(Sebelumnya, Miku mau ngasih tau nih. Yang mau gabung ngobrol ke GC Miku, pencet aja profilku. Disana ada GC, masuk aja ehe :> Butuh banyak member). Arigatou ~
Cinta sejati tidak berarti harus dari pasangan atau orang yang ramah. Cukup bertemu dengan kedua orangtuamu saja. Mereka pasti akan menyayangimu secara tulus.
=•=•=
(Nama diambil dari beberapa tokoh anime Mushoku Tensei dan anime lainnya, tapi sifatnya kuubah sedikit)
"Tuan Putri, apa anak saya boleh ikut bermain bersama Anda? Ji-jika dilarang, tidak apa-apa kok, Nona. Saya hanya bertanya," tanya seorang wanita paruh baya sambil menggandeng seorang anak kecil di tangan kanannya.
Dia bertanya kepada seorang putri kerajaan Teresa dengan perasaan gugup dan sedikit takut.
Gadis yang ada di depan wanita itu tersenyum, seraya mengatakan, "Tentu saja Bibi Luvilia, kenapa tidak? Ayo sini, Dik!"
"He? Sungguh tuan putri mengizinkan? Ah, terima kasih, Nona! Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Anda dengan apa. Terima kasih, saya sungguh berterima kasih!" Salah satu kerajaan Teresa ini mencondongkan badan agak sedikit ke depan.
Putri tunggal dari Raja Teresa ini masih mempertahankan senyuman ramahnya. "Tak perlu sungkan begitu. Bibi sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri," ungkapnya.
Luvilia kembali ke posisi awalnya seraya tersenyum tipis. "Baiklah, Aisha ... mainlah bersama Tuan Putri. Tapi ingat, jangan merusak apapun, ya?!" Sebelum meninggalkan Aisha, ia berpesan kepada anaknya tersebut.
Aisha menganggukkan kepala, menandakan bahwa ia telah memahami pesan ibunya. "Bagus, ini baru anak ibu. Emm ... Ibu ingin memasak makan malam dulu." Setelah mengatakan ini, tatapan Luvilia langsung beralih kepada sang putri. "Nona, saya permisi dulu." Dia kembali melakukan hal yang sama, sedikit membungkukkan badan ke depan dan kemudian pergi berjalan ke arah dapur, meninggalkan Aisha dan Tuan Putri berdua.
"Jadi, namamu Aisha, iya kan?" Gadis muda itu bertanya kepada Aisha dengan suara sedikit pelan, tujuannya adalah agar Aisha tidak merasa takut saat bersama dengannya.
Aisha menganggukkan kepala, sambil memainkan jari jemarinya. "Tuan Putri, terima kasih ...," kata Aisha berbisik. Ia sungkan.
Mendengar bahwa Aisha berterima kasih padanya, ia pun tertawa kecil. "Hahaha ... Aisha, kamu tadi berterima kasih padaku? Eehhh ... kamu ini gemesin bangett deh hihi," ungkapnya lalu mendekati Aisha yang berada sekitar satu meter di depannya. "Tapi, kamu tak perlu memanggilku 'Tuan Putri', cukup panggil aku, Kak Eris."
Benar, dia adalah sang putri kerajaan, Eris Teresa. Memiliki sifat yang lemah lembut dan penyayang, ia selalu membantu semua orang yang kesulitan. Tak peduli, siapa atau apa yang ia bantu. Maka dari itu, seluruh rakyat kerajaan sangat menyukai dirinya.
Pada saat itu, senyuman kecil terlukis di bibir anak perempuan itu. "Kak ... Eris." Untuk yang pertama kalinya, dia memanggil gadis nomor satu di kerajaan Teresa dengan panggilan 'Kak Eris'.
=•=•=
Aisha bermain boneka bersama Eris di kamarnya. Keduanya tampak sangat bahagia, bukan hanya Aisha saja yang bahagia, tapi Eris juga.
