Aku butuh solusi! Ya, mungkin semacam saran atau nasehat apa yang harus aku lakukan agar bisa keluar dari lingkaran tiada berujung.
Kenapa tiada berujung? Karena ketika aku tiba pada titik tertentu maka aku akan kembali pada titik sebelumnya. Dan itu berulang-ulang hingga aku muak. Aku ingin keluar dari lingkaran ini tapi entah bagaimana caranya.
Aku kisahkan ini pada kalian, siapa tahu di antara kalian ada yang tahu apa yang harus aku lakukan untuk terbebas dari lingkaran sialan ini.
Inilah kisahku…
Perkenalkan namaku Santana. Sekitar tiga bulan yang lalu aku diterima bekerja di sebuah perusahaan properti di Bandung. Sekarang aku jadi anak kost. Belajar hidup sendiri dan mandiri. Ya, benar-benar sendiri dan mandiri karena tidak punya sanak saudara di sini.
Aku berasal dari sebuah kota kecil di ujung Jawa Barat, tepatnya Ujung Genteng, Sukabumi.
Entah mengapa sudah beberapa hari ini perasaanku tidak enak terus. Perasaan tidak enak ini bukan saja berdampak pada tidak fokus bekerja, tetapi juga tidak selera makan, dan kalau diajak ngobrol kadang memberi respon ngawur. Sampai-sampai temanku di kantor tertawa karena ucapanku yang ‘gak nyambung’.
Dua hari ini aku juga ingat terus sama ibu di kampung. Entah kenapa. Seingatku baru bulan lalu aku pulang dan keadaan ibu baik-baik saja, tapi sekarang pikiranku tertuju terus padanya. Apa aku ini tipe anak mami yang selalu harus dekat dengan ibu ya? Entahlah.
…
*Scene awal*
Pagi ini aku bangun terlambat karena semalam mataku susah sekali diajak berdamai sekedar untuk melepas lelah. Terburu-buru aku mandi lalu sarapan sambil berlari ke sana kemari gak karuan. Dalam waktu kurang dari 15 menit aku sudah berdiri di depan gang menunggu ojek online yang aku pesan.
Tiba di kantor tepat 5 menit sebelum jam masuk. Terburu-buru mengambil kartu absen dan menuju mesin finger print.
“Hai San, terlambat lagi?” seorang temanku bertanya sambil menepuk bahu.
“Hei iya nih hehe…”
Jam kerja berjalan terasa lambat merangkak pelan menuju waktu istirahat. Hari ini aku betul-betul tidak fokus bekerja. Selain kuap yang terus mengiringi, pikiran juga tidak bisa diajak kompromi untuk sekedar mengerjakan hal-hal ringan, selalu salah. Sampai-sampai atasanku menatap tajam dengan mulut bersungut-sungut padaku.
Entah kemana perginya yang bernama gairah dan semangat. Atau jangan-jangan mereka tertinggal di atas kasurku ya, hehe… sepertinya aku memang mengantuk sekali.
“Kamu kenapa San? Hari ini kacau banget. Sakit?” tanya Ramlan.
Saat itu aku dan beberapa orang teman sedang menikmati makan siang di warung nasi di seberang kantor.
“Gak” aku menggelengkan kepala.
“Tapi kamu kelihatannya kayak gak sehat” ucapnya lagi.
“Entahlah aku gak tahu. Aku kayak melayang-layang gak jelas gitu” jawabku.
“Banyak Istighfar, San!” ucap Santi menatapku intens.
“Makan yang bener” ucapnya lagi.
Aku mengangguk pelan. Aku memang tidak sedang selera makan.
“Jangan-jangan lagi mikirin cewek ya?” teman yang lain menimpali, lalu kami tertawa bersama.
“Cewek yang mana yang mau sama Sansan?” mereka terkekeh, “Gak ada duitnya” timpal Ramlan.
Aku ikut tertawa tanpa bicara. Aku memang belum berminat dengan yang namanya perempuan.
…
Menjelang waktu pulang kantor, HP-ku berdering.
Paman, gumamku menatap layar HP.
“Assalamualaikum, Mang?” sapaku.
“Waalaikumsalam San, maaf ya Mamang nelepon kamu di jam kerja”
“Iya gak apa-apa Mang. Ada apa?”
“Kamu bisa pulang ke rumah besok?” suara paman terdengar seperti penuh kekhawatiran
“Besok?!”
“Iya, kalau sekarang kan sudah sore, besok saja”
“Ada apa mang? Saya kan baru pulang bulan lalu”
“Ini, ibumu”
Deg!
“Kenapa ibu mang?!”
“Ibumu jatuh di kebun. Nanti ngobrolnya di rumah saja, yang penting kamu pulanglah cepat, ya?”
Ini pasti serius. Tidak mungkin paman memintaku pulang mendadak seperti ini kalau keadaan ibu tidak serius.
“Iya baik mang, Sansan pulang hari ini”
“Besok subuh saja San, jangan sekarang, nanti kemalaman di jalan”
…
Tergesa aku membereskan meja dan berkas-berkas pekerjaanku dan semuanya selesai bertepatan dengan berakhirnya jam kerja.
Sebelum pergi meninggalkan kantor aku menyampaikan ijin pada atasanku untuk pulang beberapa hari ke depan.
Kembali aku tergesa menuju kosan. Memasukkan beberapa potong baju ke dalam tas ransel. Kamar aku biarkan berantakan. Mana sempat aku beres-beres karena di pikiranku sekarang hanya ada ibu. Aku akan pulang sekarang.
