya" Panggil beomgyu.
"Kenapa?" Balas Yuna.
"Jangan bersedih lagi" Ucap beomgyu yang ikut sedih melihat Yuna yang teru terusan terlihat murung.
Yuna tertegun mendengar perkataan beomgyu barusan.
"Lebih baik ditinggalkan daripada meninggalkan" Lanjut Beomgyu.
"Yuna... Cuma belum terbiasa aja hidup sendiri tanpa mama papa" Ucap Yuna lirih sembari menundukkan kepala mengayun ayunkan kakinya.
Kedua nya sekarang sedang duduk di halte bus menunggu bus datang.
"Aku tau kok apa yang kamu rasain" Ucap Beomgyu.
Yuna menoleh kearah Beomgyu saat mendengar kata 'aku tau kok apa yang kamu rasain?' Apa maksudnya? Apa dia tak memiliki orang tua?
Beomgyu ikut menoleh menatap Yuna.
"Kau tau aku dititipkan kepada nenek dan kakekku saat aku masih kecil oleh kedua orang tuaku" Ucap beomgyu.
"Kenapa kau bisa sekuat ini?" Tanya Yuna.
"Karena mereka bilang akan menjemputku lagi" 'Meski aku tak tau kapan mereka akan menjeputku' Lanjutnya dalam hati.
Tiba tiba beomgyu mendekatkan wajah nya pada wajah Yuna membuat sang empu kaget dan memundurkan kepalanya namun ditahan oleh beomgyu.
"Diamlah sebentar ada bunga sakura yang menempel dirambutmu" Ucapnya lalu meniup rambut Yuna yang terdapat bunga sakura itu.
Yuna menatap mata beomgyu lekat ia merasa sangat nyaman berada di dekatnya.
"Beomgyu-ya bisakan kau tetap bersamaku?" Tanya Yuna setelah beomgyu menjauhkan wajahnya.
Beomgyu kembali menoleh menatap Yuna.
"Maaf aku tak bisa berjanji untuk tak meninggalkanmu karena kematian bisa datang kapan saja" Ucap beomgyu menatap kedua netra coklat itu penuh arti.
"Ya- apa maksudmu?" Tanya Yuna tak mengerti.
"Kau akan mengerti suatu hari nanti" Ucap beomgyu sembari tersenyum manis lalu mengelus pucuk kepala Yuna.
Ciit.
"Ah bus sudah datang ayo masuk" Ajak beomgyu sembari menggandeng tangan Yuna.
Yuna merasa sangat nyaman berada di genggaman beomgyu ia merasa semua kesedihannya lenyap begitu saja.
Mereka berdua duduk bersebelahan didalam bus.
"Huft... sudah lama rasanya aku tidak pergi ketaman" Gumam Yuna.
Beomgyu menoleh lalu tersenyum.
"Mulai sekarang kita akan sering pergi ketaman" Ucap beomgyu sembari mengelus lembut surai legam milik Yuna.
Yuna mengangguk lalu tersenyum senang.
Ia merasa beruntung telah dipertemukan dengan beomgyu. Laki laki yang mampu menghapus segala kesedihannya dalam sekejap.
Kini mereka berdua sudah sampai ditaman. Disana sangat ramai karena ini hari minggu.
"Yuna-ya apa kau mau es krim?" Tanya beomgyu saat melihat stand es krim tak jauh dari mereka berdiri.
Yuna mengangguk lalu mereka berdua berjalan menuju stand es krim dengan tangan yang masih bertautan.
"Vanila satu ya pak" Ucap Yuna terdengar antusias.
"Coklat satu juga pak" Ucap beomgyu ikut memesan es krim.
Sembari menunggu es krim mereka siap Mata Yuna menyisir seluruh taman lalu matanya berhenti tepat di kursi yang berada di bawah pohon sakura. Lalu dibawahnya banyak kelopak sakura yang berjatuhan.
"Ya- beomgyu kita duduk disana ya" Ucap Yuna sembari menunjuk kursi yang ia lihat tadi.
Mata beomgyu mengikuti arah tunjuk Yuna lalu mengangguk menyetujui.
Setelah menerima es krim mereka berdua duduk dikursi yang ditunjuk Yuna tadi.
"Pelan pelan makannya tidak ada yang ingin merebutnya" Ucap beomgyu sembari terkekeh melihat Yuna yang makan es krim seperti anak kecil blepotan sana sini.
"Kemari mendekatlah" Ucap beomgyu lalu sedikit mendekatkan wajahnya pada Yelly setelah itu tangannya terangkat membersihkan bibir Yuna bagian kiri yang terkena es krim.
Yuna mematung ditempat tubuhnya serasa disambar petir. Pipinya perlahan terasa panas hingga ketelinga mungkin sekarang wajah sudah memerah seperti buah apel.
"Sudah" Ucap beomgyu senang.
"M-makasih" Balas Yuna terbata lalu cepat cepat memalingkan wajah nya ia tak ingin beomgyu melihat wajahnya yang memerah.
