Genre: Horror, Gore
Aku suka membaca dan menulis, nenekku selalu membelikan buku cerita untukku.., selain itu aku juga anak tunggal
Karena aku anak tunggal, kedua orang tuaku dan nenekku selalu memanjakan aku.., pada suatu hari aku menemukan sebuah buku lusuh dengan sampul cokelat, aku menemukan itu di perpustakaan milik nenek
Di halaman pertama ada tulisan:
Jika kau membaca buku ini, maka bersiaplah untuk melakukan petualangan yang menegangkan
Di halaman kedua:
Aku berjanji akan melupakan semuanya demi masuk ke dunia asing itu
Lalu tiba-tiba setelah aku membaca kalimat yang ada di halaman kedua, di sekeliling ku seketika berubah.., cahaya berwarna putih keluar dari tubuhku dan setelah itu semuanya gelap
******
Aku terbangun saat dirasakan ada yang menyentuh tanganku sembari mengguncangkan tanganku "bangun, ayolah nak"
Aku membuka mataku dan melihat ke sekeliling ku, tidak. Aku tidak berada di rumah sakit, lalu dimana ini? "Apa yang terjadi? Kenapa aku ada di sini? Tempat apa ini?"
Dia menghela nafas "kau ada di Zhim, kota yang terlupakan dan kota yang tidak terlihat oleh manusia biasa. Kecuali manusia itu mengucapkan janji untuk kota ini, aku tidak yakin tapi hampir seluruh manusia yang mengucapkan janji tidak akan pernah bisa kembali lagi ke dunianya dan ia akan melupakan keluarganya seiring berjalannya waktu"
Aku seketika bungkam, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan "lalu bagaimana caranya kembali?"
"Aku tadi sudah mengatakan itu nak, tidak ada caranya kembali.., tapi jika kau melupakan keluarga mu maka kau akan hidup makmur di kota ini. Percayalah?"
"Tidak tidak tid—"
PLAK
Orang itu yang menamparku "aku sudah lelah mengurus orang seperti mu, mereka selalu menyesal setelah mengucapkan janji itu, KENAPA. KENAPA?!! KENAPA AKU YANG MENDAPATKAN TUGAS SEPERTI INI?!!"
Ia berteriak seperti orang gila, tapi melihat di tangan kanannya ada sebilah pisau kecil.., aku seketika panik "MATI SAJA KAU!! AKU SUDAH MUAK!!"
Dia mulai menusukkan pisau nya ke kepala ku, aku tidak berdaya. Aku tidak tahu harus apa, seketika aku menyesal karena tidak menuruti mama untuk belajar beladiri "maafkan aku mama"
Air mataku menetes, pandangan mataku berkunang-kunang. Air mataku tak berhenti mengalir, si orang gila itu terus menusukkan pisau nya ke tubuhku. Tapi tepat saat si orang gila menusuk jantungku, semuanya berubah gelap.., aku akan mati
******
POV Author
Gadis itu, Illya menusuk bocah berusia 16 tahun di depannya menggunakan sebilah pisau kecil "aku sudah muak" gumamnya
"Apakah kau sudah selesai?" lelaki itu mendekati Illya, tapi tampaknya gadis itu tidak mau menjawabnya
"Kau bisa melihatku, tidak perlu bertanya" balas Illya sarkas, lelaki itupun hanya menghela nafas berat
"Seharusnya kau tidak membunuhnya sebelum waktunya, kau bisa terkena masalah Illya" lelaki itu menasihati Illya dengan lembut walaupun kalimatnya terdengar seperti menyindir
"Aku tahu itu Red, tapi aku tidak tahan.., aku sudah muak" lelaki bernama Red itupun kembali menghela nafas berat
"Kalau begitu aku akan membawakan mu yang baru, tapi berjanjilah untuk tidak membunuhnya sebelum waktunya Illya...."
"Baiklah, terimakasih Red...."
******
"Kia cepat cari kayu bakar di hutan!!"
