Inilah kisahku, berawal dari masa kecil yang penuh dengan kasih sayang, canda tawa dan kebahagiaan. Namun, di tengah perjalanan dirinya mencari sebuah arti jati diri, seketika sosok pemuda itu hadir mengisi kekosongan dalam hati sang-gadis, memberi sejuta warna di dalamnya begitu juga rasa sakit dan perih yang dia berikan.
***
Pagi ini, awan terlihat begitu indah memancarkan cerahnya sinar mentari pagi yang terasa hangat menembus kulit. Tibalah libur akhir tahun. Clara sangat senang! Setelah dia lelah berperang meggunakan pensil menjawab lembaran kertas soal yang melelahkan otak buntu gadis pemilik bola mata bulat bercahaya memancarkan wajah cantik berhidung mancung dengan style rambut lurus panjang hitam pekat.
***
Liburan telah berakhir menandakan awal tahun ajaran baru. Hari terus berganti seperti biasa clara lalui. Hingga, peristiwa tidak clara inginkan datang menghantui kehidupan. Setiap hari yang dia lalui penuh dengan penderitaan. Dikesunyian malam saat semua orang tertidur lelap. Clara, ibu bersama adik kecil perempuannya bagai layang-layang terputus dari benang tidak tau di mana akan bertepi.
"Apa yang terjadi dengan ibu? Kenapa ibu gelisah, kenapa adik kecil menangis seperti tau apa yang terjadi" Gumamku dalam lamunan.
Aku terus berjalan di kegelapan malam melelahkan ini, mengikuti arah ibu melewati jalan berkerikil tepat di sebelah pemakaman umum pedesaan membuat aku takut melewati. Tanpaku bertanya apa yang sebenarnya terjadi di keluargaku. Meskipun aku tidak tahu keadaan ibu tapi aku paham ibu menutupi kesedihan dan kekecewaan di balik wajah riang yang selalu ibu perlihatkan.
"Ayah aku kecewa mengapa aku harus mengetahui hal ini!" Aku mengutuk dalam hati perempuan tidak tahu malu yang telah merenggut ayah dari kami.
Aku merasakan betapa hancur perasaan ibuku, andaikan aku bisa melakukan sesuatu mungkin ibu tidak akan menderita. Jika aku memiliki kekuatan untuk menghilangkan rasa sakit ibu, aku tidak ingin air mata membasahi pipi ibu. Tanpa pernah aku berkata padanya, dalam lubuk hatiku hanya ada ibu yang selalu menemani diriku, menyayangiku dalam terang dan gelap dalam sisi baik dan burukku. Ibu selalu ada di setiap ku terpuruk, ibu yang menjadi penyemangatku.
***
Masa kelam itu telah memudar dari ingatanku meskipun tidak semudah membalik telapak tangan. Tetapi, aku percaya dengan adanya kesabaran dan ketulusan dalam menjalankan semua cobaan, tersirat berbagai makna yang dapat kujadikan pelajaran hidup. Aku percaya dan yakin, kekuatan do'a dengan ikhtiar beserta tawakal dalam menghadapi coban kehidupan dunia, tidak ada satupun tanpa kuasa dari-Nya.
***
Di hari itu hujan turun dengan lebat membasahi jalan tempat clara berpijak. Hari yang sangat melelahkan clara pulang sekolah berjalan kaki berteman hujan. Ketika dia bergegas jalan dalam deras air yang menerpa tubuh mungil gadis itu, tali sepatu clara tiba - tiba terlepas dari ikatan.
"Nak! Mau pulang ke arah mana? Mari ikut kami" Terdengar suara perempuan dari belakang berseru kepadaku.
Ibu dan anak lelaki itu mengajakku pulang bersama mereka. Tak kusangka! Anak dari ibu itu satu angkatan sepertiku juga bersekolah di satu sekolah yang sama denganku.
"Arah.... a, ahh! Jalan Kenangan. Emm... tidak usah terimakasih bu!" Clara menolak halus ajakan mereka dengan terbata - bata karena takut merepotkan.
"Ayo nak! Gak apa - apa kok! Ibu juga melewati arah sana" Ibu itu memaksa.
"Iya bu, benar nih, tidak merepotkan?" Clara bertanya kembali tidak enak hati.
"Benar, nak! Daripada kamu kehujanan kayak gini kasihan nanti sakit loh! Cah' ayu..." Ibu itu meyakini.