"Ya- apa kau malu?" Tanya beomgyu menggoda Yuna.
Yuna menoleh dengan cepat kearah beomgyu.
"Ih apaan? Nggak kok" Ucap Yuna mengelak.
"Wajahmu merah" Ucap beomgyu sembari terkekeh.
"Bisa nggak sih pura pura nggak liat aja?"Tanya Yuna kesal dengan ucapan beomgyu.
Beomgyu semakin terkekeh melihat tingkah Yuna yang salah tingkah terlihat menggemaskan dimatanya.
"Baiklah, Ahh es krim mu sudah mulai meleleh cepat habiskan"Ucap beomgyu sembari menunjuk es Krim Yuna yang mulai meleleh.
Yuna melihat es krim nya benar saja es krim Itu sudah mulai meleleh lalu cepat cepat ia menghabiskan es krim itu agar tak meleleh lalu mengotori tangannya.
Beomgyu menatap lekat Yuna ia merasa bahagia saat melihat gadis itu bahagia rasanya kegelisahan dihatinya langsung lenyap.
"Yuna-ya apa kau suka bunga sakura?" Tanya beomgyy setelah menghabiskan es krim nya.
Yuna menoleh menatap beomgyu
"Iya aku sangat menyukai sakura, sakura terlihat sangat cantik"Ucap Yuna lalu beralih memandangi sakura yang berada tepat diatas kepalanya.
"Aku juga menyukai sakura, tapi aku lebih menyukaimu" Ucao beomgyu lagi lagi membuat jantung Yuna berdebar.
Rasa panas menjalar keseluruh pipi Yuna hingga ketelinga mungkin sekarang pipinya sudah seperti tomat.
Yuna menoleh lalu tersenyum saat melihat beomgyu yang juga sedang memandanginya sembari tersenyum manis.
Tanpa Yuna sadari Senyum Beomgyu pun menjadi candunya.
"Udah sore kita harus pulang sekarang" Ucap Yuna mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah ayo" Ucap beomgyu sembari menggandeng tangan Yuna sembari berjalan menuju halte bus untuk pulang.
Sesampainya di halte bus.
"yuna-ya apa kau selalu naik bus saat berangkat sekolah?" Tanya beomgyu.
"Iya" Balas Yuna.
Beomgyu mengangguk.
"Mulai besok kita bareng ya aku juga naik bus" Ucap beomgyu sembari tersenyum manis ke arah Yuna.
Yuna mengangguk lalu membalas senyum Beomgyu.
"Ah... sepertinya bunga sakura sangat menyukai mu ya" Ucap beomgyu.
"Hah?" Balas Yuna bingung.
"Ada bunga sakura yang tersangkut dirambutmu" Ucap beomgyu lalu tangannya terulur untuk mengambil bunga sakura yang tersangkut di rambut Yuna.
Lagi lagi jantung Yuna dibuat berdetak tak karuan. Wajah mereka sungguh dekat Yuna bahkan bisa merasakan deru nafas teratur milik Beomgyu.
"Sudah, lihat lah bunga ini sakura ini sepertinya dia sangat menyukaimu tapi aku lebih menyukai mu" Ucap beomgyu sembari memandangi bunga sakura dan Yuna bergantian.
"Yaa beomgyu-ya apa maksudmu"Balas Yuna menyembunyikan kegugupannya.
Beomgyu menggeleng seraya tersenyum manis.
Huft... kenapa beomgyu sangat suka tersenyum apa dia tidak tau kalau senyumnya itu membuat jantungku hampir meledak.
Umpat Yuna melihat senyum beomgyu yang menjadi candu nya kehadirannya bahkan mampu memusnahkan kesedihan Yuna dalam sekejap mata.
Tak berapa lama bus pun datang dan mereka berdua memasuki bus bersama sama.
Selama perjalanan pulang Yuna tertidur dengan posisi kepala bersandar pada bahu Beomgyu.
'Yuna-ya maafkan aku mungkin aku tidak bisa terus menemanimu seperti ini' Ucap beomgyu dalam hati seraya menatap wajah polos Yuna yang tertidur.
Beberapa menit kemudian bus berhenti mereka sudah sampai beomgyu pun membangunkan Yuna.
Menepuk nepuk pipi Yuna agar gadis itu cepat terbangun.
"Yuna-ya sudah sampai" Ucap beomgyu.
"Eughh" Erang Yuna saat tidurnya terganggu.
Yuna membuka matanya perlahan lalu hal pertama yang ia lihat adalah wajah beomgyu yang begitu dekat dengan nya.
Yuna mengerjapkan mata beberapa kali.
"Sudah sampai " Ucap beomgyu sekali lagi.
Yuna mengangguk lalu berdiri.
"Ayo turun" Ajak Yuna sembari menarik tangan beomgyu.
Beomgyu tersenyum senang saat Yuna menarik tangannya.
••Next Time••
"Kak Yuna berangkat dulu ya" Pamit Yuna pada sang kakak.
