Tuhan menciptakan manusia dengan bentuk yang paling sempurna dari makhluk-makhluk lainnya. Manusia memiliki otak—organ istimewa yang bahkan tidak dimiliki makhluk sesuci Malaikat. Namun cukup disayangkan, tak sedikit manusia yang menganggap remeh kelebihannya, padahal jika ia bersyukur, niscaya bahagialah hidupnya.
Dua puluh tahun lamanya aku hidup di dunia ini, dan aku baru bisa merasakan kebahagiaan setelah bersyukur atas apa yang aku miliki. Tiga tahun lalu, di saat aku masih menginjakkan kaki di lantai SMA, ada sebuah kisah yang bisa mengajarkanku bentuk syukur yang sesungguhnya. Untukmu, Aksara yang menyukai senja, izinkan aku menceritakan kembali kenangan kita.
Saat dia datang ke dalam hidupku, mengatakan kalau dia membutuhkanku menggunakan bahasa yang rela kupelajari seminggu penuh, aku bisa melihat dunia dari sisi berbeda. Orang-orang tidak mau dekat dengannya, karena di mata mereka Aksara hanya orang aneh, dan tentunya yang paling membuat mereka menjauh adalah, Aksara bisu.
Melihat bagaimana Aksara harus menahan diri dari semua ejekan, menahan diri dari semua perlakuan kasar, dan yang paling parah ... dia seorang yatim piatu yang hidup bersama pamannya dan harus bekerja sambilan sambil sekolah.
Aku tertarik dengannya, dengan kesabarannya, dengan bagaimana dia melihat dunia yang telah menyakitinya itu. Dia pernah memberikanku secarik kertas dengan tulisan, “Bersyukurlah, maka kamu akan bahagia.” Bahkan sampai detik ini kertas yang dahulu kaku kini masih kusimpan sampai lusuh.
Dia bilang membutuhkanku, tapi dia tidak mau aku ada di sisinya. Dia ingin aku selalu menjadi sahabat baiknya, tapi dia tidak mau aku ikut campur urusannya, terlebih ketika ia sedang di-bully. Bersamalah denganku, saat aku sedang bahagia, tapi menjauhlah saat aku dihina, aku tidak mau kamu mendapatkan penilaian buruk juga, lagi dan lagi ... dia mengatakan itu menggunakan secarik kertas, dan tentunya, kertas itu masih kusimpan sampai sekarang.
Setahun aku bersahabat dengannya, ya hanya setahun, di saat kelulusan sekolah, bukan buket mawar yang aku dapatkan darinya, tapi sebuah berita dari kepala sekolah kalau dia telah tiada karena kecelakaan di perjalanan menuju sekolah. Dia terlindas mobil pengangkut barang bersama sepeda tua peninggalan ayahnya.
Entah, harus berkata apa, menampakkan ekspresi apa, yang bisa kulakukan saat itu hanya menangis. Tangisku tak hanya berlangsung sekali, tapi berkali-kali, sampai aku bosan dan mulai mengikhlaskannya dengan harapan, dia bisa bahagia di sana setelah menderita di sini.
Aksara, tulisanmu, bagaimana kamu mengajarkanku melihat dunia dengan sisi berbeda, tak akan pernah aku lupakan, akan kusimpan itu semua di hatiku, selamanya. Jasadmu boleh terkubur tanah, tapi ragamu akan selalu ada di hatiku. Dan aku akan melihatmu di waktu senja, bernostalgia bersama angin dan sepinya sore menjelang malam di taman yang biasa kita gunakan untuk berbagi kisah. Terima kasih, Aksara, telah mengajarkanku untuk lebih bersyukur menjadi manusia.
Cerita mini ini betul-betul mini , semoga bermanfaat :)