Perayaan pernikahan tadi malam telah selesai digelar secara sederhana di rumah keluarga Suyoto. Bukan acara mewah, tapi paling tidak bisa dilaksanakan secara khidmat dan sakral oleh anggota kedua keluarga. Surya mulai menjemput pagi dimana rumah itu masih terlihat sepi, karena penghuninya masih terlelap akan lelah pasca acara kemarin.
Dua tubuh manusia terlihat masih meringkuk dibawah selimut. Dengan memeluk guling masing-masing. Dari tampilan tubuh mereka yang masih lengkap dengan pakaian yang melekat, bisa ditafsirkan jika diantara mereka memang belum terjadi apa-apa.
Tubuh si wanita mulai menggeliat, matanya mengerjap kecil. Kedua matanya mulai terbuka lebar, dengan ekspresi terkejutnya. Dan, "Aaaaaaaa.....???!!!!" Chaca berteriak kencang sehingga membangunkan lelaki disampingnya.
Lelaki itu terjingkat kaget karena teriakan istrinya. "Sayang, kenapa kau teriak pagi-pagi seperti ini siih??" mata Maxim menyipit menahan pusing setelah terbangun.
"Abb,.Abang ngapain ada dikamarku??" tanya Chaca langsung duduk bersimpuh menatap curiga laki-laki itu. Namun sesaat ia tersadar, "Oh, astaga??!! aku lupa jika kita sudah menikah." ia menyibak rambutnya kebelakang dan mengusap wajah bantalnya yang frustasi.
"Ishh, kau ini pikunnya kelewatan. Hingga lupa akan status kita." ucap Maxim kembali meletakkan kepalanya diatas bantal dan memejamkan matanya kembali.
Sementara dari luar pintu terdengar ketukan Bu Suyoto, ia khawatir setelah mendengar teriakan putrinya pagi-pagi. "Nak, kau tidak apa-apa? Kenapa tiba-tiba teriak?" tanyanya.
Chaca yang terlihat bingung segera beranjak dari tempat tidur menuju pintu untuk menemui ibunya. 'Astaga, suaraku segitu kencangnya hingga Ibu mendengarnya.' gumamnya dalam hati.
'Ceklek'
"Ibu, selamat pagi?" Chaca tersenyum menyambut wajah teduh wanita mulia didepannya itu.
"Kau tidak apa-apa??kenapa teriak pagi-pagi seperti ini?! membuat Ibu kaget saja." ucap Bu Suyoto.
Wajah Chaca terlihat kebingungan, tidak mungkin ia jujur berteriak karena kaget melihat wajah suaminya sendiri tiba-tiba tidur disamping. "Ah, Bu.. tadi aku hampir jatuh terpeleset setelah keluar dari kamar mandi." Jawabnya berdalih.
"Kau ini,. Hampir membangunkan seisi rumah." Bu Suyoto menepuk pundak putrinya. "Ya sudah, cepat bersiap!!? ingat kau sudah menjadi seorang istri. Tugas istri juga harus menyiapkan sarapan suami. Kau harus mulai belajar dan terbiasa dengan hal itu." petuah sang Ibu membuat Chaca tertegun, tak lama ia pun mengangguk.
"Iya Bu, aku ingin membangunkan Bang Maxim untuk sholat dulu." ucap Chaca yang mendapat persetujuan dari sang Ibu.
Setelah Ibu meninggalkan kamarnya, Chaca membangunkan suaminya yang masih memejamkan mata. "Abang, ayo bangun kita sholat sama-sama." Chaca menyentuh pundak suaminya. "Abang, cepet buruan??! ini sudah hampir jam 5." ujarnya lagi.
Maxim yang masih memejamkan mata mendadak menangkap tangan Chaca kemudian menarik tubuh sang istri dalam dekapannya. Sontak saja membuat Chaca terkaget, ada perasaan aneh dalam pikirannya. Perasaan baru untuk harus terbiasa sebagai seorang istri.
"Hey, nyonya istri. Pagi ini kau cerewet sekali. Harusnya kau membangunkanku dengan morning kiss." Maxim membuka mata menatap Chaca didepan matanya. Dan, 'Cups..' ia menyambar bibir sang istri, kemudian tersenyum nakal ke arah perempuan itu.
