Satu tahun telah berlalu, namun aku masih setia menunggunya setiap senja. Setiap sepulang dari tempat kerjaku aku selalu menyempatkan waktu untuk menunggunya disini. Tempat dimana aku dan dia mengukir banyak cerita.
Aku selalu membayangkan dia akan datang, untuk bersamaku. Mungkin bagi orang lain ini koyol. Kenapa aku harus menunggunya tanpa kepastian. Namun perasaan ini masih sama. Entah dia masih merasakannya atau tidak. Tapi aku masih bisa merasakan kehadirannya disini.
Aku beranjak dari dudukkku, karna hari mulai petang. Aku memutuskan untuk pulang. Aku berjalan setiap hari karna memang rumahku tak jauh dari pantai yang selalu aku datangi.
¤¤¤¤¤¤¤
Sesampainya di rumah. Aku membuka pintu rumahku tanpak Bunda sudah menantiku di ruang tamu.
"Ya Allah sayang kenapa baru pulang?" tanya Bunda.
"Iya Bun. Maaf udah buat khawatir" jawabku.
"Aku kekamar dulu ya Bun. Aku capek" sambungku karena tak ingin ada banyak pertanyaan lagi dari Bundaku.
"iya Sayang....jangan lupa turun makan" ucap Bundaku. Namun aku selalu membalasnya dwngan anggukkan.
Aku berlalu menuju kamarku untuk membersihkan diri. Lalu melakukan kewajibanku kepada sang pencipta. Tak lupa aku selalu memanjatkan doa di setiap sujudku.
"Ya Allah,yang maha pengasih dan maha penyayang. Hamba tau mungkin diri ini bukan lagi orang yang pastas untuk memohon kepadamu. Ya Allah lindungi dia, Jaga dia disetiap langkahnya. Tuntunlah dia kembali, tunjukkan padanya bahwa aku masih menunggunya disini. Bawa dia kembali padaku....amin..." doa yang selalu aku panjatkan.
Selesai salat aku memutuskan untuk tidur. Melewatkan jam makan sudah menjadi hal biasa bagiku.
¤¤¤¤¤¤
Suara azan telah berkumandang aku mulai mengerjabkan mataku dengan perlahan. Aku bergegas untuk segera mandi dan menunaikan salat subuh.Denga segala doa yang selalu menemani ibadahku. Aku berharap dia akan datang di hadapanku. Aku berjalan keluar rumah berharap saat membuka pintu dia ada dan mengukir sebuah senyuman.Dengan berkata " morning bidadariku". Namun kenyataan memang selalu menyakitkan,tak pernah lagi ada senyuman menyambut pagiku.
Aku kembali masuk dengan langkah gontai aku masuk kembali ke kamarku, untuk bersiap siap masuk kerja. Setelah selesai aku keluar dari kamar menghampiri Bunda yang sedang memasak sarapan.
"Morning Bund" ucapku sambil berjalan mendekati Bunda.
"Pagi Sayang. Kamu mau sarapan apa?" tanya Bunda.
"Apa aja Bund" jawabku singkat.
Bunda mendekatiku dengan tatapan sendu. Aku sudah biasa dengan tatapan itu. Namun apa yang bisa aku lakukan. Dia memelukku dengan erat seakan menyalurkan kekuatan untukku.
"Sayang lihat Bunda" ucap Bunda. Namun aku tak mampu menatap manik mata Bunda.
"Lihat bunda Zakia" ucap Bunda lagi. Aku pun menatap Bunda karena apabila beliau sudah memanggil namaku, berarti dia benar benar serius.
"Sampai kapan kamu kayak gini? dia tidak akan kembali kapadamu. Dia mungkin sudah melupakanmu" kata Bunda dengan bulir air mata yang lolos dari pelupuk mata Bunda.
"Dia akan kembali Bund. Dia akan kembali. Dia sudah berjanji denganku, kalau tahun ini dia akan melamarku Bund. Dia pasti akan datang menepati janjinya" ujarku.
"Sayang dengerin Bunda. Sudah satu tahun berlalu,namun dia tak pernah datang menemuinu.Bahkan kabar walau hanya dengan pesan singkat.Dia mungkin sudah melupakan janji itu. Bunda mohon buka lembaran baru sayang. Kehidupanmu masih panjang, masih banyak laki laki yang mau menjadi pendamping kamu dengan senang hati"
"Tapi aku yang ngak bisa menerima laki laki lain Bund. Aku masih sangat mencintainya, bahkan sampi detik ini. Jadi tolong Bunda ngertiin aku" jawabku dengan air mata yang tak lagi bisa aku bendung.
"Sudahlah Bund, jangan paksa Kia. Dia berhak menentukan jalan hidupnya" tiba tiba Ayahku datang.
"Tapi yah...."
"Sudahlah Bund, mending Bunda buruan masak nanti Ayah telat ke kantornya" Ayah memotong ucapan Bunda.
