Satu-satunya Putri Kerajaan Luzlun, Lumina, terbangun dari tidurnya setelah lima tahun. Ia kini menjadi lemah dan sering sakit, walau keberaniannya saat pertempuran kala itu, menjadikannya begitu dihormati dan dijaga, yang kenyataannya pun Lumina tak mengingat kejadian waktu itu. Para rakyatnya dan orang-orang luar pun tahu, bahwa sang Putri senang menyendiri di kamar, tetapi mereka tidak tahu, Putri Lumina menahan rasa sakit dalam tubuhnya di kamarnya itu. Dengan keadaan seperti itu, dia tetap menemui para tamu yang berkunjung atau sekadar pergi ke luar istana untuk saling sapa dengan rakyatnya. Namun, jika sudah kembali ke kamar pribadinya, dia akan termenung dan menyendiri, jendela kamar yang menghadap taman ialah tempat kesukaannya.
Malam itu, ketika bulan bulat sempurna, cahayanya menerangi taman di depan jendela kamarnya, temaram, menembus celah-celah dedaunan, matanya menangkap sesosok pria di seberang kolam. Berpakaian lusuh berwarna seperti karung goni, bertopi lebar, dan rambut tergurai panjang dengan kain merah yang mengikat sedikit rambutnya ke atas. Mata Lumina dan pria itu saling menatap, dengan sigap, Lumina segera membuka jendela dan melompat keluar. Langkahnya yang tertatih-tatih tanpa alas kaki itu makin dekat makin kencang. Mata Lumina membelalak tajam, ketika melihat senyuman di wajah pria itu.
“Putri!!!” teriak dua pengawal yang sedang berjaga.
Pria yang akan dihampiri Putri menghilang saat suara teriakan dari pengawal terdengar.
“Tuan Putri, apa yang Anda lakukan di luar sini? Sudah begitu malam,” ucap salah satu pengawal. “Mari kami antar kembali ke kamar.”
“Tapi, pria itu, bagaimana? Ke mana dia menghilang? tanya Lumina.
“Tak ada siapa pun, Tuan Putri. Hanya ada kami di sini,” kata pengawal yang saling bingung akan pertanyaan Putri Lumina.
Dalam wilayah Luzlun, bulan purnama terbit hanya terjadi satu pekan. Di mana waktu tersebut, tanaman tumbuh subur, aliran air pegunungan segar dan menyehatkan, para ternak pun sehat, suka cita menyelimuti seluruh kerajaan. Empat hari setelah purnama, tak disangka oleh sang Putri, bahwa dia bertemu lagi dengan pria kemarin di taman. Ia sedang berkunjung ke dalam istana, atas acara terbuka. Pria yang dilihat Putri Lumina, tidak lain ialah sang naga iblis. Lumina dan seluruh orang di istana tidak mengetahuinya, Putri Lumina sendiri pun telah hilang ingatan akan kejadian lima tahun lalu.
“Selamat siang, Tuan Putri Lumina. Hamba menghadap. Ada hal apa, sehingga hamba yang seorang pengembara dipanggil khusus oleh Putri?” tanya pria itu.
“Lumina, panggil saja seperti itu. Apa kau tidak mengingatku?”
“Hamba tidak mampu berbicara lancang seperti itu. Lalu siapa yang tidak mengenal atau mengingat Anda, Tuan Putri. Seorang pahlawan wanita Luzlun, seantero dunia pun tahu,” kata pria yang sedikit menunduk hormat itu.
“Pahlawan ya, bahkan aku masih tidak mengingat jasa apa yang aku peroleh untuk kerajaan ini. Menginaplah di sini, wahai Tuan pengembara,” kata Lumina.
“Kemenangan dan kedamaian, itu yang Tuan Putri Lumina berikan kepada Kerajaan Luzlun. Hamba hanya orang luar, sekadar mengisi tenaga di kerajaan ini. Hamba harus melanjutkan perjalanan,” balas pria itu.
“Namamu? Aku ingin mendiskusikan sesuatu denganmu, sebagai orang luar, bolehkah?” tanya Lumina.
“Roja, nama hamba, Putri. Silakan,” balas pria yang benar-benar membuat kagum Putri Lumina.