Chacha mendorong tubuh Maxim, kemudian duduk. Wajahnya memerah dan Maxim sangat menyukai itu. "Abang mau sholat atau tidak?? kalau tidak, aku duluan, nihhh??!!" Ancam wanita itu pada suaminya.
"Oke-oke, fine. Kau menang nyonya. Ayo kita berjamaah, memohon agar segera diberi momongan." ucap Maxim penuh maksud.
"Apa'an siih??!! mulai ngaco." Chaca berpaling meninggalkan suaminya menuju kamar mandi.
"Sayang, aku serius. Kau ini....??!!" seru Maxim beranjak dari tempat tidur menyusul sang istri yang hendak melaksanakan ibadahnya.
*****
Keluarga Pak Suyoto tengah menikmati sarapan pagi di meja makan. Suasana bertambah ramai seiring kehadiran Maxim sebagai menantu di keluarga itu. Sebelumnya mereka sarapan berempat, dimana ada Ayah, Ibu, Chaca dan Jadid adik Chaca yang masih duduk di bangku SMA. Usianya terpaut 6tahun dengan sang kakak.
"Jadi, kau hanya mendapat cuti kerja selama 5hari saja, nak?" tanya Pak Suyoto kapada putra menantunya setelah menenggak air dari gelas dan mengusap sisa dibibirnya.
Maksim menatap Ayah mertuanya, "Iya, Ayah??!! terhitung dari dua hari yang lalu. Jadi sisa cuti saya tinggal tiga hari ini." Jawab Maxim kemudian kembali menyendok makanannya. Chaca menawarkan lauk pada suaminya, tapi Maxim menolak dengan telapak tangan terulur.
"Pelayaran membutuhkan waktu minimal 6bulan untuk bisa pulang kembali kekeluarga, nak??!! Ayah harap kau sudah memikirkan konsekuensinya." Ucap Pak Suyoto menatap Maxim kemudian lanjut ke Chaca.
"Iya, Ayah... Aku mengerti arah pembicaraan Ayah." Ujar Chaca tersenyum lalu menatap Maxim. "Kami akan saling menjaga meski sedang berjauhan." Tangan lembut itu menyentuh tangan suaminya, sehingga mendapat balasan genggaman jari kokoh Maxim.
Jadid merasa jengah menatap kemesraan kakaknya itu. "Ishh, jiwa jonesku meronta melihat kalian seperti itu." tangannya menyambar gelas yang berisi air di depannya.
Maxim tertawa mendengar celotek adik iparnya. "Jadi kau masih jomblo, did??!! Abang dulu seusiamu sudah mendapat 2 pacar sekaligus." ucapnya dengan nada mengejek. Sontak ucapannya membuat kedua mata Chaca terbelak menatap Maxim.
"Ehmm, seperti itu ya, abang??!!" tanya Chaca, jarinya meremas gelas ditangannya.
"Eh...ayolah, sayang itu hanya masa lalu yang tidak akan masa depan kita. Kita bersama akan mengukir masa depan kita sendiri, oke???!!" ucap Maxim dengan pandangan mengiba.
"pffftt,.." Jadid menahan tawa melihat kebucinan kakak iparnya itu. "Hah, sudahlah, aku sebal melihat kalian berdua." Remaja itu beranjak mendatangi kedua orang tuanya untuk pamit dan bersalaman. "Jadid berangkat, Ayah, Ibu." Remaja itu hanya mencibirkan bibir ke arah kakak dan iparnya, kemudian segera berlalu.
"Nak, besok lusa suamimu akan berangkat kembali bertugas. Kau siapkan semua keperluannya, jangan ada yang terlewatkan. Itu semua tanggung jawabmu." Pesan Ibu pada putrinya. Chaca hanya mengangguk menuruti perkataan Bu Suyoto.
"Pesan Ayah hanya saling menjaga kesetiaan, hubungan jarak jauh tidaklah mudah. Pasti ada saja kerikil tajam yang siap menghadang. Mungkin itu bisa kalian atasi agar sering-sering berkomunikasi." ucap Pak Suyoto kepada kedua pasangan baru itu.
"Baik, Ayah." jawaban Chaca dan Maxim kompak kemudian sejenak saling memandang.