"Loh nggak sarapan dulu?" Tanya kakak Yuna saat melihat sang adik yang langsung berangkat kesekolah tanpa sarapan terlebih dahulu.
"Nggak deh kak Yuna udah kesiangan nanti makan di kantin aja" Balas Yuna lalu keluar dari pintu rumah.
Kakaknya hanya menghela nafas lalu melanjutkan sarapannya seorang diri.
Yuna berjalan menuju halte bus.
Sepanjang perjalanan pikirannya terus tertuju pada Beomgyu. Ah entahlah sejak pertama kali bertemu dengannya Yuna selalu merasa nyaman.
Sesampainya ia di halte bus, tak berapa lama ia menunggu bus pun datang dan ia langsung masuk kedalam.
Bus mulai berjalan, dan beberapa saat kemudian bus kembali berhenti di halte bus yang biasa didatangi oleh beomgyu. Ya dan benar saja terlihat disana beomgyu sedang duduk di halte bus dan beranjak masuk kedalam bus.
Mata beomgyu mengelilingi seluruh isi bus mencari keberadaan Yuna.
Yuna yang mengerti jika Beomgyu mencarinya pun langsung melambaikan tangannya ke arah beomgyu.
Seketika senyumnya mengembang saat melihat keberadaan Yuna ia pun segera berjalan menghampiri Yuna dan duduk disebelahnya.
Beomgyu mengeluarkan dua bungkus roti dari tas nya.
Ia sengaja membawa roti karena ia tadi belum sempat sarapan dirumah.
"Yuna-ya apa kau mau?" Tanya beomgyu sembari menyodorkan satu rotinya pada Yuna.
"Ah boleh kebetulan aku belum sarapan" Ucap Yuna seraya menerima roti itu dan langsung membuka bungkusnya.
"Kenapa tidak sarapan?" Tanya beomgyu.
"Tadi aku kesiangan" Balas Yuna.
"Ah begitu" Ucap beomgyu.
Yuna mulai menggigit rotinya dan betapa mengejutkan nya rasa roti tersebut. Sebelumnya ia belum pernah makan roti seenak ini dimana beomgyu membelinya?
"Beomgyu-ya dimana kau membeli roti ini?" Tanya Yuna disela sela makannya.
Beomgyu menoleh dan melihat pipi Yuna yang menggembung karena mulutnya penuh dengan roti. Terlihat menggemaskan dimata beomgyu.
"Yaa.. kenapa kau imut sekali" Ucap Beomgyu sembari terkekeh pelan tangannya terulur mencubit kecil pipi Yuna.
Hampir saja Yuna tersedak rotinya sendiri.
Lagi lagi pipi Yuna dibuat merah oleh Beomgyu.
"Beomgyu-ya aku tanya dimana kau beli roti ini?" Ucap Yuna mengalihkan pembicaraan sembari menunjuk roti yang ia pegang.
Beomgyu terkekeh.
"Ibuku yang membuatnya" Ucap beomgyu memjawab pertanyaan Yuna.
"Beneran?! Wiih enak banget aku sebelumnya belum pernah makan roti seenak ini" Ucap Yuna dengan mata berbinar.
Sisi bobroknya kambuh:v. G canda.
Senang sekali rasanya beomgyu melihat gadis disebelahnya ini tersenyum senang.
Tangannya perlahan mengelus surai legam Yuna.
Mereka sampai di sekolah.
Berjalan beriringan melewati koridor sekolah menuju kelas.
Mereka berdua sudah sampai di kelas.
"Eh woy sejak kapan kalian deket?"
"Eh lo harus kenal sama gue ya"
"Yuna lo udah lupa sama gue ya"
"Udah punya temen baru gue dilupain ya jahat lo yun" Cerocos Via setelah melihat Yuna masuk kekelas bersama murid baru bernama beomgyu sembari mengoborol ringan.
"Ih Via lo ngomong apasih Yuna nggak lupain Via kok" Ucap Yuna lalu memeluk temannya itu.
Beomgyu tersenyum lalu melewati kedua sahabat yang seakan akan 1 abad tak bertemu itu.
Via menahan lengan beomgyu lalu berkata.
"Ya-! gue belom kenal sama lo"Ucap Via.
"Lalu?" Balas beomgyu bingung.
"Lo ga ada niatan buat kenalan sama gue gitu? Lo ga tau gue itu temen Yuna sedari kecil, sejak dirahim kita udah sahabatan jadi kalo lo kenal sama Yuna lo juga harus kenal sama gue juga" Ucap Via melantur.
"Yaudah" Balas beomgyu.
"Yaudah apa?" Tanya Via mulai kesal dengan respon Beomgyu. Sedang kan Yuna hanya tertawa kecil melihat perdebatan kecil kedua teman nya itu. Ah ralat sahabat.
"Temenan, tapi inget aku cuma suka sama Yuna nggak suka sama kamu" Ucap beomgyu lalu berjalan menuju bangkunya.
Via melotot kaget.
Apa tadi dia bilang cuma suka sama Yuna?!
