Lariku semakin cepat saat orang-orang berbaju hitam itu mengejarku dengan langkah lebar mereka. Nafasku tersengal, dadaku sesak tak karuan, kakiku selerti mati rasa. Aku, tak bisa merasakan dimana kakiku menapak. Rambutku yang terus berterbangan dengan acak, terkadang menghalau pandanganku. Aku sanggat membutuhkan oksigen dan istirahat.
Sudah hampir setengah jam aku berhari dan bersembunyi dari kejaran mereka. Ditemani oleh kegelapan malam dan jalan yang sepi. Nafsu membunuh tampak jelas di mata mereka. Masing-masing dari mereka membawa satu senjata tajam. Jumlahnya ada 6 orang. Aku pintar dalam bela diri, tapi enam lawan satu itu sama sekali tidak adil, apagi dengan senjata. Jika tertangkap, sudah dapat dipastikan, aku akan menuju ke tuhan dalam hitungan menit.
Aku terus berlari, tanpa memperdulikan apa yang ada di hadapanku. Taruhannya adalah nyawa sekarang. Pandanganku semakin kabur seiring waktu. Pelipisku banjir oleh keringatku sendiri. Jarak pandang paling jauh yang dapat aku tangkap adalah lampu jalanan yang remang-remang, dengan cahaya kekuningan. Aku yakin, di sana ada jalan raya, aku mohon..., Sedikit lagi.... Aku bisa meminta bantuan orang lain.
Kepalaku menjadi pening. Kelopak mataku mulai menutup. Aku kehabisan oksigen dalam masa yang sanggat genting. Gelap. Hanya itu yang dapat aku lihat. Sekilas, aku dapat merasakan tubuhku menghantam sesuatu. Mungkin, perjalanan hidupku akan berakhir saat ini juga.
***
"CHERLIN!"
"CHERLIN!"
"HEI MANIS!"
Suara-suara itu menggelitik pendengaranku. Sanggat menganggu kedamaian yang ada. Namaku di panggil beberapa kali, seperti murid yang tak hadir dalam kelas. Tunggu..., Bukankah aku sudah mati? Lalu, bagaimana bisa aku mendengar suara? Apa ini surga? Kepalaku dipenuhi pertanyaan kelopak mataku masih setia menutup, seolah menolak cahaya yang akan datang.
Samar-samar, aku dapat menghirup bau tanah yang masih basah. Ini bau hujan. Rasa tenang dan aman merngkuhku dengan hangat. Ingin rasanya aku terus tertidur dalam suasana ini. Angin dingin dan sejuk membelai perlahan. Dan, setetes air jatuh tepat di kelopak mataku, aku segera menyekanya. Terpaksa, aku membuka mataku.
Pemandangan pertama yang aku lihat adalah, seekor naga besar, menatapku dengan wajah polosnya. Sisiknya yang berwarna putih dan biru muda, bercahaya di bawah rembulan.Aku berbaring tepat di atas pangkuan mahluk menyeramkan ini. Dari mulutnya, menetes air liur, seperti air terjun. Tunggu..., Berarti tetesan itu bukan air hujan? Tapi air liur naga?! Ya Tuhan! Aku bisa gila dengan semua ini. Apakah aku akan dimangsa? Tapi, kenapa dia tak melahapku saat aku tertidur? Ini sama saja, keluar kandang harimau masuk ke mulut buaya. Sial!
Segera, aku beranjak dari tidurku—melompat dari pangkuan naga putih itu—melihatnya lekat-lekat. Dia bukan sesuatu yang sanggat menyeramkan, bagi aku yang hampir terseret kematian. Dia nampak seperti bayi besar, dengan wajah polos dan imut yang terus menatapku sama lekatnya. Mata birunya, persis selerti milikku.
Dan sekarang, aku berada di hutan. Bagaimana aku bisa kabur jika begini? Entah apa yang akan kutemui di hutan yang lebat ini pada malam hari. Kabur saat malam, berarti siap untuk di mangsa hewan lain.
Aku mengambil ranting pohon yang cukup panjang dari tanah. Kakiku mundur secara perlahan, dan mengarahkan ranting itu pada sang naga. Dia memang imut, tapi pemangsa tetaplah pemangsa.
"JANGAN MENDEKAT!" teriakku.
Sepertinya dia tak mengerti. Mahluk melegenda itu hanya memiringkan kepalanya ke kanan dengan binggung. Sesaat kemudian, ia mengulurkan kaki kanannya yang besar dan bersisik. Aku awalnya ragu-ragu, tapi kuberanikan diri untuk membalasnya. Hei, bantalan kaki mahluk ini cukup empuk, dibalik cakarnya yang tajam. Aku tersenyum simpul.