Ya, Maxim bekerja sebagai salah satu ABK yang bertugas mendampingi nahkoda kapal pesiar. Tanggung jawabnya besar dan tentu saja itu setimpal dengan pendapatan yang diperoleh. Selama melakukan pelayaran minimal 6 hingga 8 bulan tidak pulang, tentu saja itu tidaklah mudah terutama bagi mereka yang merupakan pasangan pengantin baru. Dalam hitungan hari, mereka harus berpisah dalam waktu yang lama.
Setelah sarapan usai, Ayah berangkat dinas di kantor kecamatan. Sedangkan Ibu dengan dibantu Chaca segera membereskan sisa makanan. Maxim sendiri kembali ke kamarnya, untuk mempersiapkan sebagian keperluannya. Besok pagi, Maxim dan Chaca akan menginap di kediaman orang tua Maxim. Hanya ada sisa satu malam, setidaknya cukup bagi mereka untuk memposisikan sebagai menantu.
Chaca masuk kamar, ia melihat sang suami sedang sibuk dengan ponselnya. Chaca pun mendekat dan duduk disampingnya. Maxim menatap wanitanya, kemudian meletakkan ponselnya diatas nakast. Tangannya meraih tubuh istrinya diatas pangkuannya dan tak ada perlawanan bagi Chaca.
"Kau kenapa? beri aku senyuman manismu, sayang. Jangan cemberut." ucap Maxim mengecup pelipis gadis itu.
Chaca mengalungkan tangannya ke bahu suaminya, kepalanya disandarkan kebahu laki-laki itu. "Kau menikahiku untuk meninggalkanku, Bang??!" ucapnya miris.
Maxim tersentak menarik wajah gadis itu kearahnya. "Jangan pernah berkata seperti itu, sayang. Kita akan membayar mahal sebelum itu. Aku sangat mencintaimu. Doakan aku agar segera kembali." Maxim menangkup kedua pipi Chaca, mendekatkan bibir ke bibir istrinya. Memberi kecupan kecil hingga semakin dalam.
Maxim merebahkan tubuh istrinya. "Apa kau sudah siap, sayang?" tanyanya. Ia tidak mau menyia-nyiakan waktu sempitnya. Maxim ingin menikmati setiap detik sisa waktu yang ada.
Mata Chaca terbelalak, "App..Apa..?! bang, ini masih pagi juga." ucapnya gugup.
"Waktu kita tidak banyak, sayang. Aku juga ingin segera mendapatkan keturunan darimu. Aku harap dipenantianmu nanti ada baby yang sudah bersemayam di rahimmu." Ucap Maxim, kemudian ia melangkah ke arah pintu dan menguncinya.
Maxim mendekati istrinya kembali, memberi sentuhan kecil dan lembut. Ia tidak mau meninggalkan kesan menyedihkan barang sedikitpun. Tanpa ada penolakan dari Chaca, meskipun jantungnya sangat berdegup kencang. Ini pertama bagi mereka, keduanya berharap tidak ada kekacauan yang terjadi.
Dengan tatapan mendamba, senyum lembut Maxim seolah membius Chaca untuk ikut hanyut didalamnya. Desahan kecil seolah menjadi alunan irama yang mewarnai pagi cerah itu. Kondisi rumah yang sepi mendukung setiap melodi yang mereka ciptakan, tanpa ada liburan atau honeymoon ala pengantin baru karena tidak ada masa untuk itu.
*****
"Terima kasih, sayang??!!" kata-kata itu terlontar dari bibir Maxim yang tengah terbaring memeluk sang istri. Sesekali bibirnya mengecup puncak kepala Chaca. "Maaf jika menyakitimu." imbuhnya.
Chaca membalas dengan pelukan erat. "Berjanjilah Abang akan segera kembali, jangan terlalu lama meninggalkanku." ucap Chaca dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu saja, sayang. Teruslah menantikan kedatanganku, dengan begitu kau akan selalu merindukanku." Maxim membelai paras cantik Chaca. Membayangkan jika suatu saat dia kembali, maka istrinya itu sudah berbadan dua karena mengandung calon anak mereka. "Bagaimana jika kita kerumah Mama nanti sore, aku ingin disana sedikit lebih lama. Lagian barang-barangku lebih banyak ada disana, kemarin aku hanya membawa beberapa lembar pakaian saja."