Via berjalan menuju bangku beomgyu sembari menarik tangan Yuna agar mengikuti nya.
Via membanting tas nya di atas meja beomgyu.
Beomgyu berjengit kaget lalu menatap tajam kearah Via.
"Eh lo-" Ucap beomgyu terpotong oleh perkataan Via.
"Diem lo!"
"Gue tanya kalian harus jujur" Ucap Via.
Perasaan Yuna tak enak.
"Kalian pacaran?" Tanya Via sembari memandang kedua temannya itu bergantian.
"Ah tunggu bentar gue mau bales ucapan lo yang tadi denger baik baik ya, GUE TAU GUE CANTIK TAPI GUE GA PERNAH BERHARAP LO SUKA SAMA GUE YA!" Ucap Via dengan berteriak dan tak kalah tajam dengan ucapan beomgyu tadi.
Untung saja keadaan kelas sepi hanya ada segelintir murid saja karena beberapa murid berada diluar kelas.
Hah. Ingin sekali Yuna menghilang begitu saja.
Ia sangat malu saat ini.
Via yang berulah Yuna yang malu.
Sejak dulu Via memang seperti itu ia benar benar tak ingin ada orang menggantikan posisinya sebagai sahabat Yuna.
"Kita nggak pacaran" Elak Yuna cepat.
"Kita belum pacaran tapi mau" Ucap beomgyu.
"Beneran lo ga bohong sama gue?" Tanya Via dengan mata berbinar.
Beomgyu mengangguk sedangkan Yuna menggeleng.
"Gue getok juga palalu" Ucap Via pada Yuna.
"Yaudah, lo boleh deket sama Yuna" Ucap Via seraya tersenyum lalu berlalu begitu saja.
Beomgyu menatap kearah Yuna dengan tatapan menuntut penjelasan.
"Nanti aku jelasin ya kenapa Via kaya gitu" Ucap Yuna lembut.
Beomgyu mengangguk.
Bel berbunyi Yuna langsung berjalan duduk dibangkunya.
••Skip time jam istirahat••
"Yuna, bombom ayo kantin laper nih" Ajak Via.
"Bombom?" Sahut Yuna bingung, siapa yang Via panggil bombom?
"Tu bocah gue lupa namanya cuma inget bom bom gitu" Jawab Via sembari menunjuk Beomgyu.
"Wahai VIA sigadis gila dengerin baik baik, namaku CHOI BEOMGYU" Ucap beomgyu sembari menekankan namanya.
"Iya" Balas Via ketus.
"Udahlah ayo kantin" Ucap Via lalu berjalan keluar kelas disusul oleh kedua temannya itu.
Mereka berjalan beriringan menuju kantin sekolah.
Sesampainya dikantin mereka langsung mencari bangku yang kosong.
"Ayo kita duduk disana aja" Ucap Yuna sembari menunjuk tempat yang ia pilih.
Via dan Beomgyu mengangguk lalu berjalan bersama sama menuju tempat yang ditunjuk Yuna tadi.
"Vi pesen sana gantian jangan gue mulu" Ucap Yuna menyuruh Via.
"Yaudah dengan berat hati seorang Lee Via menuruti perintah dari sahabatnya Yuna" Ucap Via dramatis.
"Mau pesen apa lo pada?" Tanya Via.
"Nasi goreng aja sama jus jeruk" Jawab Yuna.
"Bombom lo apa?" Tanya Via pada beomgyu yang sedari tadi diam.
"Samain sama Yuna" Ucap beomgyu.
"Elah bucin lu" Sungut Via lalu pergi memesan makanan.
••••••••••••••••••••••
"Kak lo beneran mau nembak cewe?" Tanya Yuna tak percaya jika kakaknya menyukai seorang gadis.
"Yaiyalah lo pikir gue beli coklat buat apaan" Sungutnya sebal pada sang adik.
"Tapi gue gugup dek" Ucap kakak Yuna yang bernama Hyunjin itu.
"Eh Yun apa gue praktekin dulu aja ya, nanti lo peran jadi cewe yang gue suka terus gue nembak lo dan harus ditrima" Ucap Hyunjin dengan tatapan mata memohon.
Mereka sekarang sedang berada di taman menikmati dinginnya angin malam dan bintang bintang indah yang menghiasi langit.
"Yaudah cepet" Ucap Yuna menyetujui ide gila sang kakak.
Mereka pun berdiri dan Hyunjin sesekali berdehem.
"Udah siap" Ucap Hyunjin lalu Yuna mengangguk.
"Yun gue udah lama suka sama lo sejak pertama kali kita ketemu disungai Han waktu itu, Udah lama gue mau ngungkapin perasaan ini tapi gue takut. Tapi sekarang gue udah yakin" Ucap Hyunjin.
"Lo mau nggak jadi pacar gue?" Tanya Hyunjin.
"Mau" Yuna mengangguk.
Lalu Hyunjin Pun langsung memeluk erat sang adik.
