Di dalam buku dongeng一saat arah jam menunjukkan pukul 12 malam一lonceng jam akan berdenting. Dan Cinderella akan kabur dari pesta juga kerumunan orang-orang. Ia tak mau gaun yang ia pakai, sepatu kaca yang ia kenakan, dan labu yang menjadi kendaraannya berubah lalu dilihat oleh semua orang.
Itu...
Pasti sungguh memalukan untuk Cinderella, andai saja semua orang tahu identitas aslinya yang hanya seorang gadis malang tak istimewa dan bukan dari kerajaan sama sekali.
Kisah ini bisa dikategorikan sama dengan Cinderella yang ada dalam dongeng. Tapi, ada satu hal yang berbeda.
Cinderella yang ini....
...dipanggil 'Cinderella yang Buruk' oleh Ibunya sendiri.
🌙🌙🌙
Cinderella berlari melewati kerumunan orang-orang yang menghalangi jalannya. Ini gawat. Gawat sekali! Harusnya Cinderella tak ikut Arthur untuk menonton konser musik di balai kota. Harusnya ia duduk manis saja di dalam rumah!
Jam di tangannya menunjukkan pukul setengah 12 malam. Aduh, Cinderella bisa mati kalau Ibunya tahu bahwa anaknya masih diluar rumah di jam segini. Ini benar-benar gawat!
"Cinderella!" panggil Arthur yang berusaha mengejar Cinderella di belakang sana.
Cinderella tak menggubris panggilan Arthur. Ia mempercepat laju larinya agar bisa cepat sampai rumah.
BRUGGHH!!!
"A.. Awww..."
Cinderella meringis kesakitan karena baru saja jatuh terjungkal ke depan. Ini karena laju larinya yang tak terkendali.
"Cinderella! Apa kau tidak apa-apa?"
Arthur menatap Cinderella dengan penuh kekhawatiran. Ia langsung membantu Cinderella untuk berdiri lalu membawanya duduk di tangga dekat trotoar jalan.
"Ini, sepatumu tertinggal, tahu. Makanya aku memanggilmu dari tadi. Tapi, kau malah tetap saja berlari," ujar Arthur sambil memberikan sepatu tali yang berwarna hitam pada Cinderella.
"Maaf, Arthur. Kau 'kan tahu sendiri, aku dilarang berada diluar rumah lewat jam 12 malam."
"Iya, aku tahu. Itu larangan dari Ibumu, kan?"
Cinderella mengangguk dengan perasaan tak enak pada Arthur.
"Ya sudah, kalau begitu, sini. Aku pakaikan sepatumu di kakimu, ya," kata Arthur seraya berlutut di hadapanku yang masih duduk.
"Eh? J-jangan..."
Arthur tak menggubris perkataan Cinderella. Ia dengan lembut dan pelan memakaikan sepatu hitam tersebut di kaki gadis tersebut.
"Sudah selesai, deh," kata Arthur seraya tersenyum manis.
Cinderella ikut tersenyum manis, "Terimakasih, ya."
"Eh? Bukankah di dalam dongeng, Cinderella tidak sempat bilang terimakasih pada pangeran, ya?"
"Hahaha, kau merasa dirimu seorang pangeran?"
"Hahaha, iya. Aku selalu merasa bahwa aku ini sebenarnya adalah pangeran yang terbuang dari istana."
Cinderella dan Arthur sama-sama tertawa lepas. Melihatnya tertawa seperti ini, membuat Cinderella semakin jatuh hati pada lelaki di hadapannya ini.
"Lagipula, sudah kukatakan berkali-kali padamu. Aku tak seperti Cinderella yang dalam dongeng itu. Tak ada Cinderella penyakitan sepertiku," ujar Cinderella sembari menundukkan kepala.
Sebuah tangan tiba-tiba menggenggam jemari-jemari gadis itu. Refleks, Cinderella menatap lurus Arthur yang kini menatapnya dengan tatapan yang dalam.
"Aku tak peduli kau penyakitan atau bagaimana. Yang jelas, aku tetap mencin一"
Arthur terdiam. Ia tak melanjutkan lagi ucapannya.
"Mencin? Kau mau bilang apa, Arthur?"
Jelas, Cinderella sudah tahu apa yang mau dikatakan Arthur padanya. Namun, ia tetap saja ingin mendengar dengan jelas kata 'Cinta' Arthur untuknya.
