Keheningan malam buatku kian tersadar. Tak ada yang peduli pada hati yang terluka. Helaan napas pendek kode betapa berat dan lelahnya menjalani hidup. Sesak rasanya, gagal berulang kali. Hati ditusuk, dicampakkan dan dihempaskan oleh kata dan cinta. Tidak ada tempat untuk sekedar berbagi pelukan. Tidak ada kata "pulang" untuk orang sepertiku.
~Yiruma Tsuji~
Seorang pianis terkemuka baru saja menyelesaikan pengobatannya pasca kecelakaan. Dokter sudah memperbolehkan Yiruma Tsuji untuk pulang. Yiruma bergegas menuju piano tercintanya, tetapi begitu jemarinya berada di atas tuts-tuts itu, tangannya bergetar dan terasa dingin. Dia berusaha sekeras mungkin memainkan dua belas Etude dari Frederic Chopin Op. 10 seperti biasanya. Sayang, suaranya sudah tidak sama dengan yang dulu.
Kini, dia sudah tidak bisa tampil di atas panggung lagi, rencana resitall debutnya di Main Hall pun harus rela dilepaskannya. Karirnya hancur akibat kecelakaan. Yang lebih membuatnya sesak, pelaku tidak dijatuhi hukuman oleh hakim. Di tengah keputusasaan, rumahnya di sita karena tabungannya sudah habis untuk pengobatannya sehingga tidak mampu membayar kredit rumah.
Sudah dihempaskan ke bumi, sekarang dia harus merasakan sakitnya dicampakkan oleh orang tercintanya. Dia linglung tidak ada tempat bernaung, melangkah menuju rumah sang kekasih, bukannya mendapat pelukan menenangkan dia justru di usir. Kekasihnya berkata "Kau sudah tamat, siapa yang mau pacaran dengan orang miskin sepertimu?" sindirnya seraya membanting pintu di hadapan Yiruma membuat hatinya bagai ditusuk ribuan anak panah.
Dipinggiran jalan bermekaran bunga sakura yang begitu indah. Yiruma berjalan lemah seraya menundukkan kepalanya. Tidak ada tempat pulang untuknya, luntang-lantung di jalanan dengan menjadi seorang tunawisma mungkin itu satu-satunya pilihan yang ada.
Kedua orang tuanya telah meninggal, rumahnya telah dijual untuk biaya kuliahnya dahulu. Jadi, dia benar-benar kehilangan tempat pulang. Air mata bahkan sulit menetes, hanya helaan napas pendek dan sesak yang berulang kali terasa.
Satu bulan berlalu sejak Yiruma Tsuji menjadi seorang tunawisma yang bekerja serabutan asal bisa makan. Terowongan, bangku taman, tangga, depan toko menurutnya tempat terbaik untuk tidur adalah trowongan.
Wajah tampannya tertutup oleh kotornya tanah, kumis mulai tumbuh panjang, pakain yang dia kenakan tampak sangat kotor. Berulang kali ia berusaha menyewa studio musik dengan uang tabungan hasil kerja serabutannya untuk memulai kembali debutnya, tetap tidak berhasil.
Segala usaha yang dilakukannya selama ini tidak membuahkan hasil. Sekarang dia sudah pasrah menjalani kehidupan apa adanya. Dia sudah menyerah kembali ke dunia musik klasik. Dia mulai menerima keadaannya menjadi seorang tunawisma.
Hari itu, hujan tiba-tiba mengguyur bumi. Yiruma yang sedang menunggu lampu lalu lintas untuk menyebrang terpaksa membiarkan tubuhnya basah oleh hujan, meskipun orang-orang memakai payung.
Lampu lalu lintas memancarkan sinar hijau, tanda orang-orang harus berjalan melintas. Begitupun yang dilakukan Yiruma.
"Eh, Yiruma." Ucap seseorang terdengar di telinganya.
Orang itu yang tadinya menyebrang ke arah Yiruma berdiri berbalik ke tempat semula mengejar Yiruma. Payung hitamnya dia sodorkan ke atas kepala Yiruma. Buat pria itu menoleh menatapnya yang basah oleh hujan.
"Kau, kenapa? Karena Aku, Kau jadi basah"
"Kau juga basah, hehehe" kata gadis pemegang payung itu.