"Terserah abang saja, aku tidak masalah. Karena yang akan mengadakan pejalanan jauh kan Abang." ucap Chaca memandang wajah suaminya penuh keikhlasan.
Maxim kemudian beranjak dari pembaringannya, "Baiklah, olah raga barusan membuatku kembali lapar. Rasanya aku ingin memakanmu lagi." kata-kata Maxim sontak membuat mata Chaca terbelak dan merapatkan selimut dalam dekapannya. "Aku bercanda, sayang??!! Kau ini sangat menggemaskan." Maxim berjalan kearah kamar mandi tanpa busana, membuat pipi Chaca kembali merona.
Maxim keluar dari kamar mandi, masih melihat istrinya masih terbaring dengan selimut membungkus tubuhnya. Ia pun mendekati Chaca, "Sayang, jika kau seperti ini terus, aku tidak bisa berjanji untuk tidak menerkammu lagi."
"Kau ini tidak tahu apa yang ku rasakan, Bang. Sakit, tahuuuu??!!!" ucap Chaca dengan wajah di tekuk dengan bibir mengerucut.
"Okeh, istriku yang cantik. Suamimu ini akan membantumu." Maxim langsung mengangkat tubuh istrinya dan berjalan ke kamar mandi.
*****
Sore itu mobil Maxim memasuki halaman rumah keluarganya. Rumah dengan ukuran sedang dengan halaman luas nampak elegan dan sangat klasik.
Maxim mengajak Chaca turun dari mobil kemudian menggandeng tangan istrinya memasuki rumah. Pintu terbuka dari dalam, mamanya sudah menyambut ditengah pintu. Maxim sebelumnya sudah mengabari sang Mama jika ia dan Chaca akan datang lebih awal sehari sebelu jadwal keberangkatannya.
"Sayang, kalian sudah datang, nak....?!!" sambut Mama kemudian memeluk dan mencium anak dengan menantunya secara bergantian.
"Iya, ma..Abang bilang ingin banyak-banyak memakan masakan Mama sebelum jadwal keberangkatannya." ucap Chaca disertai candaan.
Sang Mama tertawa lebar, beliau mengajak putra putrinya masuk kedalam. Kondisi rumah memang tampak sepi, hanya ada Mama, satu ART dan satu tukang kebun. Papa masih di kantor belum pulang dari kerjanya. Maxim sendiri adalah anak tunggal di keluarga itu. Rasa sepi sering kali menghampiri karena putra semata wayangnya pergi kerja dengan waktu yang tidak bisa diprediksikan.
Mereka tengah duduk di ruang TV menikmati kudapan dan teh hangat yang sudah disiapkan Bibi. Mama memperhatikan raut wajah putranya sangat bahagia. "Dari raut wajah kalian, sepertinya Mama akan segera mendapatkan cucu." ucapnya dengan senyuman penuh maksud. Beliau yakin jika putranya sukses dengan malamnya. Meskipun mereka melakukan dipagi hari.
"Doain saja mah??!!" ucap Maxim sembari menggenggam tangan istrinya kemudian mengecupnya lembut. Membuat Chaca tersipu malu.
"Mama terlalu kesepian ketika papamu sibuk dengan pekerjaannya, mama harap kalian segera memberikan mama cucu untuk meramaikan rumah ini. Ide baik juga, jika Chaca tinggal disini selama kau berlayar." wajah sang Mama tampak memohon.
Maxim dan Chaca saling berpandangan. Bukannya tidak mau, hanya saja mungkin dikhawatirkan Chaca tidak terbiasa tinggal bersama mertuanya. Maxim bisa menangkap kekhawatiran dari wajah istrinya. Ia juga tidak bisa memaksakan kehendak mamanya kepada Chaca.
"Begini saja Ma,. biarkan saja Chaca tinggal dirumah orang tuanya. Ia bisa datang mengunjungi Mama seminggu dua atau tiga kali. Jadi Mama tidak kesepian karena ada teman ngobrol. Bagaimana??" usul Maxim, setidaknya alasan itu bisa diterima sang Mama.