"Sudahlah, lupakan. Aku akan bilang padamu lain kali saja. Sekarang, lebih baik kau pulang. Aku akan mengantarmu dan menjelaskan pada Ibumu perihal kepulanganmu yang larut ini," jawab Arthur lalu dibalas anggukan kecewa oleh Cinderella.
🌙🌙🌙
Ibu Cinderella menatap anaknya dan Arthur dengan tatapan menyeramkan. Tanpa mengucapkan apa-apa, Ibu berjalan menaiki tangga一menuju kamar Cinderella.
"Arthur, aku masuk kamar dulu, ya."
Arthur mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, istirahatlah. Selamat malam, Cinderella."
Cinderella mengangguk sambil tersenyum lalu berjalan menyusul Ibunya.
Tak lama kemudian, Cinderella pun sudah berada di dalam kamarnya. Ibu juga sudah bersiap untuk mengunci gadis itu di dalam kamar. Ya, inilah kebiasaan Ibu di setiap malam. Ia akan mengunci Cinderella dalam kamar sebelum pukul 12 malam. Lalu, akan kembali membukakan pintu di jam 6 pagi.
"Kau harus tahu diri, Cinderella. Kau adalah Cinderella yang buruk. Kau ini memiliki penyakit yang akan kambuh di jam 12 malam hingga jam 5 pagi. Harus berapa kali Ibu menegaskan hal ini, hah?"
"Ma.. Maaf Bu, aku hanya一"
"Jangan lupa minum obatmu. Ibu sudah menyimpannya di atas meja belajarmu."
BRUGGHH!!!
CKLEK!!!
Ibu menutup pintu dengan keras lalu mengunci pintu kamar Cinderella. Sedangkan Cinderella, ia masih berdiri di dekat pintu kamar untuk menguping apa yang akan dikatakan Ibu pada Arthur di ruang tamu bawah.
"Tante, aku minta maaf karena sudah membawa Cinderella pulang pukul setengah 12 malam," kata Arthur yang sayup-sayup bisa didengar oleh Cinderella.
"Jauhi Cinderella. Jangan pernah bertemu dengannya lagi."
"Kenapa, Tante? Kedepannya, aku tak akan lagi mengajak Cinderella pergi hingga pulang larut malam seperti ini, Tante."
"Tetap saja, kau harus menjauhinya mulai sekarang! Aku tidak akan pernah mengizinkan Cinderella pergi lagi denganmu!"
"Maaf, Tante. Apa Tante melarangku ini karena khawatir dengan penyakit Cinderella? Aku tak keberatan, Tante. Aku menerima Cinderella apa adanya."
"Kau tak akan pernah bisa menerima penyakit Cinderella dengan apa adanya! Dan juga, kau jangan menyepelekan penyakit Cinderella!"
Cinderella menangis mendengar Ibu membentak-bentak Arthur. Tamatlah sudah riwayatnya. Pasti, setelah ini Arthur akan menjauhinya dan tak akan pernah mau bertemu lagi dengannya.
"Maafkan aku, Arthur."
🌙🌙🌙
Beberapa hari kemudian...
Malam hari, pukul setengah 12 malam.
Cinderella berguling-guling di kasurnya. Ah, kalau dipikir-pikir, hidupnya itu benar-benar membosankan. Setiap hari harus diatur ini-itu oleh Ibunya. Dan setiap malam juga, ia harus minum bermacam-macam obat untuk mengurangi kambuh penyakitnya.
"Hei, Cinderella."
"Ar-arthur?!"
Cinderella terperanjat dari posisi tidurnya sambil membelalakkan matanya kaget. Ia tak percaya melihat Arthur ada di hadapannya sekarang.
"Kenapa kau bisa masuk ke dalam kamarku?" tanya Cinderella bingung sekaligus panik.
"Aku masuk lewat jendela ruang tamu rumahmu yang kubobol sendiri. Lagipula, kenapa kau sepanik ini? Ibumu kan pasti sudah tidur jam segini," jawab Arthur santai.
"Masalahnya, Ibuku pasti belum tidur. Ia biasanya tidur setelah mengunciku di kamar ini pukul setengah 12 malam. Dan kau, malah datang di jam segini. Bagaimana aku tak panik dan takut?"
Arthur tertawa kecil seraya memeluk tubuh Cinderella. Cinderella pun membalas pelukan Arthur. Bagaimanapun, ia tak bisa menyembunyikan rasa rindunya tersebut.
Tak lama kemudian, Cinderella melepaskan pelukan Arthur.
