Xio Chi adaah seorang ibu rumah tangga biasa, sehari-harinya adalah seorang petani, suaminya Bhak pho yang bekerja sebagai nelayan, mereka telah menikah sekitar 5tahun, namun belum juga diberi keturunan.
Mereka sangat bahagia, walau terkadang menjadi bahan omongan tetangganya.
"Hei Xio chi,,,,,,apa kau tidak malu? sampai sekarang belum punya anak?"
ujar tetangganya yang berjualan di pasar.
Xio chi tidak pernah memperduolikan hal tersebut, tapi terkadang dia pulang dengan menangis, cukup untknya terluka karena perkataan tetangganya.
Sampai suatu hari ketika suaminya pergi menjala ikan, entah diamendayung ke arah mana, tiba-tiba danau biasanya dia mencari ikan, di penuhi dengan kabut asap yang tebal.
Suaminya Bhak Pho tidak merasa curiga, dia terus menjala ikan seperti biasa, dia mendenmgar sebuah suara, samar-samar namun perlahan menjelas, seperti suara tangisan seorang bayi, tapi Bhak pho Bagaimana ada suara bayi di tengah danau yang luas ini.
tepat di depannya sebuah keranjang terbuat dari rotan menghampiri, di dalamnya terdapat seorang bayi yang sangat cantik, dia bahkan melihat sekelilingnya tapi dia tidak bisa melihat apa-apa karena semua tertutup kabut.
Segera Bhak phopulang dengan membawa bayi tersebut, dia pun tidak jadi menjala ikan hari itu. perlahan-lahan Bhak pho yang baru sampai kerumah, segera masuk rumah dan memberitahu sang istri.
"Sayang....sayang.... Lihatlah apa yang aku temukan di danau?"
ujar suaminya yang menghampiri istrinya yang berada di sebuah dapur.
"Ada apa sayang?"
"Lihatlah..... menemukan seorang bayi cantik"
ujar suaminya yang menunjukkan sebuah keranjang yang berisi bayi mungil, sang istri pun langsung tersenyum dan menggendong bayi tersebut, bayi yang berjenis kelamin perempuan itu diberi nama Shu Chi.
di samping badan sang bayi terdapat sebuah lonceng kecil yang kemudian dijadikan sebuah kalung oleh Bhak pho.
Sejak hari itu Mereka telah mengangkat seorang anak perempuan yang cantik dan mungil bahkan sekarang tidak ada lagi tetangga yang mencibirnya atau mengatakan mereka mandul. Seiring berjalannya waktu, Shu Chi tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik dan anggun, ramah dan membuat para lelaki di desanya menjadi tergila-gila kepadanya.
Sampai suatu ketika tepat di ulang tahun dia yang ke-17 tahun, hal aneh terjadi kepada Shu Chi, entah dia sadar atau tidak setiap tengah malam tepat di jam 12 dia menghilang dari kamarnya, ditemani beberapa awan kecil yang membuatnya bisa terbang melayang ke mau kesana kemari. dan dia menghampiri sebuah rumah, yang baru saja melahirkan seorang anak bayi tepat di bulan purnama.
dia mengambil bayi tersebut dan memberi tanda sebuah lonceng kalau dia mengambil bayi tersebut.
Criiinggg....Criiinngggg.....
suara lonceng dari leher Shu chi, awalnya tidak ada yang curiga apalagi orang tua si bayi juga tertidur dengan pulas mereka memang mendengar suara lonceng tapi dia tidak tahu bahwa itu adalah pertanda anaknya telah diculik.
Shu chi membawa bayi tersebut ke sebuah danau, dan di danau tersebut dia memakan bayi itu, dengan lahap dan rakus wajahnya berubah menjadi seorang yang sangat menyeramkan, mata yang melotot dengan garam gigi yang tajam runcing seperti mata pisau, mencabik habis seluruh badan bayi dan hanya menyisakan sebuah kepala yang kemudian diletakkan di atas danau.
Selama ini orang tua Shu chi, tidak pernah mencari ikan lagi di danau, karena suci yang membantu mereka berjualan di pasar Karena kecantikannya banyak sekali pelanggan yang mampir di toko mereka, walau hanya menjual beberapa tanaman obat dan buah.
Esok paginya orang tua si bayi begitu heboh mendapati anaknya telah hilang, mereka terus mencari dengan cari ke mana keberadaan bayi tersebut, orang tua Shu chi tidak tahu bahwa anaknya lah yang telah menghabisi bayi tersebut. riuh gemuruh orang-orang yang tengah mencari bayi tersebut bahkan orang-orang menggeledah sebuah rumah, yang di mana rumah tersebut menjual beberapa lonceng untuk sapi dan kuda, menurut keterangan si Ibu bayi bahwa sebelum anak yang hilang dia mendengar suara lonceng yang bertaut di tengah malam.
Seperti biasa pagi ini ibunya Shu chi, membangunkan anak gadisnya untuk segera membantu dirinya memasak makanan di pagi hari, sang Ibu Pun masuk ke dalam kamar Shu chi, Betapa terkejutnya ketika dia melihat wajah Shu chi berlumur darah, dan lonceng yang dipegang oleh sang anak di tangan kanannya, dia jadi teringat akan omongan tetangga yang sedang mencari orang yang telah menculik bayi mereka dan sebelum anak yang hilang mereka mendengar suara sebuah lonceng, tapi si Ibu berpikir positif mungkin saja bukan anak-anaknya karena apa tujuan dan motifnya saja ibunya masih belum mengerti, tidak ada perasaan curiga hanya saja ini sangat mengganjal di hatinya.
Dan malam berikutnya, ibunya sengaja menunggu tepat di jam 12 malam, dia berdiam diri menunggu di sebuah ruangan yang gelap, yang tepat menghadap ke pintu kamar Shu Chi, dan benar saja Shu chi keluar dengan keadaan melayang, wajahnya berubah menyeramkan sang Ibu hanya bisa menatap dengan menahan mulutnya dengan tangan untuk tidak mengeluarkan suara.
Setelah Shu chi keluar dari rumahnya, sang Ibu membangunkan suaminya agar dia melihat kelakuan dari putrinya tersebut.
"Pak...pak ayo bangun"
"Ada apa bu?"
"Anak kita berubah menjadi sosokyang menyeramkan"
ujar si Ibu yang terus membangunkan suaminya.
Segera suami juga ikut bangun dan mereka mengikuti dari belakang Ke mana perginya Shu chi, cepat di sebuah rumah yang baru saja juga melahirkan seorang bayi di bulan purnama, dia pun membunyikan suara lonceng seperti biasa,
Mereka pun terkejut melihat anaknya mencuri seorang bayi. tepat di depan orang tuanya Shu chi yang menggendong bayi tersebut berhenti, ada Sisi di mana Dia teringat akan kebaikan kedua orang, namun tiba-tiba saja suara gemuruh riuh teriakan datang dari arah belakang, benar saja penduduk desa telah mengepung dirinya, dia pun segera berlari.
Dengan perasaan sedih kedua orang tuanya, mengikuti kemana Shu chi berlari, selama ini mereka membesarkan seorang siluman, tapi tetap saja mereka menyayangi Shu chi seperti anak mereka sendiri, perlahan shu chi menghilang di tepi danau, tidak pernah terlihat sampai sekarang, sehingga setiap malam bulan purnama, tepat ditengah malam mereka menyalakan lampion yang di larutkan ketepi danau,agar dewi Shu chi tidak datang..
.
.
.
Tamat