Sere adalah seorang wanita yang sangat cantik Dia bekerja sebagai teller di bank swasta di kota itu kehidupan Sere sangatlah memprihatinkan Bagaimana tidak di usianya yang masih muda dia harus rela bekerja dan bekerja untuk mengobati ayahnya yang sedang sakit-sakitan Ayahnya adalah seorang pegawai negeri yang sudah pensiun dan ibunya hanyalah seorang tukang jahit rumahan.
Sere Merantau di kota itu dengan mengandalkan uang seadanya dia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri dia hanya bekerja dan bekerja untuk memenuhi pengobatan ayahnya saja.
Suatu ketika Sere terpaksa harus pulang ke kampungnya karena Ayahnya yang memintanya. Ternyata kejadiannya lebih buruk dari yang ia pikirkan rumahnya telah ramai bahkan tamu yang ia tidak kenal pun terlihat mengawasinya.
Sere sangat bingung seakan rumah sederhananya itu seakan mengadakan pesta atau dibuat untuk sekedar untuk serah-serahan.
Sere sangat bingung Ada apa dalam rumahnya itu Sere menapaki kakinya perlahan Ayahnya ternyata baik-baik saja disana telah ramai mereka membicarakan tentang pernikahannya dengan anak sahabat Ayahnya.
Betapa terkejutnya Sere mendengar ucapan Ayahnya dia harus segera menikah Sere berpikir dalam benaknya sekejam itukah orang tuanya terhadapnya bukankah pernikahan itu bukan untuk mainan bahkan Sere tidak mengenal laki-laki yang akan menjadi suaminya nanti.
"Ayah apa semua ini Ayah....? "
"Kamu harus menikah dengan Anak teman Ayah nak karena Ayah tak sanggup lagi. Ayah takut kalau Ayah akan pergi sebelum kamu bisa menikah nak"Ayah berkata pada Sere dia begitu rapuh pada putrinya itu.
"Apa maksud Ayah,Ayah akan sembuh Ayah lagi pula Sere akan menikah dengan orang yang Sere cintai bukan perjodohan Ayah"Isak tangis Sere.
"Nak, apa kamu tidak tahu kalau kita banyak hutang dengan keluarga calon suamimu nak."Ibu Sere menimpali percakapan antara Sere dengan Ayahnya.
Sere tidak punya pilihan lain bahkan bertatap muka sekalipun tidak pernah tanggal pernikahan telah ditentukan Sere sangat takut dengan hal itu.
Namun dengan baktinya terhadap orang tuanya ia menyetujui keinginan orang tuanya itu satu minggu kemudian tanpa cakap tanpa bertanya pernikahan terlaksana pihak laki-laki itu pendatang kediaman orang tua Sere.
Sere hanya mampu mengawasi langit-langit kamarnya itu dia meremas kebaya putih yang melilit tubuh ramping itu.
" Bukan pernikahan seperti ini yang ku inginkan Tuhan " Sere menolg sendiri dikamarnya.
"Hitto kusuma saya nikahkan kau dengan putri saya yang bernama Serena dengan seperangkat alat solat dibayar dengan tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Serena binti Levi dibayar dengan tunai"Suara lantang Laki-laki itu hingga terdengar menusuk indra pendengaran Sere saat itu.
Dengan ini Hitto telah sah menjadi suami dari Sere .
Sere merasa sesak dan sedih bergejolak di dalam batinnya hingga ketukan kan pintu membuyarkan lamunannya itu.
Sere pun membuka pintu itu saat seorang wanita tua tersenyum langsung menggandengnya untuk keluar dari kamar.
Sere keluar dengan wanita tua itu karena Sere telah resmi dipersunting oleh pria itu.
Baru itu Sere menatap laki-laki yang menjadi suaminya. Sere berjanji dalam hatinya dia harus memastikan dirinya belajar mencintai suami itu.