"Kau harus segera pergi dari sini. Aku tak mau一"
"Tidak apa-apa. Aku tak keberatan kalau penyakitmu kambuh dihadapanku. Aku menerimamu apa adanya, Cinderella," kata Arthur membuat Cinderella sangat terharu.
"Tapi, Arthur. Aku mohon, kau harus segera pergi dari sini. Karena kalau tidak, kau pasti tak akan bisa bertemu lagi denganku一"
"Selama aku tak ketahuan oleh Ibumu, aku masih punya banyak kesempatan melihat dan bertemu denganmu."
Cinderella menggeleng keras. Ia tetap terlihat takut dan tak tenang dengan ucapan Arthur.
"Cinderella, Cinderella!"
DEG!!!
Cinderella dan Arthur sama-sama membelalakkan matanya kaget. Langkah kaki Ibu Cenderella terdengar semakin mendekati pintu kamar Cinderella yang tertutup.
Dengan panik, Arthur pun segera bersembunyi ke dalam lemari besar milik Cinderella.
Cklek!
Pintu kamar Cinderella terbuka.
"Hei, sedang apa kau berdiri seperti itu?" tanya Ibu Cinderella ketus.
Cinderella menggeleng pelan sambil menelan ludahnya kasar, "Aku baru saja akan tidur, Bu."
Dari dalam lemari, Arthur bisa melihat wajah ketakutan Cinderella terhadap Ibunya. Sedangkan Ibu Cinderella terlihat menatap Cinderella dengan tajam.
"Kasihan sekali, Cinderella. Ia pasti tertekan punya Ibu seperti itu," kata Arthur dalam hati.
Pandangan Arthur pun teralihkan ke segala penjuru isi lemari. Aneh, lemari yang ia masuki ini cukup besar. Tapi, tak ada satupun barang atau baju yang tersimpan di lemari tersebut.
"Apa lemari ini cuman pajangan saja, ya?" tanya Arthur dalam hati.
Saat sedang bertanya-tanya seperti itu, Arthur menoleh ke arah belakangnya. Bisa ia lihat, sebuah cahaya keluar dari belakang lemari. Ya, ada sebuah lubang di belakang lemari tersebut.
Arthur pun mencoba mengintip ke dalam lubang di belakang lemari tersebut.
DEG!!!
Mata dan mulut Arthur membulat sempurna. Detak jantungnya terasa terhenti seketika. Aliran darahnya juga berdesir begitu cepat.
Bagaimana tidak? Arthur melihat di belakang lemari tersebut, terdapat sebuah ruangan kecil berukuran 3x4 meter. Yang begitu mengejutkan adalah...
...bahwa di ruangan itu...
...terdapat satu orang lelaki tak berbusana yang berdarah-darah di sekujur tubuhnya. Selain itu, tangan dan kakinya juga terikat sempurna. Lelaki tersebut terlihat masih bernapas meskipun dengan napas yang sekarat.
Selain lelaki tersebut, banyak juga mayat lelaki lain yang digantung terbalik dengan kondisi tubuh yang sangat mengenaskan. Ada yang kepalanya terbelah setengah, isi perut yang terbuka, telinga dan hidung yang tak ada, dan lain-lain sebagainya.
"Apa-apaan..." gumam Arthur sangat shock dengan apa yang dilihatnya.
Teng! Teng! Teng!
Suara denting lonceng jam di ruang tamu bergema ke seluruh penjuru rumah. Itu artinya, malam ini sudah tepat pukul 12 malam.
BRUAKKK!!!
Pintu lemari terbuka lebar. Menampilkan Cinderella yang tersenyum lebar pada Arthur. Melihat ekspresi Arthur yang tak biasa, Cinderella pun tertawa cekikikan.
"Maaf menunggu lama. Kau pasti pengap kan bersembunyi di dalam lemari?" tanya Cinderella dengan suara lugu namun dengan ekspresi yang sangat menyeramkan.
"Cinderella..." perkataan Arthur terhenti tatkala melihat Ibu Cinderella juga berdiri di belakang anaknya.
"Jadi, kalian berdua adalah pembunuh?" tanya Arthur gemetaran. Pelipisnya sudah basah oleh keringat dingin.
"Enak saja. Bukan. Yang pembunuh itu dia, bukan aku," jawab Ibu Cinderella tak terima.
"Sssttt, Ibu kenapa memberi tahu pada Arthur, sih? Aku kan jadi malu, hihihi."
Ibu Cinderella berdecak sambil melipat tangan di bawah dada.