"Lepas gue ga bisa napas" Ucap Yuna sembari mendorong tubuh Hyunjin.
Sedangkan disisi lain ada seseorang yang sedang menahan api cemburu.
Beomgyu benar benar tak menyangka Yuna setega ini padanya. Bukankah Yuna sudah tau jika beomgyu menyukainya?
Gue benci lo Yuna' Rutuk Beomgyu dalam hati lalu berjalan pergi dari taman itu.
••keesokan harinya••
Sepulang sekolah.
Sejak tadi pagi Beomgyu selalu menghindari Yuna ia bahkan bertukar tempat duduk Somi.
"Beomgyu" Panggil Yuna sembari berjalan agak cepat menyusul beomgyu.
"Beomgyu-ya ada apa?" Tanya Yuna setelah berhasil meraih tangan beomgyu.
"Lepas" Beomgyu menghempaskan tangan Yuna dengan kasar.
Beberapa murid yang masih disekolah memandangi mereka dengan tatapan bingung.
"Lo ga takut pacar lo cemburu liat lo ngejar ngejar gue kaya gini hah?!" Ucap beomgyu dengan mata yang sedikit memerah.
"Pacar? siapa?" Tanya Yuna bingung.
"Nggak usah pura pura nggak tau" Balas beomgyu.
"Gue sama lo YUNA!" Teriak beomgyu lalu berjalan pergi meninggalkan Yuna yang terkejut hingga mematung.
Mata Yuna memanas, hatinya serasa ditusuk oleh ribuan pisau.
"Yun- EH WOY LU NANGIS?" Ucap Hyunjin.
Yuna berjengit kaget karena teriakan sang kakak.
"Is ngagetin tau nggak" Sungut Yuna sebal.
"Tapi lo beneran nangis?" Tanya Hyunjin lembut.
Yuna mengangguk.
"Kenapa? Siapa yang berani bikin adek gue nangis hah?" Ucap Hyunjin sembari menyapu pandangan keseluruh penjuru koridor.
"Is udahlah kak lagian Yuna nangis karena tadi nggak sengaja jatoh sendiri kok" Ucap Yuna lalu menarik tangan Hyunjin menuju mobil yang Hyunjin bawa.
"Yaelah gue kira ada yang bully lo" Ucap Hyunjin lega lalu mereka masuk kedalam mobil dan beranjak pergi dari sana.
Beomgyu menatap nanad mobil yang mulai berjalan menjauh dari pekarangan sekolah itu.
Menghela nafas lelah lalu berjalan pulang.
Sesampainya dirumah Beomgyu langsung masuk kekamarnya.
Ia melepas seragamnya lalu berganti pakaian.
Beomgyu mengambil hp nya yang ia letakkan diatas nakas lalu mengirim pesan pada Via. Ya saat mereka ke kantin bersama sama itu ia dan Via sempat bertukar nomor ponsel.
Beomgyu:
Vi lo tau hyunjin?
Via:
Napa lo tiba tiba nanyain tu curut?
Beomgyu:
Mukanya mirip Yuna aneh banget
Via:
Yaiyalah mirip orang mereka adik kakak bego sih lo😂.
Beomgyu mematung membaca pesan terakhir dari Via.
Jadi, beomgyu telah salah paham pada Yuna?
Beomgyu:
Vi, minta alamat rumah Yuna.
Setelah mendapatkan alamat rumah Yuna dari Via beomgyu langsung bangkit dari kasurnya, berjalan keluar kamar sembari menyambar jaket yang digantung dibelakang pintu.
Ia berjalan dengan tergesa gesa melewati ruang tamu dan kebetulan disana ada sang ibu yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
Ibu beomgyu tampak bingung melihat beomgyu yang berjalan dengan tergesa gesa seperti itu.
"Beomgyu-ya mau kemana?" Tanya ibu beomgyu.
Beomgyu berhenti lalu menoleh.
"Beomgyu mau keluar bentar" Ucap beomgyu langsung berjalan keluar begitu saja tanpa menunggu persetujuan dari sang ibu.
Kebetulan jarak rumah Beomgyu dan Yuna tak terlalu jauh jadi ia memutuskan untuk pergi menggunakan sepeda saja.
Setelah sampai didepan rumah Yuna, beomgyu tampak ragu ia takut jika kehadirannya tak diinginkan oleh Yuna.
Beomgyu memantapkan hatinya lalu memencet bel rumah Yuna.
Yuna sedang menemani kakaknya bermain game diruang keluarga.
Ting Tong. Bel rumah Yuna berbunyi.
"Bukain dek" Suruh Hyunjin pada Yuna.
Yuna mendengus lalu dengan terpaksa ia membukakan pintu pada oknum yang telah memencet bel rumahnya.
Setelah membuka pintu betapa terkejutnya Yuna saat tau ternyata beomgyu yang telah memencet bel rumahnya.
Yuna menutup pintunya kembali lalu menatap beomgyu sebentar dan langsung menundukkan kepalanya. Ia takut jika beomgyu masih membencinya.