"Aku sudah basah dari tadi, sedang Kau?"
"Tidak apa." Katanya.
Air mata Yiruma menetes untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu.
"Kenapa?" tanya Yiruma.
Gadis itu terdiam.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
Yiruma ingat siapa gadis itu, Hana Kaori namanya. Gadis itu pernah menjadi saingannya di Kompetisi Piano Van Cliburn Internasional. Wanita yang sempat ia tuduh curang dan sengaja ia rendahkan demi kenyamanan sebelum tampil ke atas panggung. Wanita yang ia kira jahat sekarang malah membantunya. Wanita bertubuh sedikit gemuk dengan wajah bulatnya yang tidak enak dipandang, yang ia tolak cintanya kini berdiri di depannya dengan tubuh langsing dan wajah cantiknya membantunya.
Tangis tidak terbendung lagi. Hari itu, di saat hujan jatuh ke bumi. Untuk pertama kalinya pasca kecelakaan, air mata Yiruma jatuh begitu derasnya. Rengekannya beradu dengan guntur.
Hana menjatuhkan payungnya seraya berjalan mendekati Yiruma lalu memeluknya. Telapak tangan kanan Hana menepuk-nepuk punggung Yiruma.
"Tidak apa. Kau sudah berusaha." bisik Hana berulang kali selama Yiruma menangisi lukanya.
Selama ini, Hana mencari tahu yang terjadi setelah peristiwa kecelakaan itu. Hana turut datang ke pengadilan untuk melihat hukuman seberat apa bagi pelakunya, tetapi pelaku justru tidak di hukum. Hana sempat melihat Yiruma yang sangat sedih kala itu. Hana juga pernah menjenguk Yiruma ketika koma.
Namun, di pengadilan adalah terakhir kali dia melihat Yiruma. Dia terus mencari Yiruma di rumahnya, karena pria itu tidak jadi memulai debutnya. Bahkan, rumor beredar bahwa dia sudah tamat.
Saat Hana sudah menyerah mencari jejak keberadaan Yiruma Tsuji. Tuhan mempertemukan mereka dengan cara yang tidak terduga. Hati Hana masih bergetar ketika menatap Yiruma, walau ketampanannya tertutupi noda, walau bajunya sangat kotor, walau kumisnya tumbuh dan dia tampak acak-acakan, hatinya masih berdebar.
Ketika pria yang dicintainya itu menangis di depannya, hatinya ikut tersayat. Dia ingin menghiburnya, lantas tubuhnya bergerak sendiri memeluk pria itu. Dia terus mengatakan "Tidak apa. Kau sudah berusaha." mencoba menenangkan tambatan hatinya.
Hujan mereda bersamaan tangis Yiruma yang juga mereda. Yiruma berkata "Terimakasih" kepada Hana. Gadis itu berkata "Tidak apa. Ku akan merangkulmu."
Yiruma tersenyum.
Keduanya berjalan beriringan menceritakan keluh kesahnya selama tidak bertemu. Yiruma dipersilahkan oleh Hana untuk tinggal di rumahnya sementara waktu. Hana berjanji akan membantu Yiruma untuk naik ke panggung lagi. Dan, Yiruma berjanji akan memberikan 70% penghasilannya ketika kembali tenar kepada Hana.
Dua tahun kemudian, Hana menautkan jemarinya dengan jemari Yiruma seperti yang dilakukannya dua tahun lalu kala pertama kali membantu Yiruma untuk memainkan piano kembali. Dia pun mengatakan hal yang sama seperti dua tahun lalu "Aku akan bersamamu sampai akhir."
Bedanya, percikan asmara tumbuh di hati Yiruma. Dia ingin mengungkapkan perasaannya dengan cara yang romantis. Di tengah pertunjukkan debutnya, Yiruma berkata "Saya akan memainkan komposisi yang dibuat untuk seseorang yang telah mencintai dengan tulus yang selalu ada untuk Saya. Dan, Saya sangat mencintainya. Komposisi ini Saya beri judul " I Love You More" untukmu, Hana Kaori." Yiruma tersenyum di akhir kalimatnya. Jemarinya mulai memainkan tuts-tuts piano tersebut.
Selepas acara, Hana memeluk Yiruma erat, kemudian keduanya pun berciuman.
****