"Aku sudah memperingatkan dari awal padamu. Tapi kau tetap bersikeras menemui Cinderella. Kalau begitu, silahkan lihat sendiri bagaimana mengerikannya penyakit anakku ini," ujar Ibunya Cinderella.
"Aku juga sudah memperingatkan Arthur, Bu. Tapi dia bilang, dia tak keberatan kalau penyakitku kambuh di hadapannya. Iya kan, Arthur?" tanya Cinderella sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Arthur menggeleng-gelengkan kepalanya, "Dasar orang gila!"
Arthur pun keluar dari dalam lemari. Ia berniat untuk berlari dan kabur dari kamar Cinderella. Tapi, baru saja beberapa langkah, tubuh Arthur ambruk di hadapan Cinderella.
"Wah, obatnya sudah bekerja ya," kata Cinderella sumringah.
"O... Obat?" tanya Arthur yang merasakan sekujur tubuhnya kaku tak bisa digerakkan.
"Tadi, saat kau memelukku, aku menyuntikan obat ke punggungmu. Kau tak merasakan itu, ya?"
Arthur tak menjawab apa-apa. Bahkan, lidahnya pun kelu untuk digerakkan. Ia menatap Ibu Cinderella, berharap mendapat penjelasan ataupun belas kasihan.
"Cinderella ini punya penyakit 'Killer Syndrome'. Dia akan berkeinginan tinggi untuk menyiksa dan membunuh laki-laki yang ia temui setiap jam 12 malam hingga jam 5 pagi. Itu sebabnya aku selalu mengunci kamarnya di jam-jam tersebut, dan menyuruhnya minum pil obat penenang," jelas Ibu Cinderella.
"Tapi, sepertinya malam ini kau berulah lagi, ya? Kenapa kau tak minum obatmu, hah?" sambung Ibu Cinderella bertanya ketus pada anaknya.
"Aku lupa Bu, hihihi," jawab Cinderella cekikikan.
Ibu Cinderella menggeleng-gelengkan kepalanya kesal.
"Ya sudah, kalau begitu, Ibu mau tidur," kata Ibu Cinderella seraya berjalan menuju pintu kamar anaknya, berniat untuk pergi dari situ.
Arthur mencoba mengeluarkan suara一meminta tolong. Hal itu membuat Ibu Cinderella berbalik badan, menatap Arthur yang masih terkapar di lantai.
"Syndrome Cinderella ini akan mereda dan normal kembali pada saat jam 6 pagi. Jadi, selama dari jam 12 malam hingga jam 5 pagi, kau akan mendapat terus-menerus siksaan," jelas Ibu Cinderella yang membuat Arthur semakin ketakutan.
"Loh? Arthur? Kenapa kau terlihat sangat ketakutan? Kau kan bilang, akan menerima penyakitku apa adanya. Tapi kenapa sekarang kau mengingkari ucapanmu?" tanya Cinderella dengan nada sedih.
"Dasar, semua lelaki itu sama saja. Selalu saja ketakutan setiap mengetahui penyakitku yang sebenarnya," sambung Cinderella lalu diikuti dengan tawanya yang menggelegar, namun terdengar sangat menyeramkan.
"Nah Arthur, sekarang kita masuk ke ruangan ini, yuk! Akan kutunjukkan padamu betapa hebatnya penyakitku ketika kambuh!" seru Cinderella sambil mengangkat kedua kaki Arthur, lalu menyeret tubuh Arthur masuk ke dalam lemari kembali. Tidak, tepatnya一 masuk ke ruangan yang ada di belakang lemari.
Arthur meronta-ronta sambil menggeleng-gelengkan kepala ketakutan. Ia menatap Ibu Cinderella yang berdiri dekat ambang pintu yang memperhatikannya sedang diseret. Sedangkan Cinderella terus menyeret tubuhnya sambil tertawa.
Satu hal yang Arthur sadari.
Bahwa tenaga Cinderella, bukanlah tenaga perempuan biasa. Ini lebih terasa seperti suatu kekuatan iblis merasuki Cinderella.
"Dasar Cinderella yang Buruk. Aku menyesal melahirkan anak sepertimu," gumam Ibu Cinderella seraya menutup pintu kamar Cinderella. Lalu mengunci kamar tersebut.
~THE END~
Eitsss! Mau kemana? Jangan lupa like dan komennya dulu yaaa! Biar aku semakin semangat buat cerpen hehehe😹
❤Big Love, Meow😸