Semenjak aku keluar dari rahim ibu, aku sudah diberikan takdir untuk terus menari. Setelah aku belajar berjalan, ibuku langsung mengajariku gerakan dasar menari. Tiap pulang sekolah aku akan berdiri di sudut kamar ibu, menghafal setiap hitungan, ekspresi, dan gerakan tarian yang dilakukannya. Ibu selalu mengatakan aku hidup untuk menjadi penari, tapi keinginan terdalamku hanya untuk mengekangnya.
Ini semua gara-gara wanita itu, yang mengaku sebagai ibuku. Aku juga selalu memanggilnya begitu. Meski aku tak tahu apa semua ibu itu sama atau tidak, tapi aku selalu menyalahkan ibuku.
"Utari, kamu terlahir hanya untuk menggoyangkan badanmu," ujar ibuku di suatu sore yang panas.
Rambut hitamnya ia cepol dan dahinya mengeluarkan keringat. Badannya yang tinggi dan ramping terlihat sangat cantik di mata para lelaki, tapi tidak di mataku. Bagiku ibu seperti salah satu pria bermata keranjang yang sering kulihat, datang hanya karena butuh. Bagi ibu aku hanya batu kecil sebagai pijakannya dalam mencari rezeki.
"Tahan berat badanmu di bagian sini! Kakimu harus lebih kuat lagi! Mana lekukan tubuhmu! Senyum lebih lebar lagi!"
Tidak ada kasih sayang yang dituangkan ibu padaku. Hanya omelan, cacian, dan kebencian. Ya, penyesalan itu pun tak ada.
'Kamu sudah makan? Gimana tadi sekolahnya? Ayo tidur di pangkuan ibu biar ibu bacakan dongeng.'
Untuk sekali saja aku ingin mendengar kalimat itu meluncur keluar dari bibir merah ibu. Namun, itu hanya sekedar angan-angan yang tak bisa digenggam, terutama oleh tangan fanaku ini.
Malam hari adalah saat yang selalu kutunggu-tunggu. Ibu pergi dan meninggalkanku sendiri. Aku tak takut, malah aku merasa bebas. Bebas seperti gerombolan semut-semut kecil yang selalu kulihat di dinding kamarku.
Setiap malam aku akan berlari ke ruang kerja milik ibu yang penuh dengan cermin besar. Lalu aku akan menatap bekas-bekas ungu yang ada di tubuhku dan tersenyum. Aku tersenyum karena itu adalah bukti yang kusimpan, bukti bahwa ini semua perbuatan ibu. Ibu yang selalu memaksa tubuh kecilku untuk terus bergerak seiring irama musik.
Setelah itu akan meloncat kegirangan dan berteriak-teriak hingga tetangga di sebelah rumah ikut berteriak bersamaku. Aku akan membayangkan memiliki teman seumuran untuk diajak bermain. Hm... teman laki-laki atau perempuan, ya? Laki-laki saja deh. Kata ibu laki-laki tidak akan menari dan karena itu aku ingin memiliki teman laki-laki yang tidak akan pernah mengajakku menari. Lalu aku akan memberinya nama, Arjuna, seperti tokoh wayang yang terkenal itu.
"Kenapa kamu benci menari? Bukannya percuma saja kalau kerjamu menari terus?" tanya Arjun di dalam pikiranku. Mendengar pertanyaannya aku cemberut. Bukan ini tujuanku memiliki teman laki-laki.
"Semakin aku melakukannya semakin aku membencinya. Aku tidak suka merasakan sakit dan pegal di seluruh tubuhku."
"Lalu kenapa kamu tersenyum melihat lebam-lebam yang ada di tubuhmu?"
"Oh, ini?" aku menaikkan sudut kanan bibirku. "Untuk jadi bukti saja. Aku yakin suatu hari bisa membalas ibu."
"Tapi, Tari, yang aku lihat di matamu hanya kesepian dan kelelahan. Kebencian itu tidak ada di sana," ujar Arjuna lembut.