Aku menghapus air mataku. Aku berpamitan dengan Ayah dan Bundaku untuk berangkat ke tempat kerjaku.
"Aku berangkat dulu Yah, Bund" pamitku dengan mencium tangan mereka bergantian.
"Sarapan dulu. Nanti kamu sakit" kata Ayah.
"Aku sarapan di kantor aja" jawabku. Aku bergegas pergi keluar dari rumahku. Menuju taksi pesananku dan pergi menuju kantor.
¤¤¤¤¤
Author Pov
Zakia memasuki lobi kantornya. Dia berjalan menuju ruangannya. Karena tidak terlalu memperhatian jalan, tanpa sengaja dia menabrak seseorang. Zakia hampir terjatuh, dengan sigap orang itu menangkap tubuh Zakia. Mata mereka bertemu saling beradu.
"Manik mata itu. Kenapa mata itu seperti Septian" batinku.
Namun Zakia segera sadar dari lamunannya, dan segera berdiri. Lalu berjongkok mengambil tasnya yang sempat terjatuh.
"Maafkan saya. Tadi saya tidak terlalu memperhatikan jalan" ucap Zakia.
Namun orang itu tak menjawab. Hanya membalasnya dengan sebuah senyuman dan anggukkan. Orang itu berlalu pergi meninggalkan Zakia yang masih berdiri mematung.
Hati Zakia bergejolak saat mulai menyadari bahwa benar manik mata itu seperti punya Septian. Kekasih yang telah lama dia nantikan.Di tambah senyumnya, dia juga merasa bahwa itu adalah senyuman orang yang selalu dia tunggu.
Zakia segera berlari mengejar orang yang tadi di tabraknya. Dia merasa orang itu adalah Septian walau dengan wajah yang berbeda. Dia berhenti di luar dengan nafas yang tidak beraturan. Namun dia tidak menemukan orang itu lagi. Akhirnya dengan terpaksa dia kembali masuk kedalam kantornya.
Dia mulai mengerjakan pekerjaanya . Walau Dia tidak dapat berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Namun dia berusaha menyelesaikannya tepat waktu.
Waktu telah menunjukkan pukul 11.56. Menandakan waktu jam makan siang telah tiba.
"Kia makan siang yuk" ajak Maura pada Zakia. Maura merupakan rekan sedifisinya.
"Lima menit lagi Ra nganggung, udah hampir selesai" jawab Zakia. Dengan mata yang masih Fokus dengan layar komputernya.
"Ayolah Kia. Aku udah laper nih" Ajak Maura lagi.
" Iya iya ini udah selesai" jawab Zakia lagi. Zakia mematikan komputernya. Mereka pergi untuk mencari makan siang.Setelah selesai, Zakia kembali ke kantor. Kembali berkutat dengan komputernya.Hingga waktu kantor habis.
Zakia keluar dari kantornya berjalan kaki. Menuju tempat yang selalu dia kunjungi setiap pulang dari kantor. Zakia melepas sepatunya. Menenteng sepatu itu. Berjalan di hamparan pasir yang sedang sepi. Biasanya akan banyak orang di hari weekend. Zakia duduk bersila di atas pasir, memandang lautan luas seperti cintanya terhadap Septian.
Namun Zakia merasa ada yang mengawasinya. Dia melihat sekeliling tidak ada orang. Dia kembali fokus menikmati matahari tenggelam. Namun dia masih merasa ada yang mengawasinya. Kemudian dia menengok ke belakang. Tampak sekelebat orang bersembunyi di balik pohon.
Dengan perasaan takut Zakia berjalan menuju di pohon. Dengan langkah perlahan tapi pasti menuju pohon itu. Dan....... dia terkejut dengan apa yang baru saja dia lihat. Ternyata orang yang ada di balik pohon tersebut adalah orang yang dia tabrak di kantor tadi.
"Ngapain kamu disini? dan siapa kamu?" tanya Zakia.
Lagi lagi dia hanya tersenyum, tanpa menjawab.
"Kamu ini siapa?" tanya Zakia lagi.
"Saya bukan siapa siapa" jawab laki laki itu.
Deg.....
Suara itu, suara yang amat dia kenal. Suara yang selalu dia rindukan. Suara yang selalu menyapanya di pagi hari. Saat Zakia sadar, ternyata laki laki itu telah berjalan menjauh darinya.
"Tunggu" teriak Zakia.
Langkah laki laki itu berhenti. Zakia tak menyia nyiakan kesempatan, dia berlari mengejar laki laki itu. Saat sudah berada di depan laki laki itu Zakia mengamati wajahnya.
"Kamu Septian kan?" tanya Zakia sedikit ragu.
"Saya bukan Septian" jawab laki laki itu dengan menunduk.
"Lihat mata saya dan bilang kalau kamu bukan Septian" kata Zakia lagi.