Karena anak tunggal, Eris selalu bermain sendiri. Rasa bosan seakan terus menghantuinya. Terkadang, Eris berpikir, mungkin saja jika dia lahir di kalangan rakyat biasa, ia akan merasa bahagia. Namun sekarang, semuanya sama saja.
"Emm emm emm~" Aisha bersenandung sambil memainkan sebuah boneka beruang.
Eris hanya bisa tertawa ketika melihat tingkah lucunya. Akan tetapi, tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Eh Aisha. Kamu tunggu di sini dulu, ya? Kak Eris mau mengambil sesuatu. Tenang saja, tidak lama kok," ujarnya.
Aisha mengangguk. "Baik, Kak!"
Eris berdiri lalu melangkahkan kaki keluar dari kamar, menuju ke luar rumah. Tempat dimana dia mengubur sepasang cincin emas kado ulang tahun dari ayahnya. Dia sengaja mengubur cincin itu dan akan mengambilnya saat ia bertemu dengan seseorang yang ia anggap sebagai 'Sahabat'. Meski ukurannya pasti sudah tidak muat di jari Eris lagi, tapi ia tetap ingin mengambilnya.
Tak perlu memakan waktu yang lama, ia sampai di depan istana. Tampak banyak bunga-bunga indah di taman sana, semakin mempercantik pemandangan istana kerajaan Teresa.
Berdirilah dia di depan sebuah petak taman, seingatnya, ini adalah tempat dimana dia mengubur kedua cincin emas miliknya.
Eris mengambil sebuah batu berukuran sedang, lalu mulai menggali tanah.
Tapi, entah dari mana datangnya, seorang pelayan menegur Eris. "Tuan Putri, apa yang Anda lakukan?" tanya Sphilyte, salah satu pelayan yang ditugaskan untuk menjaga Eris.
Tanpa terkejut sedikitpun, Eris hanya tersenyum ramah. "Ah, aku hanya sedang mencari sesuatu, Bibi. Tak perlu mengkhawatirkanku," ucap Eris.
"Maaf, Nona. Tapi saya tak bisa membiarkan nona kotor begini. Sa-saya takut, Yang Mulia Teresa akan marah nanti ...."
Walaupun, sang pelayan bersikeras memperingatkan Eris, tapi gadis tersebut tidak mengubah keputusannya. "Bibi Sphilyte, aku tau bibi mengkhawatirkanku. Tapi, jangan khawatir ... aku akan baik-baik saja. Lagipula, ayah juga memperbolehkanku bermain tanah kok."
"Nona Eris ...."
"Baik, jika memang begitu. Saya minta maaf karena telah lancang menegur tuan putri seperti itu. Maafkan saya." Sama seperti yang dilakukan oleh Luvilia, Sphilyte sedikit mencondongkan badannya ke depan. Hanya sedikit.
Ia kemudian melanjutkan. "Permisi ...." Sphilyte berjalan meninggalkan Eris.
Dan setelahnya, Eris pun kembali mencari sepasang cincin emas.
Beberapa saat telah berlalu, akhirnya, dia berhasil menemukan sebuah kotak yang berisi benda yang dicari olehnya.
"Aahh akhirnya." Sembari mengusap peluh dengan punggung tangan kotornya, Eris menghela napas lega.
Dengan hati girang, ia membawa kotak tersebut. "Aisha pasti menyukai cincin ini ...."
Di sisi lain, sepertinya langit tidak secerah hati Eris. Mendadak, awan mendung mulai bermunculan dan menutup sinar matahari.
Tik ... tik ...
Lalu, Eris merasakan setetes air menimpa kulit wajahnya. Setetes, lalu setetes lagi. Perlahan lahan, tetes air semakin banyak.
"Eh, hujan? Bagaimana bisa?"
Gluduk gluduk! Pyarr!
"Kyaaa!!" Gadis itu terkejut sembari memegangi kotak cincinnya.
