Tak pernah kusangka, ternyata selama ini Tuhan sudah mempertemukanku denganmu.
-Nirmala
Angin malam tak kupedulikan, tetesan air hujan terus menghujaniku tanpa kupedulikan, itu semua tidak sebanding dengan rasa sakit yang kurasakan, Menangis, ya hanya itu yang bisa kulakukan saat ini, di keadaan seperti. Katakanlah aku lemah, tapi sungguh aku sudah tidak tahan lagi. Hingga tiba tiba ia datang, dan menjadi tempat bersandarku.
Dia Reynal, sahabatku yang kukenal semenjak bayi. Dia datang dengan senyum hangat diantara angin dingin malam hari. Aku merasa hangat saat melihat kedatangannya. Dia mendatangiku dan duduk disebelahku.
Tentu saja dia pasti sudah tahu, apa yang terjadi padaku, aku jamin itu. Jadi aku hanya lanjut menangis di sandaran bahunya. Beberapa waktu berlalu, kami berdua hanya diam tanpa mengeluarkan satu katapun. Saat melihat diriku sudah mulai tenang, ia pun bertanya mengenai keadaanku.
“Nir, udah lega nangisnya hm?” tanya dengan lembut
Aku hanya membalasnya dengan anggukkan.
Diapun menatap kelangit.
“Lo tau Nir, malam yang dingin ini bahkan tidak bisa menutupi terangnya bintang.” lalu ia menatapku.
“sama seperti diri lo nirmala, lo gak bakal jatuh hanya karena satu laki laki itu.”
Iya, memang hari ini, aku melihat pacarku berjalan dengan perempuan lain. Jujur ini bukan pertama kalinya aku mengalami kejadian seperti ini. Menyerah? tentu aku sudah sering merasa ingin menyerah, tapi apadaya, susah rasanya jika harus meninggalkan seseorang yang sangat kita cintai bukan?
Aku pun menatap matanya,
“Rey, lo tau, gue liat dia sama perempuan lain”
Dia pun terkekeh, dan aku merasa jengkel dengan balasannya itu, sungguh.
“Nir Nir, lagipula ini bukan yang pertama kalinya bukan?”
Aku pun terdiam, mau membela pun tidak bisa.
Mau bagaimanapun, bukankah memang begitu faktanya bukan?
“Mungkin sesekali lo harus menatap kebelakang, ada yang dengan setia menunggu lo nir.” ucapnya yang membuatku sedikit bingung. Siapa? satu kata yang menjadi pertanyaan dalam hatiku.
Aku melihatnya sambil menaikkan satu alisku, tapi balasan yang kudapatkan malah kekehan, sungguh kesal aku dibuatnya.
“Udahlah, ngapain dibawa serius sih.” jawabnya sambil tertawa, aku semakin bingung dibuatnya.
Hingga terdengar sebuah suara yang tidak asing ditelingaku.
“Nirmala.” ya, suara yang sungguh tidak ingin kudengar sekarang.
Akupun menoleh, dan terlihat sosok tinggi disana. Saat ini, kurasakan juga bahwa pandangan Rio berbeda, ya namanya Rio. Lalu kuikuti arah pandangannya, ternyata arahnya menuju ke Rey. Aku menjadi bingung, mengapa tatapan Rio memberi kesan marah? Jelas jelas ia tau bahwa Rey adalah sahabatku.
Disaat aku bergelut dengan pikiranku, kulihat Rey sudah berdiri didepanku.
“Mau apa lagi lo?” Rey membuka percakapan.
“Awas lo, dia cewek gue.” balas Rio dengan tegas. Rey pun tertawa sinis.
“Cewek lo? mimpi lo! Lo gak pantas buat dia.” balas Rey tak kalah tegas.
Okey, disini gue bener bener bingung. Tak biasanya Rey akan bertindak seperti ini. Dan satu hal lagi, aku baru sadar jika diwajah Rio terdapat bekas pukulan. Astaga apa yang sebenarnya terjadi disini.
“Kenapa lo? Takut kalah lo sama gue?” sinis Rio kembali.
“Gue? takut sama lo? cih” balas Rey.
Sepertinya benar benar ada yang salah diantara kedua orang ini.
“Oh iya? kalo gue balikan sama Nirmala, lo bisa apa?” ucap Rio. ya, disini gue dan Rio sudah putus, kami memang sering menjalani hubungan putus sambung.
“Kali ini gak akan gue biarin.” ucap Rey dengan sangat tegas.
“Kenapa? lo suka sama dia?” ucapan ngawur Rio yang entah datang darimana membuatku hampir tertawa hingga kudangar balasan dari Rey.
“Kalau iya, mau apa lo?” jawab Rey yang membuat aku sangat terkejut sekarang.