Grep!
Yuna melotot kaget.
Beomgyu tiba tiba memeluknya dengan sangat erat.
"Maaf, aku udah salah paham sama kamu"
"Maaf, Sampe kapan pun aku nggak akan pernah bisa benci kamu" Ucap beomgyu di sela sela pelukannya.
Tanpa sadar Yuna menangis, ia bahagia karena beomgyu tak membencinya.
Yuna mendorong pelan tubuh beomgyy melepaskan pelukannya.
Lantas Yuna tarik tangan Beomgyu menuju kursi panjang yang berada dihalaman rumah Yuna.
Setelah keduanya duduk hening sejenak.
"Ya- apa yang membuatmu salah paham?" Tanya Yuna pada beomgyu.
"Saat itu aku tidak sengaja melihatmu ditaman bersama kakakmu dan aku melihat kakakmu mengungkapkan perasaannya" Jelas beomgyu.
Yuna tertawa hingga perutnya kram.
"Beomgyu-ya saat itu kak hyunjin cuma praktek aja soalnya dia gugup banget mau nembak cewe" Ucap Yuna disela sela tawanya.
Beomgyu menunduk ia benar benar merasa bersalah pada Yuna karena telah membentaknya bahkan membuatnya menangis.
"Oh jadi lo yang tadi buat adek gue nangis" Ucap Hyunjin membuat kedua orang tersebut terkejut.
Beomgyu menengadah kepalanya menatap Hyunjin.
"Maaf kak" Ucap lirih beomgyu.
Hyunjin mengerutkan dahinya.
"Lah lo salah apaan sama gue kok minta maaf?"—Hyunjin.
"Udah bikin Yuna nangis"—Beomgyu.
"Udah elah ga masalah lagian lo juga udah minta maaf sama adek gue" Ucap Hyunjin lalu berganti menatap Yuna.
"Sekarang masalahnya di lo" Ucap Hyunjin menunjuk adiknya sendiri.
"Gue?" Tanya Yuna sembari menunjuk dirinya sendiri.
Hyunjin menangguk.
"Kok gue?" Tanya Yuna tak mengerti.
"Lo udah bohong sama gue, lo bilang lo nangis gara gara jatoh" Jelas Hyunjin sembari mengingat ingat ucapan adiknya saat pulang sekolah tadi.
Yuna hanya menyengir tak berdosa.
"Udah mas—" Ucap Hyunjin terpotong karena teriakan Via yang tiba tiba.
"HELLO GAYS PRINCESS DATANG" Teriak Via yang tak mengerti situasi.
Hyunjin, Yuna, maupun beomgyu hanya diam mematung masih terkejut dengan kedatangan Via yang tiba tiba.
Via menatap aneh ke tiga orang didepannya itu.
"Kalian napa dah?" Tanya Via.
Dan langsung mendapat tatapan tajam dari ketiga orang tersebut.
"Eh? gue ada salah ya maap banget dah kalo gitu gue pulang dulu bye bye" Ucap Via langsung berlari pergi.
Hyunjin tertawa terbahak bahak melihat Via yang langsung lari begitu saja.
•••••••••••••••••
"Hey bombom" Panggil Via pada beomgyu.
"Hm?" Sahut beomgyu.
"Yuna 6 hari lagi ulang tahun lo mau kasih kado apaan?" Ucap Via.
Beomgyu menggeleng.
Via mengangguk lalu kembali menghadap depan.
"Ngomong apa lo sama beomgyu?" Tanya Yuna.
"Mau nyontek tapi ga boleh" Jawab Via.
Yuna mengangguk.
••Sepulang sekolah••
"Yuna-ya mau jalan jalan sebentar nggak?" Tanya beomgyu pada Yuna.
"Boleh, ayo mau kemana?" Tanya Yuna.
Ah, ya hari ini beomgyu dan Yuna berangkat menggunakan sepeda.
"Jalan jalan aja dulu terus nanti berhenti di Namsan sebentar ya" Ucap beomgyu lalu dibalas anggukan oleh Yuna.
Mereka pun mulai berjalan jalan mengelilingi kota menggunakan sepeda sembari berbincang kecil.
Yuna memeluk pinggang Beomgyu dan menyenderkan kepalanya pada punggung beomgyu.
Sudah sekitar 40 menit mereka bersepeda dan seperti yang dikatakan beomgyu tadi mereka berhenti di Namsan.
Mereka berdua menatap kagum kunci kunci yang tergembok disana. Banyak sekali pasang nama yang tertera disana.
"Yuna-ya kau sudah tau kan jika aku menyukaimu?" Ucap beomgyu menghadap kearah Yuna.
Yuna mengangguk.
"Mau jadi pacarku?" Tanya beomgyu pada Yuna.
Yuna sedikit terkejut namun juga bahagia.
Yuna menangguk lalu langsung memeluk erat tubuh beomgyu.
Yuna melepas kan pelukannya lalu menatap gembok gembok itu.
"Apa kita juga akan memasang gembok disini?" Tanya Yuna.