"Tapi bi, ini sudah mal—"
"Tidak ada tapi-tapian, cepat!! atau kau tidur di gudang malam ini"
"B—baiklah bi"
Kia pun berjalan keluar rumah dengan langkah cepat, kota Zen akan berubah sepi pada malam hari... ia pergi ke salah satu hutan di pinggir kota yang sebenarnya hutan itu adalah perbatasan kota Zhim
Tetapi Kia tidak mengetahui apapun tentang kota Zhim, karena kebanyakan rumor yang ia dengar seperti ‘kota Zhim adalah kota mati yang sudah lama ditinggalkan’ yah begitulah kira-kira
Setelah dua jam lamanya ia mencari kayu bakar akhirnya ia pun berniat kembali ke rumah di saat dipikirnya kayu bakar itu sudah cukup, tapi tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya.., Kia berhenti melangkah dan mencoba menajamkan pendengarannya tapi ia tidak mendengar apa-apa selain suara daun yang bergemerisik terkena angin malam
Karena tidak mendengar suara apapun, Kia berniat melanjutkan langkahnya tapi di saat ia sedang berjalan melanjutkan perjalanan ke rumah.., Kia kembali mendengar suara langkah kaki. Karena penasaran akhirnya Kia mencoba untuk berbalik, tetapi belum saja ia berhasil berbalik.., mulutnya sudah dibekap lebih dulu dan seketika itu pula ia kehilangan kesadarannya
******
"Eh padang rumput?" gumam ku sembari melihat ke sekelilingku "AH DI MANA INI?!"
Aku cukup frustasi karena tak juga menemukan jalan keluar menuju kota kelahiranku, kota Zen.
"Kia...!!" tiba-tiba aku mendengar suara teriakan dari belakang ku, akupun berbalik untuk melihat siapa yang memanggilku
"Mama...?" aku tersentak kaget saat tahu siapa yang memanggilku, aku menatap tidak percaya ke arahnya.., akupun berlari menghambur ke pelukannya "mama.., hiks"
Aku menangis di pelukannya "pergilah nak, jangan pernah berbalik lagi.., belajarlah untuk mencoba tidak berbalik ke belakang"
"Tapi mama tidak ikut?" beliau menggeleng, aku menatapnya sendu seakan bertanya “kenapa?”
"Mama tidak bisa, ini adalah tempat mama sekarang.., tetapi ini bukan tempat mu. Belum menjadi tempat mu nak"
"Apa mama tidak bosan? di sini hanya ada padang rumput" aku mencoba menarik tangannya akan tetapi dia tidak bergeming dari tempatnya
"Kalau mama tidak mau ikut tidak apa-apa, aku pergi sendiri saja.., sampai jumpa ma" akhirnya aku beranjak dari tempatku, aku berusaha untuk tidak berbalik ke belakang
******
"Kau sudah bangun?" tanya Illya dengan tatapan datar, gadis bernama Kia itu hanya meliriknya sekilas lalu kembali menutup matanya sembari memegangi kepalanya
"Apa kau buta?" tanya Kia yang sebenarnya lebih mirip sindiran dibanding pertanyaan "di mana ini?" tanya Kia pada akhirnya
"Selamat datang di kota Zhim, di mana kenyataan bisa menampar mu" senyum manis yang lebih mirip seringaian itu terukir di wajah Illya
"Bagaimana aku bisa ada di sini?" tanya Kia keheranan sekaligus ketakutan karena melihat wajah manis Illya yang tampak menyeramkan
"Pemburu malam" singkat. padat. jelas. Kia mengerutkan keningnya, bingung? tentu saja, siapa yang tidak bingung di saat kau terlantar di kota yang tidak kau kenali tapi sering menjadi topik hangat di kota asalmu
"Eh jadi istilah itu benar-benar ada?" Illya mengangguk mengiyakan
"Aku pergi dulu, aku akan kembali jika waktunya sudah ditentukan"
Illya berbalik meninggalkan ruang bawah tanah beserta Kia yang ada di dalamnya
40 hari berlalu, Illya kembali mendatangi ruang bawah tanah dengan senyum lebar "sudah waktunya kau mati, bersiaplah"
"TIDAAAK!!"
—The End—