Namaku Robert, seorang Mahasiswa di sebuah kampus ternama. Aku sendiri anak yang tidak populer apalagi tampan, bisa dibilang wajahku ini rata-rata orang kebanyakan. Nilai IP ku juga tak selalu tinggi, wajar saja karena aku hanya manusia biasa. Kehidupanku hanya itu-itu saja dan membosankan, namun aku sangat bersyukur bahwa Tuhan mempertemukanku dengannya.
Dia gadis yang sangat manis. Rambutnya yang hitam legam, wajah yang cerah serta bola mata yang bercahaya membuatku tertarik padanya. Aku selalu melihatnya di taman kompleks perumahanku, dia duduk sendiri sambil selalu memainkan biolanya dengan merdu. Ini sudah minggu ke-2 aku mengamatinya tanpa berani untuk menyapanya langsung. Meski begitu, aku selalu mengamatinya dibawah pohon rindang yang berada tak jauh dari tempatnya ia duduk. Ketika hari menjelang petang, gadis itu tetap tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Gadis itu akan memainkan biolanya lagi dengan nada yang menyayat hati. Entahlah, dia memainkannya seolah sedang menunggu seseorang kembali. Raut wajahnya pun terlihat sangat sedih. Setelah selesai dengan lagunya, maka gadis itu akan pergi meninggalkan taman dengan lesu. Itulah hasil pengamatan yang kudapat selama akhir-akhir ini.
Esoknya pun aku tetap melakukan hal yang sama, mengamatinya. Namun karena aku terlalu penasaran dan tidak tahu sampai kapan aku dapat menahanya, akhirnya aku memutuskan untuk menyapanya duluan. Keberanian itu muncul begitu saja di hatiku.
Aku berdiri lalu mendekatinya. "Hai", sapaku.
Gadis itu mengangguk dan tersenyum.
Aku gelagapan melihat senyumnya yang teramat manis. "Ehm.. Kenalkan namaku Robert. Rumahku satu blok dari taman ini", ujarku sambil menjulurkan tangan.
Dia menyambutnya, menggenggam tanganku. Ku rasakan telapak tangannya yang dingin,mungkin karena gadis itu selalu berada di taman setiap hari.
"Namaku Aria", jawabnya.
Lalu aku mulai mengobrol dengannya. Dia selalu mrnjawabku dnegan ramah.
"Aku selalu melihatmu duduk dibawah pohon itu", katanya sambil menunjuk kearah pohon yang dia maksud.
Aku mengangguk malu.
"Kenapa kamu selalu memainkan biola itu?", tanyaku penasaran.
Sesaat gadis itu terlihat tersenyum muram menjawab singkat, "Hanya senang saja"
"Mungkinkah ada seseorang yang kamu tunggu?", tanyaku dengan hati-hati.
Dia diam saja tak menyahut, lalu kemudian menangis.
"Eh.. kamu kenapa?", tanyaku bingung. Sepertinya pertanyaanku terlalu menyakitkan untuknya. Aku menyerahkan sapu tangan di kantongku dan dia menyeka matanya.
"Ya, ada sesorang yang aku tunggu. Dia sudah kembali sekarang, namun aku tak dapat bersamanya, aku harus kembali", jawabnya jujur.
"Kamu tidak menemuinya dulu?", tanyaku lagi.
Dia menatapku dalam, matanya seolah ingin menyampaikan perasaannya namun tertahan dengan mulutnya yang sepertinya enggan menjelaskan.
"Aku sudah menemuinya, tidak tahu juga apakah dia masih mengingatku mengingat pertemuanku dengannya yang seolah dia telah melupakanku. Aku menyukainya, sangat menyayanginya, tapi dengan kondisiku sekarang itu tidaklah memungkinkan untuk terus bersamanya", katanya dengan sedih.
Aku menepuk punggungnya menenangkan. "Mungkin dia yang kamu tunggu tidak menyadarinya bahwa kamu selalu menunggunya disini setiap hari"
"Dia sudah pernah berjanji padaku untuk bertemu denganku lagi di taman ini ketika sudah kembali, tapi semenjak dia disini tak pernah sekalipun dia mencariku", ujarnya dengan penuh rasa penekanan.
"Kenapa kamu tak mencarinya duluan?"
Dia semakin menangis, "Aku sudah pernah mencarinya duluan namun dia tak melihatku saat itu"
Lalu hari mulai petang dan aku harus kembali. Gadis itu juga tampaknya akan pulang kerumahnya sendiri.
"Aku pulang duluan ya. Besok mungkin kita bisa mengobrol lagi disini",usulku.