"Tentu saja" Balas beomgyu.
"Kita akan bersama sampai maut memisahkan kita, kita akan tetap bersama hingga tua, cinta kita abadi" Ucap beomgyu seraya tersenyum manis kearah Yuna.
"Makasih" Ucap Yuna.
"Untuk apa?" Tanya Beomgyu bingung.
"Makasih buat semuanya, mungkin kalo nggak ada kamu sampai saat ini pun aku masih terpuruk karena meninggalnya kedua orang tuaku" Jelas Yuna.
Beomgyu mengangguk lalu kembali memeluk Yuna.
"Orang tuaku masih ada namun aku tidak tau dimana mereka berada" Ucap beomgyu.
Yuna melepaskan pelukannya.
"Lalu, siapa wanita yang kau panggil ibu itu?" Tanya Yuna.
"Dia ibu angkat ku dulu dia menemukan aku didepan pintu rumahnya dan secarik surat yang berisi 'Tolong jaga putraku aku menitipkannya padamu akan kujemput ia suatu hari nanti beri nama ia Choi beomgyu' Itu isi suratnya" Ucap beomgyu.
Yuna merasa sedih mendengar nya.
"Semoga mereka jemput kamu dalam waktu dekat ya" ucap Yuna.
••Hari ulang tahun Yuna••
Yuna tak hentinya tersenyum di depan layar hpnya sendiri.
Ia sangat senang beomgyu akan mengajaknya pergi ke lotte word bersama.
Beomgyu juga bilang akan memberiku kejutan spesial.
Yuna sedang berada di kamarnya lalu teriakan hyunjin menyuruhnya untuk keluar kamar.
"DEK ITU TEMEN TEMEN MU UDAH PADA DATENG" teriak Hyunjin.
"IYA" balas Yuna.
Yuna keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni tangga.
Matanya menyapu seluruh ruangan tapi ia tak mendapati keberadaan beomgyu disana. Dimana laki laki itu?
Yuna yakin beomgyu pasti datang dihari spesialnya.
Setelah sampai di ruang tamu Yuna langsung mendapat sambutan yang meriah dari temannya.
"Happy birthday Yuna"
"Sehat selalu ya"
"Cepet cari jodoh biar ga jomblo mulu birthday"
Yuna merasa sangat senang karena teman temannya telah datang. Namun, fikirannya tertuju pada beomgyu dimana laki laki itu kenapa belum datang?
"Yun"
"YUNA" Teriak Seungmin selaku ketua kelas di kelasnya.
Nafasnya tersengal terihat sekali jika ia habis berlarian.
"Kenapa?" Tanya Yuna.
"Itu beomgyu" Ucap seungmin terpotong potong karena nafas nya tak beraturan.
Perasaan Yuna mulai tak enak mendengar nama beomgyu disebut.
"Beomgyu kenapa?" Tanya Yuna sedikit berteriak.
"Beomgyu Kritis" Ucap seungmin dan seketika membuat air mata Yuna jatuh begitu saja.
••••••••••••••••••••••••••••••
Yuna berlarian melewati koridor rumah sakit mencari ruangan tempat dimana beomgyu dirawat.
Dan disana Yuna melihat ada seorang wanita paruh baya yang sedang menangis. Ya itu ibu Beomgyu yang sedang duduk didepan ruang operasi.
Yuna langsung berlari mendekati ibu Beomgyu.
"Tante, Beomgyu kenapa?" Tanya Yuna sembari menahan tangis.
Ibu beomgyu mendongakkan kepala nya menatap Yuna dengan tatapan putus asa.
"Beomgyu.. dia" Ucap ibu beomgyu sembari terisak.
"Bukankah kau dekat dengannya? apa kau tau dia selama ini hidup hanya dengan satu ginjal?" Ucap ibu beomgyu.
Yuna sangat terkejut.
Beomgyu tak pernah bercerita padanya jika ia selama ini hidup hanya dengan satu ginjal.
Yuna menangis. Ia takut jika kejadian orang tuanya terulang lagi.
Lalu mata Yuna menatap sosok wanita paruh baya yang terlihat sedikit lebih muda dari ibu beomgyu.
"Apakah anda..." Ucap Yuna sembari menatap lekat wanita itu.
"Ya, aku ibu kandung Beomgyu" ucap nya seraya terisak.
Dada Yuna semakin sesak.
Ceklek!
Pintu ruangan dimana beomgyu dioperasi dibuka dan menampak sosok dokter yang menangani beomgyu.
"Dok bagaimana keadaan putra saya?" Tanya ibu kandung beomgyu masih dengan isakannya.
Dokter itu terdengar menghela nafas berat.
"Maaf, kami tak bisa menyelamatkan putra anda" Ucap dokter itu dengan berat hati.
"Tidak, kumohon selamatkan putraku dia bahkan belum melihat ibu kandungnya" Ucap wanita yang mengaku sebagai ibu kandung beomgyu.