Sere duduk di altar bersama suaminya itu mereka menyalami para awak tamu yang berdatangan memberikan doa restu terhadap mereka pernikahan yang begitu sederhana tak ada yang spesial di sana.
Setelah prosesi sungkem Sere langsung dibondong oleh Hitto suaminya itu.
Namun tidak sesuai dengan obrolan Hitto malah ia membawa Sere ke Apartemennya.Sere tidak mempermasalahkan tempat tinggal mereka dimana.
Sere hanya memilih untuk bungkam karena belum tak ada obrolan antara mereka berdua selama prosesi pernikahan.
"Kamu berpikir semudah itu menjadi istriku kamu tuh ini kan "hardik Hitto menaburkan bahkan melempar lembaran uang kertas ke Sere.
Sontak Sere sangat kaget sekejam itukah laki-laki yang baru menjadi suaminya itu
" Mas, kok kamu ngomong gitu sama aku. Tidak ada sedikit pun aku memikirkan uang kamu"
"Sudahlah Sere aku banyak bertemu dengan wanita seperti kamu.Kamu tidak perlu mengelak karena menang kenyataan kau menikah dengan aku memang karena uang."
Sere kalut atas ucapan Hitto barusan yang begitu menyakitkan perasaannya itu tidak terbendung lagi sesak di dadanya terasa menyakitkan dua hanya mampu menangis sejadinya.
"Mengapa kau menangis ini awal dari cerita dari pilihanmu Sere"harkas Hitto dia membuka jas yang ia kenakan tadi dan melonggarkan dasi yang seakan merengut leher.
Sere meringkuk tangannya menutupi telinganya
"Mengapa kau mau menikah denganku" Serga Hitto dengan nanar matanya yang begitu menakutkan dia mencengkram pipi tirus Sere.
Sere hanya mampu menangis hingga butiran bening yang mewakili kesedihannya.
Belum genap satu hari namun ini awal pernikahan dengan laki-laki itu Sere sudah mendapatkan siksaan batin yang sangat menyiksanya.
Hitto mengunci Sere di dalam kamarnya terlihat Sere lemah jatuh terduduk di sudut di lantai ranjang kamar tersebut .
Dia menangis dia meratapi nasibnya yang begitu hancur
"Apa ini Ayah? ini kan laki-laki Yang Kau Pilih untukku. Laki-laki ini tak sebaik dirimu Ayah" isak tangis Sere sempat terdengar Hito yang berada di luar kamar.Hitto menyadarkan dirinya Di Dinding luar kamar.
Dia juga merasakan hal yang sama dia juga sakit karena dia harus menikah dengan wanita yang tidak dicintainya itu.
Hitto hanya mencintai Alena wanita yang membuat Dia sangat tergila-gila itu namun orang tuanya tidak merestui hubungan mereka oleh karena itu orang tua Hitto menjodohkan Hitto dengan Sere.
Sere meninggalkan Apartemen itu dia ke Bar hingga larut malam dia minum hingga mabuk namun dia tetap sadar matanya sudah memerah .
Sekitar jam 2 malam dia pun memutuskan untuk pulang 20 menit lamanya perjalanannya hingga sampai ke Apartemennya dia langsung menuju kamar tempat Sere yang dikuncinya tadi.
Dia menatapi wajah polos istrinya itu yang sangat cantik rupawan itu. Dia melihat tubuh istrinya itu dengan memakai gaun tidur memperlihatkan lekuk tubuh yang sangat profesional ada niat buruk Hitto malam itu.
Tanpa berpikir ia langsung menelungkupi wanita yang sudah halal baginya itu membuat Sere terkesiap kaget dia meronta sangat berat karena Hitto lebih dulu menyergapnya.
Hiito menyeriangi dengan mata nanar nya yang begitu menakutkan Sere sangat takut malam itu.Dia melusuti pakaian yang dipakai oleh istrinya itu dengan paksa hingga Sere begitu polos.Hitto juga membuka kemeja dan celana panjang hitam pekatnya itu.