Diskusi mulai berlanjut, kadang si pria misterius itu menyangkal pendapat Lumina, kadang mengiyakan. Bahkan perihal peristiwa aneh yang baru saja terjadi, juga didiskusikan bersama. Lumina menemukan kenyamanan bersama Roja. Nama yang familiar di telinga Lumina, membuat dirinya tidak bisa tidur.
Fase bulan purnama telah sirna, bulan baru akan muncul dengan cantiknya di langit Luzlun. Pagi harinya Roja menghilang dari kamar, barang bawaannya pun lenyap. Lumina kecewa, Roja bahkan tidak berpamitan pergi. Di samping itu, bekas kamar yang ditempati Roja menimbulkan bau busuk bangkai, dan lantainya terdapat bercak-bercak darah berceceran. Darah-darah itu menempel pada pintu, jendela, dan dinding-dinding kamar. Keanehan itu diselidiki oleh penyidik kerajaan. Raja Chron sang penguasa Luzlun, memerintahkan untuk membawa Roja dalam keadaan apa pun dan akan diberi imbalan menggiurkan.
Chron dan bawahannya berasumsi bahwa keanehan yang terjadi akhir-akhir ini datangnya dari Roja. Rakyat pun percaya, Roja dianggap seperti monster. Ketika purnama hari itu muncul, beberapa hewan ternak menghilang, beberapa ladang juga rusak, dan air sungai di desa terluar juga tercemar. Putri Lumina menyangkal dengan tegas apa yang difitnahkan terhadap Roja.
“Roja, temanku, dia datang setelah satu malam purnama muncul. Sedangkan ternak hilang atau ladang rusak, dimulai awal purnama. Jadi, tidak ada hubungannya dengan kehadiran Roja ke istana ini,” tegas Lumina.
“Putri Lumina, Anda harus hati-hati. Ia hanya orang luar, ada yang melihat bahwa dia berwajah seperti goblin dan terkadang bertubuh elf, ” ucap Raja Chron.
Lumina tidak percaya atas simpang siur buruk yang ditujukan Roja. Ia berniat untuk mencarinya dan membuktikan bahwa Roja tidak bersalah. Namun, dicegah oleh Chron, dirinya dikurung di kamarnya. Hal itu menimbulkan keresahan para rakyatnya. Dua hari berlalu, pencarian Roja masih dilakukan. Bahkan meminta bantuan dari tetangga kerajaan lain. Di saat yang lain sibuk mencari Roja, Lumina yang masih terkurung di kamar semakin gelisah dan fisiknya melemah kembali. Ia juga sering bermimpi didatangi oleh naga. Ketika dia melihat-lihat taman dari jendela kamar, Lumina dikejutkan oleh seseorang yang datang di hadapannya, Roja. Ia membawakan surat dan bulu merah keras di atas suratnya. Belum sempat Lumina berbicara, Roja sudah pergi terburu-buru.
“Bulu apa ini? Dari mana dia dapat? Aku harus baca surat ini, tapi sebelum itu, akhirnya aku bisa keluar juga. Wahh kekuatan Roja hebat sekali, dia bisa menghancurkan kunci jendela dari luar haha. Tapi kalau begitu apa dia juga bisa menghilangkan ternak? Ahh, aku ini kenapa sih?” Lumina tergesa-gesa mengejar arah lari Roja sambil membaca surat yang diberikannya.
Di ruang sidang, terlihat Raja Chron dan para menterinya berdiskusi hebat mengenai permasalahan yang baru-baru terjadi. Ketika mereka bersitegang, tiba-tiba dikejutkan oleh pintu yang mendadak dibuka paksa, dan muncullah Roja. Para pengawal datang dan memposisikan diri mereka untuk menjaga Raja dan para menteri. Pintu ditutup kembali oleh Roja. Dari luar sudah ramai oleh pelayan dan penjaga, ingin melihat apa yang terjadi.
“Hamba Roja hanyalah pendatang, tapi hamba akan datang jika ada yang mencari dan membutuhkan bantuan hamba,” ucap Roja.
“Saya sangat berterima kasih kepada Putri Lumina, yang telah membela saya, walau hanya orang luar. Namun, kalian justru mengurung Putri, padahal jelas bahwasanya Putri Lumina tidak suka dikekang. Fisiknya melemah, wajahnya pucat, apakah itu keinginanmu, wahai Tuan Raja Chron?” sambung Roja dengan ketus.