"Iya lah, terserah kalian saja. Mama akan sangat senang karena sering dikunjungi." ucap Mama tulus, membuat pasangan baru lega karena tidak ada protes dari Mamanya.
Mereka sedang asik berbincang ketika Papa pulang kerja. Senyum Pak Darmawan merekah mendapat sambutan yang hangat dari keluarganya. Beliau sangat bahagia melihat keluarganya lengkap. Moment seperti ini sangat jarang terjadi mengingat putra semata wayangnya jarang pulang kerumah.
"Pasti sangat indah jika diantara kita segera hadir seorang cucu." celetuk Pak Darmawan mengecoh perhatian keluarganya. "Papa dan Mama sudah pantas menjadi Opah dan Oma, kan??!!" imbuhya lagi.
"Benar sekali, Pah?!! Mama juga sependapat dengan Papa." timpal Bu Darmawan.
Maxim memutarkan bola matanya. Kedua orang tuanya sukses membuat pengantin baru itu malu. "Mama dan Papa terlalu ngebet sih, prosesnya saja baru tadi pagi. Masa iya, sekarang langsung suruh jadi??!!" ucapan Maxim sontak mendapat pukulan dipaha dari Chaca. Ia gemas dengan lidah suaminya yang bar-bar. "Sayang, kenapa kau memukulku? Sakit nih?!" imbuhnya.
Kedua orang tua itu tetawa lepas, melihat kelakuan mereka. Canda tawa mewarnai kebahagiaan keluarga itu, hingga Bi Inah ART dirumah itu memberi tahukan jika makan malam sudah siap. Bu Darmawan pun mengajak keluarganya menuju ruang makan.
*****
Malam itu untuk pertama kalinya Chaca memasuki kamar Maxim. Interior maskulin perpaduan antara abu-abu dan putih dengan tatanan cukup rapi. Ia tidak menyangka jika suaminya sangat memperhatikan kerapian dan kebersihan. Melihat itu semua Chaca menjadi malu sendiri.
Maxim melihat istrinya terpaku di depan pintu, ia mengira gadis itu takut untuk masuk ke kamar suaminya sendiri. Maxim pun terkekeh, "Sayang, kemarilah. Jangan bilang kau takut memasuki kamar suamimu sendiri." ucapnya seraya mengulurkan tangan agar Chaca mendekat padanya.
Chaca mencebikkan bibirnya, kemudian berjalan kearah Maxim, "Bukan begitu, Bang., aku hanya tidak menyangka jika abang orang yang memperhatikan kebersihan dan kerapian setelah melihat kamar ini." Gadis itu hendak duduk disamping suaminya, tetapi Maxim tidak mengijinkan. Laki-laki itu langsung menarik Chaca dalam pangkuannya. "Abaaang..??!!!" pekik Chaca.
"Sayang, berhentilah berteriak. Jika kau tidak ingin Mama dan Papa berpikir aku menganiyayamu." Maxim menyambar bibir Chaca, mengecup sekilas.
"Abang selalu menyebalkan." ungkap Chaca.
"Tapi selalu kau inginkan." balas Maxim.
"Siapa bilang??" tanya Chaca dengan mata membulat.
"Baiklah berarti aku yang menginginkanmu." Maxim langsung menyergapnya tanpa memberikan celah sedikitpun bagi Chaca untuk melawan. Malam itu mereka kembali merayakan pesta privat tanpa gangguan dari siapapun.
*****
Pagi itu Chaca tengah sibuk mempersiapkan kebutuhan Maxim menjelang keberangkatan laki-laki itu untuk bertugas. Dua koper besar sudah terparkir di sudut kamar. Perjalanan panjang memang membutuhkan persiapan lebih ribet.
Bu Darmawan juga tidak kalah sibuknya untuk mempersiapkan cemilan dan dendeng daging kesukaan putranya. Berbagai masakan ala Mama sudah tersaji memenuhi meja makan untuk sarapan. Pak Darmawan sendiri juga mengambil cuti, karena siang nanti akan mengantarkan putranya ke bandara.