Gadis itu menggeleng pelan. "Tidak. Besok aku sudah akan kembali. Ini akan menjadi pertemuan pertama dan terakhir kita", katanya sambil memelukku dan berbisik lirih, "senang bertemu denganmu lagi, Ro"
***
Sesampainya dirumah, aku segera membaringkan diriku ke kasur yang empuk ini. Ucapan gadis itu benar-benar terdengar aneh, apalagi saat dia memanggilku dengan sebutan Ro, seolah dia memang sudah mengenalku lama. Aku mengingat wajahnya kembali saat terakhir kali dia akan pergi. Wajahnya menunjukan rasa senang bercampur haru, tidak lagi tampak di guratan kesedihan di wajahnya. Ketika akubhampir jatuh terlelap, tiba-tiba bel rumahku berbunyi. Aku segera menuruni tangga dan membukakan pintu untuk tamu yang datang malam ini. Ternyata dia Rio, sahabatku sejak TK.
Dia langsung menyapaku, "Bro! gue bawa martabak nih"
Aku mengajaknya masuk kedalam menuju kamarku. Kami biasanya bercanda atau nonton film di sini, kadang dia juga menginap dirumahku karena orang tua ku yang sering dinas di luar kota.
"Ini apaan?", tanyanya sambil menunjukan sebuah album foto.
"Itu foto pas gue kecil, ada lo juga disana", jawabku tertawa. Aku mendekatinya dan mengamatinya satu persatu foto yang ada didalam album. Ketika halaman terakhir, tampaklah aku yang tengah berpose bersama seorang gadis. Itu foto saat aku SD.
"Ini siapa?", tanya Rio padaku.
Aku menggeleng. "Lupa"
Disebelah foto itu terdapat tulisanku saat masih kecil, susah dibaca apalagi tintanya sudah mulai memudar.
"Aria Maharani? Ada ya temen kita yang namanya kayak gitu?"
Deg
Tunggu dulu. Siapa namaya? Aria?
Aku langsung mengambil foto itu lalu ku tatap lama. Wajahnya bahkan ekspreksinya sama persis dengan Aria yang ada di taman saat itu. Mungkinkah dia orangnya? Di samping foto tersebut juga terdapat alamat rumahnya yang tak jauh dari taman itu. Sekarang aku ingat dia. Dia adalah teman masa kecilku, gadis yang selalu menemaniku bermain di taman saat aku kesepian. Kenapa aku baru sadar sekarang?
Keesokan paginya, aku segera menuju rumahnya yang tertulis persis di album itu. Rumah elegan dengan rerumputan yang lembut di depannya. Aku segera membuka gerbang lalu mengetuk pintunya. Tak beberapa lama, muncul seorang perempuan paruh baya membukakan pintu dan bertanya, "Maaf, anda mencari siapa?"
Aku celingukan. "Ehmm.. Bu, apa benar ini rumah Aria?"
Perempuan paruh baya itu terlihat kaget untuk sesaat lalu mempersilahkanku masuk kedalam rumahnya.
"Adik ini namanya siapa?", tanya Ibu itu.
"Oh maaf, nama saya Robert. Satu dua blok dari sini", jawabku sopan.
Ibu itu menghela nafas dalam. "Aria sudah meninggal tiga minggu yang lalu"
Aku syok mendengarnya. "Apa?"
"Iya, dia sudah meninggal tiga minggu yang lalu karena kecelakaan saat hendak membeli hadiah yang katanya untuk teman lamanya"
Informasi ini masih sulit untuk kucerna. Meninggal? Kecelakaan? Sudah tiga minggu yang lalu? Bukanya baru kemarin aku mengobrol dengannya? Terus siapa yang bicara denganku saat di taman waktu itu?
"Saya tidak tau jika Aria sudah meninggal, maaf. Bisa Ibu tunjukan lokasi makamnya?"
"Makam Aria tidak jauh dari sini. Dia dimakamkan di makam kompleks ini"
Aku segera pamit dan menuju makam dengan hati yang tidak karuan. Sesampainya disana, aku menatap nisan yang berukir nama Aria Maharani, gadis yang kemarin mengobrol denganku dengan menangis sesengukan karena teman lamanua tidak kunjung mencarinya. Baru sekarang aku mengerti bahwa yang dia maksud adalah aku sendiri. Bodohnya aku yang tidak mengingatnya. Bodohnya aku yang melupakan janji itu dan membiarkannya selalu mengingat kenangan kita. Aku meneteskan air mataku, menangis.
Ugh.. mengapa bisa seperti ini?
Hanya untuk sesaat, aku melihat Aria di depanku. Wujudnya mulai transparan hampir menghilang. Dia mengucapkan beberapa kata yang membuatku semakin bersalah, "Senang kamu dapat mengingatku lagi ,Ro. Aku senang sekali kita bisa bertemu lagi denganmu untuk terakhir kalinya meski sudah berwujud hantu. Akhirnya kamu dapat mengingatku lagi, aku senang bisa menjadi temanmu. Aku sangat bahagia saat kemarin adalah pertemuan pertama kita setelah kamu menghilang lalu kembali lagi. Sampai jumpa, Ro. Aku menyayangimu"
Aku berusaha menggapainya, namun sia-sia saja karena dia sudah menghilang menyisakan memori saat dia tersenyum untukku untuk terakhir kalinya.