Laki laki itu tak bergeming. Dia masih menundukkan wajahnya, tak berani menatap mata Zakia. Zakia langsung memeluk laki laki itu. Membuat laki laki itu terkejut.
"Apa yang Anda lakukan. Saya bukan septian" jawab laki laki itu dengan berusaha melepas pelukan Zakia.
Namun Zakia tak bergeming dia malah mempererat pelukannya.Dia masih mencium wangi tubuh laki laki itu. Wangi yang selalu menenangkan hatinya. Wangi yang selama ini dia rindukan.
"Apa yang Anda lakukan.Menjauh dari saya" ucap laki laki itu lagi.
Perlahan Zakia melepas pelukannya dia tatap wajah laki laki itu. Karena dia yakin bahwa laki laki di hadapanya adalah Septian.
"Apakan kamu tidak merindukanku?"tanya Zakia.
"Anda siapa? saya tidak kenal dengan Anda" jawab laki laki itu, namun masih tidak mau menatap mata Zakia.
"Aku tau kamu Septian kan. Walaupun entah apa yang terjadi sehingga wajahmu berubah namun aku tau kkamu itu Septian" ujar Zakia yang kini mulai menitikan air mata.
"Anda mungkin salah orang" jawab laki laki itu lagi.
"Tatap mata aku kalau kamu memang bukan Septian dan bilang kalau memang kamu bukan Septian" ujar Zakia.Namun lagi lagi laki laki itu tak bergeming.
"Aku tau itu kamu Tian. Apakah kamu tau aku selalu menunggumu disini setiap sore? Apakah kamu tau setiap detik aku merindukanmu?apakah kamu juga tau setiap pagi aku selalu terburu buru membuka pintu rumahku berharap saat membuka pintu aku melihat senyummu. Apakah kamu tau itu semua? apakah kamu tau betapa menderitanya aku setelah kepergianmu? hiks hiks hiks" tangis Zakia pecah.
"Aku tau semuanya Kia. Aku tau kamu selalu datang kesini. Aku tau kamu yang selalu membuka pintu rumahmu setiap pagi. Aku tau semua itu Kia, aku tau" jawab laki laki itu, yang sebenarnya adalah Septian.
"Namun apa yang bisa aku lakukan dengan wajah ini Kia. Apa yang bisa aku lakukan. Aku tidak yakin kamu akan percaya saat aku datang dengan wajah berbeda. Aku tidak yakin kamu akan percaya padaku kalau aku ini Septian......." Septian menjeda ucapanya.
"Aku sama tersiksanya dengan dirimu Kia. Aku selalu merindukanmu.Aku selalu ingin menghapus setiap air matamu setiap kamu menangis.Tapi apa yang bisa aku lakukan Kia" ujar Septian
"Kenapa kamu tidak menemui aku. Apakah kamu sudah tak mencintaiku lagi. Lalu apa yang terjadi sehingga wajahmu berubah?" tanya Zakia beruntun.
"Duduklah aku akan menceritakan semuanya" Septian menarik Zakia agar mengikuti dia duduk di pasir.
"Jelaskan sekarang!" kata Zakia sedikit memerintah.
"Baik baik.....Satu tahun yang lalu mukaku tersiram air keras, yang aku tidak tau siapa yang menyiramkan air keras. Beruntung aku tidak mengalamu kebutaan. Karena luka yang sangat parah Mama dan Papa membawaku berobat di luar negeri. Namun setelah sampai disana aku harus menjalani operasi plastik. Entah bagaimana fotoku tertukar dengan orang lain yang sama sama menjalani operasi plastik disana. Sehingga saat membuka perban Mama dan Papa terkejut bukan main karena mukaku yang malah berubah. Namun dokter berkata kalau wajahku tidak dapat di ubah lagi. Sehingga aku jadi seperti ini, seperti yang kamu lihat" jelas Septian panjang lebar.
"Kenap kamu tidak mencoba menjelaskan semuanya padaku?" tanya Zakia.
"Aku takut kamu tidak akan percaya. Aku sempat berharap agar kamu dapat melypakan aku, dan mencari penggantiku. Namun aku salah....maafkan aku" kata Septian menyesal.
"Apakah kau tau setiap detik aku selalu berharap kau kembali padaku" jawab Zakia.
"Kenapa kau menungguku? sedangkan kau tau belun tentu aku akan kembali?" tanya Septian.
"Karna hanya sebuah alasan..... AKU MENCINTAIMU.....sangat MENCINTAIMU" jawab Zakia.
"Aku juga sangat MENCINTAIMU" jawab Septian.
Zakia menghambur ke pelukan Septian dengan air mata yang terus mengalir. Bukan lagi air mata kesedihan, melainkan air mata ke bahagiaan. Keduanya saling memeluk satu sama lain mencurahkan segala kerinduan yang telah lama mereka pendam. Deburan ombak dengan cahaya langit jingga ssebagai saksi kebahagiaan mereka berdua.
..............TAMAT........