Maxim dan Chaca turun dari kamarnya di lantai atas. Mereka berdua berjalan menuju ruang makan tempat Pak Darmawan dan istrinya menunggu untuk sarapan. "Pagi, Ma..Pa...??!" Maxim mencium pipi Mamanya. Hal yang sama dilakukan oleh Chaca. Lalu mengambil kursi untuk istrinya. "Silahkan duduk nyonya Maxim." ucapnya penuh kelembutan, membuat pipi Chaca merona seketika.
"Uuwwuuu,. Kalian ini membuat kami kembali muda lagi. Pah, besok Mama juga mau diperlakukan seperti itu??!!" ucap Bu Darmawan dengan senyum lebar.
"Mama ini,. Ingat umur, Mah??!" Seru Pak Darmawan melirik ke arah istrinya. Membuat pasangan muda diseberangnya tertawa.
"Ishh,. maka dari itu, jangan mau kalah sama mereka yang masih muda, Pah..?!" ucap Bu Darmawan tidak mau kalah.
"Sudah-sudah, Papa mau makan. Jika meladeni Mama bisa-bisa Papa yang kelaparan." Pak Darmawan bersungut membuka piringnya. Bu Darmawan tersenyum kemudian mengambilkan menu untuk sang suami.
Pasangan pengantin baru itu ikut tersenyum melihat pasangan paruh baya yang sedang berdebat itu. Hal yang sama juga dilakukan Chaca untuk mengambilkan menu sarapan untuk suaminya. Mereka pun sarapan dengan penuh khidmad.
Pukul 13.08 adalah jadwal take off pesawat yang akan ditumpangi Maxim. Siang itu Pak Darmawan beserta istri dan Chaca tengah berada di Bandara Ngurah Ray mengantarkan Maxim. Mereka berempat saat ini sedang menunggu waktu di Loby.
"Maaf tidak dapat mendampingimu dalam waktu yang lama, tapi aku janji akan segera kembali." ucap Maxim kepada sang istri. Tangannya sama sekali tidak terlepas dari genggaman jemari Chaca. Sesekali ia mengecup tangan istrinya.
"Iya Bang, aku akan menunggu. Yang penting komunikasi kita terus terjaga." Jawab Chaca, dengan menyandarkan kepala ke pundak Suaminya. Mendadak sifat manjanya muncul.
"Semuanya sudah siap, Max??" tanya sang Papa membuyarkan kemesraan pengantin baru itu.
"Sudah Pah, iya ini sudah waktunya aku berangkat." Maxim menatap jam ditangannya. "Nanti sampai di Sandaran aku akan segera mengabarimu." ucapnya menatap wajah Chaca. Ia menangkup wajah kemudian mengecup kening dan pipi sang istri.
Chaca meneteskan air mata, ia merasa tak rela ditinggal begitu saja setelah hanya beberapa hari kebersamaan mereka. "Abang hati-hati ya??!!" hanya itu yang mampu ia katakan.
Maxim beralih kearah kedua orang tuanya, ia berpamitan. "Titip istriku ya Mah, tolong jaga mereka." ucapnya mengiba.
"Mereka??!!" tanya Bu Darmawan heran.
Maxim tertawa, "Iya, kali saja calon cucu Mama dan Papa sudah jadi." sontak kedua orang tua itu tertawa, hingga membuat Chaca malu, pipinya merona.
"Kau jangan khawatir, jagalah kesehatanmu. Kami akan menjaga mereka." ucap Papa meyakinkan.
Mereka berpelukan, Maxim berjalan meninggalkan mereka bertiga. Ia ingin menoleh kebelakang lagi, tapi khawatir Chaca semakin sedih. Dengan kaki mantap ia berjalan menuju gate 3, hingga menghilang dari pandangan ketiga orang itu.
Chaca meneteskan air mata lagi, "Aku akan setia menunggu Abang. Semoga abang selalu sehat dan selamat dimanapun abang berada." gumamnya dalam hati.
Bu Darmawan melihat menantunya itu termenung dengan mata berkaca-kaca. Beliau menyentuh pundak Chaca untuk menguatkan. "Ayo kita pulang, sayang?! kita akan segera mendapatkan kabar suamimu nanti."
Chaca mengangguk menyeka air matanya. Mereka pun berjalan pulang, untuk kembali kerumah. Hingga saatnya tiba, penantiannya akan berbayar indah. Chaca percaya itu. Ia akan terus bersabar.