Saat aku mengedipkan mata, sosok di hadapanku berubah menjadi sosok manusia. Bukan manusia sempurna, aku masih dapat melihat sisik di beberapa bagian tubuhnya, serta ekor naga yang masih sama seperti wujud aslinya, hanya ukurannya yang mengecil.
Tangan kami masih saling bertaut. Tetapi, sebelum aku mencoba melepaskannya, ia menarikku dalam rengkuhannya. Tangan itu menjadi awal mula sebuah pelukan hangat. Tangan kirinya memeluk pinggangku dengan erat, dan tangan kanannya meraih pipiku dan membelainya lembut. Dapat kurasakan pipiku memanas secara perlahan, jantungku berpacu dengan cepat. Untuk orang yang hampir di tarik kematian, pelukan ini sanggat menengangkan. Aku terbuai dalam beberapa saat.
"Apa aku sanggat mengerikan dalam wujud seperti itu?" Suara berat namun lembut itu menyadarkanku akan yang terjadi.
Wajahku mendongak, karena perbedaan tinggi kami yang cukup jauh. Mata biru kami saling beradu pandang cukup lama.
"Sepertinya, lebih baik aku pergi" ucapku dengan tegas. Rengkuhan itu terlepas dengan cepat. Ia tak menahanku lagi. Saat baru beberapa langkah aku menjauh, suara yang sama menahanku.
"Apa itu yang kau lakukan pada orang yang sudah menyelamatkan nyawamu? Bahkan tak ada bekas luka yang tertinggal, tapi tak ada ucapan terimakasih."
Langlahku terhenti—berbalik—menatapnya lekat. Ku perhatikan beberapa bagian tubuhku yang tidak tertutup kain, terutama kaki dan kepalaku. Dia benar. Tak ada satupun luka yang nampak, bahkan tak ada rasa sakit. Apa ini sihir? Aku terus berfikir keras, memikan segala sesuatu yang masuk akal.
Apakah aku pingsan lama, lalu dia mengobatiku? Hanya itu pikiran yang paling masuk akal.
Aku mendekatinya sekali lagi, memberanikan diri untuk bertanya. Rasa penasaranku meluap begitu saja. "Berapa lama aku pingsan?"
"Satu malam," jawabnya dengan mantap. Nafasku tertahan. Itu sungguh sihir. Aku tak tahu sihir apa saja yang dimilikinya, apalagi tubuhnya besar dan mempunyai sayap. Mudah baginya, untuk menjadikanku makan malam yang segar.
"Aku pikir, kau tahu namaku, tapi aku tak tahu namamu, em..., itu tidak adil bukan?"
"Aku tak punya nama. Kau boleh memanggilku apa saja," ucap naga itu sambil duduk santai di atas batu besar.
"Bagaimana jika 'Lewin' saja?" usulku dengan sedikit ragu. Takut jika ia tak menerimanya.
"Aku mau nama yang sama denganmu," ucapnya sambil menatap dengan polos. Mata, dan tatapannya itu benar-benar candu. Aku terdiam sesaat, dia sanggat imut.
"Jangan konyol." Aku berjalan mendekatinya. Dengan ragu-ragu, aku memberanikan diri untuk duduk tepat di sampingnya. Dan dia sama sekali tak mengusirku.
"Kau tahu siapa yang membayar mereka untuk membunuhku?" tanyaku dengan hati-hati. Lewin menoleh padaku sejenak, lalu kembali menatap hutan rimbun ini.
"Bibimu," jawabnya dengan lirih, seperti tahu semua yang terjadi.
Suaraku tercekat di tenggorokan. Aku tak pernah menyangka, bibiku mampu melakukan hal seperti itu. Kami tinggal serumah, orangtuaku sudah meniggal. Tapi hubungan kami memang tidak baik, sejak anaknya meninggal dengan diracuni. Bibi, menemukan bau aneh di piring anaknya, dan obat-obatan aneh yang entah dari mana berada di nakas samping tempat tidurku. Jika aku membunuhnya, tak mungkin aku menaruh obat itu di tempat yang terlihat sanggat jelas. Seolah, pelakunya ingin aku yang menanggung perbuatannya. Dan bibiku langsung menuduhku membunuh anak perempuannya. Tapi, bibi tak pernah melapor pada polisi atau semacamnya. Dia tak mau memperpanjang masalah, dan juga faktor biyaya.