Langsung, hujan deras turun begitu saja. Angin berhembus sangat kencang, hingga membuat dedaunan pohon berterbangan. Di tengah badai hujan, Eris berdiri sendirian. Tubuhnya berulang kali nyaris kehilangan keseimbangan.
"Nona Eriss!!" Luvilia serta pelayan kerajaan yang lainnya berteriak histeris.
Tapi, dia tak bisa mendengar teriakan mereka. Karena suara hujan yang begitu keras. Eris hanya bisa melihat siluet samar-samar beberapa orang dari jarak yang cukup jauh.
"Bibi ... ayah ... ibu ... eghhh ...."
"Erisss!!"
"Kak Eriss!!"
Di saat yang sama, terdengar suara seperti sayap yang dikepakkan.
"Hah?!" Semuanya terkejut saat melihat sesuatu dari langit, terbang menurun.
"Itu ... naga?!"
Mereka semakin terkejut, ketika menyadari bahwa yang terbang itu adalah seekor naga. Seekor naga berwarna hitam, tubuhnya sangat besar, sepuluh kali besar manusia normal.
Naga tersebut terbang ke arah Eris, mendarat, kemudian pergi.
"Tadi itu, benar-benar naga kan?" Ratu Teresa bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
"Nona Eris!! Dia menghilang!"
"Apa?!" Seketika, Ratu Teresa melupakan tentang naganya, ia kaget ketika seseorang berteriak kalau Eris menghilang.
Benar saja, Eris tidak ada di tempatnya tadi. Dia telah dibawa oleh naga hitam yang mendarat beberapa saat yang lalu.
"Erisss!!"
Naga hitam misterius itu terbang naik menuju awan mendung lalu menghilang entah kemana.
"Erissss!!"
=•=•=
"Ughh ...."
Mata gadis itu terbuka perlahan.
"Dimana aku ...?" Dengan suara yang kecil, ia bertanya pada dirinya sendiri.
Eris berusaha sekuat tenaga agar bisa bangun. Ia mengubah posisinya menjadi duduk. "Dingin sekali ... eh? Kenapa tubuhku bisa basah begini?"
"Ah, iya. Karena hujan itu. Tapi, aku dimana? Apa ini gua? Apa ada orang di sini? Siapapun, tolong aku!!" teriak Eris meminta bantuan.
Tap... tap ...
Di saat ia masih kebingungan, telinganya menangkap sebuah suara langkah kaki dari arah samping. Hanya terdengar suaranya saja, mata Eris tidak dapat melihat jelas sosok di balik sisi gelap gua.
Menyadari bahwa ada orang di sini, dia pun berdiri dengan segera. "Halo? Permisi ... saya adalah Eris Teresa. Emm ... paman, atau bibi ... saya ingin bertanya. Eegh ... dimana ini? Apa ini adalah sebuah gua?" Eris bertanya dengan sopan santun.
"...."
Tapi, tidak ada satu kata pun yang dilontarkan oleh sosok di balik kegelapan tersebut.
"Halo?"
"Apa kau benar-benar Putri Eris?" Akhirnya, rasa penasaran Eris terobati. 'Ia' menjawab pertanyaan sang putri rendah hati ini. Suaranya berat seperti seorang pria, tapi diiringi dengung di setiap perkataannya.
Eris menganggukkan kepalanya dua kali. "Ya, saya adalah Eris Teresa. Maaf, kalau boleh tau, siapa nama Paman?"
"...." Lagi-lagi, 'Ia' terdiam. Setelah Eris menanyakan identitasnya, tidak ada lagi jawaban darinya. Melainkan langsung sebuah tindakan yang dapat menjawab.
Yah, dia berjalan melintasi gerbang kegelapan, menuju cahaya. Sinar matahari yang terang membuatnya semakin terlihat. Satu kaki, lalu dua kaki, dan satu kepala. Satu per satu anggota tubuhnya mulai tampak.
"Ha-Haaaaa?!!"