Hitto mendaratkan bibirnya dengan paksa hingga leher jenjang Sere itu dan meninggalkan tanda merah belum lagi tangan nakalnya itu dengan cepat meremas Bukit kembar Sere yang belum pernah tersentuh oleh siapapun itu Sere hanya mampu menangis.
Hitto memendamkan dirinya terhadap istrinya itu dengan begitu paksaan. Sere hanya mampu menangis kesakitan namun tidak di perdulikan oleh Hitto.
Malam itu entah berapa kali Hitto melakukannya terhadap wanita itu
Sere hanya mampu menangis saaf
Suaminya itu yang membabi buta seakan dia tidak tahu cara lembut memperlakukan wanita yang menjadi istrinya itu.
Hingga Hitto begitu buas dia menjatuhkan dirinya disamping tubuh Sere yang terkulai lemah.
Dia mengawasi bercak darah yang mengalir dibagian sensitifnya itu tetesan darah yang menandakan kesuciannya telah di rengut oleh suaminya sendiri.
Sere menangisi dirinya dia Tertatih melangkah ke kamar mandi dengan keadaannya yang seadanya itu dia membersihkan diri setiap senti tubuh yang sudah kotor itu dia melihat Dinding Kaca kamar mandinya itu ia melihat tanda merah di seluruh tubuhnya begitu sadisnya suaminya yang memperlakukannya sepwrti itu.
Malam pertama seakan tragedi baginya.
Setelah membersihkan tubuhnya Sere keluar kamar dari mandi dia memakai kembali bajunya bajunya.
Dia merasa bagian bawahnya sangat perih tapi tapi Lebih perih lagi hatinya seakan dicabik-cabik dan sangat terluka.
***
Malam itu mata Sere tidak bisa menutup matanya.Dia merasa badan yang begitu sakit bahkan hatinya lebih sakit.
Malam itu dia hanya mampu melihat dinding di kamarnya.Sere tidak bisa tidur dia duduk di balkon kamar.
Malam itu telah berganti dengan subuh tapi tidak menyurutkan matanya untuk segera terpejamkan dia hanya duduk Di pelataran gulita malam.
Seperti ini kah pernikahan impiannya.Setiap Insan pasti menginginkan pernikahan yang sesuai dengan hati dan dia memilih mencintai dan dicintai oleh suami tapi bagaimana dengan Sere jangankan cinta pernikahan yang dialami itu bukan atas kemauannya melainkan karena kesepakatan sebagai istri yang baik dia tetap melakukan kewajibannya untuk mempersiapkan sarapan untuk suaminya.
Seperti pagi itu ia menyiapkan sarapan untuk suaminya jangankan disentuh dilihat saja Hitto tidak ingin.
"Mas kamu harus makan dulu aku sudah memasaknya "Ucap Sere Pelan
Hitto mendekatinya Sere masih merasa takut atas kejadian Semalam.
Hitto menyentuh leher yang penuh dengan tanda merah oleh ulahnya itu.
" Aku tidak mau mau makan Masak kamu aku juga tidak mau Kau memakai baju setipis itu tutupi tubuhmu" ucap Hito dingin.
Sere hanya mampu menganggukinya
Sere memang belum sempat mengganti bajunya karena ia sudah kesiangan. Sere
menjalani hari demi hari begitu Hampa tak ada istimewanya hari-harinya apalagi dia tidak bekerja.
Sere merasa sebagai tawanan Hitto saja.
Seperti saat itu Hitto mengawasi istrinya itu dengan saksama saat Sere sedang tertidur disofa penuh dengan perhatian walau ia terus dicela oleh Hitto.
Tidak terasa pernikahan mereka sudah 3 bulan kejadian itu tidak pernah lagi terulang Hitto merasa semua itu bukan salah Sere Karena Sere juga menjadi korban sama seperti Dia.
Semua karena perjodohan yang membuat mereka terjalin dalam sebuah pernikahan.