Dengan terpaksa, tidak berani hati untuk menolak ajakan ibu itu, clara meng-iyakan.
Hari selanjutnya, clara mulai akrab dengan anak dari ibu yang menumpangi dirinya, dia bernama Renaldi Pranata.
Tanpa clara menyadari, rasa tidak rela untuk melepas apalagi meninggalkan.
"Aku suka tetapi aku malu jika dia tahu akan hal itu!" Gumam clara dalam kebimbangan.
Mereka mulai saling berkirim pesan lewat jejaring sosial media.
"Senang sekali, renaldi membalas pesanku! Tetapi kenapa aku malah membahas temanku yang suka dengan dia? Ahh!! Bodoh banget!" Clara menggaruk rambut dia yang tidak gatal.
Pesan mereka-pun berlanjut, renaldi bertanya kembali siapa yang menyukai dirinya. Clara sedikit kesal karena ketidakpekaan renaldi terhadap dia.
Pesan itu terbalas hingga aldi memuji diriku. Isi pesan itu tidak pernah aku bayangkan, bisa membuat wanita sepertiku merasa terbang bagai bidadari.
***
Hari ini, Oktober 20XX. Tepat enam belas tahun usia clara, teman sekolah dia akan datang. Clara mendapat banyak sekali hadiah, apalagi ayah membelikan makanan kesukaan clara. Terlebih lagi, masalah dalam keluarga clara sudah terselesaikan, ayah benar - benar pensiun dan bertaubat jadi playboy. Apalagi, renaldi mengucapkan selamat ulang tahun pada clara.
"Nikmat apa lagi yang kau dustakan! Xixi.. xi!" Celetuk clara sangat gembira mengingat ucapan renaldi saat di sekolah.
***
Tiba tanggal, XX Oktober 20XX. Lomba ke-dua clara setelah mengikuti lomba puisi untuk pertama kali mendapat juara satu pada acara pentas seni.
"Nak! Kalian sudah berlatih semaksimal mungkin. Maka dari itu, ayo! Persembahkan penampilan terbaik kalian! Ibu yakin kalian pasti bisa semangat!" Ibu guru studi indonesia sekaligus pembimbing latihan kami turut menyemangati.
"Baik bu, kami siap memberikan penampilan terbaik kami, apapun yang terjadi!" Seru salah satu anak laki-laki dari tim musikalisasi puisi.
Kakak kelas turut hadir di sekolah Pusat Kota. Untuk menyemangati mereka semua yang di utus dalam berbagai mata lomba. Clara dan anak - anak lainnya, dapat membawakan penampilan yang cukup memuaskan. Urutan mereka tampil telah usai, clara dan teman lainnya berkeliling bersama melihat semua mata lomba yang berlangsung, ada juga hanya sekedar beristirahat sejenak, menikmati jajaran makanan.
Selang beberapa hari setelah lomba, kekhawatiran melanda.
"Bagaimana nih hasil perlombaan kemarin, Aku takut kalah!" Celetuk salah satu anggota.
"Ntah! Semoga saja tim kita jadi pemenang!" Tuturku menenangkan mereka.
Tiba pengumuman hasil perlombaan. Tim clara yang beranggotakan sepuluh orang anak dari masing - masing kelas, memenangkan perlombaan meraih juara satu dalam lomba Musikalisasi puisi se-Pusat Kota. Puji serta syukur atas kemenangan mereka, mereka terhanyut dalam kebahagiaan bercampur tawa dan haru.
Lembaran baru cerita clara berawal dari hari pertama masuk Sekolah Menegah Atas di mana masa itu diartikan sebagai masa-masa remaja yang tengah mencari jati diri. Yang katanya... masa paling indah, gitu!.
Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Clara duduk bersama dengan Muti, teman sekolah clara semasa sekolah menengah pertama. Mereka berdua seperti pinang di belah kapak, sama - sama memiliki sikap pemalu. Jangankan untuk memiliki banyak teman, menyapa peserta murid baru saja nyali mereka menciut duluan seperti udang rebus.
Hari pembagian kelas, clara terpisah dengan muti. Clara terlihat canggung dengan suasana sekolah baru, teman yang belum ia kenal, guru baru di sekolah, membuat clara patah semangat.
"Hay! Kamu, clara kan? Kita satu kelas lagi!" Salah satu teman seruangan ketika masa pengenalan dalam ruang raflesia menyapaku.