Tapi, ketika sosok itu menampakkan seluruh tubuhnya, Eris bereaksi. Seperti terkejut.
Tentu saja, karena yang ada didepannya bukanlah manusia atau alih-alih seorang pria yang kekar, dia malah melihat seekor naga bersisik hitam. Benar, naga ini adalah naga yang membawanya kesini.
Bruk!
Saking takutnya, Eris sampai terjungkal ke belakang. Tubuhnya jatuh tapi dalam posisi terduduk.
"Munduurrr! Ja-jangan mendekat!" Eris bergerak mundur menjauh dari sang naga yang memiliki wujud mengerikan. Tubuhnya besar, jadi Eris berpikir, mungkin saja ia akan mati dalam satu lahapan.
"Kumohon, jangan mendekat." Rasa putus asa sudah menguasainya, dia menangis ketakutan. Tapi, siapa sangka, naga itu sama sekali tidak melakukan hal-hal buruk kepada Eris.
Justru sosok misterius tersebut malah menunduk dan berlutut kepadanya. Ia mengatakan, "Putri Eris, aku mendengar ini dari warga sekitar. Katanya, kau memiliki sifat rendah hati dan penyanyang. Jika memang benar begitu, tolong berikan rasa kasih sayangmu kepada hamba. Saya mohon." Setetes air mengalir dari mata besar sang naga.
Eris yang awalnya takut pun berubah menjadi sedikit empati. "Dia, menangis?"
"Eemm ... tolong jelaskan semuanya kepadaku dulu," pinta Eris.
Naga itu menatap wajah kecil Eris. Ia lalu kembali menunduk. "Sepuluh tahun yang lalu, saya dikutuk oleh seorang penyihir. Saya akui, ini memang salah saya. Karena, saya berpihak di sisi yang salah. Penyihir itu menipu saya dan yah, beginilah jadinya. Tapi, suatu hari seorang peramal datang menghampiri saya, katanya, kutukan ini bisa dihilangkan. Asalkan saya bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari seseorang. Maka dari itu, saya mohon!" Naga hitam itu menjelaskan seluruhnya. Bagaimana dia bisa menjadi naga dan juga cara agar dia bisa kembali seperti semula.
Setelah mendengar semuanya, gadis itu akhirnya mengerti. Dia tersenyum ramah. "Baiklah, aku akan mencobanya," ucap Eris lalu berjalan mendekati sang naga. Ia memeluk kelapalanya dengan pelukan hangat kasih sayang yang biasa dia gunakan untuk memeluk anak-anak di kerajaan.
Seberkas cahaya mulai muncul di antara mereka, cahayanya perlahan mulai membesar. Tapi, itu hanya sekedar cahaya. Tidak ada yang berubah.
"Eemm. Kenapa kau tidak berubah? Apa ini gagal?"
"Ya, saya rasa begitu. Hah ... bahkan seorang putri penyayang pun tak bisa mengubahku. Sepertinya, saya tak akan pernah bisa mengangkat kutukan ini. Baiklah kalau begitu, Nona Eris. Terima kasih karena telah mencoba. Saya akan mengantarmu kembali. Naiklah ke punggungku," ucapnya dengan perasaan sedikit kecewa.
Eris dapat merasakan apa yang dirasakan oleh naga hitam itu. Dia juga ikut sedih, tapi bagaimana. Pelukannya tak bisa membuat dia berubah.
Namun, sebuah ide tiba-tiba terlintas di pikiran Eris. "Hei, naga! Apa kau punya saudara atau keluarga di sini?" tanya gadis itu.
"Hm? Emm, yah. Saya punya seorang ibu di sini. Tapi, saya juga tak tau bagaimana kabarnya saat ini."
"Siapa nama ibumu?"
"Dia adalah ...
=•=•=
Eris dan naga itu kembali ke istana bersama. Dari atas, gadis berusia tujuh belas tahun ini melihat banyak sekali orang yang ada di bawah.