Bayangkan, sahabat yang menemanimu sejak kecil ternyata jatuh cinta sama lo.
Akupun dengan refleks memandang Rey seolah mempertanyakan kebenarannya. Hingga kudengar lagi suara Rio.
“Oh, pantesan tadi lo hajar gue. Gara gara lo suka sama dia?” ucap Rio sinis sambil menunjuk gue.
Kulihat mimik wajah Rey berubah.
“Tangan lo dijaga, jangan nunjuk nunjuk lo.” bentak Rey.
Rio hanya terkekeh.
“Kalo lo? lo suka sama dia?” pertanyaan sepela yang ditanyakan Rio padaku, tapi bisa membuatku terdiam.
Sungguh aku sangat bingung dengan perasaanku. Suasana menjadi diam selama beberapa saat hingga...
“Fine lo gak usah jawab, gue udah tau jawabannya, kita selesai baik baik nir.” ucap Rio lalu pergi meninggalkan kami berdua.
Suasana yang tadinya diam malah menjadi canggung. Sungguh mengapa Rio harus pergi di keadaan seperti ini.
“Rey” panggilku
“eh iya iya” balas Rey panik yang sedikit lucu di mataku.
“itu anu, tadi maksud omongan lo tadi?” tanyaku mempertanyakan pertanyaan yang mengganjal dihatiku.
“eh itu, gak usah lo anggap biarin aja, udah ya gue antar lo pulang deh, jangan tanya apa apa ya.” ucapnya secepat kilat.
Dan iya, selama perjalanan pulang, aku tidak bertanya bahkan berbicara sama sekali, bahkan Rey. Suasana benar benar canggung, tidak seperti biasanya.
Setelah Rey pulang, aku langsung berlari ke kamarku. Aku memeluk bantalku, harusnya sekarang aku merasa sedih karena hubunganku dengan Rio telah berakhir. Tapi apa ini, kenapa aku tidak merasa sedih sama sekali tapi... senang?
“Ah sepertinya aku juga suka Rey?” ucapku tanpa kusadari lalu dengan cepat juga aku menggelengkan kepalaku untuk menghindari pemikiran seperti itu. Lelah, akupun memutuskan untuk tidur saja.
Keesokan harinya, saat sarapan, aku sangat diam, tidak seperti biasanya. Dan sepertinya orangtua ku menyadari hal itu.
Setelah sarapan, ayah bertanya...
“Tumben kamu tidak banyak cerita nak.” ucapnya sambil terkekeh
“apaan sih pa, masa nirmala gak boleh diam gitu.” jawabku manja.
“Nggak, maksud papa itu, tumben kamu gak cerita soal Rey.” ucap mama membenarkan ucapan papa.
Aku menaikkan satu alisku, memangnya sesering apa aku bercerita mengenai Rey, padahal bukankah pacarku itu Rio?
“Hayoloh, jangan bilang kalau kamu gak sadar sering ceritain tentang Rey. Rey tadi ini loh pa, Rey tadi ngambek loh pah, Rey tadi masa gini loh pa.” ucap papa sambil memperagakan mimikku, yang membuatku tersipu malu.
“Iya nak, bahkan mama liat pas kamu ngedate sama Rio aja, kamu cerita nya tentang Rey. Sampe muka Rio asem banget.” ucap mama sambil tertawa. Akupun semakin bingung, sampai segitukah? Ok, kali ini aku sudah tetap pada perasaanku. Katakanlah bahwa aku bimbang, tapi aku tak peduli walau baru putus. Aku harus menyatakannya pada Rey.
Dia juga menyukaiku bukan? Perkataannya saat itu benar bukan? Dia tidak berbohong bukan? tanyaku dalam hati terus menerus hingga suara Rey membuyarkan lamunanku.
Iya, tadi setelah sarapan, akupun memutuskan untuk menemui Rey dan mengatakan kebenarannya, untung saja chatku dibalas iya olehnya.
Setelah kami duduk disebuah kursi ditaman, aku tidak mau berbasa-basi, jadi aku langsung to the point.
“Rey gue suka sama lo.” ucap gue dengan tegas didepannya.
Rey hanya terdiam yang membuat ku merasa malu, jadi perasaan ini hanya ada padaku? jadi perkataannya saat itu bohong?
Tapi bukannya jawaban yang kudapatkan melainkan pelukan. ya pelukan.
Astaga jantung terasa mau copot saat ini, walaupun bukan pertama kalinya aku dan Rey berpelukan, tapi kali ini terasa berbeda. Sungguh berbeda.
“Aku juga Nirmala aku juga.” jawabnya girang yang sungguh membuatku lega. Ternyata perasaan ini bukan hanya terdapat padaku, lalu akupun membalas pelukannya.
-THE END-