"Oh, hay! Kalian dikelas ini juga?" Aku mengenalinya, Kimci, Rino, dan Anggara.
Selama satu pekan, clara selalu bertanya pada rino ketika pelajaran matematika berlangsung. Clara memang tidak pandai menghitung rumus, melihatnya saja, sudah membuat dia pusing.
Rino selalu mengajari clara di setiap mata pelajaran yang tidak terlalu clara kuasai, rino selalu menjelaskan dan mengajari clara sampai dia mengerti dan bisa mengerjakan sendiri.
Seperti biasa, rino sedang mengajari clara matematika. Saat tengah fokus, tiba - tiba saja clara terkejut karena seseorang berada persis di depan kursi meja yang dia duduki dengan rino di kursi sebelahnya.
"Sudah ngerti belum, diajarin mas rino!" Tuturnya padaku.
"Hmm, iya!" Clara hanya menjawab singkat menghiraukan perkataan pria bernama asli William Wilson dan kembali melihat apa yang rino jelaskan.
Setiap malam clara menghabiskan waktu mengerjakan tugas sekolah diselingi melihat sosial media di saat waktu luang. Clara membuka akun sosmed miliknya dan melihat sesuatu disana.
"Permintaan pertemanan, ada permintaan!" Setelah clara mengonfirmasi, penasaran dia melihat profil pemilik akun tersebut. Ternyata, itu akun pria yang terkenal tampan, dingin, suka memerintah, pintar dan... kaya raya.
Dengan segan, clara mengonfirmasi. Kemudian selang beberapa menit dia mengirimi clara pesan.
"Hey! cewek imut, tapi jutek. Sudah kerjakan tugas matematika belum? Mau lihat gak?" William memberi tawaran pada clara.
"Hmm, kepo bhambang! Siapa juga yang bilang, mau lihat!" Tutur clara sebal duluan melihat pesan william.
"Barusan kamu jawab! Boleh kok, besok bukunya kamu bawa yah, jangan lupa!" Jawab william penuh semangat.
"Yasudah, bye!" Clara mengiyakan dan menutup pesan darinya.
"What!! Hishh... ada yah, manusia macam dia! Yang suka memerintah, apalagi saat bicara mode percaya dirinya penuh. Tingkat ke-pe-de-an cowok nyebelin si-william sudah level dewa kali yah! Ah, sudahlah.. ngapain aku bahas dia" Gerutu clara tercengang akan kekonyolan william.
Keesokan hari, william mengajari clara tugas matematika. Dia melihat clara seperti sasaran anak panah tanpa mengedipkan mata sedikitpun.
"Oke, jadi begitu. Kamu paham?" Jelasnya pada clara seusai dia menjelaskan panjang lebar sambil menatap clara yang kebingungan.
"Gagal paham! Kenapa sih, kamu lihat aku segitunya, ka, kamu-lihat-apa! Jangan macam -macam yah! Dasar cabul!" Clara melontarkan banyak pertanyaan pada william. Tanpa dia sadari, tangannya melayangkan pukulan ke arah william.
Dengan sergap, william bangkit dari duduk dan langsung menarik tangan clara yang juga berdiri terlebih dahulu ingin melayangkan tinjunya. Seketika tubuh clara terhuyung ke depan dengan cepat william meraih pinggul clara dengan tangan satu lagi, gaya bridal style. clara-pun terjerembap ke dalam pelukan william.
Mereka berdua saling bertatap muka mencuri pandang satu sama lain.
Rino yang melihat keromantisan mereka berdua bagai pasangan sungguhan-pun, langsung memecahkan suasana absurt depan mata dia.
"Eh'hem! Uhuk, uhuk!" Rino berdaham namun tidak batuk.
Clara tersadar akan suasana canggung mereka berdua, bertingkah aneh.
"Ahh!!! Kamu, kamu ngapain peluk - peluk aku!" Sergah clara mencoba mengartikan apa yang terjadi tak seperti yang mereka lihat.
"Cewek, siapa yang peluk kamu sih, aku gak sengaja refleks. Udah di tolong, bukan bilang terima kasih malah ngomel. Kalau gak aku tangkap hidung kamu yang pesek itu tambah mancung ke dalam mau? Masih bagus muka tampan aku gak kamu tinju" Oceh william tidak mau kalah.