Sesaat naga tersebut mendarat di depan istana, Eris bergegas turun dan berlari memeluk ibundanya.
"Eris, apa kau baik-baik saja, Nak? Ha? Tidak ada yang terluka, kan?" tanya Ratu Teresa.
Disusul oleh perkataan sang ayah. "Ghh ... semuanya, cepat perintahkan prajurit istana untuk menangkap naga ini! Dia telah mencoba untuk menculik putriku!"
"Baik, Yang Mulia!" Speredo, sang panglima prajurit pun segera menjalankan perintah pemimpinnya. Ia berlari ke tempat para prajurit latihan. Tapi sebelum itu terjadi, Eris menghentikannya.
"Tunggu, Paman Speredo!"
Jelas, seluruh perhatian tertuju kepada Eris.
"Ada apa, Eris?" Ibundanya bertanya.
Eris melepaskan pelukan dan berjalan ke arah naga. Dia berdiri di depannya dengan tangan membentang, seolah ingin melindungi. "Jangan lukai naga ini, Paman, ayah, ibu .... Naga ini tidak jahat!" tegas Eris yakin.
"Apa maksudmu, Putriku? Naga ini telah menculikmu! Bagaimana bisa kau mengatakan kalau dia tidak jahat?"
Eris terdiam sebentar, tapi kemudian dia menjawab, "Tolong dengarkan aku. Naga ini sebenarnya adalah manusia yang dikutuk oleh penyihir. Jadi, jangan lukai dia!" ucapnya kekeh.
"Apa?!'
"Yah, dan sekarang dia sedang mencari seseorang yang dapat memberikan kasih sayang tulus kepadanya. Barulah ia bisa kembali menjadi manusia," lanjut Eris menerangkan semuanya.
Eris menatap bibi Luvilia yang tengah berdiri di samping ibunya. "Bibi Luvilia, bibi pernah bilang kepadaku kalau bibi sebenarnya punya seorang anak. Tapi dia hilang entah kemana, benar kan?" tanya Eris sambil tersenyum.
"Be-benar, Nona," jawab Luvilia gugup.
"Yah, anak bibi sebenarnya masih hidup. Dan dia adalah naga ini."
Deg!
Satu kalimat terakhir yang diucapkan oleh Eris langsung membuat semua orang di sana kaget. Termasuk Luvilia, dialah yang paling kaget.
Eris berbalik, menatap naga yang ada di belakangnya. "Rudeus ... benar, kan?"
"Umm ... benar ...," kata sang naga seraya menundukkan kepalanya.
Luvilia menutup mulutnya dengan kedua tangan, dia bergegas berlari menghampiri naga hitam malang yang ternyata adalah ... Rudeus Norn, anak laki-lakinya yang telah hilang selama sepuluh tahun.
"Rudeuss!!" Luvilia tak bisa menahan tangis bahagianya. Dia menangis sejadi-jadinya sembari memeluk kepala Rudeus.
Aisha menatap ibunya dari kejauhan. Dia masih belum mengerti kenapa ibunya menangis sampai terisak begitu. Yang ia tahu hanyalah, ibunya sedang menangis.
Untuk yang kedua kalinya, setitik cahaya menyilaukan muncul di antara pelukan mereka, cahanya membesar perlahan dan menutupi mereka berdua.
Kali ini, tampak ada yang berubah. Luvilia tidak memeluk naga lagi, melainkan seorang anak laki-laki berambut pirang dengan baju coklat dan celana coklat tua.
"Jadi, dialah Rudeus?"
"Ibu, maafkan aku ...." Rudeus ikut menangis di pelukan ibunya.
"Harusnya ibu yang bilang begitu ...." Tangan Luvilia meremas baju belakang Rudeus kuat-kuat. Tangisnya masih belum bisa berhenti.
Keduanya menangis bahagia. Eris melihat mereka berdua dengan tangis haru.