Ayah angkat Beomgyu yang sedari tadi menahan air matanya agar tak keluar kini membiarkan air mata itu lolos begitu saja membasahi kedua pipinya.
"Jika kalian ingin melihatnya untuk terakhir kali silakan" Ucap dokter itu lalu pergi meninggalkan tempat yang penuh keputus asaan.
Yuna benar benar merasa dunia telah hancur.
Lagi lagi tuhan mengambil orang yang paling ia sayangi didunia ini.
Yuna masuk kedalam ruangan itu lebih dulu dan melihat tubuh beomgyu yang terbaring lemas diatas brankar.
Yuna berdiri disamping brankar Beomgyu.
Memandang wajah pucat beomgyu.
"Beomgyu-ya, kau bilang akan mengajakku pergi ke lotte world" Ucap Yuna sembari terisak.
"Kau bilang akan memberiku kejutan spesial"
"Apa ini yang kau maksud kejutan spesial huh?"
"Yaa- bukankah kau bilang kita akan bersama hingga tua"
"Yaa jawab aku" Ucap Yuna serasa menangkup kedua pipi beomgyu.
"Ayo bangun, kau belum mengucapkan selamat ulang tahun untukku" Ucap Yuna lalu beralih memeluk tubuh yang sudah tak bernyawa itu.
"Beomgyu-ya kumohon"
"Ayo bangun, aku nggak suka bercanda oke?"
"Kalo kamu nggak bangun kita akhiri hubungan ini ya?"
"Beomgyu kumohon pliss bangun" Ucap Yuna disela sela pelukannya.
Yuna melepaskan pelukannya.
Ia kembali menangkup kedua pipi Beomgyu.
Yuna menempelkan dahinya pada dahi Beomgyu hingga hidung mereka bersentuhan.
"Ayo bangun... "
"Hiks"
"Beomgyu-ya maafkan ibu, ibu seharusnya menjemputmu lebih awal" Ucap ibu kandung beomgyu.
Bruk!!
Yuna pingsan.
"Yuna-ya!!" Teriak Ibu kandung, ibu dan ayah angkat beomgyu.
••••••••••••••••••••••••
Aku berjalan melewati jalanan seoul yang penuh hiruk pikuk manusia.
Beomgyu sudah dimakamkan kemarin. Aku tidak ikut kepemakaman aku tidak bisa, aku tidak bisa melihat batu nisan yang diatas tertulis nama laki laki yang sangat ku cintai.
Mataku sembab, kantong mataku menghitam, wajahku begitu pucat, orang orang pasti akan lari ketakutan saat melihat wajahku makanya aku menggunakan hoodie dan menutupi kepala hingga wajahku dengan tudungnya.
Sudah tiga jam aku berjalan melewati tempat tempat yang menjadi saksi bisu pertemuan ku dan beomgyu.
Halte bus, taman, bawah pohon sakura dan yang terakhir namsan.
Kutatap sendu tempat tempat tersebut dan bayangan kami berdua sedang tertawa bahagia muncul begitu saja didepan mataku membuat dadaku kian kembali sesak.
Grep!!
"Ayo pulang" Ucap Hyunjin sembari menarik tangan Yuna masuk kedalam mobil.
Yuna hanya diam ia menurut.
Yuna sudah tak memiliki semangat hidup lagi.
Tuhan selalu mengambil orang orang yang dia sayangi.
Sesampainya dirumah, Hyunjin membawa Yuna duduk dikursi panjang dihalaman rumahnya.
Membuka tudung kepala Yuna lalu ditangkuplah kedua pipi Yuna.
Ia menatap sendu wajah Yuna.
"Ini takdir Yun"
"Beomgyu udah tenang disana, dia udah bahagia"
Ucap Hyunjin lalu memeluk erat adiknya sembari mengelus kepalanya dengan lembut.
••••
Yuna duduk dipinggir kasur sembari membaca catatan catatan pendek ywng ditulis oleh beomgyu dibuku diarynya.
Ia menemukan buku itu di kamar beomgyu saat ia berkunjung kerumahnya kemarin malam.
'''''''''''''''''Teruntuk orang tuaku kapan kalian akan menjemputku?'
''''''''''''''Aku bertemu dengan gadis cantik yang menangis didepan makam orang tuanya gadis itu bernama Yuna'''''''''''
'''''''''''Tuhan sepertinga aku telah mencintai Yuna. Kuharap kau mau memperpanjang hidupku beberapa tahun lagi''''''''''
Ia membalik halaman buku itu dan menemukan catatan terakhir yang ditulis oleh beomgyu.
'''''''''''Yuna-ya, maaf aku tak bisa menemanimu lebih lama lagi, maaf aku tak bisa mengucapkan selamat ulang tahun untukmu. Maafkan aku yang harus mengingkari janji namun bisakan kupinta pada tuhan untuk mempertemukan kita disurga maupun kehidupan yang akan datang''''''''''''
••••The End•••••
Author pov:
Maaf ya kalo kurang ngefeel🐾
Tanda:
HWANG HYONA 🐣