"Up too you!" clara memasang wajah keki dia dan pergi meninggalkan william begitu saja.
Semua anak murid perempuan melihat kejadian mereka berdua berpelukan, mulai menggosip sampai berita menyebar ke kelas lain. Membicarakan clara perempuan tak tahu malu ingin merangkak dari merpati menjadi phoenix.
***
Clara dan william tampak semakin dekat. Clara senang, mereka mau berteman dengan dirinya. Namun di antara kenyataan, william dan rino sama - sama menyukai dia.
***
Akhir pekan, April 20XX. Tuk pertama kali, aku tak dapat menahan rasa bahagia menyelimuti diri ini.
Dag, dug, dag, dug!
"Ra, i love you! Apa kamu mau menjadi kekasihku?" Tanpa basa - basi william mengutarakan isi hati dia pada clara.
"Lidahku keluh tak bisa mengeluarkan sepatah kata. Tidakk! Jantungku akan lompat!" Umpat clara dalam hati.
"Em, err, a-aku mau mendampingimu!" Sontak clara menjawab pertanyaan william dengan tergesa - gesa.
"Pufftt...!! Hahaha... kamu langsung mau menikah sama aku ra!" Canda william padanya.
"Hmm, malu sekali... aku salah jawab, ralat!" Sikap lucu clara tersipu malu.
"Suatu saat nanti kita akan bersama. Tunggu saja aku menjadi lebih baik untuk bisa bersamamu, memenuhi kewajibanku."
Clara termangu dalam lamunan dia mendengar perkataan santai namun serius, pria yang baru menjadi kekasih itu.
***
Hari kulalui bersama adanya kehadiran seorang kekasih. Mungkinkah kita akan terus bersama menjaga perasaan satu sama lain tanpa saling menyakiti. Dirinya selalu hadir setiap waktu menemaniku, mengajariku, selalu ada saat aku membutuhkan dia ataupun tidak, dia tetap hadir untukku.
***
Tak terasa akan segera meninggalkan sekolah. Masa indah sekarang tidak akan terhapus dalam ingatanku. Rasaku tidak akan pernah berubah bersama kenangan kita.
Aku akan menjalani kehidupanku, menapaki setiap langkah demi langkah meraih impianku tanpa dia bersamaku dan tanpaku disisinya.
***
Awan tersenyum damai memancarkan sinar mentari pagi.
"Sebentar lagi, pesawatmu akan lepas landas menuju kota tujuanmu melanjutkan impian. Hiks, hiks! Huuu... huu..!!" Isak tangis clara.
"Sayang, jangan nangis dong, aku jadi ikut sedih!" Kata willi sambil mengusap air mata clara.
"Will-i, a,ku. Sayang kamu! Jangan lupa kabari aku" Ucap clara tersendat.
William tersenyum mendengarnya. "Aku sangat menyayangimu ra!" Ungkapan tulus willi membuat clara lega.
Dengan kasih sayang begitu dalam william menggamit dagu clara. Dia-pun melu**t bibir mungil clara dalam - dalam, terdengar isak dan lirih nafas clara dan mereka menyudahi ci*man.
"Sudah yah, jangan nangis.. nanti cantikmu luntur. Rumahku masih di kota ini, aku akan pulang setiap libur semester dan akhir tahun."
***
Beberapa bulan sekali dalam satu tahun, william selalu pulang ke rumah dia. Namun, sikapnya semakin berbeda. William selalu ingin clara olahraga ketat karena tinggi clara belum sesuai kriteria orang tuanya. Mereka tidak setuju william bersama clara sejak mereka satu sekolah dulu. Tahta, kedudukan, penampilan. Sangat penting bagi kedua orang tua william. Wajar saja, mereka dari keluarga terpandang, dan william akan menjadi seorang kapten angkatan laut di masa depan.
***
Beberapa tahun kemudian, dengan usaha, kerja keras dan kegigihan clara. Clara meraih hasil memuaskan dan mendapat gelar sarjana kedokteran. Tubuhnya menjadi lebih tinggi dan langsing.
Di tanggal yang sama, hari yang sama dengan 5 tahun lalu. Gedung berlatar putih berhiaskan bunga mawar merah menghiasi ruangan. Para penari pedang pora yang membuka jalannya acara mengiringi pengantin di bawah pedang sakral, mengikat janji bahagia sebagai pasangan pengantin baru, CLARISON (Clara & william wilson).
~Tamat~