Ada apa dengan ibu. Sungguh aku sangat khawatir. Rupanya ini jawaban dari kecemasanku akhir-akhir ini. Ibu.
Untuk sampai ke kampungku, aku memerlukan waktu kira-kira 6 – 7 jam perjalanan. Dari kosan aku harus ke terminal bus menuju Sukabumi. Dari sana aku akan berganti bus menuju Surade. Belum lagi naik turun angkot. Sebetulnya enggan bepergian jauh apalagi ini menjelang malam tapi kecemasanku pada ibu mengalahkan segalanya.
…
Sekira pukul 9 malam, aku sudah sampai di terminal Lembur Situ.
Udara dingin sekali. Apalagi duduk di atas bangku semen ini dengan hanya berbaju kaos lengan pendek. Dinginnya sangat menusuk. Karena terburu-buru aku lupa bawa jaket tadi. Kalau tidak karena telepon mendadak dari paman yang mengabarkan ibu yang jatuh di kebun mungkin malam ini aku lebih memilih tidur di bawah selimut.
Sudah 2 jam lebih aku duduk di sini dan waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam. Tapi bus yang aku tunggu tak kunjung datang. Kulihat segerombolan preman duduk mengobrol dan tertawa-tawa di seberang jalan sana. Entah apa yang mereka bicarakan.
Dari jauh kulihat ada orang datang dengan tas ransel di pundaknya berjalan menghampiri lalu duduk di sampingku. Leganya… akhirnya ada teman.
Kutanya dia, “Nunggu bus juga ya Kang?” Dia tidak menjawab. Jangankan menjawab melirikpun tidak. Sombong sekali. Tapi biarlah, setidaknya aku tidak sendirian.
Cukup lama setelah orang itu datang akhirnya bus yang ditunggu muncul juga. Dia naik duluan lalu aku.
Duduk di kursi paling belakang aku mulai menyadari bus ini penumpangnya hampir penuh tapi suasananya sangat sunyi. Kulirik orang yang duduk di sampingku. Mencoba memecahkan keheningan kutanya dia “Mau kemana Pak?”
Tidak ada respon.
Aku mulai khawatir, jangan-jangan ini bus hantu yang sedang viral akhir-akhir ini. Kuperhatikan penumpangnya satu-satu. Kernet berdiri di dekat pintu belakang sambil menghitung uang tanpa memperdulikanku.
Aku bergidik.
Untuk mengusir rasa takut, kuambil rokok dan mulai menghisapnya.
“Kok bau kemenyan ya kang?” tiba-tiba orang yang duduk di sampingku berbicara kepada kernet.
“Ohh… gak apa-apa pak. Kadang memang suka gitu. Dulu katanya di halte tadi ada orang yang lagi nunggu bus mati ditusuk preman. Mungkin dia ikut naik bus, apalagi malam Jumat kayak gini. Kasian, kayaknya dia mati penasaran”.
…
Setelah percakapan antara kernet dan penumpang itu, maka diriku akan terlempar kembali ke scene awal di saat aku berlari kesana kemari karena bangun kesiangan. Kembali pada kondisiku yang tidak fokus dan tidak bersemangat.
Sudah berpuluh bahkan ratus kali kehidupanku berputar dari scene bangun kesiangan hingga scene naik bus di tengah malam itu, tapi aku tidak pernah sampai di kampung, dan aku tidak pernah melihat keadaan ibuku. Maka selama itu pulalah hatiku diliputi kecemasan akan keadaan beliau. Aku ingin bertemu dengannya dan ingin mengetahui keadaannya.
Akankah terkabul??
…
*Scene tambahan*
Mataku menatap tiga orang preman yang sedang berjalan menghampiri. Setibanya di dekatku, mereka berdiri sambil menatapku.
Aku bergidik.
”Keluarkan uangmu!” suara berat dari salah seorang preman itu membuat aku menciut.
“Saya gak punya uang Kang” jawabku dengan posisi masih terduduk di bangku semen.
“Ahh…semua juga bilang begitu kalau diminta uang! Sini tasnya!” preman yang lain mencoba merebut tas ranselku.
“Jangan Kang!” aku mempertahankan barang milikku.
“Eh…NGELAWAN?!!”
“Mana dompetnya?!” ucap yang lain mencoba merogoh saku celanaku.
“Kang tolong kang, jangan…” aku mencoba menepis tangan-tangan yang sedang menggerayangiku.
“Kurang ajar nih anak, berani sama kita!”
Mereka terus memaksa, aku terus bertahan.
Entah bagaimana dan siapa tiba-tiba saja ada benda tajam yang menusuk perutku, dan aku merasakan cairan hangat membasahi kaos. Pandanganku beralih ke perut, sebilah pisau menancap di sana, darah mulai turun membasahi kaos dan celana.
Aku mengalihkan pandanganku menatap mereka. tiada kata yang terucap dari mulutku. Pandanganku kabur. Muncul banyak bayangan di mataku.
Hatiku sakit, sangat sakit.
Aku ingin bertemu ibu. Hanya ingin bertemu dengan ibu. Akankah aku bertemu dengannya?
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
Baca juga novel :
CAHAYA YANG HILANG
TERJEBAK DALAM PERNIKAHAN SEMU
klik profilku untuk membacanya 😍🙏🙏🙏