Valerin, nama gadis cantik itu.
Pertama kali aku melihatnya adalah saat aku baru saja pindah kos ke wilayah ini sebulan yang lalu.
Valerin tinggal di sebuah rumah besar, yang sepertinya ia tempati hanya dengan seorang pembantu rumahnya saja.
Sekian kali bertemu, aku kami hanya saling berbalas senyum. Tak ada yang berani menyapa lebih dulu, apalagi sampai mengajak berkenalan.
Valerin, wajahnya cantik, manis dan imut sekali. Aku semula menyangka ia masih duduk di bangku SMA atau paling tidak kuliah semester awal.
Hingga di suatu hari, di mana hujan turun deras, saat aku turun dari metromini, tiba-tiba aku melihat Valerin juga turun dari taksi.
Kami berdua sama-sama berlari kecil menghindari guyuran hujan dan memilih berteduh di depan sebuah pertokoan yang sudah tutup tak jauh dari gang menuju wilayah tempat kami tinggal.
Yah, wilayah tempat kami tinggal memang harus melewati gang kecil yang hanya bisa dilewati sepeda motor saja, itu sebabnya, meskipun naik taksi tetap saja tak bisa langsung turun di depan rumah.
"Baru pulang?"
Tanyaku akhirnya memberanikan diri.
Valerin mengangguk malu-malu.
Wajahnya yang cantik tampak begitu menggemaskan.
"Kenalkan, aku Sevan"
Kataku mengajaknya berjabat tangan.
Meskipun dadaku berdegup kencang karena jujur sudah lama sekali aku mendambakan momen seperti ini.
Bisa bertemu dengan Valerin dan bisa bicara berdua saja dengannya. Bisa bertegur sapa, berkenalan dan siapa tahu akhirnya akan jadi dekat setelahnya.
"Valerin."
Akhirnya Valerin menyambut tanganku sambil menyebutkan namanya yang sebetulnya sudah aku tahu sejak lama dari hasil bertanya pada Mpok Nining penjual nasi uduk langganan ku dan juga langganan Valerin.
Kurasakan tangan Valerin yang lembut dan halus. Membuat otakku sejenak berkelana ke mana-mana di hari yang dingin seperti ini.
Aku baru saja akan mengajaknya bicara lagi, saat kemudian tiba-tiba pembantu rumah Valerin datang membawa payung.
"Maaf, aku duluan yah."
Kata Valerin sambil tersenyum manis.
Manis sekali.
Membuatku merasa tak rela melepasnya.
Tapi, toh ia tetap pergi. Meninggalkanku yang hanya bisa berteduh sambil berdoa hujan cepat berhenti.
**--------**
"Siapa dia Non?"
Tanya Bibi, pembantu rumah ku, sekaligus juga pengawas ku.
"Entahlah, hanya kebetulan berteduh di tempat yang sama."
Kataku.
"Oh."
Sahut Bibi.
Aku mengikuti langkahnya di atas jalanan yang penuh dengan genangan air hujan.
Ah' andai aku tak bersama Bibi, pasti aku akan meminjamkan payungku untuk Sevan.
Pemuda itu, aku sesungguhnya tak asing dengannya.
Pemuda yang selalu tampil rapih dan lewat di depan rumah.
Pemuda tampan dan sopan, yang tak pernah menggangguku dan hanya selalu menyapaku dengan senyuman ramah tanpa mencoba menggoda.
Sevan.
Jadi namanya Sevan.
Apa dia sudah bekerja?
Atau dia kuliah?
Kuliah di mana?
Jurusan apa?
Rasanya aku masih ingin banyak berbincang dengannya, bertanya tentang banyak hal hingga aku bisa lebih mengenalnya.
"Aku akan buatkan makan malam, Nona mandilah dengan air hangat agar tidak sampai sakit."
Kata Bibi tiba-tiba.
Membuat lamunanku tentang Sevan seketika buyar.
"Yah Bi."
Kataku sambil mengangguk.
**-------**
Esok harinya, aku sengaja berangkat ke kampus sedikit terlambat dengan mampir ke warung yang dekat rumah Valerin lebih dulu.
Saat Valerin keluar dari rumah, selang satu menit berikutnya, baru aku kemudian pergi meninggalkan warung agar bisa bertemu Valerin di jalan raya depan.
"Hei, ketemu lagi."
Sapaku seolah pertemuan itu tak disengaja.
Valerin tersenyum cerah.