Orang-orang di dalam ruang marah atas perkataan Roja dan para penjaga menyudutkan Roja agar tidak bisa bergerak. Selain itu, pintu ruang dipaksa buka dari luar oleh Putri Lumina dan para pelayannya.
“Lumina, menjauhlah dari sini!” gertak Chron.
“Tidak, Paman Chron! Jika Paman ingin menyakitinya, aku akan menghabisi diriku saat ini juga dan …”
“Dengar semuanya! Aku ingin membuat perjanjian,” pinta Roja yang tiba-tiba memutus perkataan Lumina.
Setelah perjanjian yang diungkapkan oleh Roja, Lumina terduduk diam, bahkan harus digotong keluar menggunakan tandu. Lumina sadar ketika hampir sampai di kamarnya, dan dia teringat akan isi surat Roja. Malam yang ditunggu Lumina telah datang, dia mengendap-endap keluar dan menuju hutan belakang istana. Lama menunggu, Putri Lumina dikagetkan dengan sesuatu yang menyentuh kulitnya. Keras, bersisik, dan besar. Ekor naga. Naga iblis datang.
“Na-naga!!” pekik Lumina, “Roja, kaukah itu?”
Lumina hingga terjatuh ke belakang karena mendongak ke atas untuk melihat keseluruhan tubuh sang naga.
“Hamba datang, Putri Lumina. Tidakkah engkau takut, Putri?” tanya Roja.
“I-iya sedikit, tapi akhir-akhir ini aku memimpikan seekor naga. Jadi aku seperti sudah terbiasa, ya walaupun terkejut juga melihat wujudmu,” ungkap Lumina dengan gugup.
“Saya izin meninggalkan istana ini, perwujudan saya belum diterima oleh orang lain. Dan kekuatan hamba akan berakibat fatal jika diketahui oleh banyak orang. Hamba mohon, jangan cari saya, jika ingatan Putri atas peristiwa lima tahun yang lalu membaik,” ucap Roja.
Tanpa sadar, tangan Lumina mencoba meraih wajah naga iblis itu. Roja pun menundukkan kepalanya sampai sejajar dengan Lumina. Lalu Putri tak sadarkan diri.
Malam di mana perginya Roja, bersamaan dengan terlihatnya naga terbang melintas di atas istana kerajaan. Naga yang sama yang dilihat oleh seluruh warga Luzlun lima tahun lalu. Perjanjian yang diberikan Roja kepada Raja di ruang sidang ialah meminta agar Putri Lumina tidak boleh terkekang lagi, pajak yang diberikan istana tidak boleh membebani rakyat yang kurang mampu, dan menerima perbedaan serta menyetarakan kesejahteraan rakyat desa maupun kota. Sebagai gantinya, sebelum tiba hari esok, kondisi Luzlun akan membaik. Ladang yang dirusak akan subur kembali, air sungai yang tercemar akan bersih lagi, tapi sayangnya, Roja tidak bisa mengembalikan hewan ternak yang hilang.
Roja, sang naga iblis meninggalkan istana, hanya Lumina yang tahu bahwa Roja ialah naga legenda itu selama ini. Bukan, bukan hanya Lumina, Chron; Raja Luzlun pun mengetahuinya. Chron tahu sejak membuntuti Lumina di malam sebelum kepergian Roja.
Roja, pada akhirnya kembali lagi ke Hutan Kabut Merah. Ia berubah-ubah wujud menjadi binatang atau pepohonan. Yang dikatakan sebagian warga, bahwa dirinya berwujud seperti goblin, jugalah benar. Namun, itu sementara. Wujud asli selain manusia, ialah naga. Peristiwa hilangnya ternak masih menjadi misteri. Namun, Lumina sendiri dan orang-orang berpikir, bahwa musuh lamanya, Thundervale yang menyebabkan itu semua.
Putri Lumina yang sudah mengingat jelas apa yang terjadi waktu itu, selalu mengenangnya di tiap bulan muncul bulat sempurna. Mimpi di tiap malam purnama pun selalu didatangi oleh Roja, yang terkadang berwujud naga, kadang manusia; yang berwajah berseri-seri, tampan, tinggi, dan rambut panjang hitam kelamnya.