Air mataku menetes tanpa permisi. Buru-buru aku mengusapnya dengan punggung tanganku. Aku tak boleh terlihat lemah sekarang. Aku tak merasa sedih, karena memang hubungan kami yang sudah pecah. Tapi, aku merasa kecewa, karena bibi yang melakukannya.
"Aku tak mungkin pulang sekarang.... Dia pasti tak akan membiarkanku masuk rumah," ucapku dengan nada lirih. Helaan nafasku semakin berat, seiring waktu.
"Kau memang tak bisa pulang," tambahnya dengan santai.
"Maksudmu?" tanyaku dengan kebinggungan. Sungguh, aku tak tahu apa yang mahluk legenda ini maksud. Tapi, sepertinya bukan soal hubunganku dengan bibiku.
"Peraturannya adalah, siapa yang melihat naga, tak akan bisa pergi dari naga itu. Dalam kata lain, dia menjadi milik naga tersebut. Karena, naga adalah mahluk mitologi, keberadaan kami yang belum jelas menjadi rahasia alam," jelas Lewin dengan senyum yang merekah di wajahnya. Dia sanggat imut! Ingin rasanya aku menyentuh wajahnya.
Aku paham maksud dari peraturan itu. Sama seperti hewan langka lain, saat ditemukan pasti akan ditangkap atau di buru. Kucoba untuk tidak egois, memahami perasaan Lewin. Dia telah mengangkat aku dari kematian, tak pantas jika aku malah mendorongnya pada neraka tak berujung. Lagipula, aku tak punya tempat tinggal sekarang.
Lewin yang berada di sebelahku menatapku lekat, aku balik menatapnya. Untuk kesekian kali mata kami beradu. Wajahnya mendekat. Dia meraih ujung daguku, mengangkatnya lembut. Jantungku tak bisa menyembunyikan degupannya. Wajahku semerah tomat, sekarang.
"Kau milikku sekarang...," ucapnya.
Ini kesempatan emas. Kedua tanganku kembali meraih pipinya. Hangat, itu yang aku rasakan. Jemariku bermain-main di sana, mencubitnya pelan, juga mengusapnya dengan telapak tangan, seperti adonan. Ini sanggat halus, seperti pantat bayi. Akhirnya, aku bisa menyentuh wajah imut ini! Aku melanjutkan kegiatanku, tak peduli dengan wajah Lewin yang berganti memerah.
Telapak tanganku semakin panas, seiring wajah Lewin yang semakin memerah. Naga imut itu langsung maju begitu saja, dan memelukku dengan posesif. Ia menaruh kepalanya di atas bahkuku. Aku takut sisik yang ada di lehernya mengenaiku dan membuatku terluka, tapi perasaan ini tak bisa di tahan. Jantung kami berpacu dengan detakan yang seirama.
"Bagaimana ini..., Aku sepertinya menyukaimu, Cherlin...," bisiknya dengan lembut. Telingaku seperti di gelitik.
Angin yang dingin berubah mejadi hangat. Bulan bersinar terang, dengan bentuk setengah lingkaran. Bau bungga yang mekar, seolah menari di indra penciumanku. Gesekan daun terdengar seperti alunan musik. Jawbanku sekarang, akan menentukan semuanya.
"Sekarang, kau menjadi tempatku kembali. Mungkin perasaanku masih belum bisa sama saat ini, tapi—"
Lewin melepaskan pelukannya. Dia menundukkan pandangan, aku tahu wajahnya murung sekarang. Ku angkat wajahnya dengan kedua tanganku.
"Tapi, aku bisa belajar, karena sekarang aku hanya punya kau untuk pulang...," ucapku sambil tersenyum lebar.
Wajah lewin berubah. Dia memang pintar mengekspresikan perasaannya. Lengkungan tipis, terbentuk di wajahnya. Itu adalah senyuman paling tulus yang pernah aku ingat.
Lewin melompat dari batu yang kami duduki. Dia berjalan cukup jauh, dan wujudnya berubah. Menjadi naga sempurna. Sisiknya kembali bercahaya dibawah rembulan. Dia terbang dengan kedua sayapnya, mengitariku dengan gembira. Sorakan riang seperti anak kecil, kadang terdengar.
Angin yang dia ciptakan dari kepakan sayapnya membuat beberapa daun berjatuhan dari atasku. Dia benar-benar gembira sekarang. Sanggat lucu, dia bukan naga menyeramkan, dia seperti bayi besar. Aku duduk dan mendongak ke atas, mengikuti pergerakannya. Bahkan, mataku tak pernah lelah mengamatinya.
Masih banyak kisah yang akan kita lewati, karena ini hanya awal, dan kisah ini tak pernah berakhir.