Bahkan untukku, senyuman Valerin jauh lebih cerah dari matahari pagi ini.
"Baru mau berangkat?"
Tanya Valerin.
Aku mengangguk.
"Kuliah?"
Tanya Valerin lagi.
Aku mengangguk lagi.
Sebuah metromini mendekat, aku melihat Valerin yang sepertinya ia juga melihat ke arahku seolah menunggu apakah aku akan naik atau tidak.
"Mau naik?"
Tanyaku akhirnya.
Tak ku sangka Valerin mengangguk.
Kami akhirnya naik ke atas metromini yang kebetulan tidak terlalu penuh.
Aku menyuruhnya duduk di dekat jendela, sementara aku duduk di sebelahnya.
Untuk kali pertama kami duduk sedekat itu, lengan kami bahkan bisa saling bersentuhan, membuat jantung ku rasanya terus melompat-lompat.
"Kamu mau ke mana?"
Kami menanyakan pertanyaan itu hampir bersamaan, membuatku tertawa dan Valerin tertawa juga.
Sungguh rasanya melihat ia tertawa seperti itu membuatku rela tak makan seharian.
Andai aku bisa melihatnya tertawa terus seperti itu, dan bisa selalu duduk berdekatan seperti ini.
Valerin akhirnya turun di salah satu kampus yang cukup ternama. Sementara aku masih harus meneruskan perjalanan seorang diri.
Tapi pagi ini aku merasa puas, karena akhirnya aku tahu di mana Valerin kuliah, dan aku juga tahu ternyata ia mahasiswi sastra Inggris dan baru semester tiga.
Itu berarti ia masih dua tingkat di bawahku.
Hmm... Cukup ideal untuk jadi pasangan bukan? Batinku percaya diri.
Dan yang paling penting dari semuanya adalah, kami akhirnya bisa bertukar nomor hp.
**-------**
Hari berlalu dengan cepat, tanpa terasa aku sudah begitu dekat Valerin. Kami sering janjian berangkat ke kampus bersama, kadang kami juga pulang bersama dan mampir makan bakso langganan yang tak jauh dari pasar.
Jika malam, kami akan menghabiskan waktu untuk saling berbalas pesan lewat aplikasi chat, bahkan dua hari belakangan aku mulai mengajak Valerin vidio call dan dia menanggapinya.
Senang sekali rasanya. Aku yakin jika perasaanku memang tak bertepuk sebelah tangan. Aku yakin jika Valerin juga menyimpan rasa yang sama denganku.
Maka, aku pun menyiapkan diri untuk segera mengungkapkan isi hatiku padanya.
Aku berencana malam minggu nanti akan mengajak Valerin pergi jalan berdua.
Mungkin kami akan nonton, lalu makan dan setelah itu baru aku akan mengungkapkan perasaanku dan memintanya menjadi pacarku.
Ah sungguh, aku tak sabar lagi menunggu hari itu tiba.
Membayangkan bagaimana Valerin tersipu malu seperti biasa rasanya membuat hatiku begitu tak karuan.
Aku sudah begitu ingin menariknya dalam pelukanku, dan mencium bibirnya yang seperti mawar segar.
**-------**
Aku memandangi foto profil Sevan di akun aplikasi chat nya.
Foto profil di mana Sevan begitu tampan dengan setelan rapih bersama teman-temannya yang sepertinya berada di sebuah acara seminar.
Aku menghela nafas.
Sevan hadir secara tiba-tiba dalam hidupku.
Memberi warna yang bahkan aku tak pernah membayangkannya sebelumnya.
Ia seperti pelangi yang muncul saat badai berada dalam lingkaran hidupku.
Aku menatap foto wajah Sevan lagi.
Andai ia tahu siapa aku sebenarnya, apakah ia akan tetap menjadi pelangi?
Aku begitu sedih.
Tapi, setelah belakangan ini kami begitu dekat, semakin hari aku semakin takut jika harus terus membohonginya.
Bukan hanya takut ia kecewa, tapi aku juga takut akan semakin tak mampu kehilangan dia jika kemudian dia memilih pergi dan meninggalkanku.
Apa yang harus aku lakukan?
Apa yang harus aku perbuat agar tak sampai melukainya?
Apakah jujur sejak sekarang adalah yang terbaik?
Atau biarkan saja semua mengalir seperti air dan menunggu di mana akhirnya?
**--------**
Sabtu sore akhirnya datang. Waktu yang begitu aku tunggu-tunggu.