Ternyata, cinta sejati Rudeus bukanlah Eris melainkan ibunya sendiri. Kehangatan kasih sayang Luvilia, membuat kutukan sang penyihir hancur seketika.
Begitulah, itu adalah kisah dari sang putri dan naga malang.
=•=•=
Epilog (Skip bagian ini, gak apa2)
"Heee ... maksudmu kita akan tampil dengan naskah drama seperti ini?" Seorang gadis dengan model rambut imut melempar beberapa lembar kertas kepada seorang gadis di depannya. "Vio, naskahmu itu jelek sekali. Katanya kau pintar menulis huuuu!!" lanjutnya mengejek.
Gadis itu adalah Miku Fushigawara. Sementara gadis yang dia ejek adalah Violet Tsumiki.
"Heeii apa maksudmu Miku? Nee-chan bilang, naskahku sudah bagus tau! Kau ini, hanya pandai mengejek saja!" Violet menegur Miku dengan perkataan ngegasnya.
"Grrhhh."
Keduanya saling bertatapan karena marah.
Sementara itu di sisi lain.
"Aku akan membagi perannya. Shinobu-san, kau akan menjadi naganya. Reina, kau menjadu Aisha. Sementara aku, Rin Ueno, akan memerankan sang Putri Eris!" ucap gadis dengan dua kucir rambut menghiasi rambutnya.
"Ara-ara~ Kenapa aku harus jadi naga? Rin, kamu saja lah! Aku ingin menjadi Ratu Teresa!" tolak gadis lain, Shinobu Okita.
"Tidak! Aku tidak mau jadi Aisha." Bukan hanya Shinobu, seorang gadis pendek layaknya loli pun ikut menolak. Seperti yang dikatakan oleh Rin, dia adalah Reina Tamashi.
Akhirnya, mereka pun bertengkar untuk membahas masalah tokoh yang diperankan.
Dari kejauhan, terlihat dua orang sedang menatap mereka berdua. Satu diantaranya adalah seorang wanita. Dia berperan sebagai pengatur agar drama berjalan dengan baik. Tapi ....
"Hah ... sudah kuduga pasti ini akan terjadi. Hadeehh. Ran, kenapa kau tak ikut bertengkar bersama mereka?" tanya wanita itu.
Gadis yang ada di sampingnya hanya menghela napas. "Aku tidak mau. Bertengkar dengan mereka hanya sebuah tindakan kekanak-kanakan," jawab Ran Yukino.
Wanita itu tersenyum. "Baguslah, ternyata masih ada yang waras di sini selain diriku."
Tling.
Terdengar suara notifikasi ponsel berdering. Itu adalah notifikasi ponsel Ran. Awalnya, semua terlihat biasa-biasa saja, sampai ....
"AAPAAAA?!!" Ran berteriak sekencang-kencangnya.
Hingga membuat semua orang terkejut, termasuk sang manager.
"Eh ayam ayam! WOI, RAN! KENAPA KAU BERTERIAK BEGITU?!" tanya wanita tersebut, sedikit emosi.
Ran tidak menjawab, ia hanya menatapnya dengan tatapan penuh amarah. Ran kemudian menendang sebagian bangku yang ada di ruangan klub drama mereka, hingga hancur.
"Shinici, BERANINYA DIA JALAN DENGAN PEREMPUAN LAIN! Hyaatt!!"
"Ran Ran, tenanglah dulu ...."
"Gwaaah aing maungg!!" Ran tak mendengarkan ucapan manager mereka dan masih menendang banyak kursi.
Reina, Shinobu, Rin, Miku, dan Violet, diam seribu bahasa sambil menatapnya.
"Ahh, kutarik kata-kataku tadi. Yang normal di sini, hanya aku, kurasa," ucap manager wanita tersebut dalam batin. Dia adalah 'K'.
Ya begitulah, akhirnya drama mereka pun hancur lebur gara-gara kerjasama tim yang kurang. Dan faktor lainnya adalah karena Ran yang salah paham.
- Tamat -