Hitto juga mengalami hal yang sama dan kesepakatan kedua orangtua mereka itu ingin menjalaninya dan melupakan Alena kekasihnya itu.
Sore Itu Hitto tampak pucat sepulang bekerja dengan cekatan Sere sebagai istrinya ia menyiapkan teh hangat untuk Hitto segera meminumnya.
"Mas, kalau kamu sakit biar aku temani kedokter ya"
" Tidak perlu aku cukup istirahat saja "ucap Hitto melangkah kekamar
Sere menyusul Hitto dari belakang sesakit apapun perlakuan suaminya itu dia tidak peduli kali ini Sere ingin menanyai langsung tentang hubungan mereka berdua karena sudah tiga bulan ini tak ada kata kelanjutannya dari hubungan mereka berdua.
"Mas pernikahan kita ini tidak sehat sudah tiga bulanan aku rasa kita harus memastikannya semua kita terus kan atau berhenti aku tidak mau memaksakan untuk menjalaninya.Kamu Berhak Bahagia bersama wanita yang menjadi pilihanmu bukan aku pilihan orang tuamu aku ingin kamu bahagia "ucap Sere pelan dengan penuh penekanan .
"kamu lelah hidup bersama ku bukan?"Serkah Hitto dingin
"Mas aku ingin hubungan kita ini baik-baik saja. Aku ingin kita sama-sama bahagia hubungan kita itu sangat dingin bahkan terasa hambar. Bagaimana kalau kita akhiri saja. Mari kita berpisah saja"Ucap Sere
Hitto menanggapi kata-kata istrinya itu dia diam seakan mencegahnya karena dia merasa telah mencintai wanita itu.
"Aku sangat mencintaimu mas Tapi kamu Bagaimana? Kita tidak bisa bahagia kalau kamu tidak mencintaiku " ucap Sere Dia sangat tenang mengatakan itu Karena dia sudah berpikir panjang selama 3 bulan ini atas kejadian antara mereka berdua yang begitu sangat mendalam begitu sangat menghancurkan hati dan perasaannya itu tambah lagi tak ada penyesalan bagi Hitto bahkan minta maaf saja tidak ada Hitto selalu mencelanya hari demi hari walau Sere selalu berbuat baik untuk suami itu.
Sere selalu bisa menyikapinya dengan hati yang tersenyum bahkan tidak marah atas celaan suaminya itu tapi tidak kali ini Sere sangat Lelah dia ingin mempertanyakan hubungan nya dengan suaminya itu Terus atau Berhenti karena pernikahan itu menyatukan dua insan yang saling mencintai bahkan belajar mencintai tapi tidak dengan suaminya.
Laki-laki yang arogan bahkan selalu menyiksa batinnya terus .
"Tapi bagaimana dengan ini Sere" ucap Hitto mendaratkan lembut bibirnya tepat di bibir istrinya itu Sere terkejut atas perbuatan suaminya itu.
Sere tersentak kaget walau sangat menikmatinya pagutan lebih dari suaminya itu membuat dia lupa dengan kata-kata perpisahan yang tadi ia ucapkan Sere memejamkan kedua matanya itu menjamah leher istrinya itu.
Hitto merangkul tubuh ranum istrinya itu dan membaringkannya.Hitto memperlakukan istrinya itu dengan sangat baik dia membuka tiap kancing yang melekat di tubuh istrinya itu hingga baju istrinya terbuka. Tangan Hitto bermain di bukit kembar dan bermain-main di sana ada sensasi atas permainan suaminya itu yang buat Sere terpejam. Mereka sama-sama polos sehingga tak ada lagi yang menghalangi antara mereka berdua.
Hingga Hitto menyatukan dirinya dengan Sere dia membenamkan dirinya ke tubuh istrinya itu dengan penuh kasih sehingga Sere tak setakut seperti kejadian malam naas yang selalu menyiksa batin Sere.