Aku mandi sore lebih awal, bahkan aku juga sudah meminjam motor salah satu teman kos ku.
"Mau ke mana?"
Tanyanya saat aku meminta ijin meminjam motornya sampai jam sembilan malam.
"Adalah pokoknya."
Jawabku tak mau bercerita lebih dulu.
"Ah yah sudah, yang penting hati-hati."
Kata temanku itu.
Ada untungnya memiliki teman jomblo hingga malam minggu kendaraan mereka terparkir bebas di rumah.
Aku melajukan motor temanku menuju rumah Valerin.
Tapi aku tak berani masuk ke sana, karena Valerin selalu melarangnya. Alasannya, ia takut dimarahi.
Yah, aku mengerti. Mungkin orangtua Valerin meskipun tak tinggal bersamanya, tapi tatap sangat menjaga putrinya.
Hmm... Aku jadi semakin yakin ingin memacari nya.
Semakin sulit ia ditemui di rumah, menandakan ia bukan gadis yang bisa sembarangan menerima kunjungan teman laki-laki.
Aku akhirnya mengirimi Valerin pesan bahwa aku menunggu di jalan depan.
Aku harap Valerin mau menemui ku dan mau pergi bersamaku sebentar.
Dan, setelah cukup lama menunggu, akhirnya Valerin muncul menghampiriku, meskipun aku agak heran melihatnya yang hanya memakai celana tidur dan kaos biasa saja.
"Maaf Van, aku ngga bisa pergi."
Lirih Valerin begitu telah berada di dekatku.
"Kenapa?"
Tanyaku kecewa.
Valerin menggeleng.
"Ngga apa-apa."
Jawabnya menggantung.
Tapi aku bisa menangkap kesedihan di raut wajahnya.
"Ada apa?"
Tanyaku lagi, aku butuh memastikan alasan Valerin tak bisa pergi bersamaku hari ini.
Valerin menatapku dengan ekspresi yang tak bisa aku ungkapkan.
Tapi yang jelas, kedua mata beningnya berkaca-kaca.
Aku baru akan bertanya lagi, saat kemudian ia tiba-tiba mendekatkan wajahnya padaku dan mencium pipiku.
Hanya sekilas tapi itu membuat jantungku nyaris berhenti berdetak.
Aku belum sempat bereaksi ketika ku lihat Valerin berlari menjauh.
Aku segera mengejarnya dengan berlari dan meninggalkan motor temanku di pinggir jalan.
Valerin terus berlari, aku yakin ia menangis.
Aku berusaha meraihnya, namun Valerin menghindari dan cepat menuju rumahnya.
Aku baru saja akan mengikutinya masuk, tatkala kulihat seorang laki-laki tampak berdiri di depan pintu.
"Dari mana kamu?"
Tanya laki-laki itu.
"Dari depan."
Jawab Valerin.
Aku yang sudah terlanjur berada di ambang pintu pagar rumah Valerin akhirnya bersitatap dengan laki-laki yang marah pada Valerin.
Mungkinkah itu Ayah Valerin? Batinku.
Akupun memberanikan diri menghampiri mereka.
"Siapa kamu?"
Tanya laki-laki itu membentakku, Valerin yang tak menyangka aku nekat mengejarnya hingga masuk ke dalam halaman rumah menoleh ke arahku dengan tatapan gelisah.
"Aku bisa jelaskan."
Kata Valerin."
Tanpa aba-aba, tiba-tiba laki-laki itu menampar Valerin.
Aku terkesiap melihatnya.
Bagaimana bisa seorang Ayah setega itu pada putrinya, kami bahkan tak melakukan apapun.
"Tuan, saya bisa jelaskan, saya dan putri anda hanya bertemu di depan saja, tidak ada yang terjadi lebih dari itu."
Kataku mencoba memperbaiki keadaan.
Tapi tak ku sangka, laki-laki itu justeru melotot ke arahku.
"Apa, putri?"
Tanyanya sinis.
Aku mengerutkan kening.
"Siapa bilang dia putriku!"
Kata laki-laki itu.
Lha terus kalau bukan putri lalu siapa? Tanyaku dalam hati.
Laki-laki itu kemudian merangkul Valerin, dan menatapku tajam.
"Dia adalah isteriku."
Bagai di sambar petir, aku seketika itu hancur luluh lantak.
Bagaimana bisa, bagaimana bisa?
Aku menatap nanar Valerin yang menangis menatapku sambil bergumam lirih...
"I'm sorry... i'm sorry..."
**-------**