Aku sedikit terkejut dengan perkataan Arjuna hingga aku tidak bisa membalasnya.
"Kalau kamu lelah, kenapa tidak berhenti saja?" Nada suara Arjuna menenangkan sekaligus mendorongku untuk melakukan apa yang dikatakannya.
"Apa bisa? Ibu bagaimana?" tanyaku masih tak yakin.
"Kamu hanya perlu membujuknya. Ibumu pasti mengerti."
Aku mengangguk. "Sepertinya perkataanmu benar. Aku akan mencobanya."
Rasanya aku mendapat kesempatan langsung dari Tuhan, karena besok malamnya ibu mengajakku bicara sebelum ia pergi, tak seperti biasanya.
"Utari, cepat siap-siap! Kita akan pergi ke tempat kerja ibu," perintah ibu sambil buru-buru merias wajahnya. "Jangan lupa pakai baju yang bagus dan berkilau. Kau akan menari malam ini."
"Aku tidak mau," bisikku pada ibu.
Ibu menoleh padaku. Sepertinya suaraku tadi terlalu kecil.
"Aku tidak mau menari lagi. Aku benci melakukannya." Kali ini aku ucapkan dengan suara keras.
"Dasar anak kurang ajar!" Ibu terlihat sangat marah hingga pipinya memerah tanpa tambahan riasan. "Kamu hidup untukku! Tak ada kata tidak! Cepat ganti baju dan kita berangkat!"
Aku menggelengkan kepalaku, tapi ibu berdiri dengan kasar dan menarik rambutku. Aku menggelepar dan menendang-nendang udara kosong, berusaha melawan. Tapi aku tak berdaya.
Dengan paksa ibu mengganti bajuku dan merias sedikit wajahku. Sebelum tanganku bergerak untuk menghapusnya, leher bajuku ditarik ibu dan kami keluar rumah menuju tempat itu. Butiran-butiran air asin jatuh dari mataku, dan sekali lagi aku tak bisa apa-apa.
Aku tertidur sebentar, lelah melawan kekuatan ibu. Ketika aku bangun, aku berada di ruangan gelap yang asing dan menakutkan. Samar-samar aku mendengar suara berat seorang pria yang disambung suara ibuku. Tubuhku bergetar. Yang bisa kulakukan hanya menunggu.
Saat suara kerit pintu terdengar, aku melihat pria botak berpakain rapi dengan senyum lebar terpampang di wajahnya. Giginya putih sekali dan menyilaukan, membuatku semakin takut.
"Kau yakin dia bisa memuaskan pelangganku?" tanya pria itu, jelas bukan kepadaku.
Dari belakangnya ibuku menjawab, "Tentu. Aku sudah mengajarinya sejak ia bisa berjalan. Aku jamin Utari tidak akan mengecewakan."
"Bagus."
"Em, jangan lupakan uangnya," pinta ibuku dengan suara riang dan penuh harapan.
Pria itu hanya mendengus dan berjalan menghampiriku. Dengan mudah ia mengangkat tubuhku dan membawaku pergi. Tubuhku masih sedikit lemas karena melawan ibu tadi.
Aku tak tahu kami akan kemana, tapi aku mulai mendengar suara musik. Semakin lama semakin besar. Pria botak menurunkanku di balik tirai besar. Ia memegang pundakku dan menyuruhku menari.
Lalu tirai itu terbuka. Cahaya warna-warni menyilaukan mataku. Musik tempo cepat terdengar dengan keras. Selain itu juga banyak pria dan wanita dewasa yang sedang bergoyang.
Dari belakang, aku merasakan tangan pria botak itu mendorongku menuju panggung, menuju tiang yang berdiri dengan kokoh di sana.
Saat itulah aku sadar. Sekeras apapun aku melawan, sekencang apapun aku meminta, dan sekuat apapun aku berharap, aku hanya boneka milik ibu yang ia kuasai. Tujuanku hanya menari. Kali ini aku tidak bisa lari. Tangan dan kakiku meraih tiang yang ada di panggung itu dan saat itu juga aku mulai berputar.